Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Surprice II-


__ADS_3

Dengan suka cita Wulan menggandeng Arkan menuju mobil sport silver yang terparkir di garasi depan rumah.


“Mas kita akan ke mana?” tanya Wulan berseri.


“Liat aja nanti,” ujar Arkan.


“Kenapa pakai mobil semewah ini, kita akan kemana mas?” tanya Wulan lagi.


Setelah masuk dalam mobil matanya menelusuri satu persatu interior dalam kabin mobil. Berapa harga mobil ini? Mereka akan ke mana? Apa kejutan yang disiapkan Arkan untuk dirinya? Pikiran Wulan dipenuhi banyak pertanyaan.


Setelah Arkan memasuki mobil, Wulan langsung memeluk Arkan. Kemudian sebuah kecupan mendarat di pipi kiri Arkan.


Arkan melirik sejenak wanita yang tampak bahagia itu.


“Sampai segembira itu, emang kamu tau apa surprice nya?” tanya Arkan yang ikut merasa senang melihat Wulan.


“Hmm, pantai? Kita akan ke pantai?” tebak Wulan.


Arkan memperhatikan kostum yang dikenakan Wulan. Ia sudah ready dengan gaun kuning motif bunga plus sepatu sniker. “Jadi kamu berpikir kita akan ke pantai?” ucap Arkan sembari meluapkan senyuman.


“Bukankah kemaren mas bertanya kepada Daniel mengenai pantai?” tanya Wulan.


Arkan terkesima. “Kamu menguping pembicaraan kami?” tanya Arkan.


Wulan tersenyum, ia tak membantah tuduhan Arkan. Beberapa hari terakhir fokus Wulan memang hanya tertuju pada Arkan. Ia ingin tau apa yang di kerjakannya, ia juga ingin tau apa yang di bicarakan Arkan bersama Daniel. Ia ingin tau semua mengenai Arkan.


“Apa saja yang kamu dengar?” tanya Arkan.


“Hmm, banyak.”


“Banyak?” tanya Arkan.


“Ya, rencana mas akan ke Jakarta pekan depan untuk rapat pemegang saham, rencana mas membawa ku ke pantai, rencana mas membeli handphone untuk ku dan banyak lagi,” ujar Wulan.


“Ckckck,” Arkan berdecak kagum. “Sejak kapan kamu jadi kepo begitu?”


“Sejak kapan aku juga nggak tau. Makanya mas jangan suka simpan banyak rahasia. Gimana pun pasti ketahuan.”


Mobil silver itu meluncur meninggalkan pelataran rumah mewah milik Richard. Mereka langusng menuju Surabaya north quay yang terletak di pinggiran dermaga Tanjung perak.


Memasuki pelabuhan itu Wulan terlihat kebingungan. “Mas, kita nggak jadi ke pantai ya mas?” tanya Wulan.


“Ini juga pantai,” sahut Arkan.


“Pantai ya ada pasirnya. Ini? Ini dermaga pelabuhan ngapain di tempat seperti ini,” ucap Wulan.


Mobil Arkan terus menulusuri pinggiran dermaga hingga mentok di ujung sebuah dermaga persis di samping sebuah kapal terparkir.


“Kita sudah sampai,” ucap Arkan. Tangan nya meraih dua buah kacamata hitam dari dalam laci dashboard mobil bersama dua topi. “Pakai ini,” ucap nya seraya memasang kacamata ke wajah Wulan.


Setelah memakai topi dan kaca mata miliknya, Arkan langsung keluar dari mobil. Ia langsung menjemput Wulan di pintu samping kiri.


“Ayok,” ajaknya seraya meraih tangan Wulan keluar.

__ADS_1


Arkan menggandeng Wulan memasuki sebuah yacht berwarna putih bertuliskan Swan Sea.


“Kamu bisa. Mendapatkan liburan tenang tanpa ada yang mengusik mu,” bisik Arkan.


“Kita akan ke mana?” tanya Wulan.


“Kemana saja, asal kamu senang.”


Wajah Wulan tersenyum senang, ia tak mampu berucap melihat hal itu. Ini lebih dari sekedar liburan di pantai baginya. Ia bisa menikmati lautan luas di atas kapal tanpa takut seseorang akan mengenalinya.


Tak hanya itu, begitu memasuki kabin, Wulan di sambut oleh dua orang sahabatnya, Renata dan Sarah.


“Surprice,” ucap Renata dan Sarah berbarengan.


Wulan tak sanggup tersenyum lagi. Mata nya berlinangan air mata. Sudah beberapa bulan terakhir sejak ponselnya hilang, ia tidak pernah berhubungan dengan dua sahabat nya itu.


“Kalian kok tega sih tiba tiba muncul?” Wulan mewek dengan suara yang semakin besar. “Kok nggak bilang ada di sini?”


“Kan surprice Lan, nggak surprice lagi dong kalau di kasih tau,” ujar Renata.


“Kamu baik baik aja kan Lan?” Ga ngabarin kami lama, kami khawatir tau,” ujar Sarah seraya ikut menangis bersama Wulan.


