Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Pencarian-


__ADS_3

Buto kembali ke rumah dengan sebuah kantong putih di tangannya, karena tidak ada orang di pos penjaga Buto langsung masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah bi Narsih terlihat sedang menangis. Dan wajah Sarah terlihat sangat tegang.


“Bibi ada apa?” tanya Buto seraya menghampiri bi Narsih.


“Buto kamu dari mana saja? Kamu melihat nyonyah?” tanya bi Narsih sembari sesegukan.


Kantong plastik kimia parma dalam genggaman Buto di angkatnya. “Deon. Dia menyuruhku ke apotik membeli obat sakit kepala.” plastik putih kecil dalam genggaman Buto itu di berikan kepada bi Narsih. “Aku akan mencari nyonya, nyonya pasti belum jauh dari sini,” ujar Buto kemudian berlari keluar rumah.


Buto mencari hingga ke jalan jalan. Mobil yang di kendarai Deon adalah mobil box, hingga Buto menghentikan semua mobil box yang lalu lalang di sekitar jalanan di depan rumah.


Buto menggeledah setiap mobil box hingga menyebabkan kemacetan di jalanan depan. Tak puas hanya mencari di depan rumah, Buto memperluas pencarian hingga ke terminal dan di mana saja. Ia fokus pada mobil box berwarna hitam, seperti mobil yang di kendarai Deon.


.


.


.


Empat jam berlalu. Karena terlalu lama menangis bi narsih menjadi lemah, ia begitu tertekan atas perbuatan anaknya Deon. Bi narsih tak habis pikir kenapa Deon tega menculik majikannya sendiri.


Setelah di beri obat penenang bi narsih akhirnya bisa tertidur lelap malam itu.


Pukul sembilan malam, Arkan sudah tiba di rumah. Ia langsung mengerahkan orang orang untuk mencari Wulan. Sudah dengan bantuan kepolisian dan masyarakat sipil, namun hasil nya masih nihil.


Tak puas hanya dengan menunggu hasil di dalam rumah, Arkan ikut turun ke jalan jalan untuk mencari Wulan. Ia mencari ke segala sudut jalan dan gang yang tersebar di kota besar Surabaya.


Demikian Renata dan Sarah, mereka juga ikut mencari keberadaan Wulan. Meski hanya dengan selembar foto Wulan, mereka terus mencari dan bertanya kepada siapa saja yang mereka temui di jalanan.


Keesokan pagi, Arkan kembali ke rumah. Ia pulang hanya untuk menemui bi narsih. Bi narsih pasti sudah bangun saat itu.


Arkan langusng menuju kamar bi narsih yang terletak di bagian belakang rumah.


Saat melihat Arkan bi narsih langsung tersungkur di kaki Arkan sambil menangis.


“Tuan, maafkan saya. Saya penyebab nyonya hilang. Bibi bersalah pada tuan.” ucap Bi narsih.


“Bangun lah bi, aku ingin tanya sesuatu sama bibi,” ujar Arkan.


“Tanya lah tuan, apa saja akan bibi jawab,” ujar bi Narsih.

__ADS_1


“Kampung bibi di mana? No ponsel Deon dan rumah tempat tinggal Deon di Jakarta? Berikan semua lokasi yang sering di datangi nya kepada ku” tanya Arkan.


“Kampung bibi di desa B. Sedangkan No ponsel Deon bibi tidak tau tuan, biasanya tersimpan di ponsel bibi, tapi sejak ponsel bibi di sita tuan Brian bibi nggak tau lagi kontak yang ada di dalamnya.” ucap Bi narsih jujur.


“Dimana tempat tinggal Deon?” tanya Arkan.


“Deon ngekos di gang rampai nomor sembilan tuan. Tidak jauh dari rumah tuan Brian, Deon juga punya seorang teman yang ngekos di situ bernama Rosa. Tuan bisa tanya keterangan lainnya dari Rosa dimana tempat tempat yang sering Deon datangi,” jawab bi Narsih.


“Bi, nanti polisi akan ke sini meminta keterangan bibi, bekerja samalah dengan baik. Agar secepatnya kita bisa menemukan Wulan,” ucap Arkan.


“Baik baik tuan bibi tau,” sahut bi Narsih.


