Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Happy Ending-


__ADS_3

Pagi hari yang baru. Seperti pagi pagi sebelumnya, hari ini terasa berbeda. Saat bangun dari tidur, Arkan telah di suguhkan oleh suara tangis si bayi mungil. Tentu saja bayi milik nya dan Wulan.


Dalam box bayi, si kecil terus menangis. Namun semua orang tertawa senang seakan menikmati tangisan kecilnya itu.


Sungguh sebuah tontonan menarik bagi para kakek dan nenek di sekitarnya.


Setelah berdiri dari ranjang, Arkan tidak langsung menghampiri sang bayi. Ia memilih berjalan ke arah Wulan istrinya yang sedang tertidur.


“Sayang, kamu dengar suara itu. Suara anak mu sedang menagis. Dia sedang mencari dirimu,” bisik Arkan di telinga Wulan.


“Aku mohon, jangan berbuat hal bodoh seperti itu lagi. Kamu tidak memikirkan dirimu dan bayi mu,” bisik Arkan sambil terus memeluk Wulan.


“Eh, papa kamu sudah bangun sayang,” ucap Jenny saat melihat Arkan sedang memeluk Wulan.


“Apa Wulan baik baik saja ma?” tanya Arkan.


“Dia sedang tidur. Jangan di ganggu, sini kamu gendong anak mu,”


Arkan berjalan mendekati box bayi kemudian menatap si jabang bayi yang sudah kembali tenang.


Jenny mengangkat bayi kecil dari dalam box kemudian meletakkan bayi itu ke tangan Arkan.


“Setelah di gendong sang ayah sebaik nya langsung diberikan nama,” ujar bi Indun.


“Nama?”


“Ya nama untuk seorang anak laki laki,” tambah Jenny.


“Alano,” ucap Wulan tiba tiba.


“Alano? Di ambil dari nama kakek buyutnya!” ucap kakek Hendy setuju dengan pemberian nama itu.


“Alano,” panggil Jenny seketika.


Arkan membawa bayi mungil itu ke atas ranjang dimana Wulan sedang berbaring.


“Anak kita,” ucap Arkan.


“Mas, aku minta maaf. Sebelum nya sudah bersifat egois, lagi lagi aku membahayakan nyawa mu,” ucap Wulan pelan.


“Sudah berlalu sayang.”


“Bagaimana keadaan mas Brian sekarang?” tanya Wulan.


“Dalam keadaan kritis. Aku belum menghubungi dokter dan Daniel sudah mengurusnya.” Arkan mengusap kepala Wulan dengan lembut kemudian menatap matanya. “Selanjutnya aku tidak akan pernah merahasiakan apa pun dari mu lagi,” ucap nya.


Perbincangan pelan antara Wulan dan Arkan, tidak terdengar ke telinga orang lain di ruangan itu.


tiba tiba suara Jenny menginterupsi pembicaraan kecil mereka.

__ADS_1


“Oh ya nak, kertas ini di berikan oleh dokter saat kamu keluar dari ruang operasi. Kata dokter kamu terus menggenggam kertas ini hingga kamu di bius dan tak sadar.” Jenny mengangkat selembar kertas berwarna putih di mana meterai dan tanda tangan Brian berada. Terdapat beberapa bercak darah di atas kertas itu.


“Berikan ma, kertas itu sangat penting buat Wulan,” pinta Arkan.


“Mama berpikir ini kertas persetujuan operasi, tapi tanda tangan di sini berbeda dengan milik Arkan.” Jenny menyerahkan kertas itu kepada Arkan.


Arkan menyimpan memasukkan kertas itu ke dalam laci.


Sesaat kemudan Daniel tiba di ruangan itu. Ia meminta untuk berbincang dengan Arkan di luar ruangan dengan alasan urusan kantor yang sangat mendadak.


“Pak, saya menghubungi nomor ponsel bapak tapi tidak aktiv. Pak Brian sudah meninggal 2 jam yang lalu.”


Arkan terdiam. Seolah olah semua usaha Wulan dengan kertas bertanda tangan Brian menjadi sia sia sekarang. Apakah ini sebuah permainan, atau sebuah ejekan kehidupan?


“Tidak hidup kami terlalu berharga, sebuah ejekan atau hukuman sekalipun pasti akan kami lewati semuanya dengan baik baik saja.”


Arkan kembali ke kamar kemudian berbisik di telinga Wulan.


“Brian sudah meninggal 2 jam yang lalu,” ucap Arkan.


“Benarkah?” tanya Wulan sedikit ragu. Apakah Arkan berkata jujur atau dia sedang berbohong.


