
Setelah memberikan salep dan memberi minum obat penghilang sakit, Soraya langsung terlelap.
Wulan segera keluar dari kamar tersebut menuju kamarnya. Sudah hampir jam sepuluh, ia harus menghubungi Rasti. Ia tidak turun kerja hari ini, jika Rasti kebingungan di kantor tentu tante Jenny bahkan Arkan akan ke sini mencari nya.
“Rasti?” panggil Wulan.
“Bu, sejam yang lalu bu Jenny mencari bu Wulan ke sini,” ucap Rasti.
“Trus?” tanya Wulan. Hal yang dikhawatirkannya terjadi.
“Aku menghubungi no ibu tapi nggak aktiv. Bu Jenny sudah menuju rumah ibu.”
Wulan kalang kabut, suara mobil terdengar di halaman depan rumah, mungkin saja itu adalah mobil tante Jenny. Wulan berlari menuju kamarnya mencari masker.
Setelah mengenakan masker Wulan masuk ke dalam selimut pura pura tertidur.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
“Nyonyah?” panggil bi Narsih.
“Wulan kenapa bi?” tanya Jenny pelan.
Tak ingin kebohongan nya terbongkar Wulan langsung bangun dari tidur nya.
“Tante, ada apa?” tanya Wulan kemudian bangun dari atas ranjangnya.
“Kamu sakit?” tanya Jenny menghampiri Wulan.
Ia mundur beberapa langkah, “Wulan flu,batuk, pilek sepertinya sangat menular tante.”
Langkah Jenny terhenti.
“Sudah ke dokter?”
“Belum, siang ini baru akan ke dokter,” jawab Wulan.
Jenny maju beberapa langkah mendekati Wulan kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Wulan.
“Suhu tubuh kamu normal,” ujar Jenny.
“Uhuk uhuk uhuk, haatciiihh haticihh,” Wulan terbatuk batuk dan bersin yang di buat buatnya.
Jenny terpaksa mundur beberapa langkah.
“Kata bibi nyonya baik baik saja, sudah sakit gini kenapa ga di urus,” protes Jenny pada bi Narsih.
“Anu bu, bibi juga nggak tau. Maaf,” ucap Bi Narsih.
“Wulan sudah minum obat kok tante, nggak mau ngerepotin bibi juga,” bela Wulan.
Jenny mengambil ponsel dari dalam tas nya kemudian menghubungi anak nya.
“Arkan, mama sudah di rumah Wulan. Dia flu jadi nggak turun kerja,” lapor Jenny.
“Iya kamu nggak usah khawatir, mama akan membawanya ke dokter,” ujar Jenny lagi.
Ponsel Jenny di serahkan ke tangan Wulan. “Arkan mau ngomong,” ucap Jenny.
“Mama akan temani kamu ke dokter, jaga kesehatan dong. Aku beberapa hari keluar kota nggak bisa temani kamu,” ujar Arkan.
“Mas ke mana?” tanya Wulan.
“Ke Surabaya 3 hari,” jawabnya.
“Kapan mas berangkat?” tanya Wulan lagi.
“Pagi tadi mas terbang, sekarang masih di bandara tungguin bagasi,” ujar Arkan.
__ADS_1
“Jangan lupa minum obat, makan yang banyak dan istirahat yang cukup.” ucap Arkan lagi.
“Iya mas.” Wulan mengembalikan ponsel ka tangan Jenny.
“Maaf Wulan sudah ngerepotin tante,” ucap Wulan.
“Bukan kamu yang ngerepotin tante, tapi Arkan. Dia yang menyuruh tante ke sini cek kamu baik baik saja atau enggak,” ujar Jenny.
“Mas Arkan tau dari mana?” tanya Wulan.
“Dia mengubungi nomor kamu tapi nggak aktiv. Dia hubungi tante, jadi tante ke ruangan kamu. Eh kamu nggak ada,” ujar Jenny.
“Aku lupa kabarin, tadinya mau telpon Rasti tapi lupa,” jelas Wulan.
