
Pagi itu Wulan terbangun lebih awal, dengan wajah ceria ia segera keluar dari kamarnya. Tentu saja dengan mengenakan daster biru kesukaan nya.
Ia berjalan menyusuri tangga sambil memperhatikan betapa kosongnya ruangan itu.
“Pagi bi,” ucap Wulan nyaring.
Indun yang sedang berjongkok mengelap kursi terkaget dibuatnya.
“Nyonya,” suara bi Indun yang baru saja tersentak.
“Haha, bibi kok kaget gitu?”
“Kirain bibi sendiri yang baru bangun, nyonyah kenapa bangun pagi bener?” tanya Indun sambil terus melakukan pekerjaan nya.
“Aku pengen lihat lagi sisa sisa perang semalam bi, tapi sayang sudah di bersihkan,” ucap Wulan sedikit kecewa.
“Nyonya bisa aja.”
“Nyonya mau sarapan apa? Bi Narsih belum bangun nih, dia baru tidur setelah jam empat.”
“Nggak usah, bibi lanjut kerja aja. Wulan bisa makan roti dan selai. Oh ya bi, tuan pulang semalam?” tanya Wulan.
“Nggak Nyah,” jawab Indun sambil menggeleng.
“Hmmm,” rasa penasaran Wulan masih begitu besar. “Gimana Raya memukul tuan semalam?” tanya Wulan.
“Apa bibi tau sumber permasalah mereka?” lanjut Wulan.
Melihat sang nyonyah begitu penasaran, Indun akhirnya menghentikan pekerjaan nya kemudian berbalik badan menatap Wulan.
“Kami nggak melihatnya secara langsung. Kami mana berani keluar Nyah,” jawab Indun.
“Nah kalian tau dari mana tuan di pukul?”
“Kami hanya dengar pertengkaran mereka dari balik pintu kamar kami. Tuan berteriak ‘kamu berani menampar ku?’ gitu Nyah,” jelas Indun.
“Trus? Dia menamparnya kembali?”
“Kami nggak tau, setelah itu non raya menangis sejadi jadinya sambil memohon maaf. Tuan Brian menyuruhnya keluar dari rumah,” jelas Indun.
“Kenapa ya? Apa karena tuan Brian sudah bosan dengannya. Kemudian seenaknya mengusirnya?!”
“Bosan? Indun rasa tuan ga pernah bosan dengan non Raya, non Raya adalah kekasih tuan yang paling sering keluar masuk di rumah ini. Saat wanita lain hanya datang bermalam selama satu malam saja dan non Raya bebas tinggal selama berbulan bulan. Tuan selalu menyuruhnya tinggal, namun karena non Raya seorang artis, saat dia ada pekerjaan di luar dia akan pergi,” jelas Indun panjang lebar.
“Hmmmm,” gumam Wulan dengan mimik semakin penasaran.
“Sudahlah Nyah, sana sarapan. Jika nyonya masih penasaran, kenapa nggak tanya langsung ama tuan atau non Raya,” canda Indun.
“Iya juga, semoga non Raya bisa segera kembali ke rumah ini.”
Indun menatap Wulan, seorang nyonyah rumah yang berharap kekasih suaminya kembali.
“Bibi rasa non Raya nggak akan kembali lagi,” ujar Indun.
“Kenapa bi?”
“Lah kata tuan jangan pernah datang ke sini, jangan menampakkan dirinya di hadapan tuan dan jangan pernah menghubunginya lagi.”
“Gitu ya?” ucap Wulan kecewa.
“Lah, nyonyah kenapa?” tanya Indun.
Sambil berjalan menuju dapur, Wulan menelaah kembali sikap Brian siang kemaren di rumah Arkan.
“Apa dia memang benar benar insaf? Kemaren siang dia terlihat sangat baik, ramah terhadap kakek. Apa dia sengaja mengusir Raya karena sudah sadar,” batin Wulan yang di penuhi banyak pertanyaan.
“Padahal dendamku terhadap wanita itu belum terbayarkan, eh sudah pergi. Semoga suatu hari dia bisa kembali.”
