
Sementara itu, di sebuah rumah mewah yang di tempati Brian bersama Soraya. Pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi. Dengan begitu banyak nya masalah Brian, kini Soraya menjadi tempat pelampiasan Brian.
“Yan? Aku sibuk, usai kampanye papa sekarang aku menjadi ketua partai. Aku nggak sempat menemui kamu kemaren karena ada pertemuan dengan pak wakil presiden,” ujar Soraya.
“Jadi, wakil presiden itu lebih kamu utamakan dari pada diriku? Aku yang membawa kamu dan ayahmu dari titik terendah hingga bisa seperti sekarang ini,” seru Brian.
“Oke Yan, aku minta maaf. Aku memang terlalu sibuk akhir akhir ini. Aku akan kurangi kegiatanku. Aku janji,” ucap Soraya merendah.
Jika di tantang bisa jadi Brian akan semakin emosi. Beberapa minggu terakhir Brian semakin tak dapat mengontrol emosinya. Terlebih setelah nama nya di umbar Raya dan sering muncul ke permukaan berita, Brian semakin urung uringan.
Brian berjalan menuju lemari Es kemudian mengeluarkan sebotol minuman keras dari dalam lemari es. Brian langusng meneguk dari mulut botol.
“Yan,” Soraya mengambil botol dari tangan Brian. “Yan pease,” ucap Soraya melembut.
Akhirnya Brian melepas botol di tangannya.
“Kamu punya masalah apa?” Soraya mulai mengusap punggung Brian, ia mengelus kepalanya kemudian mencium dahi pria itu.
“Ayo cerita, bukankah kamu sudah janji akan selalu terbuka dengan ku?” pancing Soraya.
“Yan?” Soraya maju selangkah kemudian menatap mata Brian lebih dekat.
“Raya berani membuatku malu, aku sangat ingin membunuhnya,” ujar Brian dengan tatapan lemah menatap wajah Soraya.
“Jadi apa yang menghambat mu?” tanya Soraya.
“Dia bersembunyi dengan sangat baik. Aku tidak bisa menemukan jejaknya.”
Soraya hanya terus mengusap pundak Brian sebagai tanda dukungan.
“Kamu tidak perlu terprovokasi dengan perilaku wanita gila itu,” ucap Soraya berusaha menenangkan.
“Tapi image ku hancur di masyarakat. Aku sedang membangun image yang baik untuk pencalonan 3 tahun mendatang. Nama ku beredar di media dengan foto foto telanjang yang di sebarkan Raya. Aku benar benar kewalahan, wartawan mengejar ngejar ku dimana pun aku berada.”
“Dia hanya akan di anggap sebagai wanita gila yang terus mengganggu dirimu. Kemaren aku sudah mengajukan penutupan akun. Jadi akun IG milik wanita itu akan di take down dalam beberapa hari kedepan.”
__ADS_1
Brian mengerutkan keningnya. “Kapan kamu melakukan hal itu?”
“Kemaren.”
“Baguslah,” ucap Brian seraya tersenyum tipis.
“Sebenarnya ada gunanya dia menjatuhkan mu seperti ini. Sekarang dirinya akan di anggap wanita gila yang terobsesi dengan dirimu. Tanpa dia sadar dia sudah membantu mengangkat nama mu ke berbagai media. Seharusnya kamu mengambil kesempatan ini untuk promosi. Ya semacam kampanye pencitraan gitu,” ujar Soraya.
“Jadi?” tanya Brian.
Soraya menepuk punggung Brian. “Sekarang kamu hanya perlu mendatangi beberapa rumah panti jompo, panti asuhan, korban kebakaran dan fakir miskin. Bantu para pengemis pengemis itu kemudian dengan sendirinya para wartawan akan meliput semua amal baik mu ke media. Soal Raya, sebentar lagi dia akan di lupakan masyarakat.”
Brian mengangguk paham.
“Oh ya, bagaimana rapat penegang saham bulan ini? Sudah ada keputusan?” tanya Soraya.
“Huuufftttttt,” Brian menarik nafas salam kemudian membuang serempak. “Entahlah, ayah sudah menjual saham nya sebanyak 20 persen. Di tambah saham milik ku dan dan saham ibu. Jumlah total hanya mencakup 38 persen.”
“Kalian masih menjadi pemilik saham mayoritas. Kamu tinggal datangi para pemegang saham, minta dukungan mereka saja,” saran Soraya.
