Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Merindukan Wulan-


__ADS_3

Satu tahun kemudian…


Pernikahan Jenny dan Richard berlangsung sangat syahdu. Hanya dengan di hadiri oleh keluarga dan orang orang terdekat membuat acara sederhana itu berjalan dengan lancar.


Dari balik kebaya putih keemasan Jenny terlihat sangat memukau. Senyuman kebahagiaan tak pernah lepas dari kedua sudut bibirnya.


Setelah Arkan bangun dari komanya sebulan yang lalu, Jenny memutuskan untuk menjalin kembali hubungan nya yang pernah kandas bersama Richard.


Bagaimana pun, Richard selalu ada untuk dirinya dan Arkan. Selama satu tahun terakhir Richard selalu siap sedia di sisi Jenny. Masa masa tersulit dalam hidup Jenny selalu teratasi berkat adanya Richard. Terlebih cinta Richard untuk dirinya tak pernah memudar sedikitpun. Sudah saat nya Jenny membalas Budi baik pria itu adalah dengan menjadi seorang istri ,ia akan melayani dan merawat suaminya itu disisa umurnya.


“Mas, Richard.” panggil Jenny.


Richard menghampiri pengantin cantiknya yang sedang tersenyum. “Ada apa?”


“Siapa wanita itu mas?” tanya Jenny seraya menatap wanita yang sedang duduk disamping Arkan.


“Yang mana? Di situ ada dua wanita,” Richard balik bertanya.


“Tentu saja yang memakai baju cream. Baju merah itukan Soraya kekasih Brian,” tukas Jenny.


“Aku nggak kenal, kenapa mama nggak coba tanya langusng ke orangnya.”


“Iihh tanya langsung,” ujar Jenny masih terus menatap wanita berbaju cream itu.


“Kelihatannya dia naksir anak kita mas, ya lumayan cantik sih,” ujar Jenny.


“Biarkan saja mereka, mereka masih muda dengan pergaulan mereka sendiri. Yang pentung anak kita suka sebagai ayahnya aku siap mendukungnya,” ujar Richard mantap.


Tak puas hanya menonton dari jauh, Jenny pun menghampiri Arkan.


“Hallo?” sapa Jenny.


“Halo tante,” Soraya dan teman wanitanya itu berdiri memberi selamat kepada Jenny. “Selamat menempuh hidup baru tante,” ujar Soraya.


Salaman kemudian berpindah ke tangan wanita asing itu. “Ini?” tanya Jenny.


“Saya Sheila tante, teman kuliah Arkan dan Soraya,” ucap Sheila memperkenalkan diri.


“Oohh Sheila, kalian sudah makan?” tanya Jenny ramah.


“Sebentar lagi tante, kami belum menghampiri meja. Kalau sudah mendekati pulang baru kami ke meja makan,” tukas Soraya.


“Brian mana Ya?” tanya Jenny kemudian.

__ADS_1


“Sedang perjalanan ke sini tante. Tadi Brian ke bandara dulu jemput tamu, jadi saya duluan ke sini.”


“Ohh.”


Jenny kemudian duduk di samping Arkan. Anaknya itu masih duduk di kursi roda. Terlalu lama terbaring dalam keadaan koma membuat Arkan harus melakukan fisioterapi untuk mengembalikan otot otot di tubuhnya yang sempat vakum.


“Nak, kamu sudah makan?” tanya Jenny.


Arkan menggeleng pelan.


“Kalau mau makan mama bawa kamu ke meja makan. Mau?” tanya Jenny.


“Nggak usah ma, mama lihat mata ayah. Dia terus menatap ke sini, ayah jangan di tinggal sendirian ma, nanti ngambek,” ujar Arkan yang sudah mulai lancar berbicara.


“Alah, ayah kamu emang seperti itu. Sama anak sendiri suka cemburu,” celetuk Jenny.


“Tante, saya bisa temani Arkan ke meja makan. Tante kembali ke samping om saja sebelum om Richard ke sini menjemput tante,” ujar Sheila bersahabat.


“Baiklah Sheila, tante serahkan anak tante sama kamu ya,” ucap Jenny kemudian kembali ke kursi peraduannya.


