
Pukul sembilan pagi Wulan kembali berlutut di depan pintu kamar Brian. Seperti kata Soraya sebentar lagi Brian akan bangun, jadi dia harus siap di depan pintu kamar Brian.
Benar saja, Brian bangun dan langsung menuju pintu kamar. Ia memastikan Wulan sedang berada di sana.
Setelah melihat Wulan, Brian kembali masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
Selang beberapa saat.
“Wulan,” panggil Soraya dari dalam kamar.
Wulan bergegas masuk.
“Siapkan kaos kaki dan sepatu hitam tuan, trus kamu turun ambil kan Headset dan charger tuan di mobilnya,” perintah Soraya seraya menyerahkan kunci mobil ke tangan Wulan.
Wulan langsung melakukan yang diperintahkan Soraya. Setelah menyiap kan sepatu ia pun turun ke mobil Brian yang hanya terparkir di dekat pintu.
Wulan mencari cari barang yang di maksud. Setelah menemukan charger ia mencari head set hingga kursi belakang. Wulan mendapati beberapa map di atas kursi. Tangan nya dengan cepat memeriksa dokumen dokumen itu.
“Kontrak baru dengan investor? Surat jual beli tanah? Dan akuisis lahan rumah sakit terbengkalai?” batin Wulan. Ia mencermati isi dari semua dokumen tersebut kemudian meletakkan kembali ke tempat semula.
Setelah menemukan headset Wulan bergegas keluar dari mobil kemudian kembali ke kamar. Ia menyerahkan headset dan charger ke tangan Soraya.
“Sekarang kamu siapkan sarapan tuan,” perintah Soraya lagi.
“Baik nona,” jawab Wulan patuh kemudian pergi dari situ.
Sepeninggal Wulan, Brian melanjutkan percakapannya di telpon dengan seorang rekan kerja nya.
Soraya mulai mendekati Brian.
“Hari ini papa mengajak kita makan,” bisik Soraya. Tangan nya masuk ke dalam kemeja putih Brian kemudian meraba raba dada Brian.
“Iya pak Mun, setelah musda di Riau baru kita tentu kan langkah apa yang akan di ambil,” ucap Brian pada pria yang di telponnya.
Soraya terus beraksi membuat Brian sedikit terganggu. Tangannya kini menyelinap masuk ke dalam celana Brian. Sambil terus menelpon Brian mulai gelisah. Benda pusaka miliknya kini sedang di mainin hingga bangkit sempurna.
“Pak Mun, saya akan hubungi kembali. Saya masih ada urusan penting,” ujar Brian langsung menutup panggilan telponnya.
Seluruh kancing kemeja Brian sudah terbuka, celananya sudah melorot hingga nyangkut di kedua lutut nya.
“Yan sayang, pak Mun sudah setuju soal pendanaan proyek di Bali?” tanya Soraya sambil berjalan gemulai menuju ranjang.
“Sudah, setelah loby yang cukup panjang ke pak mentri akhirnya di berikan ke pak Mun,” jawab Brian sambil mendekati wanitanya itu.
“Aku ingin pria itu turun dari jabatannya. Aku nggak perna suka pria itu masih hidup enak setelah ia menjatuhkan keluarga ku,” ujar Soraya. Ia mulai berbaring menunggu Brian naik ke atas ranjang.
“Aku sudah merencanakan semuanya dengan baik, kamu tenang saja,” jawab Brian yang saat itu juga langsung menerkam Soraya.
Sementara di lantai bawah, Wulan sudah menyiapkan dua porsi sarapan. Yang satunya untuk Brian dan yang satunya untuk Soraya.
Sudah sepuluh menit sejak sarapan disiapkan di atas meja, namun keduanya belum juga turun. Wulan akhirnya memberanikan diri untuk naik ke kamar.
Tok tok tok
Wulan mengetuk pintu pelan, namun sepertinya pintu tak terkunci. Suara ******* Soraya terdengar pelan, sesekali ia akan berteriak agak besar seperti sedang kesakitan.
“Yan, aku ingin membalas perbuatan mereka. Setiap rasa sakit yang ku alami. Aku ingin merebut kembali partai nasional ke keluarga kami,” ujar Soraya ditengah desahannya.
__ADS_1
“Semuanya akan jadi milikmu sayang, aku akan buat dunia bertekuk lutut di bawah kaki mu,” jawab Brian.
Mendengar percakapan mereka wulan sedikit bingung, ia sedikitpun tak mengerti arah pembicaraan kedua nya. Yang pastinya Brian begitu mencintai Soraya. Ia akan melakukan apa pun untuk Soraya.
Wulan memutuskan turun kembali ke meja makan.
“Sebaiknya menunggu di sini.”
Selang setengah jam, Brian dan Soraya tiba di meja makan. Wulan segera bangkit dari kursinya kemudian mengatur piring untuk Brian dan Soraya. Ia mengeluarkan masakan buatannya ke atas meja, masakan yang di ajarkan Soraya kepadanya pagi tadi.
Dalam diam Brian mulai memakan masakan olahan Wulan.
“Siapa yang masak?” tanya Brian.
“Hmmm, enak Lan?” ucap Soraya senang.
Wulan hanya menunduk.
“Enak kan Yan, ternyata Wulan punya bakat memasak,” ujar Soraya memuji Wulan.
Brian hanya diam sambil terus menghabiskan jatah sarapannya di atas meja.
