
Jam di dinding terus berdetak. Ruangan yang tadinya riuh dengan suara sesegukan Wulan kini menjadi tenang.
Wulan kembali tertidur lelap. Ia terlalu lelah untuk terus memikir kan nasib nya. Selain menangis ia hanya bisa tidur agar bisa mengistirahatkan tubuhnya dari rasa sakit yang dia rasakan.
Setengah delapan malam itu Brian dan Soraya sudah meninggalkan rumah tersebut. Mereka ada acara makan malam bersama para anggota partai. Sebagai pengurus partai yang di ketuai oleh sang ayah, Soraya menjadi sangat sibuk akhir akhir ini.
Di rumah megah dan besar itu hanya menyisahkan bi Narsih dan Wulan. Saat seperti itu, rumah menjadi sangat sepi.
Sambil tertatih bi Narsih berusaha menapaki setiap anak tangga. Ia sudah cukup lelah hari itu. Selain mengurus rumah seorang diri, kini bi Narsih harus mengurus nyonya rumah yang sedang terkapar di atas ranjang. Namun rasa lelahnya sirna begitu ia memasuki kamar Wulan.
Wanita yang penuh lebam pada wajah dan sekujur tubuhnya itu sudah bangun.
“Nyonya, sudah bangun?” bi Narsih bergegas mendekati majikan Wulan.
“Nyonya belum makan, gimana jika bibi ambilkan makan?” lanjut bi Narsih bertanya.
Dengan penuh ketekunan bi Narsih mengikat rambut Wulan yang terlihat berantakan.
“Bibi ambilkan bubur ya Nyah?” tanya bi Narsih lagi.
Wulan menatap wajah wanita paruh baya yang telihat lelah itu.
“Aku akan ganti pakaian dulu, kemudian kita turun makan bersama,” ujar Wulan dengan nada lemah.
“Bibi bantu nyah?”
“Nggak usah bi, aku bisa sendiri,” tolaknya.
Wulan perlahan bangkit dari ranjang. Ia berdiri menatap celana yang dipakainya, masih ada bercak darah menempel di sana. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya kemudian mengambil sepasang piyama bermotif bunga.
Perlahan Wulan melepas pakaian di badannya berganti dengan pakaian bersih.
Di belakang Wulan, bi Narsih kembali menitikkan airmatanya. Ia sungguh tak tega melihat sebagian besar lebam di tubuh Wulan.
“Bibi tau? Menangis hanya akan menguras tenaga bibi,” ujar nya sembari menghampir bi Narsih.
“Bibi nggak tega lihat tubuh nyonya. Hikz hikz,”
“Ayo kita turun dan makan yang banyak.” ucap Wulan kemudian merangkul wanita paruh baya tersebut. “Maafin aku bi,” ucap Wulan lagi.
__ADS_1
“Kenapa nyonya yang minta maaf? Nyonyah tidak bersalah sedikitpun!” ucap bibi sembari menyeka tetesan airmata di kedua pipinya.
“Sebagai majikan, aku terlalu mengeksploitasi tenaga bibi. Bibi lelah tapi masih harus merawatku,” ujar Wulan.
“Bibi nggak lelah kok, bibi malah senang merawat nyonya,” ucap bi Narsih dengan nada tegas dan wajah tegar.
“Ya sudah, kita turun makan. Biar bisa punya tenaga baru,” ajak Wulan.
Bi Narsih memapah Wulan menuruni anak tangga hingga tiba di ruang makan. Walau pun gerakannya sedikit lambat karena menahan sakit, tapi Wulan bekerja sama dengan bibi untuk menyiapkan makan malam mereka saat itu.
Hingga pukul sepuluh malam saat Brian dan Soraya tiba di rumah.
Melihat cahaya lampu di ruangan makan masih menyala terang Soraya menghampiri ruangan tersebut.
“Wulan sudah makan?” tanya Soraya.
Dengan senyum yang sengaja dibuat nya untuk menghilangkan kecemasan semua orang Wulan pun mengangguk. “Wulan sudah mendingan, baru selesai makan. Terimakasih non,” ujar Wulan.
“Baguslah. Melihat kamu baik baik saja aku sangat lega,” ujar Soraya.
Kemudian Brian muncul di belakang Soraya. Matanya langsung menatap tajam wanita lemah yang terlihat tegar itu.
Kepala Wulan tertunduk. Seluru bulu kuduknya bergidik, ia sangat takut jika di aniaya kembali oleh Brian. Ia tak berani menatap wajah pria itu, ia belum punya nyali untuk melawannya saat ini.
“Yan sudah lah, kamu ga capek marah mulu? Sana gih ke kamar, nanti aku nyusul,” bujuk Soraya. Ia menggandeng lengan Brian agar meninggalkan ruangan itu kemudian kembali ke meja makan.
