Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Raya and Baby-


__ADS_3

Di sebuah rumah di pinggiran hutan, tempat yang sangat terpencil dan jauh dari lalu lalang kendaraan. Di sebuah rumah seorang petani Raya dan kedua orang tuanya bersembunyi. Seorang bayi yang baru berusia satu bulan harus hidup apa adanya di gubuk kecil yang sudah di tinggalkan pemiliknya itu. Dengan bekal seadanya mereka bertahan hidup dari kejaran anak buah Brian.


“Raya, papa sudah katakan kamu lupakan saja pria itu. Lihat sekarang. Kamu malah berani menantangnya, apa yang dia lakukan terhadap mu. Bahkan papa dan mama harus ikut bersembunyi di tempat seperti ini,” ujar sang papa.


“Raya hanya ingin keadilan pa, Raya hanya ingin Brian mengambil Carisa dan mengakui dia sebagai anaknya, tidak lebih. Bagaimana pun, Carisa adalah anak nya, darah dagingnya. Raya pikir, hatinya akan luruh setelah melihat wajah anaknya,” ujar Raya.


“Kamu masih mengharapkan pengakuan dari ayahnya? Sudah hidup tenang saja seharusnya kamu sudah bersyukur,” imbuh papa Raya.


“Sudahlah pa, sudah terjadi seperti ini. Jangan menyalahkan Raya terus, tubuhnya saja belum pulih dari masa bersalin. Jangan tambah beban pikirannya. Lihat ada anak bayi yang sedang di susuinya, papa jangan terus memarahinya,” bela sang mama.


“Maafin Raya pa, ma. Raya salah, terlalu berharap lebih,” ucap Raya penuh penyesalan.


Ia kini menatap wajah bayi kecil dalam pelukannya yang sedang menyusui. Ia harus kuat demi anak nya.


“Sekarang apa rencana kamu?” tanya papa.


“Raya akan menghubungi Brian dan meminta maaf, Raya tidak akan mengganggu nya lagi, Raya akan membawa pergi Carisa jauh dari negara ini,” ucap Raya.


“Baguslah, sekarang kita belum bisa melakukan apa pun. Anak buah Brian terus mencari kita. Saat ada kesempatan, papa akan keluar dari hutan ini mencari penduduk desa. Kamu bisa menghubungi Brian dari sana,” ucap sang papa.


“Ya, Raya hanya perlu aliran listrik untuk mengecas ponselnya. Raya akan meralat kembali postingan yang sudah di unggah di media sosial, dan meminta maaf kepada Brian,” ucap Raya sambil menahan linangan air mata di kedua pelupuk matanya.


Ia terisak kecil, sebenarnya ia masih belum terima Brian meninggalkannya, ia sudah terlanjur mencintai pria itu. Ia masih berharap Brian kembali dengannya. Dengan memiliki buah hati, Raya berpikir Brian akan menerimanya demi sang anak. Namun ia salah besar. Kebencian Brian terhadap dirinya malah semakin menjadi.


“Sudah, karena hari sudah malam. Besok baru kita lanjutkan perjalanan. Papa sudah parkir mobil di tempat aman kan?” tanya sang mama.


“Sudah ma, tidak ada yang akan melihat mobil kita di sana,” jawab papa mantap.


Menjelang tengah malam, si kecil Carisa terus menangis. Raya sudah berusaha memberinya ASI dan menggendong tapi bayi kecil itu terus menangis.


Tangisan Carisa membuat mereka tidak bisa tidur malam itu.


“Raya coba periksa baju Carisa, mungkin ada semut,” ujar sang ibu.


“Karna gelap, langsung ganti pakaiannya. Pakaikan minyak gosok, mungkin Carisa sakit perut,” imbuh sang papa.


Raya mengikuti seperti yang di perintahkan kedua orang tuanya namun bayi kecil Carisa masih tetap Rewel.


Kemudian dari arah pintu masuk dua orang pria berbadan besar. Raya yang saat itu tengah menyusui sang bayi langsung menggendong Carisa kemudian berlari ke arah pintu belakang.


“Kejar dia,” teriak lelaki itu.


“Jangan ganggu anak ku,” terdengar suara sang ibu yang berusaha menahan kedua pria tersebut.

__ADS_1


Terdengar suara pertikaian dari dalam gubuk tersebut.


“Raya cepat pergi dari sini. Lari lah sejauh mungkin,” teriak sang papa.


