Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Berhasil Kabur-


__ADS_3

“Kamu,” Brian menujuk seorang pria yang berdiri disampingnya. “Ambilkan air,” perintah Brian.


“Baik tuan,” pria yang di suruh nya langsung berlari mencari air dalam kardus. Ia pun kembali ke dalam kontainer dengan dua botol air mineral kemasan besar di tangannya.


“Ini tuan,” ucap nya seraya membuka tutup botol tersebut.


Brian meraih botol dari tangan pria itu kemudian menyiram kepala kakek Hendy hingga benar benar basah.


Kakek berusaha bergerak menghindari guyuran air tersebut. Seperti sedang bermimpi, kakek berusaha mengenali pria yang ada di hadapannya.


“Kakek, akhirnya.” Brian melempar botol di tangannya ke samping kakek. “Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus mu di sini. Kamu tinggal pilih, menyerahkan surat kepemilikan kebun kepada ku atau aku akan menyuruh orang memotong jempol tangan mu untuk di jadikan cap jempol?” ancam Brian.


“Ternyata ini yang kamu inginkan. Apa harus dengan kekerasan seperti ini Brian? Seluruh aset, rumah, perusahan dan perkebunan tetap akan menjadi milik kamu dan Wulan. Kenapa harus melakukan hal seperti ini?”


“Aku tidak suka bertele tele. Aku butuh tanah itu segera. Aku membutuhkan tanah itu secepatnya tanpa harus banyak bertanya hal apa yang aku lakukan,” ujar Brian.


“Kamu bodoh. Aku sudah salah menilai mu Brian!”


“Darma.” panggil Brian. Seorang pria yang berdiri di luar kontainer langsung masuk ke dalam.


“Siap boss,” ucap nya tegas.


“Bujuk pria tua ini menanda tangani kertas kosong. Aku akan menunggu di mobil. Secepatnya!” perintah Brian kemudian berjalan keluar dari ruang sempit itu.


“Baik Boss,” sahut Darma pria yang dipercayai Brian untuk memimpin para anggota nya.


Darma mulai menyiapkan sebuah kertas, dan pulpen ke hadapan kakek. Kakek mulai di paksa menandatangani kertas tersebut.


Tentu saja kakek Hendy tak tinggal diam. Ia melawan mereka dengan sekuat tenaga. Beberapa kali pukulan tongkatnya mendarat di tubuh para preman itu. Ia enggan memberikan apa yang di minta Brian walaupun ia harus di siksa sedemikian rupa.


Darma kini mulai bermain kasar. Beberapa kali ia memukul kakek Hendy karena emosi. Hingga beberapa saat, Darma yang kewalahan pun menghampiri Brian.


Tok tok tok.


Kaca mobil perlahan turun.


“Boss, kakek itu begitu keras kepala. Ia tidak membiarkan kami mendekatinya,” lapor Darma dengan kepala tertunduk.


“Berapa jumlah kalian. Tahan pria tua itu kemudian ambil cap jempolnya,” Brian menyerahkan tinta kepada Darma. “Ingat, aku masih membutuhkannya, jangan melakukan kekerasan yang bisa mengancam jiwanya. Suatu waktu dia akan berguna!”


“Baik baik Boss.” Darma langsung kemabali mendatangi kakek.


“Kakek, jika bukan karena boss, kami pasti sudah membunuh mu. Kamu pikir sulit membunuh tubuh mu yang renta ini. Sekarang kamu mau tanda tangani atau kami akan.”


“Cuihh,” potong kakek sembari meludah ke arah pria Darma. “Aku nggak akan memberikan apa yang kalian butuhkan.”


“Haha, ayo kawan tahan kakek ini,” perintah Darma.


Empat orang pria bertubuh kekar langsung menahan tangan dan kaki kakek Hendy. Hanya dalam sekejap beberapa cap jempol milik kakek berhasil mereka dapat.


