
“Irma, Irma!” teriak bi indun berulang ulang.
“Irma, bantu ibu nak,” panggil bi indun sekali lagi.
Setelah mendengar sang ibu memanggil, Irma pun keluar.
“Ibu, siapa itu?” tanya Irma.
“Kita bawa orang ini masuk dulu. Bantu ibu menariknya ke dalam nak,” perintah bi Indun.
Mereka membawa Buto ke dalam rumah, sedangkan Wulan menyusul di belakang mereka.
Memasuki pintu rumah itu, keadaan di dalam ternyata sangat terang. Di dalam rumah lampu menyala begitu terang, berbeda dengan di luar rumah yang tidak memiliki penerang sedikit pun.
Buto di bawa masuk hingga ke ruangan tengah. Darah terlihat menempel di baju yang di kenakan Buto.
“Buto?” panggil Wulan.
“Dia kenapa Nyah?” tanya bi indun.
“Entahlah bi, mungkin terkena tembakan atau apa, entahlah aku juga nggak melihat dengan jelas kejadiannya seperti apa,” jawab Wulan.
Irma langsung merobek baju di badan Buto, terdapat sebuah lubang di perut sebelah kiri tembus sebelah belakang. Sedikit darah yang masih mengalir dari luka tersebut.
“Ya ampun Nyah, kenapa bisa begini? Ini kenapa banyak sekali darahnya,” ucap bi Indun sambil menutup lukanya itu.
“Buto datang menyelamatkan aku, saat kami akan melarikan diri kami di kejar beberapa orang pengawal Brian. Saat itu terdengar suara tembakan, yang terpikir salam benak kami hanya lari sejauh mungkin dari tempat itu bi,” jelas Wulan teringat kembali kejadian menegangkan malam tadi.
“Irma carikan kain dan air hangat. Trus kamu hubungi Mail, suruh dia kesini sekarang.” ucap bi Indun.
“Baik bu,” jawab Irma patuh. Saat itu juga Irma langsung keluar dari ruangan itu melakukan apa yang diperintahkan ibunya.
“Nyah, sepertinya pria ini kehabisan banyak darah. Semoga saja luka tembaknya tidak mengenai organ penting lainnya. Kalau iya, berarti harus di bawah ke rumah sakit,” ucap bi Indun.
“Biar aku bantu,” ucap wulan kemudian duduk di samping bibi di atas lantai.
Saat itu, ia pun sadar jika lengan kanannya terasa perih seperti di tusuk tusuk. Wulan mengangkat lengan baju kemudian memeriksa lengannya.
“Sejak kapan ada luka di tangan ku?” batin Wulan.
Karena baju berwarna gelap yang di kenakannya, ia tidak melihat ada darah di pakaian nya.
“Nyonya, tangan nyonya juga?” ucap bi Indun kaget.
“Ya seperti nya sebuah peluru juga mengenai lenganku, tapi hanya seperti luka gores bi, tidak terlalu parah,” ucap Wulan.
“Irma bawakan dua mangkok air hangat,” teriak bi Indun lagi.
Selang beberapa saat Irma masuk ke dalam rumah. Ia mengangkat air hangat satu persatu.
“Cepat, sekarang kamu turun. Panggil Mail ke sini,” ucap bi Indun pada Irma.
__ADS_1
“Titip Zaka ya bu, jangan terlalu berisik tar bangun,” ujar Irma sebelum keluar dari ruangan itu.
Bi Indun mulai membersihkan tubuh Buto. Ia mengelap darah yang sudah mengering di badan Buto.
Sedangkan Wulan, ia membersihkan sendiri darah di lengannya.
“Jangan lupa di perban Nyah, sebentar bibi bantu perban,” ucap bi Indun.
Setelah luka di lengan Wulan bersih, Wulan langsung mengolesi obat merah. Bi Indun membantu Wulan melingkar kan perban di tangannya.
“Setelah Mail ke sini, dia akan memeriksa luka nyonya, mungkin saja perlu di jahit karena luka nya terbuka cukup panjang,” ucap bi Indun.
“Bagaimana dengan Buto bi?” tanya Wulan.
“Pria ini berbadan besar, otot nya kuat. Seharusnya dia baik baik saja. Kita tanya Mail nanti setelah tiba di sini.”
“Mail itu keponakan bibi, dia sekolah kedokteran, belum lulus sih, sekarang masih semester akhir,” jelas bi Indun.