“Tuan, Buto mencari tuan, dia ingin bertemu tuan,” ujar mbok Roro dari arah belakang.


“Dimana dia?” Arkan langusng meninggalkan bi Narsih. Ia bergegas menemui Buto yang sedang menunggunya di depan.


“Tuan Arkan,” sapa Buto begitu Arkan tiba.


“Apa yang terjadi kemaren?” tanya Arkan.


“Deon, tuan. Dia meminta saya membeli obat. Saya melihatnya berkeringat dingin dan wajah pucat, jadi saya buru buru jalan kaki ke apotik di simpang tiga, saya tidak tau Deon punya niat menculik nyonya. Maafkan saya,” ucap Buto seraya menunduk.


“Kamu sudah mencari Wulan kemana?” lanjut Arkan.


“Di setiap jalanan tuan. Mobil pick up hitam,” jawab Buto. Buto memang tidak pintar berbicara. Ia hanya menjawab seadanya seperti apa yang di tanyakan kepadanya.


“Mobil pick up Hyundai berwarna hitam sudah di temukan di dekat pelabuhan. Tidak ada apa pun dalam mobil itu. Kemungkinan Deon sudah membawa Wulan dengan kendaraan lain. Mungkin juga Wulan sudah di bawa dengan menggunakan kapal,” ucap Arkan.


Buto menunduk sedih.


“Saya mau pamit tuan,” ujar Buto.


“Pamit? Mau kemana?” tanya Arkan.


“Saya akan mencari nyonya, saya akan menemukan nyonya saya janji,” ucap Buto.


“Ok, berikan No ponsel mu, jika ada kabar tolong hubungi aku,” ujar Arkan.


“Saya tidak punya ponsel.”


“Aku akan berikan ponsel ini, kamu harus menghubungiku. Ok?”

__ADS_1


“Aku tidak bisa gunakan ponsel,” jawab Buto lagi.


Arkan menggaruk kepalanya dengan frustasi.


Ia akhirnya berjalan menuju meja dimana terdapat polpen dan kertas didalam laci. Arkan menulis sebuah nomor telpon di atas kertas itu.


Ia kembali ke tempat Buto berdiri kemudian menyerahkan kertas itu kepada Buto.


“Tolong hubungi aku jika sudah menemukan Wulan, aku akan memberikan imbalan buatmu,” ujar Arkan.


Setelah memegang kertas itu, Buto langsung berlalu dari hadapan Arkan.


Buto mencari Wulan ke tempat tempat yang mungkin digunakan Brian untuk menyandera tawanan. Buto tau pasti dimana tempat yang sering di gunakan Brian mengurung para sandera nya.


Sementara itu…


Di sebuah bagasi mobil. Wulan sedang tidak sadarkan diri, ia terikat di belakang bagasi mobil. Mobil tersebut terus melaju meninggalkan kota Surabaya menuju Semarang.


Setelah bermalam selama semalam di semarang, Wulan di bawa ke sebuah kapal menuju sebuah pulau.


Wulan di ikat selama berhari hari. Tubuh nya terlihat lemah, terkadang ia di beri makan seadanya oleh pria yang membawa nya. Ia di pindahkan dari orang yang satu kepada seorang lainnya yang sama sekali tidak dikenali nya. Seperti barang kiriman ia di bawa menuju tempat tujuan.


Di sebuah pulau, di situlah kapal yang membawa Wulan berlabuh. Aroma air laut yang sangat khas dan tidak asing menerpa hidung Wulan.


“Dimana ini?” batin Wulan. Dalam kegelapan Wulan berusaha tetap sadar.


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Hentakan kaki itu berdiri yepat dihadapannya. Dalam sekejap, kain pengikat yang melingkar menutup mata dan mulutnya di lepas.


“Makan ini,” seorang pria melempar satu kotak nasi ke hadapan Wulan.


“Saya di mana?” tanya Wulan dengan nada lemah. “Dimana lagi, kamu sudah kembali ke kampung halaman mu,” ucap pria itu kasar.


“Makan lah, atau kamu akan mati kelaparan. Tidak ada yang bisa menolong mu selain dirimu sendiri.” pria itu menggeser nasi kotak dengan kakinya. “Setidaknya kamu bisa punya tenaga lebih jika kamu kenyang,” ucap pria itu lagi kemudian pergi dari situ.


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2