
Wulan ikut menemani Soraya makan di meja makan. Namun menu yang di santapnya hanya seporsi salad buah bersama segelas juice lemon.
“Wulan, Brian sudah menyiapkan surat perceraian kalian. Dia sudah menanda tangani surat itu. Kamu tinggal menyerahkannya kepada pengacara untuk di proses di pengadilan. Dengan syarat Arkan harus lepas tangan dari yang namanya Wina Graha,” ujar Soraya.
“Aku tau, mas Arkan sudah cerita,” ucap Wulan.
“Kamu sekarang bisa hidup bebas Lan, Brian tidak akan menganggu kamu lagi,” ujar Soraya.
Kepala Wulan menoleh dimana Arkan dan Brian sedang berbincang. “Apa yang mereka bicarakan? Aku tidak seberharga itu, sehingga Brian harus mempertahankan diriku sebagai istrinya. Dan Arkan tidak harus melepaskan perusahan untuk membantuku lepas dari Brian.”
Ucapan Wulan membuat Sheila ikut melantangkan pandangan ke arah Arkan dan Brian.
“Arkan orang yang baik, sejak dulu dia selalu mengalah untuk Brian. Dia selalu merelakan miliknya yang berharga jika Brian sudah menginginkan itu,” ujar Sheila, seolah ia mengenal Arkan cukup dekat.
Wulan menatap Sheila. “Bukankah, Arkan yang selalu menginginkan hal yang dimiliki Brian?” tanya Wulan asal. Ia hanya teringat ucapa Brian yang pernah mengatakan jika Brian selalu menginginkan miliknya.
“Haha, pasti Brian yang mengatakan hal itu padamu,” ujar Soraya. Ia tertawa mendengar ucapan Wulan.
“Kami sudah mengenal mereka cukup lama, sejak kami masih duduk di bangku kuliah. Setahu aku, Arkan adalah kebalikan dari Brian. Brian sangat berambisi. sedangkan Arkan, dia tidak memliki sedikitpun hal itu,” ujar Sheila.
Wulan kini fokus pada ucapan sheila. siapa sheila? Wulan ingin sekali bertanya, namun ia mengurungkan niatnya.
“Semester satu kami di bangku kuliah, kami berteman sangat akrab. Setelah mengenal Brian, persahabatan kami bubar,” lanjut Sheila.
“Itu karena kita berdua pasang taruhan untuk mendapatkan Arkan.” Soraya menutup mulut nya hendak tertawa. “Kamu tergila gila dengan Arkan tapi akhirnya malah di tembak oleh Brian,” ujar Soraya.
“Aku kesal, Arkan ga punya hati. Dia ga peka banget, ya terpaksa aku terima tawaran pacaran oleh sepupunya,” sahut Sheila.
“Tau ga Lan, Sheila mengejar ngejar Arkan makanya dia dekati Brian. Niat nya pengen kepoin Arkan dari Brian eh dia malah jadian ama Brian. Dia mengemis ngemis minta bantuan aku biar putus dari Brian. Ya udah aku dekati aja Brian. Eh tau taunya nyangkut di aku,” ucap Soraya.
“Kok bisa gitu?” tanya Wulan heran.
“Karena aku tau kelemahan Brian. Saat itu aku hanya iseng, eh siapa yang mengira Brian bakal terobsesi dengan ku?” ucap Soraya.
“Karena Arkan pindah kuliah, jadi aku lanjut aja dah jadi pacar Brian. Brian lumayan populer di kampus, banyak wanita yang tergila gila dengannya. Mobil Ferrari merahnya mengalihkan mata para gadis kampus,” ujar Soraya.
“Aku pacaran dengan Brian dua tahun loh,” lanjut Soraya.
“Sebenarnya aku kasihan dengan Brian. Dia tidak tau apa itu cinta, dia tidak bisa membedakan cinta yang tulus dan cinta karena imbalan. Mungkin karena Brian sendiri tidak pernah tulus dalam mencintai,” batin Wulan.
“Setelah aku bercerai dari Brian, kamu bisa menggantikan posisi ku,” ujar Wulan.
Soraya mengangguk. “Aku mau, Brian mengiming imingi ku dengan jabatan ibu negara. Jika dia ajak menikah, kenapa nggak?” ucap Soraya.
“Kamu gilak, kamu nggak bakalan bahagia hidup seperti itu Ya!” tegur Sheila.
“Aku sudah melihat bagaimana ibuku meninggal karena malu, ayahku dijatuhkan dari posisinya sebagai ketua parpol hingga semua harta benda kami di sita. Aku kuliah harus dengan mengemis uang dari pamanku. Ayahku harus kerja menjadi pembersih kandang kuda untuk membiayai hidupku. Jika bisa hidup mapan seperti ini kenapa nggak?” Ujar Soraya.
Sheila menggeleng gelengkan kepalanya.
“Brian butuh orang sepertiku untuk mengendalikan hidupnya,” tukas Soraya.
Selang sejam berbincang, Arkan dan Brian akhirnya bergabung di meja makan. Arkan duduk di samping Wulan sambil menyerahkan sebuah map.
