Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Curiga-


__ADS_3

Wulan menglilingi rumah mencari Arkan siang itu. Tapi ia tidak menemukan Arkan di mana pun.


Akhirnya Wulan kembali ke dapur.


“Bi, kata bibi mas Arkan di depan?” tanya Wulan.


“Emang tadi di depan non, bibi dengar kok tuan muda bicara di telpon di teras depan,” ucap bi Rahma.


“Bicara dengan siapa bi?” tanya Wulan lagi.


“Bibi nggak tau non, bibi kan ga lihat orangnya.”


Akhirnya Wulan kembali ke teras rumah. Ia mengecek di sana sekali lagi.


“Mas Arkan jalan hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek, pergi kemana dia?” gumam Wulan.


Wulan kembali ke dalam rumah mengambil ponsel di dalam kamar kemudian menghubungi Arkan.


“Mas.”


“Ya sayang.” sahut Arkan dari ponselnya.


“Mas di mana?” tanya Wulan.


“Aku ada urusan mendadak di kantor sayang, sudah dulu ya aku lagi nyetir buru buru nih.”


“Sekarang hari minggu, mas ada urusan apa di kantor?” tanya Wulan namun Arkan sudah mengakhiri panggilan telponnya.


“Mas?”


“Mas Arkan?” panggil Wulan sekali lagi.


Ia mengecek ponsel nya untuk memastikan, panggilan memang sudah berakhir.


“Mas Arkan menutup panggilan? Apa pekerjaannya sepenting itu?”


Sambil memegang perutnya yang sudah membesar, Wulan berjalan menuju meja makan. Ia menatap ponselnya, saat itu timbul kekhawatiran dalam hatinya.


“Mas Arkan baik baik saja kan?”


“Ini kedua kalinya mas Arkan seperti ini. Padahal dia tidak pernah mematikan telpon, siapa pun yang di jumpainya saat sibuk, dan sesibuk apa pun ia pasti akan mengangkat panggilan telpon ku.”


Sesekali terbesit kecurigaan dalam pikiran Wulan.


“Apa mas Arakan selingkuh?”


“Nggak nggak, aku nggak boleh begative thingking pada suamiku,” gumam Wulan.


Ia memutus kan kembali ke kamar dan melanjutkan drama yang sedang trend akhir akhir ini. Menonton sebuah drama pasti akan mengalihkan segala pikiran negativ Wulan.


Saat asik menonton, Wulan akhirnya terlelap.


Entah berapa lama Wulan terlelap, hingga sebuah suara terdengar memanggilnya.


“Sayang,”


“Sayang, bangun sayang,” panggil Arkan sekali lagi.


Wulan akhirnya membuka kedua kelopak matanya.


“Mas sudah pulang,” ucap Wulan seraya membenarkan posisi tidurnya.


“Maaf aku agak lambat pulang, tadi ada urusan tiba tiba di kantor,” jelas Arkan.


Wulan menarik tubuh suaminya itu kemudian memeluknya.


“Kata bi Rahma kamu belum makan siang? Sekarang sudah jam tiga loh. Ayo aku temani kamu makan,” ucap Arkan.

__ADS_1


“Mas sudah makan?” tanya Wulan.


“Sudah, tadi makan bareng Daniel.”


“Makan di mana?” tanya wulan lagi.


“Makan di Sri Sedap. Kamu ingat kan rumah makan dekat kantor dulu. Rumah makan yang selalu dikerubutin karyawan kantor kita, saat jam makan siang?”


“Depan kantor lama?” tanya Wulan seraya berjalan keluar kamar.


“Iya,”


“Mas kenapa makan di sana? Jarak dari kantor pusat kan lumayan jauh. Beda rute itu mas,” tanya Wulan lagi.


“Tadi mas keinget makanan di rumah makan itu, jadi sengaja ke sana.” jawab Arkan.


Arkan menggandeng lengan Wulan menuju meja makan. Ia menarik sebuah kursi dan mempersilahkan wulan duduk. Ia kemudian duduk di samping Wulan.


“Aku masih merasa ada yang di sembunyikan mas Arkan.”


Arkan menyiapkan makanan untuk Wulan kemudian menghidangkan di hadapannya. Menu ayam goreng dan sayur bening langsung di lahap oleh Wulan.


Arkan terus memperhatikan sang istri. Wajahnya yang semakin bulat, dan semua bagian tubuh yang serba melar ke samping.


“Kamu harus sehat, biar anak kita dalam perut juga sehat, makan yang teratur. Ga boleh telat makan, kalau sakit gimana?” ujar Arkan.


“Biasanya orang yang selingkuh akan lebih ekstra perhatian pada istrinya. Apa mas Arkan bertemu Sheila?”


Pikiran Wulan terus memikirkan sikap Arkan siang itu. Rasa penasaran yang terus menghantui pikiran Wulan hingga beberapa hari ke depan.


.


.


.


