
“Jika kamu tidak melarang ku, aku akan melakukan lebih lagi Wulan,” gumam Arkan. Tangan nya semakin liar menggerayangi tubuh Wulan.
Sedangkan Wulan tak lagi dalam kontrol. Ia dimabuk belaian, getaran dan debar jantung nya berpacu dalam hasrat yang kian menggebu.
Mata Wulan tak bosan menatap wajah Arkan. Ia sungguh sudah di buat terpesona oleh pria yang semakin membuat hatinya berdegub kencang.
“Sayang, sepertinya aku akan menghabisi mu kalau kamu menatapku seperti ini. Kamu jahat jika menyiksa ku seperti ini,” ucap arkan yang sudah di buru naf su.
Tok tok tok
“Arkan,” suara Jenny dari luar pintu.
“Mama kamu datang mas,” Wulan langsung mendorong tubuh Arkan dari atas tubuh nya hingga hampir terjatuh dari atas ranjang.
Saat itu juga Wulan langsung duduk dan merapihkan rambutnya yang terlihat acak acakan.
“Arkan?” Jenny lamgsung membuka pintu itu.
“Aaahhh, kalian!” ucap jenny seraya menutup wajahnya. “Keluar, ada hal penting yang ingin mama bicarakan.”
Arkan menatap kesal ke arah ibunya namun menggerutu lega. “Hhhh hampir saja,” ucap nya sambil mengusap dada.
“Kamu juga Wulan, tente ingin bicara,” ucap Jenny.
“Iya tante,” jawab Wulan.
“Ayo mas,” ajak Wulan. Matanya seketika terbelalak menatap ke arah Arkan. “Mana baju kamu mas?” tanya Wulan.
“Entahlah,” jawab arkan sambil mencari di sekitarnya.
Wulan pun ikut membantu mencari kemudian menemukan kaos biru arkan tergeletak di atas lantai.
“Sejak kapan dia membuka pakaiannya? Bukan kah tadi masih berpakaian. Aduh malunya sama tante Jenny. Padahal kami belum melakukan apa pun. Hanya ciuman dan,” batin Wulan.
“Ini mas,” Wulan memberikan kaos itu kepada Arkan. Wajah nya menunduk, ia begitu malu dengan hal yang baru saja terjadi. Sungguh di luar kendali nya.
Arkan menerima kaos dari Wulan sambil menahan tawa. “Wajah kamu kenapa sayang?”
“Nggak lucu! Cepat lah turun mas, mama kamu sudah menunggu.”
Dalam sekejap arkan sudah mengenakan kaosnya kemudian berdiri.
“Kamu akan turun seperti ini?” Arkan mengancing beberapa kancing baju Wulan kemudian menggenggam tangannya. “Ayok,” ajak nya kemudian.
Saat itu Jenny sudah menunggu Wulan dan Arkan di meja makan.
__ADS_1
Matanya jenny langusng menatap Arkan tajam begitu mereka memasuki ruangan itu.
“Anak bodoh, bagaimana bisa kamu memperlakukan Wulan seperti itu. Dia belum jadi istri mu,” ucap Jenny ketus.
“Apa kabar tante?” tanya Wulan.
“Tante baik Wulan,” jawab jenny ramah. “Sini duduk dekat tante,” ajak Jenny sambil menarik kursi di samping kanan nya untuk Wulan duduk.
Arkan yang masih mengenggam tangan Wulan tidak ingin melepaskan nya.
“Mas?”
“Jangan jauh jauh dariku,” bisik Arkan kemudian membawa Wulan duduk di sampingnya di hadapan Jenny.
Mata Jenny mengerling. “Anak ini susah ya, memang nya mama ingin memakan Wulan?”
“Mama mau ngomong apa?” tanya Arkan.
“Mama mau cerita hal yang penting.” ucap Jenny.
“Iya apa ma?” tanya Arkan.
Jenny memajukan kepalanya sambil menutup tangan kanannya disamping bibirnya kemudian berbicara pelan. “Brian sekarang terkait dengan gembong narkoba,” bisiknya.
“Mama kenapa bisik bisik sih?” tanya Arkan heran.
Mata Arkan mengernyit. “Itu bi Narsih dan anaknya ma. Mama ke sini bareng Deon?” tanya Arkan.
Sedangkan Wulan masih tertegun soal Brian menjadi gembong narkoba. Namun penasarannya Wulan, kenapa tante Jenny jadi begitu misterius. Wulan menjadi penasaran menunggu cerita selanjutnya, namun ia tak berani bertanya.
“Iya, Deon yang menceritakan semuanya,” ujar Jenny.
“Kalau emang Brian gembong narkoba trus?” tanya Arkan.