__ADS_1
“Untukmu, kamu tanda tangani kemudian serahkan kepada pengacara. Besok kasus perceraian kalian akan di proses,” tukas Arkan.
Wulan mengambil map coklat itu, ia mengeluarkan dua lembar kertas dari dalam map tersebut. Satu lembar surat perceraian yang sudah di tanda tangani oleh Brian dan satu lembar lagi yang belum di tanda tangani.
Wulan menatap wajah Brian yang saat itu tengah menatap nya. Sebuah senyuman tipis tersungging di wajah pria itu.
“Aku akan menandatangani surat ini sebentar,” ucap Wulan.
“Lebih cepat lebih baik,” balas Brian.
Seketika setelah Brian duduk di meja makan itu, suasana berubah menjadi kaku. Tak ada lagi perbincangan hangat antara Wulan dan Soraya. Wulan tidak berani membuka pembicaraan, demikian Soraya. Soraya lebih memilih berbicara dengan Sheila, sedangkan Wulan berbincang dengan Arkan.
“Kamu nggak makan lagi?” tanya Arkan sambil berbisik di telinga Wulan.
“Masih kenyang mas,” jawab Wulan.
Brian menatap sinis ke arah Wulan.
“Mas,” panggil Wulan di telinga Arkan.
“Ya.”
“Aku nggak betah di sini,” bisik Wulan.
“Aku tau, bentar lagi mereka pergi. Kita akan kembali ke Surabaya. Jangan kata kan kita di Surabaya. Setau mas Brian kamu tinggal di Bali sekarang,” bisik Arkan.
Mata Brian lagi lagi melirik ke arah Wulan dan Wulan selalu merasa sangat risih akan tatapan tajamnya itu.
“Mas, apa hasil perjanjian di antara kalian?” tanya Wulan masih dengan bisikan.
“Aku akan cerita di rumah.”
“Kalau perjanjian nya terlalu memberatkan mas, aku akan mengembalikan map ini.”
Arkan tersenyum dan mempererat genggaman.
“Apa hanya ada makanan ini di kapal ini?” tanya Brian sembari melempar serbet kain ke atas piringnya.
“Kenapa Yan?” tanya soraya.
“Mas Brian ingin makan apa?” tanya Arkan.
“Aku sudah kenyang!” ucap Brian.
“Hei bawakan sebotol brandy ke sini,” teriak Brian pada Aldy, Sarah dan Renata yang sedang duduk di meja bar.
“Biar aku yang ambilkan mas,” ucap Arkan kemudian berjalan menuju ruang kemudi.
Sepeninggal Arkan. Brian menatap lekat wajah wulan, ia mengepalkan jemarinya dan tersenyum sinis.
“Kamu bahagia sekarang? Setelah resmi bercerai aku akan memberikan hadiah kepadamu,” ucap Brian.
“Apa ini sebuah ancaman?” batin Wulan.
__ADS_1
“Tentu saja, akhir akhir ini aku bahagia. Aku tidak tau hal apa yang membuatmu bertanya tentang kebahagiaan ku. Menurutku itu bukan urusanmu dan aku tidak butuh hadiah mu,” ucap Wulan dengan berani.
“Haha, nikmatilah hari bahagia mu ini,” ucap Brian.
“Mas Brian, cognac aja mau? Hanya ada ini dalam loker,” ucap arkan.
“Ya sudah, berikan padaku,” pinta Brian.
Brian langsung menuang isi dalam botol bening itu ke dalam gelas.
“Kalian?” tawar Brian.
“Aku nggak minum Yan, besok aku ada zoom meeting dengan dpc jam 8. Shela mungkin?” lempar Soraya ke arah Sheila.
“Boleh,” sahut Sheila seraya menarik botol dari tangan Brian.
“Aku nggak minum, mas Brian tau aku nggak suka miras,” tolak Arkan.
“Ya sudah,” Brian menarik sebuah gelas kemudian mengisi dengan minuman. “Untuk Wulan. Cheers untuk perpisahan kita.”
“Aku?”
Tangan Brian masih terangkat, ia memberikan segelas brandy cognac kepada Wulan.
“Tapi aku tidak minum minuman seperti itu,” ujar Wulan.
“Aku akan minum menggantikan Wulan,” ucap Arkan sambil meraih minuman dari tangan Brian.
“Mas, berikan padaku. Mas banyak kerjaan besok, biar aku saja yang minum,” seketika itu juga Wulan langsung meneguk minuman dalam gelas itu.
Gluk gluk gluk.
Wulan menelan minuman beralkohol dalam gelas hingga habis tak bersisa.
Brian kembali mengisi gelas Wulan yang telah kosong.
“Cheers, semoga Wulan selalu berbahagia,” ucap Brian.
“Yan, sudah. Kamu juga nggak boleh banyak minum. Kita masih harus kembali ke Jakarta subuh nanti,” tegur Soraya
“Aku tau. Aku hanya ingin bersulang dengan Wulan. Aku hanya berharap dia bisa bahagia selamanya.”
Mendengar ucapan Brian, Wulan langsung meraih gelas di atas meja kemudian meneguk isinya perlahan.
.
.
.
TBC…
#next up nanti sore ya. Jangn lupa like n komentarnya gaes.
__ADS_1