
Wulan berdiri di balik pintu menatap kamar baru nya. Kamar dengan ukuran sedikit lebih kecil dari kamar Brian. Kamar yang lebih sederhana tapi sangat membuat hati Wulan gembira.
“Ya Tuhan. Aku punya kamarku sendiri. Aku sangat menyukai kamar ini.” batin Wulan.
Wulan berjalan masuk dengan gembira kemudian menghempaskan badannya ke atas ranjang.
“Hmm, ranjang nya harum,” gumam Wulan seraya membaringkan tubuh nya sejenak. Berbagai rencana mulai tersusun dalam benak nya.
“Bagaimanapun kami harus bercerai. Aku nggak bisa selamanya tinggal di tempat seperti ini. Dan kakek nggak boleh tau kelakuan bejat laki laki itu. Aku harus membawa kakek pergi dari sini. Kakek nggak boleh tinggal di sini.” batin Wulan.
Ia pun mengacak ngacak rambutnya. “Aagghh aku pusing. Aku juga nggak mau kalau kakek tinggal sendirian di kampung,” gerutu Wulan.
“Tok tok tok.”
Suara ketukan pintu beberapa kali.
Wulan pun bangkit sari pembaringan menuju pintu.
Raya sedang berdiri di sana hanya dengan mengenakan handuk dan rambut basah yang terus menetes membasahi handuk nya.
“Ada apa non Raya?” tanya Wulan.
“Ikut saya.”
Wulan pun berjalan mengikut di belakang Raya menuju kamar mereka.
Wulan langsung menunduk setelah tiba di kamar luas itu.
“Siapkan pakaian ku,” ucap Brian.
“Ba baik tuan,” Wulan langsung berjalan menuju ruangan pakaian dimana semua pakaian Brian tertata.
Ia mengambil sepasang setelan berwarna biru tua yang sudah tergantung rapih dari dalam lemari.
“Tuan,” ucap Wulan sambil menyerahkan pakaian itu ke tangan Brian.
“Kamu?!” panggil Raya. “Keringkan rambutku,” lanjut Raya.
“Wulan menghampiri Raya yang sudah duduk cantik di depan cermin.
“Kamu bisa blow ga?” tanya nya seenaknya.
“Bisa non.”
“Ya sudah blow,” perintah Raya.
Wulan mulai melakukan tugas nya.
Rambut panjang Raya terlihat semakin cantik. Dari balik gaun merah yang dikenakan nya ia terlihat sangat sempurna.
Brian menghampiri Raya kemudian mencium punggung tangan nya. “Lihat lah kekasih ku. Dia sangat menawan. Setiap menatap nya membuatku ingin terus berada di sampingnya.” Brian mulai kembali mencumbu Raya.
“Sayang, aku sudah terlihat seperti ini, jangan di rusak dandanan ku,” tolak Raya.
Brian menghentikan aksinya.
“Ya, kita akan senang senang malam ini,” ujar Brian.
“Tugas Kamu adalah beresin kamar ini sampai bersih,” perintah Brian pada Wulan.
“Baik tuan.”
__ADS_1
“Dan jangan lupa beresin pakaian ku juga, susun yang rapih dalam lemari. Karena aku nggak mau pakaian ku kusut. Oh ya, hati hati. Jangan sampai pakaian pakaian mahal ku rusak karena kamu,” lanjut Raya.
“Hm, sayang aku turun duluan. Aku tunggu kamu di mobil,” ucap Brian.
Brian pun berlalu dari ruangan itu.
Sepeninggal Brian. Raya beranjak mendekati Wulan.
“Kamu bukan wanita yang jelek, sebenarnya kamu sangat cantik. Tapi secantik apa pun kamu, barang yang sudah di benci Brian selamanya akan berada di tempat sampah. Haha terima kasih. Dengan ada nya dirimu aku tak perlu repot repot menyingkirkan Soraya wanita yang di cintai Brian.” Raya menarik kepala Wulan kemudian mencium dahinya. “Muah, sekali lagi terima kasih,” ucap nya senang kemudian berjalan menuju pintu.
Sepeninggal Raya dari ruangan itu. Wulan masih berdiri mematung menatap pintu dimana Raya barusan keluar.
“Haha, sesama orang bejat emang selalu cocok bersama. Dan terima kasih juga non Raya, kamu sudah membantuku tidur dengan Brian menggantikan diriku,” ucap Wulan.
Ia bergeser sedikit kemudian menatap ke arah cermin.
“Semakin jelek penampilanku di mata Brian, dia akan semakin membenciku!” batin Wulan.
“Nyah, nyonyah?” suara bi Indun terdengar dari luar kamar.
“Iya bi?” Wulan bergegas menghampiri sumber suara.
“Bi ada apa?” tanya Wulan setelah membuka pintu.
“Itu Nyah, karena tuan nggak makan di rumah. Nyonya ingin makan apa?” tanya bi Indun.
