
“Udah jam berapa Rah?” tanya Renata kepada Sarah.
“Kayaknya jam setengah lima,” sahut Sarah.
“Liat dong di hp, kamu kan lagi pegang hp,” ucap Renata.
“Jam empat empat puluh menit. Kenapa?” Sarah balik bertanya.
“Emang kalian ga laper, bi Narsih masak apa hari ini, aku pengen makan. Kalau nggak beli di luar aja,” usul Renata.
“Kamu mau makan apa? Biar aku minta bibi masakkan,” tanya Wulan.
“Apa aja yang ada, aku laper lagi nih,” ujar Renata.
“Waow, Wulan lihat deh. Berita terbaru Raya Karenina,” seru Sarah sambil melotot menatap ponselnya.
“Apa apa?” Renata dan Wulan berhambur ke sisi Sarah yang saat itu tengah berbaring.
“Dia sudah lahiran. Ini foto anaknya plus tes DNA sang anak. Anak itu benar benar anak Brian,” ujar Sarah.
“Trus kalau sudah yakin itu anak Brian, Raya bisa apa?” tanya Wulan.
“Mungkin dia ingin Brian mengakui itu anak nya? Atau dia ingin di biayai oleh Brian?” pikir Renata.
“Mungkin juga, aku heran dengan Raya. Dia tergila gila dengan pria seperti Brian,” ujar Wulan.
“Sshshsh, ingat jangan bahas pria itu lagi. Perutku makin laper. Wulan, minta bibi Narsih ke sini dong,” pinta Renata seperti seseorang yang hendak mati kelaparan.
“Ya sudah aku ke dapur dulu, mudah mudahan sudah ada makanan. Atau aku minta bi Narsih bikin roti aja gimana?” tanya Wulan.
“Apa aja Lan,” sahut Renata.
Wulan segera keluar dari kamar, ia langsung turun menuju dapur. Namun setibanya di dapur, hanya ada dua orang pelayan yang sedang membersihkan dapur, bi Narsih tidak berada di situ.
“Bi Narsih mana mbok?” tanya Wulan.
“Bibi di luar, ada anaknya datang tapi nggak bisa masuk. Mungkin bibi lagi ngobrol di depan pagar,” jawab pelayan itu.
“Ah, ada Deon ya?” Wulan pun bergegas keluar menuju pagar depan rumah.
“Bi?” Panggil Wulan.
“Nyonya, kenapa keluar?” tanya bi Narsih.
“Pak Dadang, tolong buka pintunya pak,” perintah Wulan.
“Pak Dadang ke WC Nyah, makanya Deon belum bisa masuk,” ucap Bi Narsih.
“Buto kamu pegang kunci gak?” tanya Wulan pada pengawalnya yang kini membantu pak Dadang menjaga rumah.
Buto hanya menggeleng. Seperti biasa Buto masih jarang untuk berbicara.
“Tunggu bentar lagi Deon, tunggu pak Dadang,” ucap Wulan.
“Iya Nyah.”
Selang beberapa saat pak dadang berlari dari arah belakang rumah. Toilete para pekerja rumah berada di paling belakang dekat kamar mereka.
“Nona?” tanya pak Dadang.
“Buka kan pintu pak, Deon anaknya bi Narsih, biarkan dia masuk!” perintah Wulan.
“Baik non.”
Pak dadang langsung mengeluarkan kunci dari saku bajunya kemudian membuka pintu pagar tersebut.
Setelah pintu terbuka, pak Dadang menyerahkan kunci kepada Buto.
__ADS_1
“Bapak mau ke belakang lagi, rasanya tadi belum tuntas. Buto kamu jagain dulu ya.” ucap pak Dadang kemudian kembali berlari ke arah belakang.
Wulan menggeleng kepala melihat tingkah pak Dadang yang tengah berlari terbirit birit menahan perutnya yang kegendutan.
“Deon, lama nggak ketemu kamu kok kurusan?” tanya Wulan.
“Iya Nyah, mungkin sibuk kerja jadi lupa makan,” sahut Deon.
“Bi Ayo ajak Deon masuk,” ucap Wulan pada bi Narsih.
Mereka berjalan berbarengan masuk ke dalam rumah.
“Bibi masak apa barusan? Aku lihat dapur agak berantakan,” tanya Wulan.
“Bibi bikin ikan goreng, sambal, ayam gepuk dan tempe bacem,” jawab bi Narsih.
“Bibi siapkan makan ya, setelah selesai aku akan minta renata dan Sarah turun makan,” ujar Wulan.
“Iya Nyah,” bi Narsih pun bergegas menuju dapur, melakukan hal yang di minta Wulan.
“Deon, gimana pekerjaan kamu?” tanya Wulan. Ia dan Deon duduk di teras samping rumah.
“Pekerjaan lancar Nyah,” jawab Deon gugup.
Butir butir keringat mulai bercucuran di dahi Deon. Ia terlihat cemas, panik dan gugup. Sesekali ia mengipas kan tangan ke arah wajahnya, pertanda ia sedang kepanasan.