“Ayah masih belum bisa menghadiri rapat, kondisinya masih belum memungkinkan. Aku ingin minta ayah menghubungi setiap anggota direksi.” Brian memejamkan matanya kemudian berbalik menatap Soraya. “Masalahnya sekarang adalah Arkan, dia ingin mengambil alih perusahan. Sebagian pemegang saham mendukungnya,” ujar Brian gusar.
“Arkan tidak, tapi dia sedang mengasah taring nya sekarang karena Wulan. Dia terobsesi dengan semua milik ku!”
“Kamu lepaskan saja Wulan, dengan sendirinya Arkan tidak akan mencampuri urusanmu yang lain.”
Brian mengerat kedua rahangnya, jemarinya mengepal begitu keras. “Aku tidak akan membiarkan Wulan jatuh ke tangannya,” ujar Brian tegas.
“Kamu tidak mungkin memliki semuanya, harus ada yang kamu relakan Yan. Perusahan, atau Wulan? Jika kamu terus mengusik Wulan, Arkan tidak akan tinggal diam.”
Brian terdiam sejenak. “Bendera perang sudah dikibarkan, mau tidak mau aku harus melawanya. Dia tidak akan mendapatkan apa pun.”
“Yan Yan, kamu seperti ini terlalu serakah. Bisa jadi kamu tidak akan mendapatkan apa pun. Berdamai lah dengan Arkan dan Wulan. Rencana jangka panjang mu pasti akan terwujud,” saran Soraya.
Brian mengangguk. “Aku ingin bertemu empat mata dengan Arkan.”
__ADS_1
“Aku ikut. Ajak Wulan juga, siapa tau aku bisa membujuknya untuk kembali padamu,” ujar Soraya.
—oo0oo—
Menjelang sore Wulan sudah rapih dengan dress bunga bunga berwarna kuning selutut. Ia mondar mandir di terus samping rumah menunggu Arkan keluar dari dalam.
“Tar sok tar sok, apa sih yang di lakukannya di dalam?” sambil menggerutu Wulan memain kan tali sepatu yang menjuntai di kakinya.
Beberapa saat Arkan keluar dari dalam ruangan, ia hanya mengenakan celana pendek dan koas oblong berwarna putih. Terlihat begitu simpel namun wajahnya terlihat begitu bersinar.
“Sudah siap, kita jalan sekarang?” tanya Arkan.
“Nggak mas besok aja,” ujar Wulan sembari memalingkan mukanya.
“Oh ga jadi sekarang ya? Besok? Kamu mau besok?” tanya Arkan asal.
Wulan menghentak sepatunya. Ia terlihat sangat jengkel, bibirnya manyun sambil mendumel pelan. “Sudah aku duga, besok, begitu besok besok lagi, setelah besok besoknya lagi. Hufftt. Wulan hendak berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
“Sayang,” Arkan langsung menarik tangan Wulan mendekat kearahnya. “Ayo jalan sekarang. Jangan cemberut gitu, jelek tau.”
“Ga jadi mas, aku dah males jalan,” ucap Wulan menolak.
“Bener nih ga mau ikut? Aku punya surprice loh biat kamu.” Arkan berjongkok sambil mengikat tali sepatu Wulan kemudian berdiri kembali. “Maaf tadi benar benar sibuk, aku menunggu surel dari kantor pusat. Soal input data keuangan. Beberapa hari lagi rapat umum pemegang saham banyak yang harus aku siapkan. Setelah semuanya selesai, aku nggak akan sesibuk ini lagi,” jelas Arkan.
“Aku mau bantuin kamu ga di ijinin ya salah sendiri,” sahut Wulan.
“Kamu hanya perlu menunggu hasilnya. Tidak lama lagi kamu bisa bebas ke mana saja. Kamu tidak perlu sembunyi seperti ini lagi,” ujar Arkan kemudian memeluk Wulan.
Wajah yang tadinya cemberut kini terlihat datar. Wulan akhirnya bisa memaklumi, kerja keras Arkan selama ini adalah untuk dirinya.
Wulan membalas pelukan Arkan. Ia tak lagi marah, yang ada hanya rasa bahagia, Arkan selalu ada di sisinya sudah menjadi hal yang sangat ia syukuri.
.
.
__ADS_1
.
TBC…