Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Pertarungan Ku-


__ADS_3

Mendengar ancaman Brian, Wulan menjadi pasrah. Jika memang harus mati, biarlah ia sendiri yang mati di tangan Brian. Raya harus pergi dari situ. Setidaknya salah satu dari mereka harus selamat.


“Raya, pergilah. Pergi dari sini. Jangan khawatirkan aku. Cepat pergi dari sini,” ucap Wulan.


Raya menggeleng kan kepalanya menolak permintaan Wulan.


“Sejak kapan kalian punya rasa saling perhatian seperti ini?” tanya Brian.


Tiba tiba terpikir ide dalam otak Brian. Bagaimana jika ia menggorok leher mereka dengan parang. Bukankah permainan akan semakin seru? Parang yang di gunakan Raya untuk membunuh dirinya kini akan berbalik membunuh mereka berdua.


Brian berjalan mundur mencari parang yang terlempar ke arah belakang.


Begitu juga dengan Raya, ia ingin mencari kesempatan mengeluarkan pisau dari pinggang nya. Namun sangat riskan, kesalahan sedikit saja Brian bisa langsung menembak kepala Wulan.


“Lepas kan dia, kamu bisa membunuhku. Ambil nyawaku saja,” ucap Raya sambil mengangkat tangannya.


“Haha, aku akan mengambil nyawa kalian berdua. Aku akan mencabik cabik leher kalian,” ucap Brian.


Pantulan kilau parang itu terlihat oleh mata Brian, ia berjala mundur beberapa langkah ke belakang, sambil terus menyandra Wulan. Pistol di tangannya masih di todongkan di kepala Wulan.


Raya terus memperhatikan gerak gerik Brian, saat ia lengah sedikit saja. Raya akan langsung menyerangnya.


Saat itu Brian sedang berusaha menarik parang dengan kakinya, saat badannya akan turun mengambil parang, dengan sigap Raya menerjang tubuh Brian.


“Cepat lari Wulan, pergi dari sini.” teriak Raya.


Bukannya lari, Wulan malah menggeser parang dengan kakinya dan menendang parang di tanah ke arah Raya.


Dalam sekejap parang sudah dipegang Raya. Ia menodongkan parang itu ke leher Brian. Sedangkan pistol di tangan Brian mengarah ke kepala Wulan.


Brian baru saja akan mengokang senjata tiba tiba bi Indun dan Irma tiba di situ.


“Hentikan,” teriak bi Indun histeris.


Brian langsung memukul tengkuk Raya hingga jatuh ke atas tanah.


Irma melepas Zaka yang ada dalam dekapannya, ia menghampiri Raya yang saat itu sudah terkulai di atas tanah.


Si kecil Zaka mengalihkan perhatian Brian. Mata Brian terus fokus pada bocah lelaki berusia dua tahun. Matanya membulat menatap Zaka. Zaka tersenyum dan ngoceh tidak jelas.


“Mama tata tia ma uta laaa,” ujar Zaka.


Saat itu Zaka tersenyum ke arah Brian, senyuman Brian kecil terpancar dari wajah anak itu.

__ADS_1


“Dia anak ku? Anak ku?!”


Kemudian Brian memabalikkan tangannya. Pistol dalam genggamannya mengarah pada Zaka. Jempol kanan Brian langsung mengokang pistol di tangannya. Saat itu juga ia menarik pelatuk senjata di tangannya.


Menyadari Brian akan menembak Zaka, Wulan langsung mendorong tangan Brian ke arah atas.


Door!


Suara menggelegar keluar dari pistol yang ada di tangan Brian. Sebuah peluru telah melesat dari selongsongnya.


Terjadi pergulatan antara Wulan dan Brian. Berkali kali Brian memukul tubuh Wulan, sikunya mendarat di wajahnya berulang ulang. Namun dengan sisa tenaga yang ada Wulan terus mendorong tubuh Brian mundur.


Sedangka Brian, ia masih terus berusaha mengarahkan senjata ke arah Zaka. Ia sangat tidak ingin melihat wujud dirinya ada dalam diri anak kecil itu. Ia sangat benci melihat hal itu. Dalam benaknya adalah Zaka harus mati!


Irma segera berlari menyelamatkan Zaka.


“Kenapa jadi begini. Ini adalah pertarungan ku dengan nya. Aku yang harus menyelesaikan ini sendiri.” batin Raya.


