
Sudah dua jam Arkan memarkir mobilnya di depan rumah Brian. Ia bahkan tertidur di sana. Sebuah getaran dan bunyi panggilan masuk mengusik tidurnya.
Arkan meraih ponsel yang di geletak begitu saja di atas dashboard mobil. Nomor asing yang tidak terdaftar dalam kontaknya tertera pada layar ponselnya.
“Halo? tuan?” suara tergesa gesa seorang dari si penelpon. Arkan sangat yakin kalau itu adalah suara Buto.
“Buto? Itu kamu?” tanya Arkan.
“Iya benar tuan, saya Buto.”
“Gimana, ada perkembangan apa?” tanya Arkan.
“Saya sudah tau dimana nyonya berada.” ucap Buto.
“Dimana? Katakan dimana Wulan. Saya akan lamgsung menuju ke tempat mu,” ucap Arkan penuh semangat.
“Di sebuah pulau. Tuan harus menggunakan perahu. Nyonya berada di pulau kecil, tak jauh dari pulau Tiram,” ujar Buto.
“Di mana itu, katakan padaku,” tanya Arkan.
“Tak jauh dari perkebunan milik kekuarga nyonya Wulan ada sebuah pulau di arah selatan. Jika menggunakan perahu dayung bisa dua jam. Jika menggunakan perahu motor 45 menit,” jelas Buto.
“Pulau apa namanya?” tanya Arkan.
“Pulau Silent, dari pulau tiram sini saya akan langsung ke sana sekarang. Tuan bawa bantuan ke sini,” jawab Buto.
“Oke aku juga menuju ke sana sekarang.”
“Tuan!” panggil Buto. “Banyak pengawal tuan Brian di sana, sebaiknya tuan berhati hati. Jumlah mereka sekitar 50 orang,” ujar Buto.
“Baiklah, aku mengerti,” jawab Arkan.
Saat itu ia langsung melajukan kendaraan menuju pelabuhan. Ia butuh sebuah speed cepat agar bisa tiba di tempat tujuannya tepat waktu.
Degan cepat Arkan mencari kapal cepat yang bisa digunakannya saat itu juga. Dan tanpa menunggu lebih lama, Arkan langsung mengarah ke pulau dimana perkebunan Wulan berada.
“Ayah, aku sudah menemukan dimana Wulan. Sekarang aku sedang menuju ke sana,” lapor Arkan kepada ayahnya.
“Tunggu Arkan, kamu sudah janji tidak akan menemui Brian seperti ini!” cegah Richard.
“Ini saat yang paling tepat, Wulan harus di selamatkan secepatnya. Saat ini Brian sedang berada di luar kota, aku tidak bisa menunda waktu,” ucap Arkan.
“Arkan, bisa kamu menunggu saja di situ? Biar orang suruhan ayah yang pergi mencari Wulan,” cegah Richard lagi.
“Aku sudah di jalan menuju pulau tiram. Orang suruhan ayah bisa menyusul ke sana.” Suara berisik speed boat mulai berbunyi, speed yang akan membawa Arkan menuju tujuan sudah mulai berjalan. “Ayah, aku akan hubungi ayah setelah tiba di sana,” ucap Arkan kemudian mengakhiri panggilan telpon.
Dari Jakarta Arkan harus menempuh perjalanan selama 3 jam untuk tiba di pulau tiram. Dan dari pulau tiram, ia akan melanjutkan lagi perjalanan nya menuju pulau Silent selama 2 jam. Arkan harus menggunakan perahu, untuk masuk ke pulau tersebut agar tidak menimbulkan suara berisik.
—ooo0ooo—
Buto tiba di pulau Silent lebih dahulu. Hanya bermodal perahu warga yang dicuri secara diam diam di pinggir pesisir, Buto akhirnya tiba di pulau Silent.
__ADS_1
Tangan nya sedikit pegal setelah mendayung perahu kano usang hingga ke bibir pantai Silent.
Buto berusaha sebisa mungkin menjauh dari dermaga, karena saat itu dermaga sedang ramai. Ada sebuah kapal berukuran sedang yang berlabuh di dermaga itu dan di sekitar kapal ada beberapa perahu pengangkut yang berjejer di sana.
Sedang kan di pinggir dermaga, para pria pria sedang berkumpul mengelilingi sebuah meja. Mereka terlihat seru bermain gaplek untuk menghabiskan waktu malam itu. Beberapa pria lainnya sibuk ngeronda mengelilingi pulau.
Mata Buto sangat jeli, ia memarkir perahu kano miliknya di ujung pulau yang yang lumayan jauh dari dermaga. Ia harus ekstra hati hati, karena mercu suar di sekitar pulau itu bisa saja menyenter dirinya. Untuk itu ia harus menyembunyikan kano usang nya dengan baik di rerumputan tak jauh dari bibir pantai.
