Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Demi Selembar Kertas-


__ADS_3

Wulan bergerak maju selangkah mendekati Brian.


“Bagaimana rasanya hidup dalam ketidakberdayaan seperti ini?” terukir senyuman kecil di kedua sudut bibir Wulan. “Apa semua perbuatan mu jahat mu sudah setimpal?”


“Aku merasa sangat puas, kehidupanku sungguh mengagumkan.” Wajah Brian tersenyum menatap langit langit kamar. “Hanya terlalu sayang aku tidak sempat menembakkan pelatuk ke kepala anak itu,” sahut Brian.


Anak yang di maksud Brian pasti adalah Zaka.


“Zaka. Dia sudah berusia hampir empat tahun, dia tumbuh menjadi anak yang lucu dan pintar. Dia bersahaja dan sangat perhatian. Irma sangat baik dalam mendidik anaknya,” ucap Wulan.


Brian mengepalkan jemari tangan kanan nya dengan erat. Sementara jemari tangan kirinya masih terikat di teralis ranjang dengan perban di ujung pergelangan tangannya.


“Aku akan mati dengan lebih bahagia jika anak itu juga mati. Keturunan seorang Brian dari seorang pembantu tidak layak untuk hidup!”


Brian kemudian melayangkan pandangan ke arah Wulan.


“Hutang apa yang harus aku bayar kepadamu?” tanya nya sambil memejamkan matanya seolah tidak peduli dengan permintaan Wulan.


“Hutang sebuah perceraian yang kamu janjikan di atas kapal Swan sea. Serta sebuah pengakuan mu untuk Zaka. Ia akan menjadi penerus mu, membawa nama Susanto di belakang namanya.”


Ucapan Wulan saat itu membuat Brian tertawa terbahak, suara tawanya menggema di seisi ruangan bahkan hingga keluar kamar.


Saat itu dokter pria itu masuk ke kamar sekedar memastikan kalau Wulan baik baik saja. Setelah berbisik di telinga Buto, dokter itu kembali keluar.


Atas aba aba sang dokter, Buto berdiri lebih dekat dengan Wulan. Ia di minta agar menjaga Wulan lebih seksama.


Brian berhenti tertawa. Ia tidak berucap sedikitpun, mimik nya lebih seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.


“Caranya?” tanya Brian kemudian.


Wulan segera mengeluarkan sebuah kertas putih, dan meterai. Setelah menj ilat bagian bawah meterai, ia menempel meterai itu pada kertas. Ia melakukan hal yang sama untuk kertas selanjutnya.


Sebuah kertas ia letakkan di hadapan Brian.


“Aku hanya butuh sebuah tanda tangan di atas meterai ini,” ujar Wulan.


“Nyah,” Buto mengingatkan agar Wulan sedikit menjaga jarak dari Brian.


Wulan melangkah mundur beberapa langkah seperti yang di ucapkan Buto.


Brian berpikir sejenak menatap kertas putih kosong itu dengan meterai yang sudah berada di bagian bawah kertas.


“Bagaimana aku akan menandatangani kertas ini?” tanya Brian.


Wulan kembali merogoh tas yang menggantung pada lengannya. Ia mengeluarkan sebuah pulpen hitam berukir bunga dengan warna keemasan.


Ia maju beberapa langkah kemudian menyerahkan pulpen itu ke tangan Brian.


Brian mengisyaratkan sesuatu dengan jemarinya.

__ADS_1


“Tolong naikkan sedikit ranjang ini,” pinta Brian. Kali ini matanya menatap ke arah Buto.


Seperti permintaan, Buto bergerak menuju bagian bawah ranjang kemudian memutar tombol yang berada disana.


Perlahan ranjang di bagian kepala Brian terangkat naik. Setelah berada dalam sudut 150 derajat, kertas di letakkan di atas perutnya.


Dengan tangan yang sedikit bergetar, sebuah tanda tangan ia goreskan di atas kertas putih hingga ujung tanda tangannya mengenai meterai.


“Seharusnya kamu tidak perlu surat cerai dariku, kamu bisa saja menjadi ahli waris ku. Kamu bisa menjadi kaya raya setelah kematianku,” ucap Brian.


“Itu sudah terjadi. Dimata semua orang kamu sudah mati! Tapi kamu tenang saja, semua warisan milikmu, aku tidak akan menyentuhnya. Semuanya akan aku berikan kepada Zaka saat ia besar nanti,” ucap Wulan.


Mendengar hal itu Brian menjadi sedikit emosi. Ia meremas pulpen hitam dalam genggamannya. Pulpen besi itu begitu kokoh tak retak sedikitpun.


“Aku tidak rela memberikan milikku kepada anak itu,” gumam Brian.


Saat itu juga terbesit sebuah ide dalam otak Brian. Ia menyerahkan lembaran kertas yang sudah di tanda tanganinya.


Wulan bergerak maju mengambil kertas itu, kemudian menyerahkan kertas lainnya kepada Brian.