“Hari ini kamu dirumah saja. Aku sibuk hari ini, kamu ke kantor pun nggak akan bertemu denganku,” ucap Brian lembut. Jauh berbeda dengan perlakuannya terhadap Wulan.
“Iya Yan, toh ada Wulan yang temani aku,” sahut Soraya.
Brian melirik Wulan, wanita yang selalu di anggapnya sebagai biang masalah bagi dirinya.
“Kamu masih membelanya? Jija bukan karena dia, mungkin kita yang menikah. Kamu tidak akan menjadi seperti sekarang ini,” ujar Brian.
“Yang penting bagi aku adalah hati mu, aku sudah merasa cukup sudah memiliki hatimu,” rayu Soraya.
Wulan hanya bisa menunduk. Setelah kepergian Brian Soraya langsung mendekati Wulan.
“Tenang saja Lan, aku disini hanya sampai rumah baru ku selesai di renovasi. Setelah itu mungkin Brian akan jarang ke sini,” ucap Soraya sembari mengusap pundak Wulan.
“Terimakasih non,” ucap Wulan.
“Dih non, kamu bisa panggil aku Soraya aja. Atau panggil aku Aya,” ujar Soraya ramah.
“Soraya jauh lebih baik daripada Raya. Semoga saja kebaikannya ini tulus tak ada maksud tersembunyi,” batin Wulan.
“Ayo, kita naik ke atas. Aku punya salep untuk bibir mu,” ujar Soraya menarik lengan Wulan ke kamar.
“Luka aku nggak seberapa non, nggak usah,” Wulan menolak ajakan Soraya.
“Sudah, nggak apa kok, supaya besok kamu bisa kembali kerja.”
“Aku juga berharap besok bisa kerja, tapi belum tentu mendapat ijin dari tuan,” ucap Wulan.
“Tenang saja, besok kamu bisa kerja. Aku besok sibuk, banyak urusan keluarga. Nanti aku ngomong ke Brian aku yang suruh kamu ngantor.”
“Benarkah?” tanya Wulan senang.
“Iya, Ayuk,” jawab Soraya.
Wulan ikut masuk ke dalam kamar, ia duduk di depan meja rias.
__ADS_1
Soraya membantunya mengoles luka pada ujung bibirnya kemudian mengoles luka lecet di jemari Wulan.
“Kamu cantik, kamu harus merawat diri kamu. Jika sering luka seperti ini akan meninggalkan bekas,” ujar Soraya.
Ia kemudian memperhatikan pakaian Wulan.
“Kamu beli pakain seperti ini dimana?” tanya nya.
“Kenapa non?” Wulan balik bertanya.
“Pantes Brian selalu mengatakan dirimu wanita kampung,” jawab Soraya.
“Aku memang dari kampung, pakain seperti ini lebih nyaman dan lebih sopan,” jawab Wulan.
“Jika ingin Brian melirik mu, ubahlah penampilan kamu. Yang paling utama adalah pakaian.”
Wulan terdiam.
“Kamu mau terus di sakiti seperti semalam? Sebagai wanita terlihat sedikit lebih menarik adalah bagus, agar nantinya Brian nggak menatap mu dengan remeh. Apalagi kamu istrinya.”
“Nggak apa, aku senang seperti ini,” ujar Wulan lemah.
“Kamu nggak ingin mendapatkan perhatian dari suami kamu?”
Lagi lagi Wulan terdiam.
“Wulan, wanita wanita di luar sana berebutan ingin mendapatkan Brian. Mereka ingin melakukan apa saja agar bisa jadi kekasih nya, nah kamu yang sudah jadi istrinya kok pasrah aja?” tanya Soraya sekaligus menasihati Wulan.
“Non Soraya juga menyukai Tuan?” tanya Wulan.
“Entahlah, cara aku memandang hubungan kami dan cara Brian memandang hibungan kami berbeda. Bagiku hubungan ini hanya sekedar simbiosis mutualisme, begitu juga Brian.” Jelas Soraya.
“Tapi tuan terlihat peduli dan begitu menyayangi nona,” ujar Wulan.
“Tidak seperti itu, Brian tidak pernah tau apa itu cinta dan apa itu hasrat.” Soraya memberikan salep ke tangan wulan. “Sekarang kita gantian, kamu bantu aku mengoles luka ku,” ujar Soraya.
Soraya mulai menanggalkan seluruh bajunya, ia berbalik badan memberikan punggungnya kepada Wulan.
Merah, memar dibeberapa bagian kulit hingga paha, bahkan ada beberapa bagian luka lecet yang terkupas.
“Nona, ke kenapa seperti ini?” tanya Wulan dengan mata membulat menyaksikan bilur bilur di tubuh Soraya.
“Sekarang kamu mengerti? Apa ini yang disebut cinta?” ucap Soraya.
“Ta tapi?!”
“Aku pernah melihat tuan berhubungan dengan non Raya tidak seperti ini,” ujar Wulan lagi kemudian mulai mengoleskan salep di punggung Soraya.
“Yang tau penyakit Brian hanya aku. Jadi hanya aku yang bisa membuatnya tenang.”
Wulan masih berpikir, suara jeritan di kamar pagi tadi adalah karena dipecut? Jika seperti ini, kenapa Soraya mau bersama Brian?
.
.
.
__ADS_1
TBC…