
Sepeninggal Jenny, Arkan dan wulan langsung menuju teras samping rumah dimana bi Narsih dan Deon sedang berbincang.
“Nyonyah, tuan,”sapa Deon.m begitu Wulan dan Arkan tiba di situ.
“Deon, kamu bermalam di sini malam ini?” tanya Arkan.
“Iya tuan, saya disini sedang mengantar barang. Sekalian mampir bertemu ibu. Besok pagi saya akan lamgsung balik Jakarta,” ucap Deon.
“Kamu kerja baik baik nak, jangan terlalu boros. Ibu lihat kamu terlalu banyak membeli pakaian pakaian bagus. Sebaiknya uang kaku tabung,” saran bi Narsih.
“Deon sedang membangun rumah untuk ibu. Setelah rumah di bangun kita akan tinggal dikampung, di hari tua ibu hanya perlu menerima hasil panen sawah kita di kampung,” ujar Deon.
Bi Narsih menatap Deon penuh haru. Putra nya kini sudah hidup lebih mapan. Penghasilannya sekarang sangat banyak.
“Deon, nanti kamu temani aku keluar sebentar ya. Aku ingin membeli sesuatu,” ajak Arkan.
“Sekarang tuan?”
“Nanti saja, setelah makan malam.”
Arkan ingin berbincang dengan Deon perihal keterlibatan nya dalam gembong narkoba. Ia ingin Dion kekuar segera sebelum polisi menggerebek Brian dan antek anteknya.
Usai makan malam, Arkan membawa Deon keluar dari rumah. Ia hanya tak ingin percakapan mereka diketahui oleh bi Narsih. Bagaimana reaksi bi Narsih jika ia mengetahui anak nya terlibat dengan hal haram itu.
“Aku membawa kamu keluar dari rumah karena ingin bicara empat mata dengan kamu. Di rumah ada ibumu, aku nggak leluasa bicara hal ini,” ucap Arkan.
“Deon, kamu sudah tau kan apa yang ingin aku katakan sekarang?” lanjutnya.
“Masalah keterlibatan ku dengan tuan Brian?” tanya Deon.
“Kamu sudah tau itu hal berbahaya. Kenapa kamu berani melakukan hal itu. Masalahnya Brian saat ini sudah di incar polisi. Kamu bisa terbawa bawa dengan masalah ini. Hentikan sekarang juga, jangan lakukan hal kotor itu lagi,” ucap Arkan.
“Deon tau sudah melakukan hal salah. Tapi Deon melakukan ini dengan sengaja tuan.”
Arkan menatap pria muda di samping nya sesaat. Mata arkan kembali fokus pada jalanan di depan.
“Kenapa kamu melakukan itu? Karena masalah ekonomi?” tanya nya.
Deon tertunduk. “Rumah di kampung hampir selesai. Setelah itu aku akan berhenti.”
“Jika ibumu tau hasil rumah itu adalah hasil kamu menjual narkoba, apa kata ibumu? Kamu pikir ibu mu akan senang?” tanya Arkan.
“Jangan katakan ke ibu tuan. Aku mohon jangan katakan. Ibu akan sedih dan tidak ingin tinggal denganku jika tau hal itu.”
“Makanya, sebelum terjadi sesuatu dengan dirimu, berhentilah. Aku tidak akan cerita apa pun ke ibu mu. Namun jika suatu saat kamu terjerat kasus narkoba bukankah ibumu akan tau dengan sendiri nya?”
__ADS_1
“Deon janji akan berhenti. Kali ini adalah kali terakhir aku mengantar barang tuan,” ujar Deon.
“Baiklah, aku percaya pada mu.”
Mobil yang berjalan melambat itu kemudian berputar berbalik arah.
“Sekarang aku ingin bekerja sama dengan mu. Aku ingin setiap informasi mengenai sindikat Brian. Dimana dan kapan dia bertransaksi. Serta gudang mana dia menyimpan barang barang haram itu?” tanya Arkan.
“Tentunya aku akan memberikan imbalan yang sesuai untuk mu,” lanjut Arkan.
Deon terdiam, ia berpikir keras. Dengan kening mengerut Deon terlihat cemas.
“Bukankah tadi kamu mengatakan kepada mama, ingin menjadi saksi buat kami?”
“Saya akan bicara jika tuan Brian sudah di tangkap. Saat ini aku masih belum berani tuan,” ucap Deon polos.
Arakan mengangguk paham. “Kalau begitu, kamu bersedia menjadi saksi kami? Tidak sampai sebulan dari sekarang, Brian akan di angkut kepolisian. Sebenarnya sudah lama aku menyelidiki kasus Brian. Hanya tinggal tunggu waktu untuk di ringkus nya.”