Ia menatap perseteruan sengit antara Wulan dan Brian, Wulan sedang berjuang mati matian melawan Brian.


“Jangan pernah menyakiti sahabatku, jangan pernah menyakiti keluarga ku lagi. Kamu harus menghadapi diriku bukan mereka. Jangan pernah mengganggu orang orang di sekitar ku. Urusan hari ini seharusnya hanya menjadi urusan kita berdua!”


Raya mengeluarkan sebuah pisau lipat dari pinggangnya. Ia menarik keluar sebuah bilah. Saat itu juga ia berlari kencang menuju ke arah Brian. Ia mendorong Brian dan hendak memberi sebuah tusukan di perut Brian. Saat itu juga mereka sama sama terjungkal ke belakang. Mereka terus berguling di atas tanah curam di belakang mereka hingga beberapa puluh meter di bawah.


“Tidak, tidak. Raya?” teriak histeris Wulan di selingi isak tangis.


Wulan merangkak menuju pinggiran jurang itu. Ia berusaha melihat ke bawah mencari keberadaan Raya.


“Raya! Jawab lah, kamu baik baik saja. Jawab lah.”


Wulan menangis sejadi jadi nya. Ia mencoba merangkak turun mencari Raya di bawah sana.


“Wulan, terlalu terjal, kamu tidak bisa lewat dari sini. Kita akan mutar ke bawah mencari nya,” cegah bi Indun.


Wulan berusaha bangun, ia harus mencari Raya di bawah jurang.


“Irma?” teriak bi Indun.


Bi Indun memanggil Irma, namun anak perempuannya itu sudah tidak berada di situ. Ia pasti sudah membawa anaknya pergi dari tempat itu.


Saat itu Buto juga sedang tidak ada di rumah, Buto di suruh bi Indun membawa anyaman ke pasar.


Bi Indun menjadi khawatir. Wulan terus menangis histeris, bagaimana ia bisa turun ke bawah mencari Raya. Ia tak bisa meninggalkan Wulan sendirian di situ.

__ADS_1


“Wulan, bibi akan turun melihat ke bawah. Kamu bisa menunggu di sini?” tanya bi Indun.


Tubuh Wulan mulai terlihat lemah kepalanya terkulai di atas tanah, saat itu ia masih saja menangis dan memanggil manggil nama Raya.


“Irma?” teriak bi Indun panik.


“Lan, ayo kamu bisa. Kita harus segera pergi dari sini,” bi indun berusaha mengangkat tubuh Wulan dari atas tanah itu.


“Darah apa ini?” ucap bi indun saat melihat tangan nya yang tanpa sadar sudah di penuhi darah.


“Wulan, kamu?” bi indun memeriksa tubuh Wulan. Ada bercak darah di belakang bajunya. Sepertinya ia sudah terkena benda tajam.


“Wulan, bangunlah bangunlah,” bi Indun berusaha membuat Wulan tetap sadar. Ia mengguncang guncang tubuh Wulan.


“Wulan ayo bangun. Wulan, kamu jangan membuat bibi takut.” dalam kepanikan bi Indun tidak bisa berbuat apa pun. Ia hanya menangis kemudian memeluk tubuh Wulan yang saat itu sudah tidak sadarkan diri.


“Wulan,” suara seorang pria tiba tiba dari arah belakang.


“Tuan? Tuan Arkan,” ucap bi indun. Antara kaget dan juga senang, kini ada seseorang yang datang menolongnya.


“Tuan, tolong bawa Wulan pergi dari sini. Wulan terluka, tubuh nya tertembak,” ucap bi Indun asal. Seingat bi indun, Wulan baru saja bergelut dengan Brian dengan pistol di tangan Brian.


Arkan teringat suara tembakan yang di dengarnya di bawah kaki gunung.


“Siapa yang menembaknya?” tanya Arkan.


“Tuan Brian,” jawab Bi indun.


“Brian? Dia di sini?”


Arkan berusaha mengangkat Wulan, ia terlihat sangat kesulitan. Kedua kakinya belum terlalu kuat untuk mengangkat beban terlalu berat.


Bisa mencapai gunung itu saja sudah sebuah mujizat, kini ia harus membopong tubuh Wulan.


Namun demikian, dengan bantuan Bi Indun, Arkan berhasil mendukung Wulan di atas punggungnya.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2