“Bibi ke kamar ambilkan baju untuk Buto dan untuk nyonya. Kita ganti kan pakaian Buto dan pindahkan dia ke atas ranjang,” ucap bi Indun lagi.
Sepeninggal bi Indun ke dalam kamar, Wulan memperhatikan seisi ruangan tersebut. Terdapat kursi roda di sudut ruangan, dan pakaian bayi yang sedang di jemur di dalam ruangan. Rumah yang tidak seberapa besar, dan padat dipenuhi barang barang.
Beberapa saat kemudian bi Indun keluar.
“Nyah, bibi gantikan pakaian Buto. Nyonya bantu pegang kan bajunya,” ucap bi Indun.
Tubuh buto ditutupi kain sarung, kemudian bi indun mengangkat sedikit kepalanya. Melihat bi Indun kewalahan karena berat badan buto yang sangat berat, Wulan memutuskan membantu bi Indun.
Selang beberapa saat, Buto sudah terlihat bersih.
“Non Raya?” teriak bi Indun.
“Bantu bibi dan nyonyah. Mari kita angkat Buto ke atas ranjang. Tolong non,” pinta bi Indun.
Raya kemudian masuk keruangan itu.
Wulan terpana melihat penampilan Raya. Rambutnya kini di potong seperti potongan rambut pria. Dan gaya berpakaiannya seperti wanita yang tidak terawat di balik hoodie hitam berwarna butek.
“Non raya?” gumam Wulan.
“Mau di bantu nggak?” tanya Raya ketus menatap Wulan.
“Mari non, bantu kami,” jawab bi Indun.
Saat itu juga Wulan langsung memalingkan wajahnya. Ia harus mengangkat Buto ke atas ranjang.
“Ayo, kita angkat bersama,” ucap Wulan.
Dengan kerja sama yang cukup baik, Buto berhasil di angkat ke atas ranjang.
Saat itu juga Raya langsung meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
“Sekarang nyonya ganti pakaian nyonya, bibi ingin perlihatkan sesuatu,” ucap bi Indun.
Wulan meraih bajunya di atas kursi.
“Ganti baju di kamar Irma aja Nyah,” ucap bi Indun sambil menunjuk sebuah kamar.
Di dalam kamar, tak seberapa besar itu seorang bayi mungil tergelatak di box kecil.
“Anak ini pasti anaknya Irma dan Brian.” batin Wulan.
Tanpa sadar ia sudah melangkah mendekati box bayi itu.
“Bayi kecil yang lucu,” ucap Wulan sambil tersenyum.
Ia membuka baju kemudian mengganti dengan baju bersih.
“Bi,” panggil Wulan begitu ia keluar dari kamar.
“Sini, ikut bibi,” ajak bi Indun.
Wulan berjalan di belakang bibi memasuki kamar lainnya. Setiba di dalam kamar, bi Indun langsung menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
“Ssshhhttty. Jangan berisik ya Nyah, kakek sudah tertidur nyenyak,” ucap bi Indun.
Kepala Wulan memiring sedikit ke arah belakang bi Indun. Ia melihat seseorang yang sedang tertidur lelap.
“Kakek?” ucap Wulan dengan mata membola.
“Itu kakek bi?” tanya Wulan.
Bi Indun mengangguk mengiyakan.
Saat itu juga tubuh Wulan berhambur ke arah ranjang dimana kakeknya sedang terlelap.
“Kakek? Ini benar benar kakek?”
Tangisan tak bisa di bendung Wulan. Ia menangis senang sekaligus sedih.
“Akhirnya Wulan bisa bertemu kakek. Wulan pikir kakek sudah meninggal. Tapi, kakek masih hidup.
Wulan terus menahan agar suara tanginya tidak pecah. Ingin sekali rasanya ia memeluk kakek saat itu. Tapi niatnya di urungkan.
Wulan hanya bisa duduk di samping sang kakek sambil menatap wajah kakek nya yang sedang terlelap. Keriput dan uban di kepala kakeknya semakin banyak. Penderitaan apa yang sudah di alami kakek? Mengapa kakek bisa tinggal bersama bi Indun? Ingin sekali Wulan membangunkan kakeknya dan bertanya. Sungguh hal yang tidak pernah di sangka, kakek nya berada si hadapannya kini.
“Terimakasih karena Tuhan masih mengijinkan Wulan melihat kakek.”
.
.
.
__ADS_1
TBC…