“Kamu Okey Deon, kok keringatan gitu?” tanya Wulan.
“Aku baik saja Nyah, aku mungkin mungkin aku kurang minum,” ucap Deon gugup dan asal bicara.
“Panas ya? Ini kan sudah sore,” pikir Wulan.
“Iya Nyah, mungkin kepanasan, tadi abis angkut barang banyak,” jawab Deon.
“Aku masuk ambilkan kamu minuman?” tawar Wulan.
“Kok teh panas? Wajah kamu pucat, keringetan, kamu pasti sakit!” tebak Wulan.
“Maafin Deon Nyah, Deon harus melakukan ini.”
Dalam sekejap badan Wulan terasa lemas, dunia menjadi gelap, Wulan tak sadarkan diri.
.
.
.
Dengan wajah cemberut sambil mulut komat kamit bi Narsih berjalan menuju tangga. Ia terlihat kesal terhadap anak nya Deon.
Tok tok tok
Bi Narsih mulai mengetuk pintu kamar Wulan.
“Nyah?”
Tok tok tok
Pintu kamar terbuka, dari dalam kamar seorang wanita yang membuka kan pintu.
“Nyonya mana? Makanan sudah siap,” ucap bi Narsih.
“Wulan? Bukannya dia di bawah?” tanya Renata kembali.
“Bukannya nyonyah di kamar?” tanya bi Narsih yang kini terlihat bingung.
“Ya sudah bibi akan cari nyonyah di bawah, sebaiknya teman teman nyonya turun dulu. Makanan sudah siap,” ujar bi Narsih.
__ADS_1
Belum langsung turun, bi Narsih menuju kamar mas Arkan mencari Wulan di sana. Tapi kamar itu terlihat kosong.
Bi Narsih pun langsung turun menuju lantai bawah, ia mengelilingi rumah mencari Wulan. Semua kamar kamar ia masuki, barangkali Wulan berada di dalam.
“Gimana bi? Wulan dimana?” tanya Renata yang masih berdiri dekat tangga.
“Nyonya nggak ada.”
Bi Narsih bergegas menuju pos penjaga. Renata dan Sarah mengikuti di belakangnya.
“Pak Dadang? Nyonyah tadi ke sini?” tanya bi Narsih. Wajahnya mulai menampakkan kepanikan.
“Tadi ke sini, saat saya membuka pintu untuk anak bibi,” sahut pak Dadang.
“Nyonyah tidak ada, apakah nyonyah hilang?” ucap bi Narsih terlihat mulai frustasi.
“Bi bi, sebaiknya kita cari sekali lagi, aku akan bantu bibi mencari Wulan,” Renata mengambil inisiatif berjalan mengelilingi halaman rumah. Ia mencari hingga cela cela terkecil di dalam rumah itu.
Demikian Sarah, ia mengikuti bi Narsih mencari kembali ke lantai dua, bahkan setiap kamar mandi dalam rumah itu merek periksa.
“Nggak ada, nyonyah dimana?” bi Narsih mulai panik sambil ******* ***** jarinya.
“Pak Dadang?” teriak bi Narsih.
Bi Narsih berjalan cepat kembali ke arah pos.
“Deon tadi keluar pamitan dengan bapak?” tanya bi Narsih.
Dengan wajah tegang pak Dadang menggelengkan kepalanya.
“Buto, mana Buto?” tanya bi Narsih lagi.
“Buto juga tidak ada,” sahut pak Dadang.
“Jadi nyonya, nyonya di culik?” ucapan bi Narsih keluar begitu saja dari mulutnya.
Sontak Renata dan Sarah langsung ikut panik. Wajah wajah mereka menjadi tegang, takut sekaligus sedih.
Bi Narsih hampir menangis, demikian Renata dan Sarah. Mereka terlihat shock. Namun hanya terdiam mencerna kejadian yang tak di sangka itu. Wulan menghilang atau di culik, mereka belum tau kejelasan nya.
Dalam sekejap Renata berlari masuk ke dalam rumah. Tindakan yang di ambilnya saat itu adalah menghubungi Arkan.
Tombol ponsel nya di tekan berulang ulang. Hingga beberapa saat kemudian suara Arkan terdengar dari sebrang sana.
“Ya halo, ada apa Ren?” tanya Arkan.
“Mas, Wulan hilang mas,” airmata akhirnya keluar dari pelupuk mata Renata. Ia mulai terisak.
“Kok bisa? Sudah kalian cari?” tanya Arkan.
“Semua orang sudah mencari mas,” jawab Renata.
“Sir, turn back the car. We will back to teh AirPort right now,” ucap Arkan pada sopir taxy. Ia meminta sopir itu untuk kembali ke bandara.
“Aku akan balik sekarang Ren, sementara kalian cari Wulan dulu. Mungkin dia masih di sekitar rumah.”
Tut tut tut
Nada telpon terputus.
.
.
.
TBC…
__ADS_1