
Setelah melalui perjalanan yang panjang, akhirnya Arkan dan Wulan tiba di sebuah vila megah yang di bangun di sekitar tebing yang mengarah ke pantai Pangandaran. Sangat sepi dan tak ada penghuni di sekitar vila itu.
Vila sepi yang di kelilingi oleh pepohonan yang rindang tak menampakkan penghuni di atas tebing tersebut.
Arkan dan lainnya langsung di sambut oleh seorang pria dan wanita yang berjaga di vila besar itu.
“Wulan.”
Perlahan Wulan membuka matanya lemah.
“Kita sudah sampai,” bisik Arkan.
Arkan mengangkat tubuh Wulan keluar dari helikopter.
“Mas, aku bisa kok jalan,” ucap Wulan.
“Meskipun bisa, aku tetap akan menggendong mu seperti ini,” jawab Arkan.
Wanita penjaga rumah itu langsung menghampiri Arkan. “Silahkan ikut saya tuan,” ucap nya kemudian menjukkan jalan untuk Arkan.
Wulan langsung di bawa masuk ke sebuah kamar, di dalam kamar dua orang dokter dan dua orang perawat sudah menunggunya.
Dengan gesit para dokter dan perawat langsung menangani Wulan. Arkan langsung di minta keluar dari kamar tersebut.
Arkan dan mbok Narsih serta Buto masih menunggu di luar kamar.
Selang satu jam, seorang dokter keluar dari kamar itu.
“Bagaimana keadaan Wulan dok?” tanya Arkan.
“Nggak usah cemas, Wulan adalah wanita tangguh, dan kuat, luka memar dan bekas cambuk di badannya akan segera pulih dalam beberapa hari. Tapi pergeseran tulang di persendian tangan kanan sepertinya agak parah jadi Wulan akan merasakan sakit di tangan kanan agak lebih lama. Sebenarnya nona Wulan bisa mendapat perawatan yang lebih baik lagi jika berada di rumah sakit. Tapi mengenai kondisi kalian sekarang sepertinya tidak memungkinkan.”
“Terimakasih dok, bisa saya masuk sekarang?” tanya Arkan.
“Sepertinya perawat masih mengambil beberapa dokumentasi. Kalian pasti akan butuh itu, kekerasan seperti ini sudah cukup kuat untuk dijadikan bukti di persidangan,” ujar dokter itu lagi.
“Dokter ini sepertinya sahabat dekat mama. Mama pasti sudah cerita soal keadaan Wulan.”
“Retak di pergelangan tangan nyonya terjadi sejak beberapa minggu sebelumnya tuan,” imbuh bi Narsih yang tak kalah panik. Ia berdiri tak jauh dari pintu kamar ikut menunggu kabar dari Wulan.
Arkan mengepal kedua telapak tangannya.
“Sudah berapa kali hal seperti ini terjadi?” tanya Arkan.
__ADS_1
“Yang parah seperti ini adalah kali kedua, kali pertama nyonya sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur selama seminggu,” nyonya baru beberapa hari ini beraktivitas normal, sekarang sudah kejadian lagi,” lapor bi Narsih.
“Pak Richard sudah mengirim beberapa alat medis ke sini. Besok peralatan tiba kita bisa scan tubuh secara keseluruhan.”
“Ayah?” tanya Arkan tak percaya.
“Oh ya perkenalkan, saya dokter Herniati teman ayah mu,” ucap dokter itu kemudian memperkenalkan dirinya.
“Ayah? Jadi ayah yang mengatur penginapan ini dok?” tanya Arkan.
“Vila ini milik ayah mu, sepertinya dia berencana menjual vila ini. Kemaren dia menawarkan vila ini ke beberapa rekan bisnisnya,” ujar dokter Herniati.
“Beberapa kejadian akhir akhir ini selalu ada nama ayah di balik semua nya. Padahal aku belum mengatakan apa pun kepada ayah. Ternyata komunikasi mama dan ayah lumayan lancar juga.”
“Dok, dokumentasi sudah selesai. Keluarga sudah bisa masuk,” ucap seorang dokter muda yang baru saja keluar.
“Saya masuk dok,” Arkan bergegas masuk ke dalam ruangan.
Di atas ranjang Wulan sedang duduk bersandar, tangannya di gantung di dalam sebuah kain yang disangkutkan ke pundaknya. Pakaiannya sudah di ganti dengan yang bersih, sedangkan rambut nya sudah di kuncir oleh kedua orang perawat.