“Bunuh saja, mengganggu sekali,”


Suara teriakan mama dan papanya masih terdengar. Mereka di siksa hingga tak terdengar suara sedikitpun.


Yang ada dalam pikiran Raya saat itu hanyalah pergi sejauh mungkin untuk menyelamat kan baby Carisa.


Ia memeluk Carisa dengan erat sambil berlari menyusuri hutan. Langkah nya tak pernah berhenti walau tanpa alas kaki. Ia terus menerobos dahan, ranting dan dedaunan.


Entah berapa lama dan berapa jauh Raya berlari. Saat menyadari si kecil Carisa diam dan tak bersuara Raya memutuskan berhenti dan duduk di sebuah akar pohon.


Ia membuka bedong dan kain yang membungkus Carisa.


“Sayang?” panggil Raya.


“Carisa?”


“Baby!”


Tubuh bayi itu terlihat lemah. Badannya demam tinggi dengan suara ngorok yang tidak beraturan.


Sambil berlinangan air mata, Raya melanjutkan langkahnya. Pagi mulai menjelang. Di ufuk timur cahaya mentari mulai menampakkan cahaya fajar di langit.


Akhirnya Raya memutuskan untuk berjalan menuju arah timur. Beberapa saat kemudian, tak jauh dari tempatnya berjalan Ia melihat asap yang membumbung tinggi ke langit.


Ia mempercepat langkahnya menuju arah asap tersebut. Hingga terlihat dua rumah warga yang awal pagi itu sudah mulai beraktivitas.


Seorang pria paruh baya sedang menyapu halaman rumah dihampirinya.


“Pak tolong saya,” ucap Raya sambil terisak.


Airmatanya jatuhi kedua pipinya, ia menangis sejadi jadinya hingga tersungkur di atas tanah.


“Neng, ada apa neng. Bangun lah,” ucap pria itu sambil memapah Raya untuk berdiri.


“Buk,” ibuk,” panggil pria itu.


“Iya pak,” seorang wanita yang adalah istri pria itu keluar dari arah dapur.


“Siapa ini pak, kenapa begini?” tutur ibu itu heran.

__ADS_1


“Bapak juga bingung, tiba tiba dia muncul dari dalam hutan.”


“Pak, bu tolong anak saya,” ucap Raya.


“Dibawah masuk ke dalam atuh, bapak gimana?” ucap ibu itu.


Mereka membawa Raya masuk ke dalam dapur.


“Neng bawa anak bayi, ayuk sini berikan pada ibu,” pinta ibu itu.


Raya menyerahkan bayi mungilnya ke tangan wanita itu.


“Aduh neng, kenapa kainnya basah begini.”


Ibu itu membuka kain yang membungkus di tubuh Carisa kemudian meletakkan Carisa di atas kursi.


“Tolong anak saya bu,” ucap Raya.


“Bayi nya neng demam nya tinggi, pak ambilkan air hangat.”


Ibu itu terlihat sibuk mencari kain yang bisa di gunakan untuk mengganti kain bedong nya yang basah. Ia juga langsung mengompres Carisa dengan kain hangat.


“Sebaiknya di bawa ke dokter bayi nya neng. Ibu tidak tau obat untuk bayi. Tapi dokter adanya jam 9 di puskesmas. Jadi sementara di kompres seperti ini,” ucap ibu itu.


“Carisa? Baby,” panggil Raya penuh kelembutan. Raya mengusap kepala Carisa perlahan.


“Tidak biasanya dia seperti ini bu, Carisa?” panggil Raya lagi. “Apa tidak ada dokter di sekitar sini?” tanya Raya.


“Nggak ada neng. Dokter datang dari kecamatan, itu pun hanya ada jam 9 sampai jam 1 siang,” tutur ibu itu.


“Gimana kalau neng ganti baju dulu, baju neng basah semua.” Ibu itu memperhatikan kaki Raya yang ternyata terdapat luka goresan di beberapa bagian. “Dan bersihkan kaki neng, kalau tidak luka di kaki neng bisa makin parah,” lanjut ibu itu.


“Tapi bagaimana dengan carisa bu?” tanya Raya.


“Bayi sekecil ini, obatnya hanya ASI. Setelah di susui pasti akan membaik. Kita tidak bisa sembarangan memberinya obat.”


Mendengar ucapan ibu tersebut, Raya pun membersihkan seluruh tubuhnya dari keringat dan kotor. Ia mengenakan baju yang di berikan ibu itu. Setelah terlihat rapih ibu itu membantu Raya mengoleskan obat luka di kakinya.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2