Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Melarikan Diri II-


__ADS_3

“Buto ayo naik,” teriak Wulan khawatir. “Kamu kenapa masih dalam air? Ayo cepat melompat naik,” perintah Wulan.


Wajah Buto terlihat kesakitan, ia berusaha sekuat tenaga memanjat perahu.


Dengan seluruh tenaga yang ada Wulan membantu menarik Buto agar naik ke atas perahu.


“Nyonya, kita harus segera pergi dari sini sebelum orang orang itu mengejar kita. Mereka mereka,” ucap Buto tersendat.


“Kamu kenapa, apa yang terjadi Buto?” tanya Wulan khawatir.


“Mereka memliki perahu cepat, mereka akan menangkap kita jika kita tidak cepat mendayung,” lanjut Buto.


Wulan langsung berdiri mencari dayung yang terletak di belakangnya. Ia pun mulai mendayung, terasa sangat berat, ternyata mendayung perahu tidak semudah apa yang ada dalam bayangannya.


“Uughh,” pekik Wulan, semakin cepat ia mendayung tangan nya semakin terasa perih.


“Nyonya. Berikan dayung nya,” pinta Buto.


Buto meraih dayung dari tangan Wulan kemudian mulai mendayung. Ia mendayung lebih cepat dari Wulan, perahu mereka lebih cepat menjauh meninggalkan pulau itu.


Sesekali Buto meraba perut nya yang semakin lama semakin terasa sakit, tenaganya pun perlahan mulai berkurang. Sesekali Buto akan merintih menahan perih di perutnya.


“Buto, kamu kenapa?” tanya Wulan.


“Sepertinya aku terluka,” ucap Buto lemah.


“Dimana?” tanya Wulan sambil mengamati tubuh Buto. Namun ditengah gelapnya nya malam, Wulan tidak bisa melihat apa pun.


Buto menggeser dayung ke tangan Wulan. “Nyonya, dayung lah yang jauh, sejauh yang nyonya bisa. Aku tidak bisa membantu nyonya lagi,” ucap buto lemah.


“Tidak, aku. Jangan berkata begitu. Kamu seharus nya baik baik saja,” Di tengah rasa panik, Wulan kembali menggerak kan dayung. Dengan sekuat tenaga di sertai rasa sakit pada lengannya.


Rasa panik Wulan semakin di perparah saat ia melihat beberapa perahu cepat yang sedang mengarah ke perahu mereka.


“Buto mereka menuju ke sini, Buto bagaimana ini?” teriak Wulan.


Tiba tiba sebuah mesin perahu berbunyi dari arah belakang Wulan. Sebuah perahu motor tanpa lampu sudah berhenti tepat di samping perahu Wulan.


“Cepat ke sini,” ucap seorang wanita dari kapal yang baru saja tiba itu.


“Pindahkan teman mu ke sini cepat! Mereka semakin dekat,” seru Wanita itu.


Wulan terlihat kalang kabut, ia harus membantu Buto agar pindah ke perahu sebelah.


“Ayo berdirilah Buto, kamu harus bangun,” ucap Wulan seraya memapah Buto ke perahu yang satunya.


Wanita asing itu turut membantu Buto, ia mengangkat punggung kiri Buto kemudian melangkah berpindah ke perahu milik nya.


Setelah Buto berpindah, wanita itu kembali menyalakan mesin kapal. Tapi sebelumnya ia menekan perahu usang itu agar air masuk ke dalamnya.


“Bantu saya, dorong ke bawah perahu ini,” pinta wanita itu seraya berusaha memasukkan air ke atas perahu.


Wulan melakukan seperti yang di perintahkan, ia mendorong kedua tangan nya, perahu itu mulai hampir tenggelam.

__ADS_1


Perahu motor Wanita itu langusng meninggalkan perahu itu setelah terapung di atas air.


Lampu lampu terlihat masih mencari di sekitar perairan itu, sepertinya orang orang Brian sudah menemukan perahu kano milik Buto yang terapung dengan di penuhi air di dalam nya.


Perahu motor itu kini membawa Wulan pergi jauh dari pulau tersebut. Entah sejam atau dua jam mereka berjalan mengarungi lautan.


Tangan Wulan terasa semakin sakit, ia seperti hampir kehabisan tenaganya. Udara dingin terasa merenggut seluruh tubuhnya.


“Mbak, ibu atau nona. Siapa kamu kenapa membantu kami?” tanya Wulan.