“Kematiannya tidak akan terelakkan lagi. Setiap saat ia melakukan percobaan bunuh diri. Segala upaya sudah di lakukan para dokter yang merawatnya. Dia selalu menginginkan hidup nya berakhir seperti itu.”


“Sekarang apa rencana mas?” tanya Wulan.


“Seperti permintaan paman Johan, ia ingin abu nya di bawa pulang ke Swiss.”


“Apa selama ini paman tau Brian seperti itu?”


Arkan mengangguk, “tidak ada pilihan untuk membuatnya seolah sudah mati. Bagi paman, anak nya itu memang sudah mati sejak kejadian di gunung itu. Untuk kebaikan semua orang.”


“Jadi apa yang akan kamu lakukan dengan kertas bertanda tangan itu?” Lanjut Arkan bertanya.


“Tidak ada gunanya perceraian. Toh Brian benar benar sudah mati. Ia juga tidak akan mempermasalahkan mas Arkan lagi. Sebaik nya kertas itu..”


“Aku akan menggunakan kertas itu sebagai pengakuan brian terhadap Zaka. Zaka bisa menjadi putra sah Brian. Dia berhak mendapatkan nya,” ujar Wulan.


Arkan mengangguk setuju. Bagaiamana pun Zaka tetaplah keponakannya.


.


.


.


Dua tahun berlalu…


Di sebuah Vila besar di sebuah pegunungan. Semua orang sedang berkumpul di sana.

__ADS_1


Perayaan ulang tahun Alano yang kedua tahun di hadiri oleh semua kerabat dekat Wulan.


Mama Jenny dan ayah Richard, Kakek Hendy, Irma, Buto, Mail, Renata, Sarah Aldy serta putri Sarah dan Aldy, mereka sedang mengitari Alano. Moment tiup lilin pria paling kecil di ruangan itu membuahkan sorai setiap orang yang berada si situ.


Dari ujung ruangan, Wulan tersenyum melihat semua orang sibuk bernyanyi selamat ulang tahun buat Alano.


Sambil memegang perutnya yang semakin membesar Wulan berjalan menuju ke arah Alano kemudian membantunya memotong kue tart yang tertera angka 2. Arkan ikut berdiri di samping Wulan dan Alano.


Kue tart yang sudah terpotong di bagi bagikan kepada semua keluarga di ruangan itu. Tentu saja Alano sendiri yang menyuap mereka satu persatu.


Di ruangan luas lainnya, bi Indun dan bi narsih sedang menyiapkan perangkat makanan di atas meja makan. Empat orang pelayan membatu si penyelenggara acara yaitu bi Indun dan bi narsih. Pesta kecil kecilan itu di siapkan oleh kedua bibi yang kini sibuk di dapur.


Suara tepukan tangan dari arah ruangan makan.


“Ayo semuanya, kita makan,” ucap bi Indun dengan wajah bahagia memanggil semua orang ke arah nya.


Saat itu juga semua orang bergerak menuju ruang makan. Menyisahkan Wulan dan Arkan di ruangan itu.


“Ga ikut makan bersama?” tanya Arkan.


“Mas, temani aku naik ke atas.”pinta Wulan.


“Lagi?” tanya Arkan.


“Ya, malam ini kita nginap di sana,” ucap Wulan. Tentu saja maksudnya adalah ke gubuk di atas gunung yang dahulu pernah menjadi tempat tinggalnya.


“Tapi. perut kamu?”


“Kita berjalan perlahan,” ucap Wulan.


Saat itu, dari arah luar Zaka dan Rosita batu saja tiba di situ.


Si Zaka kecil yang sudah berusia 6 tahun, tiba di temani neneknya Rosita. Akhir akhir ini Zaka lebih sering tinggal bersama Rosita saat Rosita ada di Jakarta. Terkadang Irma dan Zaka akan ke Swiss untuk berkunjung ke rumah Rosita.


Kehadiran Zaka, mengalihkan perhatian semua orang. Si kecil Zaka yang cerewet membuat semua orang seenaknya bertanya apa saja kepada anak itu.


“Ayo, mumpung mereka lagi sibuk.” ajak Arkan.


“Kita lewat jalan belakang, Wulan harus pamit dengan bi Indun.” ucap Wulan.


Hampir setiap hari saat mereka berlibur ke vila. Wulan akan menginap beberapa malam di gubuk itu. Rasa tentram yang membangkitkan memori manis dan pahit kehidupannya ada di sana.


Kini samuah hal pahit hanya tinggal kenangan, menyisakan manis nya hidup bersama pria di sampingnya.


.


.


.

__ADS_1


-Tamat-


__ADS_2