Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Turun Ke Kota-


__ADS_3

Karena akan meninggalkan rumah beberapa hari, bi Indun sibuk menyiapkan bekal untuk Wulan, Raya dan juga kakek Hendy. Mereka di bekali sambal goreng, oseng tempe yang bisa tahan hingga beberapa hari kedepan, mengingat uang yang di bawa Wulan saat itu hanya pas pasan.


Itupun adalah uang hasil Wulan membantu bi Indun menganyam tikar setiap hari. Hasil anyaman di bawa ke pasar dan uang hasil jual anyaman di bagi untuk Wulan dan juga Raya. Tidak seberapa yang mereka dapat, tapi uang sedikit itu sangat mereka syukuri karena di dapat dengan cara yang halal dan kerja keras.


Saat akan keluar dari rumah bi Indun menyodorkan sebuah amplop ke tangan Wulan.


“Ini untuk apa bi?” tanya Wulan. Ia tak kuasa mengambil amplop tersebut. Ia tau isi dalam amplop itu adalah uang tabungan bi Indun.


“Bawa lah, uang tambahan jika uang kamu kurang.”


“Nggak bi, aku nggak mau terima uang bibi. Bibi juga perlu uang untuk kebutuhan kita sehari hari,” tolak Wulan.


“Sudah bibi sisihkan untuk uang sehari hari kita, ini hanya sedikit yang bisa bibi berikan, anggap saja pemberian orang tua kepada anaknya,” ucap bi Indun.


Wulan menatap wajah kakek, ia manyun dan bingung dengan pemberian bi Indun itu. Apakah harus ia terima atau tolak.


Kakek mengangguk menyuruh Wulan menerima uang tersebut. “Ambilah, nggak baik menolak ketulusan orang tua. Jika nggak terpakai kan bisa di simpan untuk keperluan rumah,” saran kakek.


“Ambilah, nanti saat kita punya uang lebih, kita akan memberikan semuanya kepada bibi,” ujar Raya. Ia membantu mengambil amplop dari tangan bibi kemudian memasukkan ke dalam tas Wulan.


“Ya sudah, kami pamit dulu bi,” Wulan mencium punggung tangan bibi Indun.


“Kalian hati hati di jalan,” ucap bi Indun.


“Irma, Buto kalian jaga rumah ya,” pesan Wulan.


“Tapi aku akan mengantar kakek hingga ke bawah,” sela Buto.


“Biarkan saja, Buto sudah ijin, dia akan menggendong kakek hingga ke perahu,” ucap bi Indun.


“Baiklah, kami jalan dulu. Indun, kami jalan dulu,” ucap kakek Hendy.


Saat itu Mail sudah menunggu mereka di sebuah perahu motor di bawah kaki gunung. Mereka pun bergegas turun gunung sebelum siang, karena jadwal speed boat siang akan segera berangkat pukul 1 siang itu.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka tiba di sana, dengan bantuan Buto, kakek bisa cepat tiba di bawah.


“Kita kayak orang mau pindahan deh.” ucap Raya.


Wulan melirik wanita yang mendumel sambil mengangkat barang barang naik ke perahu satu persatu.

__ADS_1


“Maklum Ya, bibi nggak mau kita kelaparan di kota besar, makanya menitip semua makanan ini,” ujar Wulan.


“Kenapa banyak sekali barang?” timpal Mail yang terlihat keheranan menatap begitu banyak bungkusan.


“Tau tuh, tante kamu. Kita kayak orang kampung yang akan turun gunung,” celetuk Raya.


“Haha, aku sudah memesan hotel kecil tidak jauh dari tempat praktek dokter Yudha, plus paket breakfast. Jadi saat pagi kita bisa makan di hotel. Siang dan malam kita akan makan di luar. Bawa makanan sebanyak ini apa nggak basi?” ucap Mail.


“Nggak basi, kalau nggak habis bisa di bawa kembali,” ucap kakek Hendy.


“Capek kek, bawa barang banyak gini, mana semua di bungkus kain lagi,” ucap Raya. Ia terlihat sangat risih dengan barang bawaan mereka itu.