“Kamu akan tau siapa aku setelah tiba di tempat yang aman,” ucap wanita itu.


“Tapi tapi, kita harus menolong temanku dulu. Dia terluka,” ucap Wulan lemah.


Sambil bersandar pada dinding perahu Wulan memegang lengan Buto.


“Buto, bertahanlah. Kamu akan selamat. Jangan tidur seperti itu, bangunlah,” ucap Wulan.


“Mbak,”


“Lebih cepatlah, kita butuh bantuan. Teman saya,” ucap Wulan lagi.


“Shhh,” Wanita itu terdengar sangat kesal. “Come on,” ucap nya lagi.


“Mbak?”


Mesin perahu motor yang ditumpangi mereka perlahan melemah, perahu berjalan melambat kemudian mati mesin.


“Sshhhhh eeeeettt,” pekik wanita itu.


Wanit itu mengambil dayung lainnya kemudian mulai mendayung.


Wulan ikut mendayung perahu menuju sebuah pulau di depan. Dari jauh nampak cahaya kelap kelip lampu. Hal itu membuat Wulan mengeluarkan semua tenaga yang ada, ia tau saat itu Buto harus di selamatkan.


Selang setengah jam mereka pun tiba.


“Mbak, kita tidak ke perkampungan itu? Buto butuh bantuan,” ucap Wulan.


“Kamu menuju ke perkampungan pesisir itu sama saja kamu menyerahkan diri kepada Brian,” ucap Wanita itu.


“Mbak kenal Brian juga?”


Wulan baru sadar, suara wanita itu tidak asing di telinganya.


“Mbak siapa?” tanya Wulan.


Wanita itu melepas topi dari kepalanya kemudian melepas hoodie yang menutup wajahnya.


Dalam gelap malam, wulan masih tidak mengenali wanita itu.


“Ada rumah tidak jauh dari sini. Sementara kita akan tinggal di sana. Sekarang kita harus mengangkat teman mu ke rumah itu,”


Ia mencari cari sesuatu yang bisa di gunakan.

__ADS_1


“Gunakan ini. Kita akan menarik teman mu dengan ini.” ucap wanita itu sambil memberikan karung kepada Wulan.


Mereka menggeser tubuh Buto ke atas karung yang sudah di lapisi kain kemudian membawanya keluar dari perahu.


Wulan dan wanita itu menyeret tubuh Buto menuju atas pegunungan. Jalan setapak yang dipenuhi rerumputan tak mengurung kan niar mereka untuk menyelamatkan Buto.


Selang sejam berjalan menelusuri tanjakan, mereka tiba di sebuah rumah kecil.


“Hufffftt,” wanita itu duduk terlentang lelah di atas tanah.


“Bi?” teriak wanita itu.


Dari dalam rumah kecil itu keluar seorang wanita tua.


“Non, dari mana saja?” tanya wanita yang baru saja keluar dari dalam rumah.


“Dia wulan, aku membawanya ke sini,” ucap Wanita yang sedang berbaring di atas tanah itu.


“Nyonya?” wanita itu menghampiri Wulan kemudian memeluknya.


“Bi Indun?” ucap Wulan dengan kaget dan mata membola.


“Bibi Indun kan?” tanya wulan lagi ingin memastikan kalau wanita itu benar benar bi Indun yang di kenalnya.


“Iya Nyah, ini bi Indun,” ucap bi Indun meyakinkan.


Di bawah gelapnya malam, walau tanpa melihat wajah bi Indun dengan jelas tapi wulan tau kalau itu memang suara bi Indun.


Wulan memeluk wanita yang sudah pergi lama dari rumahnya itu.


“Nyonya ayok masuk, ada yang ingin bibi perlihatkan,” ucap bi Indun.


“Bi, ada yang sekarat. Bibi bantu selamatkan orang ini dulu,” ucap wanita yang masih duduk di atas tanah.


“Siapa non? Mana orangnya?” tanya bi Indun.


“Tuh,” wanita itu menujuk pria yang baru saja mereka tarik dengan karung hingga ke atas gunung itu.


“Non Raya kok nggak bilang,” ucap Bi Indun.


“Non Raya?” ucap Wulan.


“Jadi dia non Raya?” gumam Wulan.


“Ayo non, bantu bibi bawa masuk ke dalam.”


“Aku tidak sanggup lagi bi, tenaga ku sudah habis terkuras. Kami menariknya sejauh lima kilometer sampai ke sini. Bibi panggil saja Irma,” ujar Raya.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2