Memasuki kediaman. Wulan langsung menghampiri kakek kemudian mencium punggung tangan kakek. Demikian dengan Arkan. Setelah mencium punggung tangan kakek ia langung pamit dari situ.


“Kek, Arkan titip istri Arkan ya kek.”


“Mas, jika sempat pulang awal ya mas. Sebelum pulang kita singgah toko perlengkapan bayi,” wulan berjalan beriring di belakng arkan hingga tiba di teras rumah.


“Apa masih kurang? Kenapa nggak pesan online saja. Kamu masih bisa keliling toko nyari perlengkapan bayi? Perut kamu saja sudah kegedean sayang. Tar lahiran di jalan gimana?” tanya Arkan, terdengar kekhawatiran dalam nada bicaranya.


“Kalau beli online biasanya beda ukuran,” ucap Wulan.


“Ya sudah, aku akan pulang awal. Lagian sore nanti kita akan singgah lihat rumah. Kata Daniel sudah selesai, Lusa kita sudah bisa pindah ke sana,” ucap Arkan.


“Aku jalan dulu sayang, kamu hati hati di rumah,”


“Mas juga hati hati dijalan.”


Arkan langsung masuk ke dalam mobil kemudian pergi dari situ.


“Wulan, ponsel kamu bibi dengar bunyi terus tuh,” ucap bi Indun yang datang menghampiri Wulan.


“Iya bi,”


Wulan berjalan menuju tas nya yang terletak di meja ruang tamu. Wulan langsung kembali menghubungi pak Cahyono si penelpon yang barusan telpon.


“Halo, bu Wulan,” suara pak Cahyono pengacaranya.


“Iya pak?”


“Hari ini ibu ada waktu? Saya dan pak notaris akan ke rumah bu Wulan. Surat jual belinya sudah siap, bersamaan dengan surat akta tanah yang harus ibu tanda tangani.”


“Sudah selesai urusannya pak?”

__ADS_1


“Iya bu, tinggal tanda tangan dan transfer nya.”


“Bagus lah pak, bapak bisa datang ke rumah saya. Hari ini saya seharian di rumah pak,” ucap Wulan.


“Baik, setelah jam makan siang kami akan ke sana.”


“Akan saya tinggu pak.”


Wulan menutup panggilan telpon nya.


“Bi, sebagian besar tanah di pegunungan sudah jadi milik Wulan. Wulan akan segera membangun Vila, seperti apa yang di inginkan Almarhumah Raya. Setiap akhir pekan kita akan liburan ke sana,” ucap Wulan dengan nada antusias. Wajah nya terlihat sangat gembira.


“Ternyata proses membeli lahan hutan seperti itu agak susah juga ya.” ucap bi Indun.


“Karena pegunungan itu tadinya akan di jadikan kawasan hutan konservasi oleh pemerintah. Wulan beruntung, sebidang tanah dekat dermaga yang paling Wulan incar sudah Wulan dapatkan,” tambahnya.


“Kapan kapan, bibi akan naik ke atas dan tidur di rumah gubuk bibi. Bibi merindukan suasana saat kita berada di sana,” ujar Bi Indun.


“Iya bi, Wulan juga.”


“Nenek, bibi,” suara Zaka tiba tiba dari arah belakang.


“Hai bos kecil ponakan bibi, mau sekolah ya?” tanya Wulan.


“Buto mana?” tanya Bi Indun.


“Masih di belakang bu, nyarap bubur,” sahut Irma.


“Biar Buto yang anter kalian, kamu belum lancar bawa kendaraan nak,” ucap bi Indun.


“Udah mulai bisa kok bu. Nanti kalau salon Irma sudah jadi masa mau ini itu minta di anter Buto.”


“Baiknya di anter Buto, kalau kenapa kenapa di jalan gimana?”


“Nggak, insya Allah aman,” sahut Irma.


“Nggak apa lah bi, Irma pasti hati hati. Dia kan bawa Zaka. Oh ya Zaka, ingetin ibu supaya bawa mobilnya hati hati ya,” ucap Irma.


“Ibu, kak Wulan. Irma pamit dulu,” ucap Irma.


“Nenek, Bibi Wulan. Zaka belangkat sekolah ya.”


“Iya saka, belajar yang rajin sayang,” teriak Wulan sambil matanya mengikuti arah Zaka.


“Jaman sekarang, umur sekecil itu sudah sekolah. Ckck,”


“Bi, sekolahnya Zaka bukan sekolah seperti yang bibi kira. Di sekolah dia hanya bermain, tapi mainannya yang mengedukasi,” jelas Wulan.


“Bibi ngga ngerti Lan, buktinya dia bawa buku dan pensil tuh.” tambah bibi.


“Oh ya, Kamu sudah sarapan belum?” tanya bi Indun.


“Sudah sarapan di rumah mama.”


“Kalau mau makan lagi, sono di meja makan bareng kakek dan Buto.”


“Bentar aja kalau Wulan laper baru makan lagi.”


Wulan dan bi Indun berjalan beriringan menuju meja makan.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2