
Raya masih asik menekan nekan tombol chanel pada remote. Ia sedang mencari sebuah tontonan yang menarik yang akan di tontonnya sambil menunggu Wulan selesai mandi.
Kemudian jari nya terhenti di sebuah chanel tv berita. Sosok Brian dan Soraya yang menjadi topik pembicaraan dalam berita tersebut.
Seketika itu juga tangan Raya menjadi kaku. Ia tak melanjutkan memencet tombol, ia berhenti di chanel itu menyaksikan berita pertunangan antara Brian dan Soraya.
Demikian dengan Wulan. Saat itu juga langkahnya terhenti. Dari depan pintu kamar mandi ia kembali dan duduk di samping Raya.
Mereka fokus menyaksikan wawancara antara reporter tv, Brian dan juga Raya.
“Akhirnya mereka memutuskan untuk bertunangan,” ucap Raya lirih.
Saat seorang reporter bertanya mengenai rencana pencalonan Brian dalam Pilpres tahun depan wajah Raya makin tercengang.
“Pilpres, apa semua orang ini sudah gila? Mereka tidak tau siapa Brian. Orang brengsek sepertinya di percayakan memimpin negara ini? Shhee eeettt,” umpat Raya.
Wulan hanya duduk diam sambil terus memperhatikan dialog dalam tv itu.
“Dia akan menikah, berarti status kami sudah bercerai?” gumam Wulan.
“Jangan bodoh Lan, semua orang berpikir kamu sudah mati. Lihat? Di situ mereka tidak mengatakan kegagalan rumah tangga Brian tapi turut bersedih atas hilang nya istri Brian. Kamu masih berstatus sebagai istrinya,” ujar Raya.
Wulan semakin percaya ucapan Raya, saat Soraya yang mengambil alih mic, ia membahas tentang Wulan sahabat nya yang kini sudah tenang di alam sana.
“Lihat kan, mereka mencari simpati masyarakat dengan mengangkat kisah tragis dirimu yang mati tenggelam. Ckckckkk,” decak Raya.
“Kenapa ceritanya jadi seperti ini? Aku masih hidup, anak buah Brian hendak membunuhku, Di pulau itu Brian mengurungku, kenapa malah ceritanya aku berlibur ke sana?”
“Seperti itu lah licik nya Brian. Ia mencuci tangannya hingga bersih agar masyarakat salut kepadanya,” ucap Raya yang kini terlihat emosi.
“Untuk semua yang di lakukannya pada keluarga ku, kepada dirimu dan kakek, aku harus membalasnya hingga tak tersisa sedikitpun. Hidupku tidak akan tenang sebelum semua orang tau siapa Brian sebenarnya!” koar Raya berapi api.
Mendengar ucapan Raya, Wulan tertunduk lesu.
“Tapi kita punya apa untuk membalas dendam kita?” tanya Wulan.
“Aku merasa hidupku sekarang sudah cukup tenang, aku tidak ingin kembali seperti waktu itu, hidup dalam ketakutan. Saat ini aku senang tinggal di gunung. Jika kita mencari keadilan kemudian Brian kembali mengekang kita. Ingat lah keluarga kita Ya, bi Indun, Irma, dan Zaka serta Kakek, mereka tidak harus merasakan penyiksaan dari Brian. Aku takut mereka akan kena imbasnya jika kita melawan Brian.” lanjut Wulan.
Mendengar ucapan Wulan, Raya mengepalkan jemarinya dengan erat.
__ADS_1
“Tidak tidak, aku akan membalasnya dengan cara ku sendiri,” gumam Raya.
“Raya, kita hidup bukan hanya untuk dendam, kita juga harus melihat siapa di sekitar kita. Mereka yang harus kita jaga sekarang. Aku juga tidak ingin kamu kenapa kenapa, aku ingin kamu tetap menjadi Raya sahabatku seperti sekarang ini,” Wulan mendekati Raya kemudian memeluknya.
Saat itu juga, tangan Raya yang terkepal erat mulai melemah. Ia membalas pelukan Wulan kemudian menangis di sana.
“Jika saja kamu tau bagaimana ayah dan ibuku meninggal Lan, mereka di siksa oleh anak buah Brian. Aku melarikan diri sendiri membawa bayiku. Hingga akhirnya bayiku juga meninggal. Bayi berumur satu bulan yang aku gendong berlari menyusuri hutan. Orang orang jahat itu terus mengejarku,” tangis Raya tersedu sedu.