“Bi, dimasakin apa saja oleh bibi aku pasti makan. Hmmm,” Wulan berpikir sejenak. “Itu bi, buat kan sop ikan buat kakek ya. Selain itu terserah bibi saja mau masak apa,” ucap Wulan ramah.
“Baik Nyah, bibi masak kan sekarang. Mari Nyah,” pamit bi Indun.
Wulan kembali masuk ke dalam kamar. Ia masih harus membereskan kamar dan membenahi pakaian Raya ke dalam lemari. Sebaiknya ia tak menunda pekerjaan nya agar ia segera keluar dari kamar itu.
Ihhh berlama lama di kamar ini membuat aku mual. Jika bukan karena kakek, aku nggak bakalan sudi menerima pernikahan ini. Siapa sih yang nggak tau siapa Briandy Susanto. Pria bajingan yang telah mempermainkan banyak wanita.
Berbagai macam ucapan selamat dalam grup chat juga chat pribadi di bacanya satu persatu. Kemudian membalas satu persatu pesan yang masuk itu.
Drrrttttttt drrrtttttt drrrrrttttt.
Panggilan Video dari teman teman nya.
“Halo pengantin baru,” ucap teman teman nya serempak setelah Wulan menggeser tombol berwarna hijau.
“Cieeehh yang baru menikah kok auranya manyun?” ucap Sarah temannya.
Wulan menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.
“Kamu napa Lan?” tanya Renata.
“Ho oh, kok maksa gitu senyum nya?” lanjut Sarah.
“Kalian kan sudah tau, menikah dengan pria itu nasib hidupku akan seperti ini,” jawab Wulan.
Wajah wulan tiba tiba menjadi sedih.
“Aku cuman lagi mikir sekarang, aku nggak mau kakek tinggal dengan ku. Aku nggak mau kakek melihat ketidak bahagiaan ku ini,” ujar Wulan.
Wajah kedua teman nya berubah cemberut. Mereka turut memikirkan nasib kakek Hendy.
“Brian nggak sentuh kamu kan Lan?” tanya Renata.
Wulan menggeleng. “Nggak,” ucapnya.
__ADS_1
“Dia membawa seorang wanita tidur dengannya di malam pengantin kami,” lanjut Wulan.
“Hmmm, nggak heran. Bagus lah kamu nggak di apa apain,” ujar Sarah.
“Sekarang dia membawa wanita bernama Raya untuk menjadi pemuas nafsunya. Kalian kenal Raya Karenina kan?” tanya Wulan.
“Siapa?” tanya Sarah sambil berpikir.
“Selebgram dari Jambi itu ya?” tanya Renata.
Wulan mengangguk.
“Cantik ga?” tanya Sarah.
“Buka aja Rah IG kamu, cari namanya. Pasti ketemu.” ucap Renata.
Sarah pun langsung membuka ponsel nya yang lain untuk mencari sosok Raya Karenina.
“Besok kita ketemuan ya?” tanya Renata.
“Kamu mau ke sini?” tanya Wulan.
“Ya, buat temenin kamu menghilangkan duka nestapa di hatimu hehe,” ucap Renata sambil terkekeh.
“Ga usah Ren, aku masih baca baca situasi disini. Kalau kita ketemuan trus ketahuan Brian gimana? Gagal rencana ku,” larang Wulan.
“Wwaahhhh,” suara Sarah yang sedang takjub. “Cantik banget ini mah,” ucap Sarah.
“Cantik, aslinya cantik ga Lan?” tanya Renata.
“Aslinya cantik lah, ga mungkin Brian mau kalau jelek,” jawab Wulan.
“Cih, tapi cantik dari hasil uang simpanan pria pria kaya buat apa?” nyinyir Renata.
“Waw pose nya menantang,” ucap Sarah lagi yang masih sibuk memperhatikan foto foto Raya.
“Aslinya emang se seksi itu, makin seksi makin di sukai Brian dong,” ucap Wulan.
“Lan jadi kapan kita ketemuan? Aku kangen,” ucap Renata.
“Aku rencana nya pekan depan mulai kerja di pabrik tantenya Brian. Jika ada kegiatan di luar, kita bisa lebih leluasa bertemu,” ucap Wulan.
“Baiklah, aku akan ke sana dengan pacarku yang baru.” ucap Sarah.
Wulan mengerling menatap Sarah. “Awas tak daftarin ke rekor MURI lo,” ancam Wulan.
“Haha, pacaran dengan putus cinta terbanyak dalam sehari,” sambung Renata sambil tertawa renyah.
“Haaah. Mendingan dari pada kalian ga laku laku,” serang Sarah.
“Wulan dah laku kaliii,” sambung Renata.
“Itu mah nggak kehitung, nama Brian nggak ada dalam daftar ku,” tegas Wulan.
Percakapan masih terus berlanjut anatar Wulan, Sarah dan Renata hingga sejam kemudian.
.
.
.
__ADS_1
TBC…