…oOo…
__ADS_1
Dua minggu berlalu. Semenjak pertengkaran Raya dan Brian, Wulan belum pernah sekalipun bertemu Brian.
Beberapa kali Brian pulang ke rumah tapi hanya di siang hari saat Wulan berada di kantor, itu pun hanya untuk mengganti pakaian kemudian pergi lagi. Saat akhir pekan Brian akan sibuk di luar kota menangani beberapa proyek barunya.
Di luar sikapnya yang play boy Brian adalah seorang pria pekerja keras, ia akan melakukan pekerjaan sebaik mungkin hingga benar benar berhasil. Ia tak akan berhenti sebelum apa yang di inginkan nya berhasil.
Sabtu sore itu Wulan datang berkunjung ke rumah Arkan, ia berencana untuk menjemput sang kakek pulang bersama nya.
Sudah beberapa kali ke rumah Arkan, Wulan sudah hafal denah rumah tersebut. Ia langsung berjalan masuk menuju kamar kakek kemudian menuju ruang belakang.
“Mbak Ani,” sapa Wulan.
“Nyonya Wulan? Kakek lagi di belakang Nyah,” ucap wanita yang sudah lumayan akrab dengan nya.
“Ngapain?” tanya Wulan lagi kemudian berjalan menuju halaman belakang.
“Bercocok tanam Nyah,” jawab Ani yang umurnya sepantaran Wulan.
Saat menuju halaman belakang Wulan berpas pasan dengan seorang wanita lainnya yang wajahnya asing di mata Wulan.
“Siapa mbak?” tanya Wulan kepada Ani.
“Itu perawat kakek, baru dua hari kerja Nyah,” jawab Ani.
“Perawat kakek?” tanya Wulan Heran.
“Iya, tuan Brian yang menyuruhnya ke sini,” jawab Ani.
Wulan mengernyitkan dahinya pertanda heran.
“Katanya perawat lulusan sekolah ilmu gizi, kata tuan, nanti dia yang pantau makanan untuk kakek. Kata tuan Brian, nyonyah selalu khawatir soal apa yang di makan kakek jadi dia menyiapkan seorang perawat untuk mengurangi khawatir nyonya,” jelas Ani panjang lebar.
“Oh ya, barusan tuan Brian dari sini Nyah.”
“Kapan?” tanya Wulan semakin heran.
“Sekitar sejam atau dua jam lalu, saya juga nggak liat jam berapa persisnya tuan pulang,” ucap Ani percaya diri.
“Jenguk kakek lah Nyah, masa jenguk saya,” jawab Ani sambil terkekeh.
“Iya sudah kamu kembali kerja, biar aku yang temui kakek.”
“Baik Nyah.”
Sepeninggal Ani, Wulan melanjutkan langkahnya menghampiri sang kakek.
“Kek,” Wulan langsung mendekat merangkul lengan kakeknya.
“Kakek keringetan Lan, bau asem,” tolak kakek yang memang punggung baju nya terlihat basah.
“Gapapa kek, Wulan kangen kakek,” ucap Wulan manjah.
“Haha, kenapa tadi nggak bareng suami mu ke sini?”
“Wulan sibuk kek, akhir akhir ini tante Jenny jarang di kantor. Ia menyuruh Wulan yang handle semua pekerjaannya.”
“Pantes saja akhir akhir ini dia lebih santai dan sering sekali ke sini, ternyata sudah membebani cucuku dengan pekerjaan nya,” ucap kakek yang wajah nya senantiasa tersenyum.
“Mas Brian ngapain kesini kek?”
“Pertanyaan mu ini aneh. Hayo kenapa suami mu ke sini?” kakek balik bertanya.
“Iya iya Wulan ga nanya lagi,” ngoceh Wulan. Padahal ia hanya ingin tau apa yang dibincangkan Brian bersama kakaknya.
“Kenapa Brian mau datang menemui kakek, padahal beberapa minggu ini dia tidak bertemu dengan ku sekalipun. Apa hanya karena sebuah rasa hormat terhadap orang tua?”