“Tante akan suruh pak Arman ke sini, dia akan anter kamu ke dokter.”
“Nggak usah tante, setelah minum obat akan sembuh kok. Besok juga sudah bisa ke kantor,” ucap Wulan.
“Ya sudah, kalau ada apa apa hubungi tante ya,” ucap Jenny kemudian memperhatikan kamar Wulan.
“Kamar kamu di sini?” tanya Jenny seraya menalaah kamar berukuran tak seberapa besar itu.
“Iya, Wulan sengaja tidur di sini. Biar mas Brian nggak tertular flu.” jelas Wulan.
“Hhmm, kamu nggak usah bohongi tante. Kamu emang ga sekamar dengan Brian. Tante tau bagaimana sikap anak itu, kamu bukan tipenya,” ujar Jenny.
Wulan terdiam, yang lebih tau Brian sebenarnya adalah keluarga nya.
“Tante heran kenapa kamu mau saja terima di nikahkan dengan pria itu,” ujar Jenny.
“Kakek yang meminta Wulan, perjodohan ini sudah di tetapkan sejak Wulan masih bayi.”
“Tapi lihat lihat dulu siapa orangnya, nama nya pernikahan ya harus lihat lihat dulu calonnya siapa,” ujar Jenny.
“Kamu tau? Semua aset tanah yang di miliki Wina Graha adalah milik bersama. Milik kakek Alan dan juga kakek Hendy. Jika kalian menikah semua aset akan murni jadi milik bersama, milik keturunan kalian. Mereka tidak perlu repot memisahkan harta. Gitu,” jelas Jenny.
“Bagi kakek mu, harta tidak lebih baik dari pada hubungan kekerabatan. Tapi bagi Johan dan istrinya, merka harus jelas atas pembagian harta. Mereka tidak pernah ingin rugi sepeserpun. Buktinya sekarang kamu menikahi Brian, otomatis perusahan jadi milik Brian. Padahal kamu juga turut andil dalam perusahan, malah di perlakukan seperti ini, jangan mau di bodohi pria bengis itu,” ujar Jenny.
“Iya sudah, tante pulang dulu. Jangan lupa aktivin ponsel kamu, Arkan nanti khawatir lagi, tante males terus menerus di cerca anak itu,” ujar Jenny.
“Maafin sudah ngerepotin tante,” ujar Wulan.
“Gapapa. Kamu istirahat lah, tante pergi dulu,” ucap Jenny kemudian pergi dari situ.
Sepeninggal Jenny, Wulan langsung melepas maskernya kemudian keluar dari kamar.
“Nyonya, maaf bibi nggak tau Ibu Jenny akan ke sini,” ucap bi Narsih.
“Nggak apa apa. Oh ya bi, aku kok nggak melihat bi Indun sejak kemaren?” tanya Wulan.
“Bi Indun sakit, tuan menyuruhnya istirahat sampai sakitnya sembuh,” ujar Wulan.
“Jadi dimana bi Indun sekarang?” tanya Wulan.
“Ada di rumahnya, sudah ada anaknya yang datang merawatnya. Nyonyah nggak usah khawatir.”
“Kita masak apa hari ini bi, mumpung nggak ngantor aku bisa bantu bibi masak,” ucap Wulan.
“Ayok Nyah,” ajak bi Narsih.
Wulan mulai sibuk di dapur, dia memasak sendiri semua makan siang tanpa bantuan bi Narsih. Bi Narsih hanya menonton keahlian Wulan dalam memasak. Ia ternyata cukup ahli dalam memasak.
Pukul 12 Soraya sudah bangun, ia langsung menuju dapur setelah mencium aroma lezat masakan dari arah dapur.
“Hmm harum nya, ternyata nyonyah rumah kita yang sedang masak,” ujar Soraya.
“Nona sudah bangun, gimana udah enakan?” tanya Wulan.
“Sudah jauh lebih enakan Lan, paling satu dua hari sudah sembuh total,” jawab Soraya akrab.
