Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Perasaan Yang Terpendam-


__ADS_3

Arkan masih duduk diam di balik kemudinya. Sudah lima menit sejak mobilnya terparkir di parkiran pabrik, namun ia masih enggan untuk keluar.


Dalam hati Arkan sudah bertekat untuk tidak bertemu Wulan, ia harus menghindari bertemu wanita itu. Bagaimana tidak, setiap kali melihat Wulan hati mata Arkan tak bisa lepas dari wajahnya, setiap gerak gerik Wulan selalu ingin dilihatnya. Bahkan kedua jemarinya ingin sekali meraba wajah wanita itu.


Tiiiiinnnnnnnnnn


Suara klakson panjang akhirnya membuyarkan lamunan Arkan.


Suara klakson mobil sang ibu, dan kini ibunya sudah berdiri di balik pintu mobilnya.


Tol tok tok


Arkan langsung membuka pintu mobil kemudian keluar.


“Mama ngapain?” tanya Arkan dengan wajah masam.


“Lah seharusnya mama yang tanya kamu ngapain?” tanya Jenny.


“Arkan ada rapat keuangan dengan pabrik,” jawab Arkan.


“Ya sudah ayo masuk,” ajak Jenny.


“Mama ngapain aja, sejak ada Wulan kerjaan mama mondar mandir mulu ga menentu arah,” ujar Arkan.


“Mama maunya sih kerja tapi semua sudah di handle Wulan. Mama sekarang cuman jadi penentu keputusan aja. Gapapalah kan nantinya pabrik ini akan jadi milik kalian juga, biar Wulan belajar lebih banyak hal disini,” ujar Jenny yang terlihat santai hari itu.


“Mama keenakan,” gumam Arkan yang kini lengan nya di rangkul Jenny. Mereka langsung menuju ruangan meeting.


Di sebuah ruangan, Wulan, Rasti dan seorang Manager mesin sudah menunggu di dalam. Arkan dan Jenny yang baru saja tiba langsung di sambut hangat oleh Wulan.


“Siang bu, siang pak Arkan,” ucap mereka bersamaan.


“Siang, duduklah,” ucap Jenny kemudian duduk di kursi paling ujung.


Sedangkan Arkan, ia harus duduk di hadapan Wulan. Menatap wajahnya, mendengar suaranya dan…


Mata Arkan mulai menatap Wulan yang saat itu menjadi pembicara. Wulan terlihat sibuk mengarahkan beberapa page pada proyektor kemudian mulai menjelaskan inti tema dari meeting mereka pagi itu.


“Dia sekarang berubah. Sejak kapan dia mengubah gaya rambutnya? Warnanya terlalu terang, dengan poni segitu jadi terlihat kekanak kanakan. Dan mengapa pakaian nya hari ini agak terlalu terbuka? Lipstik merah bukannya terlalu mencolok dibibirnya? Gimana jika dilihat Brian? Dia berdandan seperti ini ingin menarik perhatian siapa?”


Hingga selesai meeting Arkan tak banyak merespon. Ia hanya sibuk memperhatikan Wulan.


“Pak Arkan,” panggil Wulan.


“Jalankan seperti yang sudah disepakati, pendanaan saya akan setujui sesuai prosedur,” jawab Arkan.


“Arkan rapat sudah selesai, apa kamu akan duduk terus disitu?” tanya Jenny.


“Ya saya akan balik ke kantor, banyak yang harus dikerjakan disana,” Arkan bergegas bangkit dari duduknya, dengan kikuk dan salah tingkah ia mengemas berkas yang ada di hadapannya. “Berkasnya akan saya tinjau kembali.”


“Pak saya ingin bicara berdua dengan bapak,” ujar Wulan.


“Sekarang?”


“Iya, ini masalah penting,” ucap Wulan.

__ADS_1


“Ya sudah kalian ngobrol disini, mama akan ke ruangan mama,” ucap Jenny kemudian pergi dari situ.


“Kita bicara diruangan Wulan mas, biar Wulan siapkan minuman hangat untuk mas,” ajak Wulan.


Arkan dan Wulan langsung keluar dari ruangan luas itu menuju ruangan Wulan. Setelah menyeduh secangkir teh chamomile Wulan langsung menyuguhkan teh itu ke hadapan Arkan.


“Diminum mas, mas seperti lagi banyak masalah. Selama meeting mas tidak banyak bicara. Atau mas lagi kurang sehat?” tanya Wulan. Ia yang memang terlihat begitu mengkhawatirkan Arkan.


“Aku baik baik saja, mungkin karena akhir akhir ini lagi banyak kerjaan.” jawab Arkan.


Wulan berdiam menatap wajah Arkan. “Mas tidak sedang marah dengan Wulan kan?” tanya Wulan lagi.


“Mana mungkin mas marah,” ucapnya canggung setelah ditatap dengan teliti oleh Wulan.


“Mas memang benar benar sibuk, tidak sempat mengangkat panggilan telpon kamu,” lanjut Arkan.


“Berarti mas tau Wulan menelpon, tapi mas sengaja nggak angkat.”


“Karena saat itu aku sedang meeting.”


“Setelah meeting kenapa nggak telpon kembali?” tanya Wulan lagi.


