Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Soraya-


__ADS_3

Makan malam yang lumayan panjang. Pukul 11.45 baru Wulan tiba di rumah. Setelah membawa Renata kembali ke hotel, kini Wulan yang di anter Arkan.


“Makasih mas, Wulan masuk dulu,” ucap Wulan.


“Masih bisa jalan Lan?” tanya Arkan.


“Bisa lah mas,” sahut Wulan yang wajah nya masih memerah akibat beberapa gelas wine yang di minumnya bersama Renata.


Bahkan ia menjadi sedikit canggung saat berdekatan dengan Arkan, masih terngiang dalam benak nya ucapan Renata jika mas Arkan menatapnya dengan cara berbeda.


“Mas?” panggil Wulan sambil menatap lekat wajah pria di sampingnya.


“Yaa,” sahut Arkan.


Wulan menatap mata itu, apa benar tatapan Arkan seperti yang di ucapkan Renata?


“Mas?” panggil Wulan lagi.


“Ada apa Wulan?” sahut Arkan yang kini kebingungan dibuatnya.


Wulan masih menatap Arkan. “Wulan melihatnya biasa saja, tatapan mas dari dulu emang sudah seperti ini. Renata emang suka mengada ngada, tebakannya juga salah, aku sama sekali nggak menyukai Brian. Bahkan tatapan mas dijadikannya bahan gosip,” celetuk Wulan yang memang jadi agak cerewet malam itu.


“Mas, jangan percaya ucapan Renata, di antara kami dia memang yang paling suka asal saat ngomong,” ujar Wulan lagi.


Arkan hanya tersenyum, “Aku anter kamu masuk,” ujarnya.


“Nggak usah sekarang sudah larut, mas sebaik pulang beristirahat,” tolak Wulan dan akhirnya keluar dari mobil.


Sambil melambai ke arah belakang Wulan terus berjalan masuk ke dalam rumah.


Dari dalam mobil Arkan masih menatap Wulan.


“Semakin lama bersama nya, aku semakin tidak bisa melepasnya. Dia adalah istri Brian sepupuku. Aku harus menjauhinya sebelum perasaan ini semakin besar dan tidak bisa aku kendalikan,” batin Arkan.


Arkan langsung memutar balik mobilnya keluar dari pekarangan rumah tersebut.


Sementara itu, didalam rumah Wulan sedang berusaha membuka sepatu hak tinggi yang di kenakannya, ia tak ingin menimbulkan suara apa pun yang nantinya akan membuat bi Narsih dan bi Indun terbangun.


Dengan perlahan Wulan menapaki anak tangga. Sebuah lampu sorot dari atas plafon yang lumayan tinggi membuat ruangan disekitar nya menjadi agak remang. Tiba tiba sosok Brian sudah berdiri di hadapannya persis di anak tangga paling terakhir.


Melihat Brian tentu membuat Wulan kaget, apa yang dilakukannya di ujung tangga? Dengan piyama dan sendal tidur, apa dia sedang mengigau atau sedang menunggu Wulan pulang?


Brian hanya berdiri menatap tajam ke arah Wulan, tanpa berkata kata ia langsung berbalik badan kembali kekamarnya.


Wulan pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamar nya tanpa mau pusing dengan sosok yang barusan muncul bak hantu itu. Kepalanya terasa sangat berat, ia hanya ingin tidur mengikuti keinginan matanya yang saat itu sudah benar benar mengantuk.


…oo0oo…

__ADS_1


Sebulan dua minggu yang lalu……


Brian Susanto adalah pria yang nama nya kini masuk dalam kalangan pemuda berbakat dan pengusaha sukses dalam negri. Perusahan Wina Graha yang di pegangnya selama setengah tahun terakhir maju dengan pesat setelah investasi besar besaran dalam bidang infrastruktur dan teknologi yang dia kembangkan. Baik dari dalam dan luar negri nama Brian sedang di lirik oleh para investor yang ingin bekerja sama dengannya. Nama Brian jadi lebih sering keluar masuk dalam media. Bahkan Brian Susanto bakal menjadi salah satu pria berpengaruh dalam negri versi majalah Forbest.


Sore itu usai bertemu sang kakek Brian terburu buru ke kantor karena jadwal meeting dadakan bersama beberapa tim pengembang yang baru saja di bentuk nya untuk pembangunan jalan layang antar pulau. Tanpa Arkan tentunya, karena bagi Brian Arkan hanyalah seorang penghalang baginya. Tugas Arkan hanya memantau keuangan seperti yang di tugaskan sang ayah, selebihnya Arkan tidak bisa ikut campur urusan dalam perusahan.


Bip.


Bip.


Bip.


Suara ponsel Brian berulangkali berbunyi saat seorang pria sedang presentasi. Suara ponsel terus berulang membuat si presentator sedikit terganggu.


Brian meraih ponsel dari atas meja. Jarang ada yang menghubunginya ke ponsel itu. Jika bukan urusan pekerjaan yang sangat penting atau salah seorang anggota keluarga yang ingin menghubunginya.


“Soraya…” batin Brian.


Sebuah pesan yang tak disangka sangka muncul pada layar ponselnya.


Dengan cepat Brian langsung membuka pesan lainnya.


“Dia ingin bertemu?” gumamnya sambil terus membaca. Sebuah lokasi alamat sudah dikirimkan ke ponselnya.


“Setengah jam lagi?”


“Baik pak,” ucap Farel orang kepercayaan nya.


Brian bergegas pergi ke tempat yang ditunjukkan alamat yang dikirim. Butuh waktu 25 menit untuk tiba di tempat tersebut.