“Ponsel aku ilang, jadi nggak bisa hubungi kalian,” ucap Wulan.


“Kami tau, mas Arkan sudah cerita semuanya. Asal kan kamu aman kami nggak masalah kok.” ujar Renata.


Wulan langsung memeluk Renata dan Sarah. Lama mereka berkeluh kesah dengan ratap dan cerita sedih Wulan. Terkadang mereka akan tertawa kemudian sedih. Namun wajah bete Wulan berbinar cerah hari ini. Ia merasa benar benar gembira bertemu dengan kedua sahabatnya itu.


“Acara nangis nangis sudah usai, kita siapkan alat pancing yuk?” ajak Arkan pada Aldy.


Yacht putih itu mulai bertolak meninggalkan pesisir dermaga.


Menjelang sore, kapal putih itu sudah mengapung di sekitaran selat bali. Tangkapan ikan yang lumayan banyak mulai di masak oleh seorang chef yang sudah di siapkan di atas kapal.


Wulan, Renata dan Sarah sudah lebih dahulu duduk menghadap meja bundar di dek kapal paling atas


Sambil menikmati sun set, mereka menikmati jamuan di atas kapal mini tersebut.


Tanpa sadar, arah dan pembicaraan ketiga wanita itu beralih ke Raya Karenina seorang selebgram yang saat itu tengah hamil 7 bulan.


“Eh Lan tau gak Raya? Dia masih gencar menyerang Brian melalui medsos. Bahkan dia semakin berani menantang Brian dengan tes DNA,” ujar Sarah.


“Bener bener nekat tuh cewek,” ucap Renata.


Wajah Wulan terlihat tenang. Ia tak menanggapi ucapan Sarah dengan serius.


“Akunnya sekarang sudah di take down. Ngga bisa di temukan, tapi dia membuat akun lain lagi yang bukan official,” tambah Sarah.


“Seharusnya Raya lebih pantas bersama Brian dari pada Soraya. Soraya memang wanita yang baik, dia hanya terobsesi dengan uang. Tapi Raya, Raya benar benar mencintai Brian dan sifat mereka sama,” tutur Wulan.


“Memang uang di atas segala galanya. Jika saja aku masih seperti dulu yang hanya menilai orang dari materi, aku pasti tidak akan bertahan lama dengannya,” mata Sarah tertuju pada Aldy, pria yang akan di nikahi nya dalam waktu dekat.


“Kamu bener bener mau merid Rah? Gimana Anthony, jika dia kembali kamu tega?” tanya Renata.

__ADS_1


“Udah ah, kamu mah kompor namanya. Anthony sudah meninggal!” seru Sarah.


“Meninggalkan Indonesia kan?” tanya Renata kemudian tertawa.


Tawa ketiganya terinterupsi oleh Aldy yang tiba tiba sudah berada di situ.


“Silahkan dimakan,” ucap Aldy seraya menyuguhkan ikan bakar di atas meja.


Beberapa saat kemudian menyusul Arkan dengan beberapa potong ikan fillet yang di goreng tepung.


“Ayo kita makan,” ucap Arkan.


Sesaat kemudian seorang chef keluar menghidangkan menu lengkap dengan sayuran, sop, dan sambal dalam berbagai jenis. Meja bundar itu akhir nya dipenuhi berbagai macam makanan.


“Hasil tangkapan kita hari ini, lumayan banyak kan?” ujar Arkan.


“Wah wah ikan segar. Makasih makasih,” ucap Renata bersemangat menatap jenis makanan segar dihadapannya.


“Makanan sebanyak ini, nggak bakalan habis,” ucap Wulan.


Arkan langsung menarik kursi kosong di samping Wulan dan duduk disitu. Ia menuangkan segelas air putih kedalam gelas kosong dan mengambil sebuah piring untuk Wulan.


“Mas,” cegah wulan seraya mengambil sendok dari tangan Arkan. “Aku bisa sendiri,” ucap nya.


“Nggak apa. This is your day. Aku akan memilihkan sesuatu yang paling enak untuk mu,” ucap Arkan.


“Ehm ehm, yang jomblo tersakiti nih melihat kalian!” seru Renata.


“Nggak Rena, Mas Arkan emang suka gitu. Selama tinggal dengan nya, aku di paksa makan yang banyak. Badanku mulai melar,”


“Itu supaya kamu kuat Lan,” potong Sarah.


“Ho oh, beban Arkan aja sudah berat. Di tambah beban pikiran dan beban hidup? Makanya kamu harus kuat,” imbuh Renata.


Arkan tersenyum tipis. Ia menanggapi banyolan teman teman Wulan hanya dengan senyuman.


Sementara menikmati santapan tiba tiba suara ponsel Arkan berdering.


“Ya Dan?”


“Kapan? Barusan?”


“Nggak usah dibalas. Biar aku yang hubungi dia,” ucap Arkan kemudian mematikan telpon genggamnya.


.


.


.


TBC…


# hari ini double update ya. Please tekan 👍🏻 kayaknya banyak yang baca tapi dikit yg like 😊. Jangan lupa dukungannya atau kritik dan saran di kolam komentar 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2