
Kilau kemilau air laut nampak beriak riak di atas permukaan air. Kala itu sang mentari mulai beranjak naik. Deru ombak terasa terlalu besar, hingga yacht itu menjadi sedikit bergoyang. Terasa lebih mengayun mengikuti gelombang air.
“Kita sudah sampai, bangun lah?” Arkan memeluk Wulan yang kala itu masih larut dalam tidurnya.
“Hei bangunlah,” ucap Arkan lagi, namun ia tak sedikitpun mengendorkan pelukannya.
“Sayang,” sebuah kecupan lembut mendarat di kening Wulan.
“Kita sudah di dermaga sayang.”
Wulan mengerutkan dahinya. Ia mendengar setiap ucapan yang di lontarkan Arkan. Tapi ia masih enggan membuka matanya. Dalam pelukan Arkan terasa begitu hangat dan menyenangkan.
“Sayang,” bisik Arkan di telinga Wulan. Hingga deru nafas Arkan terasa menerpa daun telinga Wulan.
Wulan membuka matanya perlahan. Wulan masih tak ingin keluar dari pelukan Arkan, ia malah dengan sengaja menempel makin erat di tubuh Arkan.
Hingga sebuah benda keras di bawah sana terasa menonjol mendorong bagian bawah perutnya.
Wulan tau hal yang sedang mencuat itu apa, ia malah tak peduli dan semakin menggeliat dalam pelukan Arkan.
Desir darah Arkan mulai naik, ia tak kuasa menahan gesekan gesekan yang sengaja di buat Wulan.
“Tidak sayang, jangan lakukan itu,” tolak Arkan
Namun perkataan tidak sesuai dengan tindakan. Arkan malah ******* bibir Wulan kemudian menindih tubuh wanita itu.
“Sayang, kamu berani menggangguku. Seharusnya kamu tau akibatnya,” ucap Arkan yang semakin berani mengekspos tubuh Wulan dari balik bajunya.
Peeeeeeppppp
Suara klakson kapal yang berdengung keras mengusik permainan keduanya.
“Suara apa itu mas?” tanya Wulan.
“Suara klakson kapal, kapal sudah hampir sandar di dermaga.”
Aktivitas keduanya terhenti. Namun gelombang air laut membantu menggoyang tubuh keduanya. Arkan yang masih di landa bira hi kembali melanjutkan aksinya. Mengulum, meraba kemudian
Tok tok tok
“Wulan, mas Arkan?” panggil Sarah dari luar pintu.
“Mas Arkan, pak nahkoda mencari mas Arkan,” teriak Sarah yang masih berdiri di luar pintu.
Tok tok tok.
“Yah,” sahut Arkan seraya membereskan benda tumpul yang mencuat itu ke dalam underwear nya agar tertutup rapih. Ia kemudian membuka gagang pintu tersebut.
“Sayang bersiaplah, kita akan turun sekarang,” ucap Arkan sebelum ia keluar dari pintu kamar itu.
Sepeninggal Arkan, Sarah langsung menerobos masuk ke dalam kamar.
“Kamu sudah melakukan itu?” tanya Sarah penasaran.
“Lakukan apa?” tanya Wulan pura pura tidak mengerti pertanyaan Sarah si ratu kepo.
“Itu, kamu sudah melepaskan perawan kamu belum?” tanya Sarah lebih blak blakan.
Wajah Wulan manyun. Ia kemudian menggeleng. “Belum, aku pasti melakukannya segera.” Ucap Wulan kemudian bangkit dari atas ranjang. “Rena mana?”
“Masih mandi. Kamu juga mandi lah, bau alkohol masih melekat dibadanmu,” ucap Sarah. “Aku keluar dulu,” lanjut Sarah kemudian berlalu dari kamar itu.
__ADS_1
.
.
.
Rapat pemegang saham yang selama ini di nantikan akhirnya tiba. Arkan sudah rapih dengan kemeja biru lengan pendek dan celana jeans biru. Namun Arkan bukan hendak ikut dalam acara bulanan perusahan Wina Graha tersebut. Ia akan terbang ke Singapore tepat nya ke rumah sakit dimana paman Johan di rawat. Ia harus mencari ibunya, ia yakin saat ini ibunya sedang bersama dengan paman Johan.
Mumpung Brian sedang sibuk di perusahan, hari itu adalah hari yang tepat untuk menemui ibunya.
Di ruangan tengah, Wulan terlihat mondar mandir mengitari ruangan luas yang padat akan barang barang. Ia uring uringan, Arkan baru saja tiba, dan sekarang ia akan pergi lagi.
“Sayang, aku bisa ikut?” tanya Wulan saat Arkan turun dari lantai atas.
“Jangan sayang, lebih aman kamu di rumah. Hari ini pak Darma akan mengirim fax surat cerai kamu. Daniel akan memberikan kepada mu nanti sore.”
“Mas aku ikut, aku bosan di rumah,” ujar Wulan yang saat itu sangat ingin ikut dengan Arkan ke Singapore.
“Sayang, hari ini Renata dan Sarah akan ke sini menemani kamu. Aku ke Singapore nggak lama, setelah bertemu mama, aku akan langsung kembali,” ucap Arkan.
Wulan akhirnya mengalah ia tak mau memaksa lagi.
“Salam sama tante Jenny,” ucap Wulan.
