Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Mengikuti Jejakmu II-


__ADS_3

Setiba di pelabuhan.


“Kakaknya mbak tadi turun di pos itu, dia melapor di situ. Kemudian berjalan menuju sebuah kapal,” lapor sopir taxy itu sambil berjalan masuk ke dalam pelabuhan.


“Terimakasih pak.” Wulan menyerahkan uang 300 ribu ke tangan sopir itu.


“Mbak, ini kebanyakan,” ucap Sopir itu.


“Nggak apa, ambil saja,”


“Tadi kakak mbak juga memberikan saya uang banyak. Dia memberikan uang asing dan uang rupiah. Kalian pasti benar benar kakak beradik, Terimakasih mbak,” ucap sopir itu.


Wulan di turunkan di dekat pos penyewaan speed cepat.


Tanpa basa basi Wulan langsung masuk ke dalam pos itu.


“Pak, saya mau sewa speed yang paling cepat,” ucap Wulan.


Pria itu menatap Wulan dengan seksama.


“Bang Jay,” teriak pria yang masih menatap Wulan.


“Ada yang nyari speed,” teriak nya lagi.


Pria yang mungkin bernama Jay itu keluar dari sebuah pintu.


“Katanya mau speed yang paling cepat,” ujar pria itu.


“Hoki apa kita hari ini?” gumam pria yang baru saja keluar itu.


“Speed cepat disewakan per jam 5 juta,” ucap pria itu kemudian.


“Saya mau yang paling cepat,” ucap Wulan.


Kedua pria itu saling tatap. Mereka baru saja memberikan harga termahal mereka namun wanita di hadapan mereka itu tidak menawar sedikitpun.


“Tujuan nya ke mana?” tanya pria itu.


“Ke desa pesisir,” ucap Wulan.


Pria itu menatap Wulan.


“Barusan yang menyewa speed tujuannya juga ke desa pesisir.” Ucap pria yang satunya kepada temannya.


“Wanita itu kakak saya,” sahut Wulan yang mendengar percakapan mereka.


“Kakak?” tanya pria itu sambil tersenyum kecil.


“Jay, bawa wanita ini ke dermaga, ambil speed Sadewa. Minta Urip yang antar dia,” ucap pria itu.

__ADS_1


Saat itu juga Wulan di bawa menuju dermaga, sebuah speed sudah menunggunya disana.


Sepeninggal Wulan beberapa menit, Arkan tiba di situ.


“Pak, wanita yang tadi ke sini. Dia dimana pak?” tanya Arkan.


“Dia baru saja pergi dengan speed,” jawab Pria itu.


“Dia kemana? Saya juga mau speed satu, ke tempat tujuan wanita tadi,” ucap Arkan.


Belum kembali orang yang mengantar Wulan ke dermaga. Sekarang ada lagi yang datang menyewa speed.


“6 juta per jam,” ucap pria itu semakin asal.


“Baiklah, saya transfer tanda jadinya saya tidak bawa uang Cash,” ucap Arkan.


Arkan mentransfer sejumlah uang ke rekening pria itu. Beberapa saat kemudian Jay tiba.


“Jay, masih ada yang ingin ke desa pesisir tujuan wanita barusan. Kamu yang antar dia,” ucap pria itu.


“Saya?” tanya nya.


“Iya kamu, siapa lagi. Driver kita kosong,” ucapnya.


Pria bernama Jay itu pun akhirnya patuh. Ia membawa Arkan dan Daniel menuju dermaga. Sebuah speed lainnya yang terparkir langsung berangkat menuju desa pesisir saat itu juga.


.


.


.


Pesiapan matang sudah di siapkannya. Bertahun tahun ia telah merencankan hal ini.


Saat Brian tiba di situ, Raya akan langsung membunuh Brian.


Parang, pisau dan golok sudah di siapkan Raya di beberapa titik di pegunungan itu. Karena ia sangat akrab dengan keadaan di sekitar gunung ia tau apa yang ingin dilakukannya.


Brian harus mati hari itu juga.


Waktu sudah menjukkan pukul 14.30, hampir mendekati waktu yang dijanjikan Raya kepada Brian. Sedikit saja Brian terlambat setiap postingan perbuatan Brian akan di unggahnya di media sosial.


Dengan cangkul dan sekop Raya terlihat sedang menggali tanah. Ia menyiapkan lubang itu untuk mengubur Brian. Setelah menggali sekitar setengah meter, Raya mulai kewalahan. Keringat dan peluh membasahi tubuhnya.