“Kalian binatang. Aku akan membunuh kalian. Brian kesini kamu, aku akan menghajar mu. Dasar cucu tidak beradab, jika kakek mu tau kamu seperti ini dia tidak akan menyerahkan perusahan ke tangan mu. Wulan tidak perlu menikahi pria seperti mu,” teriak kakek dengan penuh emosi. Ia tak bisa meronta lagi, kedua tangan dan kakinya kini kembali terikat.


Kakek Hendy menangis. Ia merasa sangat besalah.


“Maafkan kakek Wulan, kakek menjodohkan mu dengan orang yang salah. Kakek sudah merusak masa depan cucu kakek satu satunya.”

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Brian datang menghampiri kakek Hendy. “Jika kamu macam macam, aku akan membunuh Wulan. Hidup lah yang baik, makan yang teratur. Tiga hari lagi kamu akan di bawa ke sebuah rumah. Lebih aman kamu tinggal di sana daripada di tempat seperti ini. Aku masih membutuhkan mu untuk melawan Arkan dan ibunya. Ingat! Aku tidak segan menyiksa cucu kesayangan mu jika kamu tidak bisa di ajak kerjasam!” ancam Brian.


Mendengar nama cucunya, kakek Hendy hanya bisa meratap. Ia tak bisa berbuat apa pun. Segala upaya dan tenaga sudah ia keluarkan untuk melawan. Yang tersisa kini hanya lah perasaan lelah.


Kakek menyandarkan kepalanya diatas lantai yang dingin. Ia terus bergumam nama Wulan hingga akhirnya terlelap.


“Boss, ada kapal penumpang yang tiba malam ini. Akan banyak yang lalu lalang di sekitar sini. Boss sebaiknya segera pergi,” lapor seorang pria.


Mendengar ucapan pria itu Brian langsung meninggalkan tempat tersebut.


Sepeninggal Brian, keadaan kakek Hendy semakin lemah. Ia menolak makan dan minum yang di berikan para buruh pelabuhan sekaligus preman preman itu. Sesekali mereka memberinya minum dengan paksa, namun kakek hanya menyemburkan air itu keluar dari mulutnya.


.


.


.


“Kakek.”


“Heh, bangun,” panggil seorang lelaki yang berusaha membangunkan kakek.


Malam itu adalah malam kedua kakek di sekap, jika kakek bersihkeras tidak makan mungkin ia akan semakin lemah.


“Heh, makan.”


“Sur, kamu buka aja dulu tali pengikat kakek. Letakkan makanan di situ, mungkin dia akan makan jika tak di lihat oleh siapa pun,” saran pria lainnya.


“Kalau dia kabur gimana bang?” tanya Surya seorang pria yang sedang memberi kakek makanan.


“Lihat lah kondisi nya, mungkin dia tidak bisa bertahan hingga malam ini, lepaskan saja,” perintah pria itu.


“Bang Adi, ada dua kapal yang masuk sekarang. Siapa yang bertugas jaga malam ini?” tanya Suryo.


“Ya kamu lah.” Serang Adi.


“Aku nggak bisa bang. Dalam sebulan sudah empat kali aku mangkir kerja, jika di protes atasan gajiku akan di potong separuh,” ucap Surya.


“Ya sudah kamu cari dua orang yang bisa berjaga di sini.”


“Baik Terimakasih bang,” dengan cepat Surya mencari siapa saja rekan nya yang bisa menggantikan dirinya menjaga si kakek.


Selang empat puluh menit, Surya kembali dengan dua orang lainnya yang akan menggantikan tugas jaganya.


“Bang Dito sakit apa?” tanya Surya.


“Sakit perut, mungkin aku salah makan.”


“Kami akan menjaga kakek itu, pergilah.”


Bang Adi dan Surya langsung meninggalkan dua pria yang akan menggantikan tugas jaga mereka malam itu.


Kedua penjaga baru itu melihat keadaan kakek yang sangat lemah, bahkan untuk bernafas pun terlihat kesulitan. Tak mungkin orang tua dengan riwayat penyakit lumpuh dengan kondisi seperti kakek bisa melarikan diri.


Kedua penjaga itu duduk tak jauh dari kontainer kakek sambil bermain kartu.