Mendengar itu semua Wulan ikut menangis di pelukan Raya.
“Selama ini Raya begitu menderita. Kematian kedua orang tuanya tidak pernah bisa dia lupakan. Haus akan dendam menggerogoti dirinya, menggerogoti hatinya yang kini dipenuhi amarah,” batin Wulan.
“Apa pun yang kamu lakukan aku akan mendukung mu, sebagai sahabatmu aku akan terus mendukung mu,” ucap Wulan.
Mendengar hal itu raya semakin mempererat pelukannya. Tidak menyangka wanita yang dahulu menjadi saingan nya kini begitu tulus mendukung dirinya.
“Wulan, sekarang aku tidak memliki siapa pun. Hanya ada dirimu, kakek, bi Indun dan semua keluarga kita di gunung. Jika tidak ada kalian aku tidak tau bagaimana cara nya aku bertahan hidup hingga sekarang,” ujar Raya yang masih sesenggukan.
“Itulah gunanya keluarga, kita harus saling mendukung. Kita harus saling support. Apa pun kelemahan mu dan kekuranganmu akan kita terima,” ujar Wulan.
Raya berdiri tegap sambil membersihkan airmata yang mengalir di kedua pipinya. “Sudah sekarang kamu mandi, kakek harus ke dokter. Cepatlah,” ucap Raya.
“Mandi lah, kamu akan terlambat,” Raya mendorong tubuh Wulan hingga ke depan pintu kamar mandi.
Saat Wulan sedang mandi, Raya melanjutkan menonton acara tv tersebut. Tidak tau rencana rencana apa yang sudah tersusun di otaknya. Ia terus menatap Brian dan Soraya dengan penuh amarah.
.
.
.
Sore itu pukul lima tepat, Mail sudah duluan mengantri di tempat praktek dokter Yudha. Menunggu wanita mandi dan dandan adalah hal yang paling melelahkan menurutnya, sehingga Mail memutuskan untuk duluan membawa kakek ke depan hotel.
Wulan menyusul sepuluh menit kemudian.
“Kapan giliran kita?” tanya Wulan.
“Satu pasien lagi baru kita,” jawab Mail.
__ADS_1
“Mana Aya?” tanya Mail.
“Aku suruh dia tinggal, dia pasti kecapean,” sahut Wulan.
“Nanti setelah terapi, nyeri kakek akan berkurang. Maklum aja, sudah lama kaki kakek nggak pernah di infra red,” ujar Wulan.
“Nanti kamu bilang aja ke dokter, dulu perawatan kakek apa. Biar perawatan itu di lanjutkan lagi,” ucap Mail.
Wulan juga mengangguk setuju.
.
.
.
Sepeninggal Wulan, Raya langsung bergegas berganti pakaian kemudian keluar dari hotel itu. Ia menggunakan sebuah taksi menuju kawasan Jakarta selatan tepatnya di sebuah bank swasta.
Setiba di bank itu, Raya berjalan menuju bagian dalam. Hanya dengan menempelkan sidik jarinya di sana, ia bisa membuka sebuah brangkas milik nya sendiri.
Di dalam brangkas itu, Raya mengeluarkan semua simpanan miliknya. Beberapa gepok uang dolar, beberapa lembar setifikat tanah dan rumah serta beberapa potongan emas murni. Semua di masukkan ke dalam tas yang sudah di siapkannya.
Raya langsung keluar dari bank itu setelah menguras semua isi dalam berangkas miliknya.
Raya kangsung kembali ke hotel saat itu juga, dengan sebuah tas jinjing besar berisi uang surat tanah, surat rumah, emas emas batangan, sebuah laptop dan sebuah ponsel model lama.
Semua barang berharga itu di letakkan di atas ranjang.
“Mulai sekarang bi Indun, Wulan dan semua orang tidak akan kesusahan mencari makan. Mereka juga tidak perlu capek bekerja keras, si kecil Zaka tidak akan kekurangan susu dan Irma bisa kembali membuka salon. Mereka harus hidup enak dan bahagia tanpa harus sembunyi, tanpa harus merasa khawatir setiap hari,” batin Raya
Ia tersenyum menatap puas semua uang dan emas yang berhamburan di atas ranjang.
.
.
.
TBC…
__ADS_1