Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Kakek Menghilang-


__ADS_3

Dengan piyama hitam dan rambut di cepol asal Wulan keluar dari kamar nya. Ia berjalan perlahan agar tak menimbulkan suara sedikit pun.


Saat melewati kamar Brian, kamar itu terdengar begitu tenang, tak seperti sebelumnya. Mungkin saja sekarang Brian sudah tertidur.


Wulan menuruni anak tangga menuju pintu samping. Dari pintu samping Wulan lebih leluasa keluar tanpa menimbulkan bunyi apa pun.


Wulan sudah berada di luar halaman. Mobil Arkan belum juga tiba, ia terus keluar hingga ke pintu pagar. Pintu besar dan berat itu sudah tertutup rapat.


Pak Parto pasti sudah tertidur. Wulan tak ingin membangunkan pria itu hanya untuk membukakan pagar untuk dirinya.


Pintu kecil di samping pos di buka perlahan oleh Wulan.


“Seharusnya Arkan sudah tiba, sudah sepuluh menit sejak dia menelpon tadi.”


Wulan berjongkok di samping pagar dekat tanaman rimbun agar tidak terlihat kendaraan lain yang melintas.


Jalan itu terbilang sepi karena waktu sudah menujukkan hampir jam 2 dini hari.


Sedikit bergidik, angin sepoi menghembus menerpa kulitnya, dingin malam membuat nya melipat tangan semakin lekat ke arah dada.


Tak seberapa lama, cahaya mobil dari ujung jalan semakin mendekat kemudian berhenti tepat di depan pintu pagar rumah itu.


Setelah yakin itu mobil Arkan, Wulan bangkit menuju mobil tersebut.


Arkan keluar dari mobil nya, memeluk Wulan.


“Ada apa mas?” tanya Wulan penasaran.


“Masuk lah dulu, kita bicara dalam mobil, diluar dingin,” ajak Arkan kemudian membuka pintu mobilnya untuk Wulan masuk.


“Ada apa mas?” tanya Wulan semakin penasaran.


Arkan menyerahkan selembar kertas kepada Wulan.


Wulan langsung membaca isi dalam kertas tersebut.


Kakek merindukan kampung halaman kakek.


Wulan membaca sepenggal kalimat tersebut. Tentu saja yang di maksud kakek dalam kertas itu adalah kakek nya.


“Ini surat dari kakek?” tanya Wulan.


Sambil mencerna isi surat itu, Wulan mencari ponsel dari saku bajunya. Ia langsung menghubungi nomor kakek nya.


“Mas menjemput kamu jam segini, mas bingung nggak tau harus mencari kakek ke mana. Kamu mungkin kenal sanak atau keluarga yang bisa di tuju kakek sekarang ?” tanya Arkan.


“Kakek nggak punya siapa siapa selain aku,” ucap Wulan sambil terus menempelkan posel ke telinganya. “No hp nya nggak aktif mas,” ucap Wulan panik.


Sekali lagi Wulan menghubungi nomor kakeknya.


“Ini benar benar surat dari kakek?” Wulan memperhatikan tulisan tangan di atas kertas itu.


“Tadi aku sudah meminta seorang rekan yang ahli memerikasa cctv pagar depan rumah dan semua cctv yang ada di sekitar. Tapi karena sudah malam kita akan menunggu hasilnya besok,” ujar Arkan.


“Sejak kapan kakek pergi?” tanya Wulan.


“Sudah 3 hari,” jawab Arkan.


“Tiga hari? Kenapa nggak ada yang kabari Wulan?” tanya Wulan semakin terlihat frustasi.


Lagi lagi Wulan melihat ponselnya. Ia mencari nomor mbok Tini penjaga rumah nya di kampung. Setelah ketemu ia langsung menghubungi nomor tersebut.


“Nomor mbok nggak aktiv,” gumam Wulan.


“Ya wajar nggak aktiv Lan, sekarang jam 2 subuh,” ujar Arkan.