__ADS_1


Kesempatan yang di tunggu tunggu kakek Hendy akhirnya tiba. Saat semua orang lengah, ia pun bangun. Ia memakan sedikit makanan yang di berikan malam itu. Ia butuh tenaga untuk bisa berjalan.


Kedua orang pengawal diluar terdengar serius membahas wanita. Mereka tak mungkin masuk ke dalam kontainer untuk mengecek kakek. Di saat itulah kakek keluar dari situ.


Dengan susah payah kakek merangkak melewati lorong lorong peti kemas. Ia terus maju menuju arah suara desiran ombak.


Selang beberapa menit merangkak, dari tempatnya kini terlihat tiang kapal yang sedang terparkir di dermaga tersebut.


Suara riuh orang lalu lalang mulai terdengar. Tidak sia sia ia merangkak selama setengah jam, ia kini bisa mencari seseorang yang bisa menolongnya.


Kakek teringat kembali dengan pria pria yang sebagian besar adalah buruh di dermaga itu. Saat itu juga kakek memutuskan masuk di sebuah gerobak berisi barang barang penumpang. Ia menutupi dirinya dengan sebuah karung.


Gerobak itu berjalan jauh keluar. Kakek terus bersembunyi di sana. Sebelum barang dalam gerobak di bongkar, kakek keluar kemudian bersembunyi di bawah sebuah mobil pick up. Mobil yang membawa muatan ke atas kapal. Kakek pun memutuskan masuk ke dalam mobil itu.


Di cela cela karung berisi kentang kakek bersembunyi. Mobil itu membawa kakek keluar dari pelabuhan. Mobil pick up itu membawa kakek selama sejam kemudian berhenti di depan sebuah ruko.


Dari ruko yang tak banyak orang lalu lalang kakek turun dari mobil pick up. Saat itu kakek hanya butuh seseorang yang akan mengantarnya ke rumah Wulan. Karena jalanan sepi, Kakek memutuskan kembali berjalan.


Dengan tertatih ia terus melangkah. Dengan hanya berpegang pada sebuah tongkat kakek Hendy terus maju. Hingga tiba di sebuah persimpangan. Beberapa pria tukang ojek sedang duduk menghadap meja. Gaplek bergiliran di letakkan di atas meja. Mereka begitu menikmati permainan mereka saat itu.


“Permisi,” ucap kakek.


“Ada penumpang tuh, Gun giliran kamu,” ucap seorang pria.


“Mau ke mana kek?”


“Ke Jakarta selatan. Jalan Kartika,” jawab Kakek seraya mengingat ngingat lokasi tepatnya.


“Agak jauh dari sini kek,” ucap pria itu.


“Kita di mana sekarang?” tanya kakek.


“Lah, kakek di sini tapi nggak tau keberadaan kakek sekarang. Loh jangan jangan kakek nyasar,” tebak pria itu.


“Iya, saya tadi tertidur di taxi. Saya di turunkan di sini,” ujar kakek sedikit berbohong.


“Oalaahhh, sekarang kakek di pinggiran Bogor. Hati hati dong kek, sekarang penjahat banyak, yang mau di jahati saja yang nggak ada. Ayo naik,” ucap pria itu.


Kakek Hendy berusaha naik ke atas motor. Setelah mendapatkan posisi duduk yang pas ia langsung memeluk pinggang pria itu.


“Pegangan yang erat ya kek.”


Pria ojek itu langsung membawa kakek menuju tempat tujuan. Ia langsung di turunkan di sekitar alamat yang di berikan kakek. Karena rumah semua berpagar tinggi, kakek kebingungan mencari nomor rumah cucunya.


Sebuah cincin emas di tangan kakek langsung di berikan kepada si tukang ojek. “Kamu pulang lah, rumah cucu saya di sekitar sini.”


“Nggak usah lah kek, anggap saja aku membantu kakek.” Pria asing itu tidak menerima pemberian kakek. Ia pun langsung pergi meninggalkan kakek yang saat itu masih kebingungan mengenali rumah yang di huni oleh Wulan.


Tiba tiba…


“Kakek?” sapa seorang wanita yang sedang melintas di situ.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2