Sesaat Wulan menjadi lengah, tangan yang menyerahkan kertas di tarik Brian dengan kasar hingga perut bagian bawah Wulan menghantam ranjang.


Brian terus menggenggam erat pergelangan tangan Wulan.


Melihat hal itu, Buto berusaha menarik Wulan menjauh dari Brian. Namu tangan yang mencengkram di pergelangan Wulan begitu erat. Buto terus berusaha melepas tangan Brian yang terus mencengkram pergelangan tangan Wulan.


Sekali lagi Brian berusaha menarik Wulan dengan kasar hingga perutnya kembali menghantam ranjang.


Di saat yang sama Arkan tiba di ruangan itu. Ia langsung memeluk tubuh Wulan yang terlihat mulai mengerang kesakitan.


Buto akhirnya berhasil menarik tangan Brian lepas dari pergelangan tangan Wulan.


Pergelangan tangan Brian mengayun dengan cepat hendak menusuk polpen ke perut Wulan, dan dengan sigap Arkan langsung menghalangi pulpen itu dengan lengannya.


Luka tusukan di lengan Arkan berdarah. Sama halnya dengan Wulan, darah keluar dari rahimnya mengalir hingga ke paha dan betisnya.


“Sayang, kamu baik baik saja?” tanya Arkan yang hanya di balas jeritan kecil oleh istrinya itu.


Melihat darah yang keluar dari cela paha Wulan, Arkan menjadi sedikit takut. Saat itu juga ia langsung menggendong tubuh Wulan dan berlari keluar dari ruangan itu.


Sementara itu di dalam ruangan terjadi pergulatan antara Buto dan Brian. Buto mengekang tubuh brian dengan tangan kirinya. Sambil tangan kanan mencengkram leher Brian.


“Jika terjadi apa apa dengan nyonya Wulan. Aku akan membunuhmu!” ucapan yang terlontar begitu saja dari bibir Buto. Ia menekan leher Brian hingga tersedak.


“Pak, lepaskan. Pasien bisa kehabisan nafas,” cegah dokter yang baru saja masuk ke ruangan itu.


Buto langsung melepas kan Brian.


Dokter yang sudah menyiapkan suntikan penenang langsung menyuntik lengan Brian dengan obat penenang yang sudah ia siapkan.

__ADS_1


Pulpen hitam tidak seberapa besar yang masih di selipkan di atara jemari Brian langsung mengayun ke arah lehernya. Tancapan pulpen dileher itu terus mengeluarkan darah segar, hanya dalam hitungan detik Brian terkulai kemudian tidak bergerak lagi.


Sementara itu, di tengah padatnya kendaraan yang lalu lalang, Arkan menerobos setiap cela sempit di antara deretan mobil mobil yang sedang melaju lambat.


Rumah sakit terdekat tujuan nya masih sekitar satu kilometer di depan.


Sang istri yang terus mengerang sakit, dan rasa pening di kepalanya semakin menjadi.


“Mas, anak kita akan lahir mas, sakit mas,” teriak Wulan di tengah suara klakson beberapa mobil di belakang Arkan.


“Woy pakai mata,” teriak seorang pengemudi di samping nya, karena saat itu Arkan memaksa menerobos cela sempit di antara mobil dan motor yang sedang terjebak macet.


Arkan tidak menggubris makian para pengendara diluar sana.


Matanya hanya tertuju ke arah Wulan, sambil sesekali tangan kirinya mengelus perut Wulan.


“Sabar sayang, kita sebentar lagi tiba.”


Mata Arkan melayang menatap gedung rumah sakit yang hanya tinggal berjarak beberapa meter di hadapannya.


“Sabar sayang,” ucap nya lagi.


Di tengah kesakitan dan tangis kecil Wulan. Sebuah kertas putih dengan sebuah meterai masih ada dalam genggamannya. Hal berharga yang di dapatnya walau harus mengganti dengan rasa sakit teramat sangat yang di rasakannya saat itu.


Selang beberapa menit, mobil Arkan sudah memasuki halaman rumah sakit.


Darah merembes di kemeja putih Arkan. Sambil menggendong Wulan ia berjalan cepat masuk ke dalam ruangan gawat darurat.


Melihat kondisi mereka yang sudah di penuhi darah, para dokter langsung mengangkat Wulan dari tangan Arkan dan membawanya ke sebuah ranjang.


“Selamatkan istri dan anak saya dok. Sepertinya ia akan segera melahirkan.”


Dokter langsung memeriksa keadaan Wulan.


“Kelahiran dini dok, Ana siap kan ruangan operasi sekarang juga,” pinta dokter itu pada asisten nya.


“Jan, hubungi donter Emma.” Teriak dokter itu sambil berjalan mendorong Wulan menuju ruangan lainnya.


Arkan dengan setia ikut kemana Wulan berada.


“Bapak suaminya?” tanya perawat di situ.


“Tanda tangani surat ijin operasi pak, kami akan segera membawa istri bapak ke ruangan operasi,” ucap perawat itu.


Setelah menandatangani kertas itu, Wulan langsung di bawa menuju ruangan operasi.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2