“Siapa yang berikan surat ini ke mas?” tanya Wulan.


“Mbak Ani, ia menemukan surat ini dalam laci kamar kakek saat bersih bersih,”


“Tiga hari, gimana caranya kakek pulang?” Wulan menghitung mundur tiga hari sebelumnya. “Kamis? Kamis nggak ada kapal cepat. Kakek pulang dengan apa?” ucap Wulan panik.

__ADS_1


“Mas?”


Kecemasan terlihat jelas pada wajah polos itu.


“Aku akan ke kampung kamu besok,” ujar Arkan.


“Wulan ikut mas,” ujar Wulan.


“Saat pagi kamu coba kembali hubungi, pengurus rumah mu dikampung. Coba tanya jika kakek sudah di sana,” ujar Arkan.


“Aku yang salah, akhir akhir ini terlalu sibuk hingga tak memperhatikan kakek,” ucap Wulan mulai terisak.


“Aku juga salah, kakek tinggal di rumah ku seharusnya aku menjaga kakek lebih baik agar kakek betah,” ujar Arkan seraya mengelus pucuk kepala Wulan.


“Gimana dong mas? jika terjadi apa apa dengan kakek?” tanya Wulan disela isak tangisnya. “Hikss.”


“Kita nggak boleh tinggal diam, kita akan mencari kakek sekarang,” bujuk Arkan kemudian memeluk wanita yang duduk disampingnya itu.


“Mas, sudah lapor polisi?” tanya Wulan.


“Sudah, mas sudah meminta kepala polisi kenalan mas. Mereka sudah mulai mencari. Sebentar kamu harus ke kantor polisi membuat pengaduan kehilangan.”


“Kakek, kakek ke mana sih?” ucap Wulan cemas.


“Gimana jika kami ya cari sekarang, kita mencoba bertanya ke siapa saja yang kita temui?”


“Iya ayo mas, buruan. Kita harus temukan kakek secepatnya. Kakek sedang sakit, dia nggak boleh terlantar di jalanan.”


Arkan mengikuti seperti yang diperintahkan Wulan. Ia memacu laju kendaraan pergi dari situ. Mobil terus berjalan, mata mereka terus memperhatikan setiap pinggir jalan yang merek lalui. Saat melewati gang kecil mereka akan turun dari mobil dan mencari ke dalam gang, jika saja kakek tersesat ke sana dan sedang menunggu mereka.


Sudah hampir pukul 5 pagi, Wulan dan Arkan masih berkeliling. Kini mereka sedang mengitari kompleks sekitar rumah Arkan.


“Mas berhenti di penjual itu,” pinta Wulan.


Arkan menghentikan mobil nya didepan sebuah kedai jualan yang baru akan membuka kedai nya awal pagi itu.


Wulan keluar dari mobil menuju seorang pria yang sedang menyusun barang dagangan nya.


“Maaf pak, saya mau tanya. Bapak pernah melihat seorang kakek kakek melintas disini sekitar 3 hari lalu?” tanya Wulan.


Arkan sudah berdiri di belakang Wulan.


Saat Wulan sedang sibuk mencari photo kakek dari dalam ponsel, Arkan menemui seorang pejalan kaki dan bertanya hal yang sama.


“Bapak pernah lihat, kakek saya jalannya agak pelan, dia membawa tongkat bertangkai putih kekuningan,” ujar Wulan.


“Nggak pernah lihat neng,” ujar bapak itu.


“Terima kasih pak,” ucap Wulan kemudian datang menghampiri Arkan.


“Gimana mas?” tanya Wulan.


“Wulan perlihat kan foto kakek ke mbak ini. Ibu ini sering lewat di jalan ini setiap pagi,” ucap Arkan.


Wulan memperlihatkan foto sang kakek pada wanita itu namun hasilnya masih nihil.


Semakin pagi semakin banyak yang lalu lalang di sekitar jalan itu. Wulan dan arkan bertanya kepada siapa saja yang mereka temui, tapi tak ada satu pun orang yang mengenal sang kakek.