Buto terlebih dahulu mengecek keadaan di sekitar nya, ia memastikan tempat yang akan di laluinya aman. Setelah merasa aman, Buto lanjut berjalan mendekati rumah kecil yang cahaya lampu nya tampak jelas dari tempatnya berada.
“Nyonyah pasti berada di sana, menurut info dari buruh pelabuhan nyonya Wulan tinggal di sebuah rumah di tengah pulau ini. Pasti adalah rumah itu.” batin Buto.
Ia mendekati rumah tersebut sambil mengamati di sekitar nya, sewaktu waktu ia bisa saja tertangkap oleh penjaga yang berjaga mengitari pulau tersebut.
Selama beberapa saat ia mengamati isi dalam rumah. Rumah itu tampak sepi, tidak ada pergerakan seorang pun di dalam rumah itu.
Setelah yakin Buto akhirnya masuk melalui pintu dapur.
Ternyata ada seorang pria yang sedang tertidur di sebuah sofa di ruangan dapur itu.
Dengan sangat perlahan buto melanjutkan langkahnya memasuki ruangan tengah. Hanya beberapa langkah kaki ia sudah bisa mengitari seluruh rumah itu. Rumah tidak seberapa besar yang hanya memiliki dua kamar tidur, ruangan depan dan dapur.
Buto harus membuat pilihan. Mengetuk pintu atau langsung masuk. Pintu kamar depan atau pintu didekatnya?
“Nyonya?” panggil Buto dengan sangat pelan.
Setelah melihat sendal di depan pintu kamar, Buto yakin kalau itu adalah kamar nyonya Wulan.
“Nyonya,” panggilnya lagi seraya mengetuk pelan.
“Nyonya, ini saya,” ulang Buto.
Buto mencoba membuka gagang pintu yang ternyata terkunci dari dalam.
“Nyonya Wulan?”
Tok tok tok
Buto memberanikan diri memanggil dengan suara lebih besar seraya mengetok pintu kamar.
Selang beberapa saat gagang pintu bergerak, Wulan sudah membuka pintu kamarnya.
“Buto?” ucap Wulan kaget.
Saat itu juga Wulan langsung menarik Buto masuk ke dalam kamarnya.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sudah gila, disini terlalu bahaya. Di luar penjagaan sedang diperketat. Banyak anak buah Brian yang berjaga di depan,” ucap Wulan.
“Aku akan membawa nyonya pergi dari sini sekarang,” ucap Buto.
“Sekarang? Tidak, jangan sekarang. Kita tidak bisa keluar dari sini dengan selamat,” tolak Wulan.
__ADS_1
“Harus sekarang, saya sudah menyiapkan perahu,” ucap Buto.
Wulan terlihat khawatir, ia berpikir keras dan merasa ragu dengan ide Buto. Mengingat saat itu penjaga di luar sedang 3 kali lipat lebih banyak dari biasanya.
“Ayo nyonya, ikut saya,” tegas Buto. Ia memegang pergelangan tangan Wulan kemudian membawanya keluar dari kamar.
“Tidak, ada yang berjaga di situ,” larang Wulan saat buto membawanya menuju dapur.
Tidak menggubris ucapan Wulan, Buto terus berjalan melewati pengawal yang masih tertidur lelap saat itu.
Mereka berhasil lolos keluar dari rumah itu.
Kini Wulan dan Buto harus berjalan mengendap ngendap hingga ke bibir pantai. Namun saat ia hendak mendorong perahu kanonya keluar dari rerumputan, seorang penjaga melihat mereka.
“Ada mata mata,” teriak pria itu.
“Ada mata mata, di sini” teriaknya lagi dengan suara yang semakin besar. Sangka nya Buto dan Wulan adalah mata mata yang sedang mengintai aktivitas mereka.
“Cepat lari nyonya, lari hingga ke pantai. Saya akan menyusul nyonya,” ucap Buto sambil berusaha keras mendorong perahu kano menuju bibir pantai.
“Tidak aku harus membantu mu,” ucao Wulan sambil ikut mendorong perahu lebih cepat.
Gerombolan pria pria berlari menuju ke arah Wulan dan Buto. Jumlah mereka lebih banyak dan lari mereka lebih cepat.
Wulan dan Buto berusaha mendorong perahu, tinggal beberapa meter perahu akan tiba di atas permukaan air. Kemudian..
Dor
Dor
Seperti suara tembakan berbunyi menggelegar.
Buto terhenti sejenak, ia meraba bagian perutnya kemudian kembali mendorong perahunya.
“Ayo nyonya, nyonya harus pergi dari sini!”
Dor
“Agghhh,” suara Wulan memekik kesakitan.
Dor
Tembakan ke empat, perahu Buto dan wulan sudah berada di atas air. Wulan segera melompat naik ke atas perahu. Sedangkan Buto, ia masih mendorong perahu hingga kedalaman air mencapai perutnya.
.
.
.
TBC…
__ADS_1