“Wulan!” panggil kakek.
“Ayo masuk, sudah terlalu sore,” ajak kakek.
__ADS_1
“Ayo kek,” Wulan menggandeng lengan kakek memasuki rumah.
Di dalam rumah suara besar Jenny yang sedang menelpon terdengar hingga ke teras dapur.
“Ada tante Jenny kek,” ucap Wulan sambil mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah.
“Tante,”
“Eh Wulan. Kata Ani kamu di belakang temani kakek. Tante sudah menyuruh Arkan singgah supermarket membeli beberapa keperluan dapur. Biar tante yang masak makan malam untuk kalian,” ujar Jenny bersahabat.
“Ani keluarkan semua bahan bahan kamu yang ada dalam kulkas, tante akan lihat apa ada yang sudah bisa di kelolah,” ujar Jenny kepada Ani.
“Ada yang bisa Wulan banyu tante?” tanya Wulan.
“Nggak usah, sana kamu temani kakek. Kamu sekarang jarang ngobrol dengan nya, urusan di dapur serahkan sama tante dan Ani.”
“Ta-tapi Wulan mau,” ucap Wulan terputus.
“Kamu duduk di sini temani kakek,” desak Jenny sembari membawa Wulan duduk di sebuah meja di samping kakek.
Wulan akhirnya pasrah duduk di sebuah meja yang pandangan nya bisa langsung ke arah dapur di mana Jenny dan Ani sedang masak.
“Gimana pekerjaan kamu di kantor?” tanya kakek yang sudah terlebihdahulu duduk disitu.
“Pekerjaan Wulan lancar lancar aja,” jawab nya.
“Kakek belum bisa pulang dengan mu, kamu lihat? Disini ada lebih banyak orang yang menjaga kakek, bahkan suami mu sudah mengutus seorang perawat ke sini,” ujar kakek.
Wulan menatap kesal dengan sang kakek yang akhir akhir ini semakin betah bersama orang lain.
“Emangnya Arkan itu keluarga kakek? Yang seharusnya menjaga kakek adalah Wulan. Wulan adalah keluarga kakek satu satunya!” ucap Wulan dengan cemberut.
“Anak ini, bukan nya dia seneng banyak yang menjaga kakek sekarang eh malah ga seneng.”
“Bukan gitu kek, Wulan hanya merasa kakek sekarang lebih,” ucapan Wulan kepada kakek terhenti. Ia menatap ke arah pria yang baru saja tiba dengan banyak kantong di kedua tangannya. “Mas, dari mana?”
“Dari pasar, dari mana lagi?” jawab sang kakek.
“Tapi…?!”
Arkan langsung berlalu menuju dapur membawa kantong belanjaan kemudian kembali di meja dimana Wulan dan kakek duduk.
“Ke pasar juga nggak harus basah gitu kan?” lanjut Wulan melihat Arkan yang bajunya basah semua.
“Ke pasar pinggiran kota langganan mama, ke tempat langganan penjual ikan mama. Trus cari sayur segar di penjual sayur organik,” jawab Arkan.
“Sudah biasa,” ucap Arkan.
“Makanya kamu belum dapat jodoh, mama mu terlalu memonopoli dirimu,” ujar kakek.
“Paman kok tau? Jodoh Arkan kan di tangan mama!” seru Jenny lantang dari arah dapur.
“Haha, kamu harus bersyukur jenny punya anak sepatuh Arkan,” ucap kalek lagi.
Sambil menggoreng Jenny terus bercerita mengenai Arkan. Wulan hanya asik mendengar sambil terkadang tertawa mendengar kelucuan Jenny.
“Wulan ayo ke depan,” ajak Arkan.
“Kenapa mas?”
“Jangan dengar ocehan mama, semakin di dengar cerita nya makin ga masuk akal,” bisik Arkan.
“Nggak apa mas, Wulan kepengen dengar.”
“Ya sudah, aku masuk.” Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal wajah Arkan memerah karena malu. Ia pun pergi dari tempat itu.
.
.
__ADS_1
.
TBC…