
Raya berdiri dari tempatnya bersandar, ia terlebih dahulu mengenakan topi, maskernya dan sarung tangan hitam yang tergeletak di samping back pack nya. Tak jauh dari situ, sebuah parang panjang di raihnya. Ia pun melangkah sambil menyeret parang di atas tanah. Beberapa puluh meter ia berjalan menuruni lereng gunung akhir nya ia berdiri di hadapan Brian.
“Selamat datang di tempat peristirahatanmu,” ucap Raya. Parang di tangan kanannya di naikkan ke atas bahunya.
Brian berusaha mengenali wanita di hadapannya itu. Sambil berjalan mundur untuk menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan wanita berperawakan sangar yang sedang memikul parang di atas pundaknya. Langkah Brian begitu waspada, kedua tangannya di angkat depan tubuhnya seakan sedang menyerah.
“Dimana Wulan.” tanya Brian.
“Hahaha, aku adalah Wulan, aku istri mu,” ucap Raya.
“Tidak, kamu bukan Wulan,” ujar Brian, ia tau wanita itu bukan Wulan.
“Seperti ini lah wajah orang yang hampir mendekati kematian, di penuhi rasa takut. Kedua orang tuaku pernah merasakan hal yang sama. Mereka ketakutan, tapi orang orang mu terus memukul mereka,” ujar Raya sambil mengayun ayunkan parang di hadapannya.
Brian terus mundur perlahan.
“Kamu Raya?!”
“Haha, ternyata kamu masih bisa mengenaliku. Bagus lah, agar aku bisa mendengar kamu menyebut namaku untuk memohon ampun,” ucap Raya.
“Bukankah kamu sudah mati?” tanya Brian.
“Mati? Apakah anak buah mu membuat laporan kematian ku kepada mu? Ohh jadi kamu memang berniat membunuhku.” Raya membuat gerakan menebas hingga Brian melangkah mundur dengan cepat.
“Hentikan Raya, kita bisa bicara baik baik. Please!”
“Apa perasaan membunuh itu nikmat seperti ini? Kamu sudah membunuh kedua orang tuaku, kamu membunuh anakku, kamu membunuh dua orang pelayan di Rumah sepupumu, kamu membunuh beberapa orang di perkebunan, kamu membunuh beberapa orang anak buah mu yang tidak becus itu,” Raya terus maju menghampiri Brian.
“Oh ya, kamu juga sudah membunuhku, kamu sudah membunuh Kakek Hendy, kamu sudah membunuh Buto, dan kamu sudah membunuh Wulan. Tapi bohong, hahaha,” Raya tertawa bahagia melihat wajah Brian. Wajahnya terlihat berkeringat, bulir peluh melekat di dahi pria yang sepertinya mulai terdesak di sebuah dahan pohon.
Sambil bermain main dengan parang nya Raya terus berjalan maju mendekati Brian. Sesekali ia menebas ranting pohon yang menghadang di sekitarnya.
“Apa yang kamu inginkan? Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan. Aku janji, tapi lepaskan dulu parang mu itu,” bujuk Brian.
“Diam. Aku tidak sedang ingin bernegosiasi dengan mu. Aku ingin membunuh mu!” teriak Raya.
Ia maju dengan cepat sambil mengayunkan parang itu ke kepala Brian. Namun Brian dengan gesit berpindah tempat.
“Aku mau kamu mati,” teriak Raya berulang ulang. Ia semakin brutal mengayunkan parang nya ke sembarangan arah.
__ADS_1
Raya terus mengejar Brian. Ia menjadi kalap dan menyerang sembarang tanpa perhitungan.
Saat parang tajam itu menancap di sebuah pohon, Raya berusaha menarik parang itu.
Dengan sigap Brian menarik parang dari tangan Raya. Ia memegang parang itu kemudian menarik tubuh Raya dengan tangan kirinya.
“Wanita bodoh! Tidak mudah orang seperti mu bisa membunuhku. Coba lah jika kamu berani. Ayo bunuh aku sekarang!”
Brian berjalan maju hingga tubuh Raya tersandar di sebuah batang pohon. Tangan kiri Brian terus mencekik leher Raya.
Kaki dan tangan Raya terus meronta memukul lengan Brian. Kaki nya berusaha menendang tubuh Brian, namu semua pukulan yang mengenai tubuh Brian tidak berefek apa pun.