Sebuah gedung tenis club yang terletak di pinggiran kota yang jauh dari keramaian dan lalu lalang manusia pada umumnya.


Seorang valey parkiran dan seorang office boy sudah menunggu Brian di depan pintu gedung tersebut.


“Pak Brian, nona Soraya sudah menunggu bapak di dalam,” ucap office boy itu sembari menuntun Brian masuk ke dalam.


Brian langsung masuk menuju tempat yang ditunjukkan, sebuah ruangan menghadap keluar bangunan untuk menyaksikan pemandangan sekitar pegunungan.


Seorang wanita mengenakan gaun berwarna biru muda sudah menunggu di sana.


“Soraya,” ucap Brian langsung mendekati perempuan cantik tersebut.


“Iyan,” panggil akrab Soraya kepada Brian.


“Kamu ke mana saja? Aku sudah mencari mu selama dua tahun terakhir. Aku tak pernah menyerah sedikit pun, dan,” Brian berdiri menatap sekali lagi sosok wanita yang kini berdiri di hadapannya. “kamu kembali begitu saja,” lanjutnya sembari memeluk tubuh Soraya.


“Jika aku tidak benar benar pergi, apa kamu akan seperti sekarang ini?” tanya Soraya.

__ADS_1


“Maafkan aku,” ujar Brian.


“Maaf, sejak dahulu kamu selalu mengucapkan kata itu. Ini adalah takdir kita, aku tidak pernah menyalahkan diri mu,” kata Soraya.


“Aku pikir, kamu tidak akan pernah muncul dihadapanku lagi,” ucap Brian sambil mengeratkan pelukannya di tubuh wanita ramping itu.


“Sebenarnya aku tidak pernah pergi terlalu jauh dari mu, aku tau yang kamu lakukan saat aku tak ada,” Soraya melepaskan diri dari pelukan Brian. Ia membawa Brian duduk di kursi santai di teras ruangan itu.


Beberapa hidangan sore sudah tersedia di sana.


“Kamu ke mana saja, apa yang kamu lakukan selama dua tahun terakhir? Aku sangat ingin tau semuanya, waktu yang terbuang itu tidak ingin aku lewatkan sedikitpun,” ucap Brian sambil mengecup jemari Soraya.


“Aku melanjutkan S2 jurusan sejarah di universitas Uppsala Swedia. Kuliah di kota kecil yang jauh dari orang orang yang mungkin dapat mengenaliku,” ucap Soraya sembari menarik nafas dalam kemudian membuang nya seketika.


“Jika aku tau, aku pasti akan pergi ke sana mencari mu,” ucap Brian.


“Tahun itu adalah tahun tersulit dalam hidup ku dan keluarga ku,” lagi lagi Soraya termenung mengingat kejadian dua tahun silam.


“Maafkan aku, aku belum menjadi siap siapa, aku belum dapat membantu dirimu dan keluarga mu saat itu,” ujar Brian.


“Aku mengerti. Dengan kondisi keluarga ku yang seperti itu, kedua orang tua mu tidak akan pernah merestui hubungan kita,” ucap Soraya.


Brian mengepalkan jemarinya, hatinya dipenuhi perasaan bersalah. Ia hanya bisa pasrah melihat seluruh keluarga kekasihnya di jadikan kambing hitam oleh sebuah partai politik.


Setelah kematian ibunya karena depresi, Soraya akhirnya menghilang dari negri ini. Sedangkan ayahnya terus berjuang hingga jatuh bangkrut hanya demi mempertahankan nama baik keluarga.


Mata Soraya mulai berkaca kaca, “Jika aku tidak pergi, mungkin aku sudah bersama ibuku sekarang. Aku tidak sanggup tinggal dinegara ini untuk terus menyaksikan semua mulut menuduh ayah dan ibuku sebagai koruptor. Demi menjatuhkan keluarga kami, semua aib dalam keluarga terkuak hiks,” air mata Soraya pun pecah mengalir dari kedua sudut matanya.


Brian menghampiri Soraya, kaki nya bertekuk dihadapan Soraya. Kedua tangannya menyeka air mata yang berderai di kedua pipi tersebut.


“Aku tidak berdaya, tapi aku terpaksa pergi. Aku kesepian dan sangat menderita,” ujarnya dalam kepedihan.


“Maafkan aku,” lagi lagi Brian memeluk tubuh Soraya erat.


“Aku berjanji, malai saat ini tak ada satupun manusia yang akan memandang rendah kamu dan keluarga mu. Nama baik ayah mu sudah dibersihkan, ia terbukti tidak bersalah. Ayah mu bukan lagi seorang koruptor, kamu dan keluarga mu akan baik baik saja,” bujuk Brian.


“Tapi ibu ku tidak bisa kembali lagi, harta benda kami semuanya sudah habis. Ayah ku harus menjual satu satunya mobil yang tersisa agar aku bisa kuliah. Aku yang sekarang sudah bukan siapa siapa, bahkan dirimu kini sudah menjadi suami orang. Dunia ini memang tidak adil terhadapku.” Air mata Soraya terus berderai.


“Aku akan menceraikan wanita kampung itu, aku akan mengembalikan semua seperti sedia kala. Selain ibu mu, aku akan memberikan apa pun yang kamu minta. Aku akan membayar semua perbuatan orang orang yang pernah menyakiti dirimu!” ucap Brian dengan tekad yang begitu bulat. Ia kembali memeluk Soraya yang saat itu sudah terlihat tenang.


“Bagus lah, aku tau kamu masih Brian ku yang dulu. Hati mu hanya milik ku,” batin Soraya.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2