“Kamu nggak kaget? Kamu sudah tau dia terkait organisasi itu?” tanya Jenny pada Arkan.
“Aku sudah tau, sindikat mereka dengan para bandit pelabuhan dan preman jalanan. Aku juga sedang menyelidiki kegiatan mereka,” ujar Arkan.
“Sshhhttt jangan keras ngomong nya. Deon kerja sama Brian. Dia yang menjadi pengedar dan mengantar barang barang haram itu keluar kota,” ucap Jenny.
“Maksud tante Jenny jangan keras keras ngomongnya, nanti di dengar bi Narsih,” ujar Wulan.
“Hmmm, oke kita ngomong pelan pelan. Mama kenapa membawa Deon ke sini?” tanya Arkan pelan.
“Deon yang mendatangi mama, dia bersedia membuka semua keburukan Brian saat sidang nanti. Dia tau seluk beluk semua kegiatan gelap mereka,” jelas Jenny.
__ADS_1
“Jadi dana gelap yang membuat Brian mampu melunasi segala hutang nya adalah hasil dari situ?” tanya Wulan.
Arkan dan Jenny mengangguk bersamaan.
“Iya. Dan dia sekarang terlibat dunia hitam. Membunuh dan,” tutur Jenny.
“Ma,” potong Arkan. “Mama jangan sembarangan menyuruh orang menyelidiki nya. Bisa saja orang suruhan mama itu tidak akan selamat,” tegas Arkan.
“Susah payah aku menyembunyikan perbuatan Brian yang sudah membunuh mbak Ani dan bahkan sekarang Yuyun ikut menghilang. Mama malah dengan ceplas ceplos mengumbar Brian membunuh. Wulan akan berpikir kalau kakek nya juga sudah di bunuh oleh Brian.” batin Arkan.
“Orang suruhan mama bisa di percaya kok. Dia dari BIN sahabat mama.”
“Ma, sudahlah. aku yang akan mengurus masalah ini. Mama jangan membawa diri mama dalam bahaya!” tegas Arkan.
“Justru mama ingin membantu kamu. Mama ingin kamu dan Wulan segera menikah. Jangan membuatnya hamil duluan, atau orang orang akan berpikir itu anak Brian,” ujar Jenny kesal.
“Mama, tenang saja. Aku tidak akan melakukan hal itu.”
“Tenang,” jenny mengerlingkan matanya ke atas. “Trus yang tadi ngapain?”
“Gimana mama sudah berhasil bertemu paman Johan?” tanya Arkan.
Jenny menggeleng. “Mama di usir mentah mentah oleh pengawalnya di depan pintu kamar. Mama kesal sekali dengan sikap anak itu. Mama ini adik ayah nya, kenapa dia tega sama mama. Bahkan mama di ancam akan di jebloskan ke penjara,” ujar Jenny kesal.
“Mama nggak usah khawatir. Paman sekarang sudah siuman, dalam waktu dekat dia akan melakukan operasi jantung,” ucap Arkan.
“Anak itu, sekarang dia tidak bisa di kendalikan lagi bahkan oleh ayahnya sendiri.” Jenny memukul meja seraya mengepal jemarinya. “Lihat saja jika mama bertemu dia, akan mama jewer telinganya itu.”
“Mama jangan cari masalah, mama bukan siapa siapa di mata Brian. Dia sudah di butakan oleh ambisi nya. Dia bisa melakukan apa pun jika dia tau mama menentang nya. Tolong mama jangan keluar sendiri tanpa pengawal, dan kurangi kegiatan mama di luar rumah. Atau Mama bisa tinggal di sini dengan Wulan jika mama mau.”
“Tinggal disini dengan ayahmu?” Jenny tersenyum sinis. “Dia belum bisa menepati janjinya. Mama nggak mau tinggal bersamanya.” Jenny bangkit dari kursinya. Kemudian berjalan menuju lemari es mengambil sebotol air mineral.
“Kamu tenang saja, mama bisa jaga diri. Sebaliknya kamu jaga Wulan dengan baik. Mama yakin Brian pasti sedang mencari nya sekarang. Dia tidak puas jika kamu merebut istrinya dari tangannya.”
“Oh ya, beberapa hari lagi, pak Rowan ingin menjual saham nya sekitar 2 persen. Kebetulan dia ada urusan di sini jadi kamu langsung saja bertemu dengannya,” ucap Jenny kemudian keluar dari ruangan itu.
“Mama mau kemana?” tanya Arkan.
“Mama mau balik Singapore, mama ingin cari kesempatan untuk bertemu paman mu,” ucap jenny sambil terus berlalu.
“Mama hati hati ma,” teriak Arkan.
.
.
__ADS_1
.
TBC…