Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Duka Yang Mendalam II-


__ADS_3

Di tempat pemakaman Raya yang tadinya sepi, hanya di hadiri oleh mereka kini menjadi riuh dan ramai.


Para reporter dan kameramen ikut mengabadikan moment moment terakhir kepergian Raya. Setelah usai pemakaman. Para reporter itu langsung menghampiri Wulan dengan begitu banyak pertanyaan. Silau kamera terus menyoroti dirinya.


Saat itu juga Arkan langsung membawa Wulan dan keluarga nya meninggalkan lahan kuburan itu.


“Ada apa ini? Kenapa tiba tiba jadi ramai begini?” tanya Arkan setiba mereka di dalam mobil.


“Kakek dan bi Indun dimana?” tanya Wulan sambil mecari ke arah luar jendela.


“Buto sudah membawa mereka lebih dahulu.” jawab Daniel.


“Irma dan Zaka?”


“Irma dan Zaka tadi sudah pulang duluan bersama Mail, Zaka agak demam jadi Irma langsung membawa nya kembali ke hotel.”


Kemudian Daniel menyerahkan sebuah tab berisi berita terbaru ke tangan Arkan.


Berita kematian selebgram Raya dan Brian kini menjadi heboh di media sosial.


Sosok istri Brian, Wulan yang ternyata masih hidup dan semua bukti kejahatan Brian kini tersebar luas di internet.


“Ada apa ini? Siapa yang melakukan ini?” tanya Arkan.


“Apa ini perbuatan Raya?” tanya Daniel.


“Jangan konyol, postingan ini baru saja di unduh beberapa jam lalu. Nggak mungkin Raya yang melakukan hal ini,” ujar Arkan.


“Unduhan Raya kemaren di internet beritanya hampir mirip seperti ini. Mungkin sudah di unggahnya sejak kemaren, hanya tanggal terbitnya sengaja di atur hari ini.”


Wulan ikut melihat postingan dari i pad di tangan Arkan.


“Ini bukan perbuatan Raya. Dia hanya memilik beberapa bukti korupsi Brian. Kasus kasus pembunuhan ini sumbernya bukan dari Raya,” ucap Wulan.


“Tapi kemaren Raya sempat mengunggah penculikan Brian terhadap kakek,” ujar Arkan.


“Itu kejadian setahun yang lalu, bukti kejahatan Brian setahun lalu memang sudah di siapkan raya sejak awal. Pembunuhan ini baru saja. Raya tidak memiliki semua bukti ini,” ucap Wulan.


“Jadi siapa yang melakukan ini?” tanya Arkan.


“Pasti orang yang memliki dendam yang sama dengan Raya,” jawab Wulan.

__ADS_1


“Tapi buat apa? Brian sudah meninggal, mengunggah hal ini sudah tidak ada gunanya…”


“Benarkah Brian sudah meninggal? Dimana jenazahnya?” tanya Wulan.


“Tidak mungkin binatang buas memakan tubuh Brian, aku tau persisi seperti apa keadaan di gunung itu. Tidak ada harimau atau pun singa di sana,” ujar Wulan.


Wulan menyimak pemberitaan yang kini sedang Viral. Kalau Brian meninggal karena bertengkar dengan raya di sebuah hutan. Jasad Brian remuk di makan Binatang buas dan hanya menyisakan beberapa potongan tubuhnya saja.


“Siapa yang menyebarkan berita ini? tanya Wulan.


“Yang pastinya Brian sudah mati, ia tidak pantas mendapatkan pemakaman yang layak. Jasadnya langsung di makamkan begitu di temukan,” ucap Arkan.


“Tidak tidak, Arkan pasti berbohong. Binatang buas seperti apa yang bisa memakannya di hutan itu. Dan Raya? Dia baik baik saja, tubuhnya utuh,” batin Wulan.


Mobil kini melaju meninggalkan tempat pemakaman. Dari situ mereka menuju rumah Jenny. Di sana prosesi tahlilan Brian di lakukan. Hanya ada seorang ustadz dan beberapa belas anak panti asuhan yang di undang ke rumah itu.


Setiba di rumah itu Jenny langsung menyambut Wulan dan Arkan.


“Wulan, Wulan ternyata kamu masih hidup sayang. Kamu baik baik saja? Selama ini kamu ke mana? Ke apa tidak pernah ada kabar? Kami sangat mengkhawatirkan mu.. tante selalu berdoa semoga kamu selalu mendapatkan tempat terbaik disisi Allah. Ternyata kamu masih hidup,” ucap jenny panjang lebar.