“Karena aku lupa.”


“Tapi pesanku selalu di baca tepat waktu, tapi nggak pernah di bales sama mas,” ucap Wulan lagi..


“Mas nggak merespon karena pasti kamu ingin ajak mas jalan. Mas sibuk!”


Ucapan Arkan diluar dugaan, wajah Wulan kini berubah sedih. “Ternyata mas menghindar karena aku sering ngerepotin mas,” ucapnya pelan.


Arkan menatap wajah wanita yang terlihat sedikit frustasi itu. “Bukankah akhir akhir ini kamu sibuk keluyuran dengan teman kamu itu?” tanya Arkan.


“Iya, Renata tiap hari menjemputku untuk makan siang dan makan malam. Tapi setiap aku jalan semua pekerjaan sudah rampung kok,” ucap nya memelas.


“Mas?” panggil Wulan dengan wajah memelas.


“Mas Arkan,” rengek Wulan.


“Dih,” Arkan mendesis kesal. “Apa?” ia tak bisa menghindar jika Wulan sudah seperti ini.


“Mas, kenapa pabrik kita di luar pulau Jawa akan di tutup? Jika di tutup kan permintaan pasar tidak akan cukup suply ke semua daerah?” tanya Wulan.


“Kata siapa di tutup?” Arkan Balik bertanya.


“Aku sudah menghubungi perkebunan. Mereka tidak menyuplai barang ke pabrik. Sudah seminggu. Katanya pabrik di luar daerah tidak memiliki dana untuk membayar bahan baku,” ucap Wulan.


“Masa iya? Kok aku nggak tau?” ucap Arkan sambil berpikir serius.


“Wulan juga nggak percaya. Tapi stok perkebunan kemaren di kirim ke sini semua,” ucap Wulan.


Arkan menggaruk pelipis matanya, sambil mengingat sesuatu. “Mas Brian sekarang sering berada di luar kota. Aku belum bertemu dengannya beberapa hari. Ada kendala dengan perbankan,” ujar Arkan.


“Aku akan ke luar kota mas,” ucap Wulan.


“Untuk?” tanya Arkan.

__ADS_1


“Tentu saja ke beberapa pabrik yang tutup itu,” jawab Wulan.


Arkan diam dalam keraguan.


“Masalahnya perkebunan terus bertanya ke aku, jika mereka nggak stok sawit ke perusahan ini mereka akan menjual ke perusahan lain. Wulan juga nggak ingin kakek merugi.”


“Aku harus memutus kontrak kerjasama dan membuat kontrak dengan pabrik baru,” lanjut Wulan.


“Aku nggak bisa temani kamu ke sana, berapa kota yang akan kamu datangi? Butuh waktu berapa lama disana?” tanya Arkan.


“Mas, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa handle semua nya. Karna masalah ini ada hubungan dengan perkebunan kami jadi aku harus turun tangan langsung,” ujar Wulan.


“Aku beri waktu seminggu?” tanya Arkan.


“Iya seminggu, aku pergi di beberapa kota ke perkebunan kemudian kembali ke sini.” Wulan berjanji sambil mengangkat kedua jarinya.


“Aku nggak ingin saat kakek mencari mu, tapi kamu nggak ada.”


“Mas jangan bilang ke kakek. Bilang aja aku sibuk lagi banyak produksi. Mas cari aja alasan biar kakek nggak khawatir.”


Arkan pun mengijinkan Wulan pergi seminggu ke beberapa kota dimana pabrik perusahan berada. Sementara Arkan tidak bisa membantu Wulan karena di kantor pusat ia sedang menyelidiki sesuatu.


“Kapan kamu berangkat?” tanya Arkan.


“Bentar malam,” jawab Wulan.


“Kamu sudah merencanakan hal ini dengan matang,” arkan mengernyit sedikit tidak suka melihat antusiasme Wulan.


“Baju kamu?” tanya Arkan lagi.


“Aku tinggal singgah ambil koper kemudian berangkat,” jawab Wulan.


“Ticket?” tanya Arkan lagi.


“Sudah Wulan pesan tadi,” jawab Wulan.


“Kamu sesenang itu, kamu bukan akan pergi berlibur,” ucap Arkan cemberut.


“Aku senang karena mas mengijinkan aku pergi,” bela Wulan.


“Dan juga, lipstik merah mu nggak cocok dengan warna rambut mu. Mas nggak suka! Kamu terlihat aneh seperti itu,” protes Arkan lantang. Ia sedikit jengah dengan perubahan Wulan itu, setiap menatap Wulan ia tak bisa berpikir tenang. “Mas pergi dulu. Masih banyak urusan mas di kantor,” Arkan pun beranjak pergi dari ruangan itu.


“Loh kok ngambek, Lagian aku bukannya pamit sama suami ku tapi malah pamit ke mas Arkan. Dan dia juga melarang aku ini itu seolah dia adalah suami aku. Mas Arkan pasti kelamaan jomblo makanya gitu,” gerutu Wulan sepeninggal Arkan.


Wulan kembali teringat perkataan Renata.


“Renata Ngaco, pria sensi kayak gitu mana mungkin punya perasaan?”


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2