“Ya,” Arkan memeluk Wulan kemudian mencium dahinya. “Jangan keluar ke mana mana. Berada di dalam rumah lebih aman, jika ada orang asing yang datang jangan di bukakan pintu. Aku sudah pesan kepada security, selama aku nggak ada jangan ada yang masuk ke sini.”
Wulan mengangguk paham. Ia membalas pelukan Arkan. “Kamu hati hati di jalan, kabari aku selalu ya.” rengek Wulan.
“Pasti, aku akan sering kirim kabar. Lagian aku cuman dua hari, paling lama tiga hari sayang,” ia membelai kepala Wulan hingga Wulan tersenyum.
“Gitu dong.” Arkan mencubit lembut pipi Wulan. “Ya sudah aku jalan dulu. Kalau kamu butuh sesuatu beritahu Daniel, muah,” sebuah kecupan kembali mendarat di dahi Wulan. “Bye, See you,” ucap arkan kemudian pergi dari situ.
“See you.” Wulan langsung menuju sofa depan tv kemudian duduk disana.
“Nona Wulan?” Panggil pak Dadang.
“Ya pak?”
“Ada dua orang wanita di depan. Nama mereka Rena dan Sarah,” ucap pak Dadang.
“Mereka temanku pak, suruh mereka masuk,” ucap Wulan.
“Baik nona,” ujar pak Dadang.
“Nyah, siapa?” tanya bi Narsih dari arah luar.
“Teman ku bi, Renata dan Sarah.”
Wulan segera beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju pintu depan menyambut Sarah dan Renata.
“Hai, ayo masuk,” ucap Wulan seraya memeluk Renata kemudian memeluk Sarah.
“Kami bawakan buahan. Tadinya mau singgah beli bahan makanan untuk dimasak. Tapi mending nggak usah deh. Hari ini kita bergosip ria aja gimana?” ujar Sarah.
“Tumben nggak ajak Aldy?” tanya Wulan.
“Today is the girls day, No man between us,” jawab Sarah.
“Oh ya, kapan sih kamu merid? Kita harus siapkan pakaian kita sendiri. Iya kan Ren? Jangan pas dah mepet dengan hari H baru kasi tau kita.” Wulan menggandeng lengan kedua sahabatnya sambil berjalan masuk ke dalam.
“Ho oh,” sahut Renata.
__ADS_1
“Gila rumah siapa ini?” tanya Sarah.
“Ini rumah ayahnya Arkan, kenapa?” Wulan balik bertanya.
“Barang jualan semua ya?” tanya Sarah kewalahan menatap satu persatu barang diruangan itu.
“Bukan, paman Richard seorang kolektor. Ini barang barang langka, makanya di simpan di dalam rumah. Papanya hafal jika ada yang berkurang,” ujar Wulan.
“Tadi nya barang barang ini ada di dalam ruangan itu, tapi sejak mas Arkan ikut pindah ke sini, ruangan itu di jadikan kantornya. Yah begini deh jadinya.”
“Ya udah, kalian mau duduk di mana? Di situ?” Wulan menunjuk arah ruang tv. “Di meja makan atau di kamar?” lanjut Wulan.
“Di kamar aja deh,” ucap Renata.
“Ya udah ayok, lagian di kamar kita bisa sambil selonjoran. Oh ya, bi Narsih udah siap kan makanan untuk kita.” Wajah wulan menengok ke arah dapur.
“Bi,” teriak Wulan.
“Nyonya Panggi bibi?” sahut bibi dari pintu dapur.
“Bi, kalau sudah selesai anter ke kamar ya.”
“Iya Nyah,” sahut bi Narsih.
“Enak banget jadi kamu, belum jadi menantu tapi sudah menguasai rumah calon mertua.” ujar Renata.
“Paman Richard orang nya baik, sejak aku tinggal di sini paman jarang pulang ke sini. Dia lebih sering menghabiskan waktu dengan pekerjaan di luar negri,” ujar Wulan.
“Kalian kenal kan Richard lee?” tanya Wulan sambil mengajak mereka berjalan menuju tangga.
“Pengusaha sekaligus vendor barang mewah?” tanya Renata.
“Iya itu papanya Arkan.”
“Gilak, lu gak salah?” tanya Renata lagi.
“Ayah mas Arkan tajir melintir, kok kamu nggak pernah cerita sih kalau itu papa nya,” tanya Renata.
“Hadeh, masa iya aku harus pamer kesana kemari siapa ayahnya mas Arkan.”
Sementara itu Sarah langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia langsung mencari nama Richard lee dalam mesin pencari.
“Ini bukan?” tanya Sarah.
Wulan dan Renata bersamaan melirik layar ponsel Sarah. “Iya itu,” jawab mereka bersamaan.
“Kamu hoki banget sih, lepas dari Brian yang tajir melintir langsung di sambut oleh Arkan yang kaya raya,” ujar Sarah.
“Ssshhhttt, Janagn sebut nama itu. Nggak enak banget di dengar. Tar mood kita hancur, haha,” sela Renata sambil tertawa.
“Iya iya, maaf aku lupa, haha.” Sahut Sarah kemudian ikut tertawa bersama.
Ketiga wanita itu masuk ke dalam kamar Wulan. Seperti para wanita pada umumnya, pembicaraan mereka tak lari dari gosip, fashion dan kecantikan.
Hingga tak terasa waktu terus bergulir. Sore hari telah menjelang. Namun Wulan Sarah dan Renata masih berbincang di dalam kamar.
.
.
.
__ADS_1
TBC…