“Tuan harus hati hati. Tuan Brian memiliki bayak sekali anggota. Dia bekerja sama dengan petinggi kepolisian. Dia juga calon menantu dari seorang gubernur. Tuan pasti tau bagaiman kekuasaan bisa takluk di tangan tuan Brian. Dan dia tidak segan melakukan apa pun demi mencapai apa yang di inginkannya!”
“Aku sudah tau itu!” ucap Arkan singkat.
“Sebenarnya tugas saya hanya mengantar paket dari gudang sepatu Jakarta timur menuju sebuah ruko di Surabaya. Saya tidak tau persis tempat penampungan barang dimana. Tapi saya janji, setelah saya tau, saya akan langsung mengabari tuan,” ucap Deon antusias.
Setelah percakapan rencana Deon yang akan menjadi mata mata. Mereka akhirnya kembali ke rumah.
.
.
.
“Nyonya?” panggil bi Narsih.
“Nyah,” bi Narsih berjalan cepat mengetuk pintu kamar Wulan.
Tok tok tok
Wulan akhirnya keluar dari kamar dengan rambut yang di gulung menggunakan handuk.
“Ada apa bi?” tanya Wulan.
“Sini nyah ikut bibi. Nyonya harus lihat berita di tv sekarang,” bi Narsih menarik tangan Wulan menuju lantai bawah.
Wulan yang hanya bisa pasrah di tarik dengan cepat seperti itu.
__ADS_1
“Ada apa bi?” tanya Wulan penasaran.
Bi Narsih berhenti di depan TV.
“Nyonyah lihat berita baru hari ini, bukankah itu non Raya?” tanya bi Narsih.
“Raya Karenina. Iya itu non Raya. Apa yang dilakukannya di tv?!” ucap Wulan seraya menjeling.
Wulan menyimak sebuah video singkat yang di buat Raya dari di posting di IG pribadi miliknya. Kini video itu beredar luas dan menjadi bahan pembicaraan publik.
Video yang menyatakan bahwa dirinya sedang hamil 7 bulan, anak dari hasil hibungan gelapnya bersama seorang pengusaha muda sekaligus praktisi politik dari partai Nasional inisial BS. Raya meminta pertanggung jawaban Inisial BS itu untuk anak yang sedang dalam kandungannya.
Wulan terkejut sekaligus terpana dengan aksi yang di lakukan Raya.
“Wanita yang nekat mengumbar aib nya dihadapan publik. Ia pasti sudah gila.” gumam Wulan.
“Itu artinya non Raya beneran hamil Nyah. Bibi pikir itu hanya hamil pura pura. Lihat foto yang di unggahnya dengan perut buncit.” ujar bi Narsih.
“Pasti lah dia hamil, kalau nggak mana mungkin dia nekat meminta tanggung jawab Brian untuk anaknya?” sahut Wulan.
“Tuan Brian sekarang akan mempunyai anak lagi. Dari dua orang wanita yang berbeda.” ucap bi Narsih asal.
“Dua anak?” tanya Wulan heran. “Jangan jangan anak bi Indun?” tebak Wulan.
Bi Narsih mengangguk. “Itulah sebabnya Indun berhenti kerja, anaknya lahiran. Dia harus membantu anaknya mengurus bayi.”
“Brian tau hal itu?” tanya Wulan.
“Ya nggak Nyah, tuan sudah memberi uang kepada Irma sebagai ganti rugi dan untuk menggugurkan kandungan. Irma hanya pergi jauh saja tapi ternyata dia tidak menggugurkan kandungannya.” Indun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan mimik sedih.
“Sebenarnya bibi juga yang menyarankan Indun berhenti kerja. Bibi takut jika ketahuan tuan Brian. Bi Indun pasti akan kena imbas.”.
“Nah kalau sudah seperti ini, tuan Brian pasti akan sangat marah. Dia pasti akan mencari non Raya. Seharusnya non Raya tidak melakukan hal ini, dia tau sendiri seperti apa tuan Brian,” lanjut bi Narsih.
“Raya pasti sudah memikirkan matang matang, apa yang harus di lakukannya. Ini pasti sudah di rencanakan nya.”
“Diberita tidak ada nama tuan Brian kan Nyah?”
“Lihat aja. Sebentar lagi, wajah Brian akan muncul di berita. Siapa lagi inisial BS dari partai nasional selain Brian Susanto.”
Bi Narsih mengangguk paham. Ia bergidik ngeri mengingat bagaimana kejamnya Brian saat sedang marah.
.
.
__ADS_1
.
TBC…