“Kita pulang kerumah dulu, kamu ganti baju tidur mu itu, sekalian kita bertanya ke tetangga dekat rumah mas,” ujar Arkan.


“Baiklah, aku juga ingin bertemu mbak Ani dan perawat yang merawat kakek, Wulan ingin tau lebih jelas saat kakek pergi,” ujar Wulan.


Wulan menuruti ucapan Arkan. Lagian jika di lihat, piyama yang dipakai wulan itu berbahan satin hingga pakaian dalam nya terlihat membentuk dari luar.


Setiba di rumah, Arkan mencari pakaian yang bisa di kenakan Wulan.


Jelas semua isi pakaian dalam lemarinya adalah pakaian pria. Apa yang harus dia berikan pada Wulan.


“Wulan, kamu pilih jika ada yang bisa kamu pakai,” panggil Arkan.


“Atau kamu bisa pinjam bajunya mbak Ani?” tanya Arkan.

__ADS_1


“Nggak usah, pakai baju mas aja,” ucap Wulan. Ia maju beberapa langkah ke arah lemari Arkan. Setelah memilah milah, Wulan mengambil sebuah kaos hitam milik Arkan dan celana berbahan kain dengan karet dipinggangnya.


“Kamar mandi dimana mas?” tanya Wulan.


“Pakai disini aja, aku akan keluar.”


Sepeninggal Arkan, Wulan mengganti pakaian tipis miliknya dengan pakaian milik Arkan.


Ia kemudian keluar dari kamar itu. Arkan sudah berdiri menunggunya di depan pintu.


“Mbak Ani dimana mas?” tanya Arkan.


“Mungkin di dapur,” jawab Arkan.


“Perawat yang merawat kakek?” tanya Wulan.


“Paling dia dikamarnya,” jawab Arkan.


“Aku ingin ketemu orangnya.”


Wulan berjalan menuju belakang rumah dimana letak kamar para pekerja di rumah itu berada.


“Mba Ani?” panggil Wulan.


“Mbak.”


“Bu Wulan,” jawab Ani bergegas dari arah taman.


“Mana perawat yang merawat kakek?” tanya Wulan.


“Yuyun? Dia sedang dikamar, katanya kurang enak badan bu,” jawab Ani.


“Aku ingin ketemu orangnya, aku ingin bicara dengan kalian berdua,” ucap Wulan.


Ani langsung mengantar Wulan ke arah belakang.


Tok tok tok


Wanita berusia muda itu langsung membuka pintu.


“Yun, maaf aku mengganggu istirahat mu,” ucap Wulan.


“Iya bu nggak apa,” jawabnya.


“Kapan kakek pergi dari rumah?” tanya Wulan.


“Tiga hari lalu, tepatnya hari Kamis,” jawab Ani.


“Jam berapa?” tanya Wulan lagi.


Ani menatap wajah Yuyun. “Jam berapa yun?” tanya Ani.


Mata Wulan langsung tertuju ke arah Yuyun.


“Sekitar jam 11 siang,” jawabnya.


“Kakek ada bilang kakek ke mana?” tanya Wulan.


“Kakek nggak pamit secara langsung bu, cuman pagi sebelumnya kakek pernah mengatakan ingin ketemu bu Wulan,” jawab Yuyun yang memang di tugaskan merawat kakek.


“Siang saat aku mencari kakek untuk makan siang kakek sudah nggak ada,” ujarnya lagi.


“Menurut kalian kakek pergi ke mana?” tanya Wulan lagi.


“Kaki kakek sudah nggak memungkinkan untuk pergi jauh, tanpa bantuan orang kakek nggak bisa pergi begitu saja,” ujar Yuyun.


Wulan berpikir sejenak. Jika mereka tau kakek nggak mungkin pergi begitu saja, kenapa setelah kakek pergi mereka nggak memberitahukan Arkan?


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2