“Biar saja Ya, kita makan aja makanan bibi. Malam hari kita beli nasi makan di hotel, biar makanan bibi habis. Bibi pasti senang jika makanannya kita habiskan. Ya hitung hitung kita berhemat uang makan malam,” ucap Wulan.


Kakek Hendy mengangguk setuju dengan ucapan Wulan.


“Ya sudah, ayo.” Raya pun mengangkat bungkusan terakhir naik ke atas perahu.


Saat itu juga mereka langsung menuju desa pesisir. Dari desa pesisir mereka masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan speed boat untuk tiba di pelabuhan Muara Angke.


Mereka tiba di Jakarta pukul empat sore. Dari pelabuhan mereka langsung menuju hotel kecil tak jauh dari tempat praktek dokter Yudha.


“Apa aku masih terlihat seperti Raya Karenina si gadis selebgram itu?” tanya Raya tiba tiba sambil pemperhatikan beberapa pengunjung yang lalu lalang di loby hotel itu.


Wulan menggeleng. “Tidak sama sekali, saat ini kamu terlihat seperti Raya sahabatku,” ujar Wulan.


Wulan menatap Raya dengan lembut, dengan senyuman dan kasih sayang. “Kamu sudah cantik seperti ini, sangat cantik bahkan. Apa kamu ingin kembali menjadi Raya yang glamour itu?” tanya Wulan.


Raya mengangguk, “saat ini aku tidak tinggal di gunung. Naluriku sebagai wanita mengatakan aku harus berdandan cantik dan mengenakan pakaian mewah, kemudian duduk nongkrong disebuah tempat mewah,” ujar Raya.


“Kalau itu bisa membuat mu bahagia, lakukan saja,” ujar Wulan.


Raya memejamkan kedua matanya.


“Aku tidak akan kembali menjadi Raya Karenina sebelum membalaskan dendam anak dan kedua orangtua ku!” batin Raya.


“Wulan, Raya,” panggil Mail.


Wulan dan Raya segera menghampiri Mail.

__ADS_1


“Ini kamar kalian, aku dan kakek di kamar yang sama. Kamar kita conecting door jadi nggak akan merepotkan keluar masuk pintu,” ucap Mail seraya menyerahkan salah satu kunci kamar ke tangan Wulan.


“Jadi kita ke kamar sekarang?” tanya Wulan.


“Ya, masih ada kesempatan mandi dan ganti baju setengah jam. Jam 5 kita jalan kaki menyebrang, tempat praktek dokter Yudha di sebrang jalan,” ucap mail.


“Baguslah, tubuh ku lengket semua, setidaknya dokter tidak akan tau kalau kita manusia manusia yang baru saja turun gunung,” ujar Raya seraya berjalan menuju lift.


Wulan hendak kembali di kursi tempat ia dan Raya duduk, ia harus mengangkat barang barang bawaan mereka.


“Barang barang nya akan di angkat bellboy naik ke atas,” cegah Mail.


“Oohh,” sahut Wulan singkat. Ia kemudian berjalan menuju ke kursi roda kakek. Ia mulai mendorong kakek menuju lift, di sana Raya sudah menunggu mereka.


“Kalian ke kamar kalian saja, biar aku yang bawa kakek,” ujar Mail.


“Baiklah, terima kasih mail,” ucap Wulan dan di balas semyuman oleh pria tersebut.


Setiba di kamar yang memiliki doble bad, Raya langsung menghempaskan tubuh nya di atas sebuah ranjang.


“Sudah setahun lebih aku tidak merasakan empuknya sebuah ranjang,” ujar Raya.


Ia kemudian bangkit dari ranjang menuju nakas, sebuah remot langsung di arahkan ke tv.


“Dan nonton, sudah setahun juga aku nggak nonton tv,” ujar Raya lagi.


“Kita tinggal di gunung, nggak ada tv kabel Aya,” ucap Wulan.


“Ho oh, syukur syukur di rumah ada listrik, kalau nggak benar benar kita akan jadi orang hutan,” ujar Raya sembari mencari cari chanel tv yang ingin di tontonnya.


“Ya sudah aku mandi dulu,” ucap Wulan.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2