“Lubang sedalam setengah meter sudah cukup untuk mengubur pria brengsek itu. Lubang ini akan menjadi tempat istirahat terakhirmu Brian. Kamu akan hidup di pegunungan ini bersama kami. Kamu akan menyaksikan bagaiaman anak kamu tumbuh. Kamu akan menyaksikan bagaimana bahagianya hidup kami tanpa mu.” gumam Raya.


Sarung tangan karet yang di penuhi tanah dilepas Raya dari tangan nya, ia kini duduk di akar sebuah pohon. Pemandangan dari tempatnya duduk bisa menjangkau ke sekitar dermaga dan perairan disekitar dermaga itu.


Raya mengeluarkan dua buah pisau lipat dari dalam back pak nya kemudian diselipkan di sepatu dan di pinggang nya.

__ADS_1


Setelah mengatur posisi pisau lipat dengan tepat, Raya mengeluarkan ponsel dan laptop dari dalam tas.


Ia kembali mengaktivkan ponsel itu.


“Aku sudah menunggu mu. Waktu mu 15 menit lagi, jika kamu datang membawa teman maka semua data ini akan aku input tanpa terkecuali,” pesan terkirim ke ponsel Brian.


Sementara menunggu ia mengedit beberapa video baru perbuatan ilegal Brian di dermaga saat transaksi narkoba. Brian datang atau pun tidak, ia akan tetap mengunggah semua itu. Brian datang atau pun tidak ia harus membuat seluruh dunia tau perbuatan Brian, yang mereka banggakan sebagai politikus muda berprestasi dan ternyata adalah penjahat besar.


Raya mulai memposting video skandal perselingkuhan Brian dengan sekertaris nya di sebuah chanel. Postingan Video panas itu tentu akan mengundang minat para penonton. Setelah mengunggah tautan itu ke berbagai media masa dan media sosial Raya kembali menghubungi Brian.


“Tiga menit, sepertinya kamu tidak akan tepat waktu. Aku terpaksa mengunggah video pertama mu bersama sekertaris mu.” pesan kembali terkirim ke ponsel Brian.


Selang beberapa saat sebuah pesan masuk ke ponsel Raya.


“Wanita kampung, aku tidak akan melepaskan mu. Aku akan membunuh mu!”


Video pertama yang di kirim Raya berhasil memancing kemarahan Brian. Dari kejauhan terlihat sebuah kapal cepat dari arah desa pesisir mendekati dermaga kayu.


“Ingat, kamu hanya boleh naik ke gunung sendirian. Jika kamu mengabaikan pesan ini, video lainnya akan menyusul terunggah untuk membongkar kebobrokan calon presiden kita.” Ancam Raya lagi.


“Sebenarnya apa mau mu?” tanya Brian.


“Aku mau dirimu seutuhnya. Aku menginginkan hati mu. Aku ingin cinta mu. Dan aku ingin membunuh mu.”


Raya kembali mengunggah Video kakek Hendy sedang terbaring lemah di dalam konteiner, sedangkan Brian berdiri di samping kakek. Wajah nya terlihat buram karena cahaya remang malam. Namun di video itu jelas adalah wajah dan suara Brian. Ia sedang memaksa sang kakek agar menandatangani sebuah kertas.


“Kamu sudah terlambat 5 menit. Aku terpaksa mengunggah video lainnya haha.” Pesan Raya kembali terkirim saat Brian hendak menuruni tangga kapal.


Dari atas gunung Brian terlihat sangat kesal. Ia meninju dan menendang dermaga kayu itu berulang ulang. Dua orang anak buah yang mengikuti di belakang Brian ikut terkena tendangan dampak dari amarahnya


“Sudah aku katakan, kamu hanya bisa naik sendiri. Bukankah tidak adil jika kamu membawa orang, sedangkan aku hanya seorang diri. Kenapa? apa kamu takut denganku?”


Kedua pengawal Brian itu terlihat kembali ke naik kapal.


“Naik ke pegunungan sekarang. Ikuti jalan setapak itu. Setelah 30 meter belok ke kanan. Jalan terus hingga mentok di sebuah batang pohon yang tumbang.”


Brian mengikuti arah sesuai petunjuk. Dari tempat Raya duduk ia memperhatikan Brian. Ia sengaja memberikan jalan keliling dan berbelok belok untuk memastikan anak buah Brian tidak ikut di belakangnya.


“Aku sudah di sini. Kamu di mana?” Tanya Brian.


“Berjalan naik hingga 50 meter, kemudian menuju ke arah kanan. Ada tanjakan kecil, lewati tanjakan itu hingga tiba di sebuah pohon besar.”


Brian mengikuti arah yang di tunjuk untuk di laluinya.


“Stop di situ…”


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2