“Ayo bunuh aku,” ucap Brian. Parang di tangan kanan nya di sandar kan di leher Raya.
“Sekarang siapa yang akan mati disini?”
Dengan sekuat tenaga Raya menendang bagian antara paha Brian hingga parang yang ada di tangan nya terlempar jauh.
Brian mengerang kesakitan. Sementara itu Raya terus melayangkan tinjunya ke tubuh Brian. Sebisa mungkin Raya mengirim pukulan ke sembarang tempat. Namun hanya dengan satu pukulan mengenai rahang, Raya langsung terlempar mundur. Darah segar kelaur dari sudut bibirnya.
.
.
.
Dengan cepat Wulan berlari naik ke atas gunung, ia menghampiri mbok Indun dan Irma yang sedang menganyam tikar di bale bale depan rumah.
“Bi, apa Raya ke sini?” tanya Wulan.
“Wulan, kamu ke sini dengan siapa? Raya, dia tidak ada di sini.” Jawab Indun heran.
Masih dengan nafas tersengal, Wulan memegang kedua lututnya. Setelah mengatur nafas Wulan kembali bangkit, dia langsung pergi dari hadapan bi Indun dan Irma.
“Aku yakin Raya ada di sekitar sini,” gumam Wulan sambil terus berjalan.
“Wulan mau kemana? Kalian kenapa? Mana Raya?” teriak bi Indun.
Wulan tak menjawab pertanyaan bi Indun. Ia berjalan dengan cepat memasuki hutan mencari keberadaan Raya.
__ADS_1
“Kapal cepat yang meliwati kapal ku tadi adalah kapal yang di sewa Raya, sedangkan kapal yang berlabuh di bawah pasti kapal Brian. Kemana Raya membawa Brian?” batin Wulan terus berkecamuk. Ia berjalan mencari di setiap sudut pegunungan itu, tempat yang biasa ia dan Raya lintasi saat mencari kayu bakar.
Kemudian Wulan melihat back pack warna hitam milik Raya yang diletakkan di dekat sebuah akar pohon.
“Raya pasti di sekitar sini. Dia disini!”
Wulan semakin bersemangat mengitari hutan di sekitar situ. Semakin Wulan berjalan turun semakin terdengar suara pukulan seperti suara orang sedang bergulat. Wulan mempercepat deru langkahnya menuju sumber suara tersebut.
Saat itu Brian baru saja meninju rahang Raya membuat Raya terhuyung mundur.
“Hentikan,” teriak Wulan.
Brian mengambil kesempatan itu untuk menarik kerah baju Raya. Satu leher raya kini masuk dalam cengkraman Brian.
“Lepaskan dia,” pinta Wulan. Nada bicaranya panik di penuhi rasa takut.
“Lepaskan Raya,” ucap Wulan.
Raya mulai terbatuk, oksigen yang masuk ke paru parunya makin menipis. Raya berontak sekuat tenaga agar lepas dari cengkraman itu.
Melihat Raya yang mulai menggeliat lemah, Wulan langsung berlari cepat kemudian menyambar tubuh Brian.
Saat itu juga Brian terhuyung, mental di atas tanah, sedangkan Raya, ia terjatuh di dekat kaki Wulan.
Raya kembali bernafas lega namun masih tersengal.
“Apa yang kamu lakukan disini, cepat pergi dari sini,” ucap Raya kepada Wulan.
“Apa kamu gila, apa ini rencana mu?” jawab Wulan ia berusaha menarik tubuh Raya agar bangun. “Cepatlah, kita harus pergi dari sini,” ajak Wulan.
“Haha,” Brian mulai tertawa besar. Ia terpingkal kemudian berdiri dengan cepat. Ia langsung menarik tangan Wulan ke arahnya. Kemudian sebuah pistol di layangkan ke kepala Wulan.
“Kalian berdua akan mati, aku akan membunuh nya terlebih dahulu kemudian aku membunuh mu,” ujar Brian. Wajahnya tersenyum girang disertai rasa puas. Nafsu membunuhnya sunggu membuatnya begitu bersemangat.
“Akhirnya si pembawa petaka ini akan benar benar mati di tangan ku.” ucap Brian. Pistol di tangannya masih menempel di kepala Wulan.
.
.
__ADS_1
.
TBC…