“Lan, gimana luka kamu. Ini, aku tadi singgah di apotik, aku membeli ini. Kata mbak apotekernya salep ini manjur untuk luka lebam,” Soraya menyerahkan kantong kecil ke tangan Wulan.
Bi Narsih menyambut kantong tersebut dari tangan Soraya. “Makasih non,” ujar bi Narsih.
“Oh ya, sepertinya emosi Brian emang lagi terganggu, tadi dalam rapat partai dia marah marah ga jelas. Aku akan membawanya liburan beberapa hari. Sekaligus kesempatan buat kamu menyembuhkan luka di tubuh kamu Lan. Takutnya saat tak bisa menahan emosi, ia akan kembali menyiksa dirimu. Jadi untuk sementara waktu hingga beberapa hari ke depan kamu akan aman,” jelas Soraya penuh prihatin.
“Makasih nona,” ucap Wulan lemah.
“Sudah kamu istirahat sekarang, aku naik dulu sebelum Brian ke sini mencariku,” ucap Soraya.
Sepeninggal Soraya Wulan masih berdiri di tempat semula. Ia berdiam seperti patung.
“Hidupku terlalu tragis, mungkin aku akan mati di tempat ini sebelum menemukan kakek!” gumam Wulan.
__ADS_1
“Nyonya ngomong apa? Nyonya nggak akan mati sia sia, bibi akan membawa nyonya ke rumah tuan Arkan. Mereka pasti akan membantu nyonya,” ucap bi Narsih.
“Sia sia bi, Arkan tidak dirumah nya. Ia sedang berada di Bali. Sedangkan kakek, sudah hampir seminggu kakek menghilang. Aku nggak tau keberadaan kakek sekarang.”
“Kakek? Kakek kenapa Nyah? Bukannya kakek tinggal bersama mas Arkan?”
“Kakek menghilang, ia bahkan tak sanggup melihat hidup ku seperti ini. Itu lah sebabnya kakek pergi!”
“Nyonyah, kenapa ngomong seperti ini.”
“Ayo cepat Nyonya hubungi bu Jenny, dia pasti akan ke sini menjemput nyonyah,” ucap bi Narsih penuh antusias.
“Menghubungi menggunakan apa bi? Bahkan ponsel pun aku nggak punya. Semua dompet dan uang ku entah dimana! Aku kehilangan barang barangku sejak di rumah sakit.”
Walaupun sedikit tidak mengerti ucapan Wulan, namun satu hal yang dipahami sang bibi, tuan Brian pasti sengaja memutus semua akses nyonya nya agar tidak kemana pun.
Sejak malam itu, Wulan terus terkurung di rumah besar itu. Ia tak bisa kemana pun karena pak Buto pengawal nya selalu berjaga di pintu depan. Akses telpon dirumah besar itu juga terputus. Siapa lagi yang bisa datang menolong nya? Brian benar benar membuat Wulan seperti tawanannya yang setiap saat bisa dia bunuh untuk diberikan kepada anjing anjing liar di hutan.
Beberapa hari pun berlalu, lebam di sekujur tubuh Wulan berangsur pulih, namun kondisi Wulan sudah tak bergairah seperti dulu lagi. Hidupnya kini lebih banyak diam, saat sedih ia lebih memilih tidur. Wulan menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar.
Hingga suatu sore, saat langit sedang cerah, Wulan berjalan jalan menuju taman belakang rumah mewah tersebut. Bi Narsih begitu setia menemani disisinya.
“Bi, kenapa taman ini terlihat tidak rapih?” tanya Wulan.
“Semua pekerja disini sudah diberhentikan tuan. Hanya tersisa bibi dan pengawal bertubuh besar itu,” ucap bi narsih seraya menunjuk pria hitam bertubuh besar yang berdiri beberapa puluh meter di belakang.
Wulan berbalik badan menatap pria besar itu. “Dia benar benar adalah pengawalku, namanya Pak Buto,” ucap Wulan.
“Setiap tiga hari asisten tuan akan ke sini mengantar bahan makanan, jika nyonya ingin sesuatu akan bibi pesan sama orang nya,” ucap bi Narsih.
“Aku ingin ponselku, jika bisa kembalikan saja ponselku. Kedua sahabatku pasti mencariku,” ucap Wulan.
“Kalau permintaan itu, bibi nggak yakin akan diberikan. Nyonya bisa tunggu tuan datang baru bisa meminta kepada tuan,” ujar bi narsih.
“Meminta kepada Brian? Bagaimana jika dia kembali menyiksaku. Rasa sakit di tubuhku belum sirna sepenuhnya, nggak nggak aku nggak mau,” batin Wulan takut.
.
.
__ADS_1
.
TBC…