“Ma,” protes Arkan. “Biarkan Wulan masuk dulu,” ucap Arkan.


“Atas permintaan Paman Johan, tahlilan Brian di adakan di sini. Mama juga mengiyakan. Kondisi paman Johan saat ini semakin kritis. Mama mengundang ustadz dan anak anak yatim ini tiba tiba. Kamu tidak apa apa?” tanya Arkan.


“Dia juga suamiku, tapi…”


“Wulan ayo masuk,” ajak Jenny.


Wulan memasuki ruangan luas, permadani terhampar di seluruh ruangan itu. Seorang ustadz dan anak anak yatim berkumpul di ujung ruangan dengan bacaan bacaan doa mereka.


Beberapa keluarga dan kerabat ikut bedoa di dekat anak anak yatim itu.


Di sisi lain Soraya, Sheila dan ayah Soraya sedang duduk memegang buku tahlil. Soraya sedang mengenakan kerudung hitam yang menutupi kepalanya.


Sekitar dua Meter dari tempat Soraya, tiga orang reporter dan dua orang kameramen sedang duduk menikmati kue dalam sebuah kotak.


Saat Wulan memasuki ruangan itu, sorot kamera langsung mengarah kepadanya.


Arkan menggenggam tangan Wulan masuk ke dalam rumah. Rumah yang terang benderang, membuat wajah Wulan yang merah akibat menangis terlihat jelas.


Ia bukan menangisi Brian, ia sedang menangisi Raya sahabatnya. Sebenarnya untuk berada di situ, Wulan sangat enggan. Tapi ia harus, ia ingin memastikan dimana Brian, dimana jenazahnya. Dimana ia telah dimakamkan.

__ADS_1


“Ma, aku mandi dulu. Sudah dua hari aku belum mandi. Mama temani Wulan sebentar,” ucap Arkan kemudian berlalu menuju kamar nya.


Kepala jenny ikut ke mana arah Arkan berjalan. “Sejak kapan dia berjalan selincah itu?” gumam Jenny.


“Wulan, tante sudah menyiapkan makanan. Kata Arkan kamu belum makan sejak siang. Jadi tante membawa mu ke sini. Kamu makan dulu kemudian kita duduk di depan,” ucap jenny.


“Sebentar lagi orang akan berdatangan. Rekan kerja, rekan bisnis Brian akan melayat ke sini,” sambung Jenny.


“Kapan jenazah Brian di makamkan tante?” tanya Wulan.


“Pagi tadi, jenazahnya sudah tidak utuh, hanya tersisa beberapa tulang belulang,” ucap jenny bergidik ngeri.


“Tante melihatnya?” tanya Wulan.


“Ish, tante nggak berani. Tante yang menyuruh Arkan agar Brian langsung di makam kan,” ujar Jenny.


“Maaf, tadi pagi pagi awal di makamkan, setelah di otopsi langsung di bungkus kafan. Saat itu kamu belum sadar, jadi kami tidak menunggu kamu saat pemakannya,” ucap Jenny lagi.


“Ada surat visum nya?” tanya Wulan.


“Tentu saja, tante menyimpan surat visumnya. Pihak kepolisian akan ke sini mengambil nya,” jelas Jenny.


“Jadi Brian benar benar sudah meninggal. Ia sudah di makamkan. Setidaknya kematian Raya tidak sia sia. Ia berhasil membunuh Brian. Ia sekarang bisa merasa tenang di surga,” batin Wulan.


Beberapa saat kemudian Makanan sudah di hidangkan di atas meja. Karena perut Wulan memang terasa lapar, ia langsung menghadap makanan di hadapannya.


“Ayo dimakan,” ucap Jenny.


“Tidak, aku akan menunggu mas Arkan saja. Ia juga pasti kelaparan. Sejak pagi dia belum makan,” ucap Wulan.


“Bi Rahma, bawakan piring 1 lagi ke sini,” pinta tante Jenny.


“Baik bu,” bi Rahma berjalan menuju dapur. Ia kemudian keluar dengan sebuah piring lagi.


Wulan duduk menatap makanan di hadapannya sambil membayang kan sosok Raya yang selalu menyuruhnya makan yang banyak.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2