Melihat Arkan, wajah Wulan langsung tersenyum. “Mas, kita sedang berada di mana sekarang?” tanya Wulan.
“Aku aku juga lupa bertanya ini di mana,” ucap Arkan kikuk.
“Kita di kabupaten Pangandaran pak, di Jawa barat,” ucap perawat yang sedang membersihkan peralatan medis di atas nakas di samping ranjang Wulan.
“Mas,” panggil Wulan.
“Ya,” jawab Arkan singkat.
“Mas bengong, ngapain melihatnya sampai segitu?” tanya wulan.
“Kamu nggak lihat wajah kamu di cermin? Sudah seperti ini tapi kamu terlihat biasa saja?!” ucap Arkan jengkel, ingin rasanya ia kembali ke kediaman Brian dan meninju wajah Brian. Ia ingin membalas perbuatannya kepada Wulan berkali kali lipat.
“Aku pernah mengalami yang lebih parah dari ini, aku pikir aku akan mati saat itu, tubuh ku sakit hingga tidak bisa bergerak. Sekarang sakit yang aku rasakan tidak seberapa mas,” bela Wulan, ia berupaya sebisa mungkin tidak mencemaskan semua orang.
Arkan mendekati tubuh Wulan kemudian memeluknya lembut. “Karena sudah seperti ini, kamu jangan pernah kembali ke rumah itu lagi. Kalian harus bercerai secepatnya!”
“Mas, sampai sekarang yang masih membuat aku kepikiran hanyalah kakek. Aku tidak tau kakek dimana sekarang. Aku merasa jika hal buruk telah menimpa kakek, kakek tidak pernah seperti ini. Dia tidak pernah sekalipun pergi tanpa pamit seperti ini,” ucap Wulan dengan murung.
“Bukannya kakek sudah pulang ke kampung?” tanya Arkan.
“Pulang kampung? Benarkah?” Wulan malah balik bertanya, hati nya sangat berharap jika sang kakek benar benar sudah pulang ke kampung halaman.
__ADS_1
“Kasus hilang nya kakek sudah di tutup seminggu yang lalu. Pencariam sudah di hentikan karena katanya kakek sudah di kampung. Tapi untuk lebih jelasnya, besok kamu cek ke pekerja di rumah disana untuk memastikan benar apa nggak kakek sudah dirumah.”
“Semoga aja kakek sudah pulang mas,” ucap Wulan masih dengan nada khawatir dan cemas.
Arkan meraih kedua telapak tangan Wulan kemudian menggenggamnya erat.
“Apa hilangnya kakek ada kaitan nya dengan Brian? Jika benar, Brian benar benar sudah gila. Aku tidak akan membiarkan dia berulah terlalu jauh lagi. Aku akan membuat perhitungan dengannya!”
Tok
Tok
Tok
Seorang perawat kemudian masuk dengan semangkok bubur di tangannya. “Bu Wulan, buburnya sudah siap.”
Perawat itu meletakkan bubur di atas nakas, kemudian mengaduk aduk bubur tersebut.
“Saya yang akan menyuapnya, kamu bisa keluar,” ucap Arkan.
“Baiklah pak, saya permisi.”
Arkan mengambil mendekati nakas kemudian mengaduk aduk bubur tersebut.
Wulan terus memperhatikan Arkan dengan teliti. Ia masih tidak percaya, benarkah pria baik itu menyukai dirinya?
“Sudah puas lihat nya?” tanya Arkan tiba tiba. Arkan mengambil mangkok bubur kemudian duduk di samping Wulan. “Kalau sudah puas lihatnya sekarang makan dulu.”
Wulan menunduk menatap keadaan nya saat itu. wajahnya berubah sedih seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.
“Mas Arkan pria yang baik, akan terlalu egois jika aku menyukainya. Aku wanita beristri, aku hanya patut di kasihani oleh nya,” batin Wulan.
“Loh kenapa lagi?” tanya Arkan.
Wulan menggeleng. “Wulan mau makan buburnya.”
Arkan langsung meniup niup sendok berisi bubur yang masih hangat kemudian menyuapi Wulan dengan sangat hati hati.
“Aku bisa apa? Jika di lihat wajah ku sekarang pasti seperti seorang monster. Aku sangat jelek, sakit sakitan dan tak berdaya. Oh ya jika aku bercerai dari Brian, berarti status aku seorang janda. Mana mungkin aku bisa tega menyusahkan orang sebaik dia.”
.
.
__ADS_1
.
TBC…