__ADS_1
“Non Soraya nggak usah mandi, kalau kena air bisa makin parah.” ujar Wulan.
“Lan, ini hanya memar biasa, bukan penyakit serius. Kamu nggak usah begitu khawatir. Aku laper, gimana kalau kita langsung makan?” ajak Soraya.
Dengan sigap wulan langsung menyiapkan peralatan makan di atas meja.
Setelah mengangkat menu terakhir dari atas wajan, makanan langsung di tata di atas meja.
“Wah ada soto,” ujar Soraya senang.
Soraya langsung mengisi piringnya dengan nasi kemudian mengambil soto di atas mangkok.
Begitu juga Wulan, ia langsung duduk di sebrang meja kemudian mengambil ikan gurame asam manis ke atas piringnya.
Sesendok nasi sudah masuk ke mulut Wulan kemudian…
“Ehm,” suara dehem seseorang yang baru saja tiba disitu.
“Lahap bener,” ucap Brian kepada Soraya yang asik menyeruput sop panas disendok nya.
“Yan kok pulang?” tanya Soraya.
“Aku telpon kamu tapi nggak di angkat, jadi aku pulang. Tadinya mau ajak kamu makan siang di luar, ternyata sedang asik makan,” ujar Brian.
“Ayo duduk, kamu coba deh. Masakan Wulan enak, kita makan di rumah aja,” ujar Soraya. Ia menarik lengan Brian untuk duduk di kursi disampingnya.
Wulan pun langsung menyiap kan peralatan makan untuk Brian.
Soraya mulai menuangkan beberapa jenis lauk ke atas piring Brian.
Wulan, hendak mengangkat piring nya dari meja itu, ia hendak pergi dari ruangan itu. Takutnya kehadirannya disitu akan merubah mood tuan Brian.
“Lan, kamu disini aja. Kita makan sama sama,” ucap Soraya.
Wulan menatap wajah Brian. Dia diam saja tanpa ekspresi. Wulan merasa tugasnya dirumah itu adalah menuruti perintah Soraya akhirnya ia kembali duduk.
“Gimana enak kan?” tanya Soraya pada Brian.
Brian mengangguk kemudian melanjutkan makannya.
Sementara makan, Soraya terus berbincang. Ada saja ide yang dijadikan bahan pembicaraannya dengan Brian. Sesekali Brian akan tertawa, terkadang ia akan mangguk mangguk menanggapi cerita Soraya. Yang pastinya pria itu selalu setia mendengar setiap perkataan Soraya.
“Gimana Yan, besok besok kita makan bareng di rumah saja. Lebih lezat, serasa makan bersama keluarga. Oke?” tanya Soraya.
“Terserah kamu saja, apapun itu yang penting kamu senang,” ujar Brian.
“Oh ya Wulan besok ngantor jadi kita makan bareng nya pas malem aja,” ujar Soraya.
Brian melirik Wulan yang duduk di depan nya.
“Jika dia tidak berulah, dia bisa gabung dengan kita,” ucap Brian.
“Wulan baik kok, dia bisa semuanya. Kamu saja yang salah menilai dirinya,” ujar Soraya.
“Sudah lah, jangan bahas orang kampung itu lagi,” Brian bangkit dari kursinya keluar dari ruang makan itu. “Besok kamu jadi temani ayah mu?” tanya Brian.
“Jadi dong Yan, ini pertama kali ayah ikut rapat kepengurusan partai lagi. Aku harus temani ayah, aku harus mendukungnya,” ujar Soraya.
“Kita nggak bisa bareng, setelah menjemput pak Mun kita akan bertemu di sekertariat,” ujar Brian sambil berjalan kekuar dari dapur meninggalkan Wulan yang masih duduk di meja makan.
“Soraya emang wanita baik, cantik, dan penyabar. Wajar jika Brian begitu mencintainya. Dia wanita sempurna dan hatinya juga tulus. Semoga mereka bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya,” batin Wulan.
.
.
.
TBC…
__ADS_1