“Baik tante.”


“Arkan, kita ke meja makan sekarang ya?” tanya Sheila.


Arkan tak merespon ucapan Sheila, namun Sheila sudah berdiri di belakang kursi rodanya dan mulai mendorong Arkan menuju meja makan.


Sebenarnya hati arkan belum menerima kepergian Wulan. Terasa seperti baru kemarin ia mendapati berita kematian Wulan, hati nya masih sangat kehilangan. Ia seperti mayat hidup yang mendamba kekasih hatinya hadir di sisinya.


Namun apa lah daya. Setahun telah berlalu. Wulan terlah meninggal lebih dari setahun.


“Kamu makanlah, aku akan keluar sebentar menghirup udara segar,” ucap arkan pada Sheila.


Arkan menggeser sendiri kursi rodanya menuju pintu samping. Ruangan terang benderang dan ramai itu membuatnya sesak.


“Wulan, aku merindukanmu. Aku tidak bisa melupakan mu. Seperti baru kemarin kamu pergi meninggalkanku, hatiku belum bisa menerima semua ini. Begitu aku sadar semua hal telah berjalan sebagaimana adanya. Semua orang sudah melupakan dirimu, tidak ada seorangpun mengenang kepergian dirimu kecuali aku…” batin Arkan.


“Arkan,” Sheila sudah berdiri di belakang Arkan sembari melingkarkan syal ke leher pria itu. “Udara di luar dingin mama mu menitip syal ini kepada mu.”


Arkan tidak bergeming. Matanya menatap lurus di kegelapan malam. Pantulan sinar lampu yang menyinari taman bunga di samping rumah itu tak membuat Arkan merasa lega. Mata nya terus menerawang di gelapnya langit malam. Ia mencari sosok Wulan di sana.


“Maafkan aku Wulan. Aku tidak bisa menemukan mu. Aku…”


“Arkan, kita masuk saja yuk?” ajak Sheila.

__ADS_1


“Aku masih ingin berada di sini sejenak.” ucap Arkan.


“Baiklah, aku akan temani kamu di sini sebentar lagi.”


Ingin sekali rasanya Arkan mengusir Sheila agar pergi dari situ. Ia butuh sendiri. Namun di hari bahagia kedua orang tuanya, haruskah ia menjadi egois?


“Tidak, aku tidak boleh menampakkan kesedihan ku di hadapan mama dan ayah. Bagaimana pun mereka juga sudah cukup menderita selama setahun terakhir. Mereka memutuskan menikah setelah aku siuman. Aku tidak bisa mengecewakan mereka,” batin Arkan terus berkecamuk. Ia harus terlihat bahagia padahal dari lubuk hati terdalam ia sangat menderita.


Kemudian dari dalam rumah Soraya menghampiri keduanya. “Sheila, Arkan. Semua orang sudah berkumpul. Ayo masuk,” ajak Soraya.


“Kita masuk aja yuk,” ajak Sheila. Ia langsung berinisiatif mendorong kursi roda Arkan masuk ke dalam.


Di ruangan makan seluruh keluarga telah berkumpul. Johan, Rosita dan Brian, mereka sudah tiba di ruangan tersebut.


Dan Brian, sejak Arkan siuman, kali ini adalah kali kedua dia bertemu pria itu. Sebelumnya, tiga minggu yang lalu Brian sudah pernah datang menghampiri Arkan di rumah sakit dan meminta maaf secara langsung.


Saat itu Arkan baru saja siuman, ia belum bisa berinteraksi dengan orang orang secara langsung. Kali ini, Arkan sangat ingin bangkit dari kursi rodanya kemudian menonjok wajah pria itu. Dia lah penyebab Wulan meninggal. Jika ia tidak membawa Wulan ke pulau Silent, maka Wulan tidak akan melarikan diri dari pulau itu. Karena ingin melarikan diri Wulan dan Buto mati tenggelam. Brian! Brian sama saja telah membunuh Wulan!


“Arkan?!”


“Sheila!”


Jenny melambai pada keduanya. Ia meminta mereka bergabung di meja makan segera.


Sheila makin mempercepat langkahnya menuju meja makan.


“Ayo duduk, kamu gabung di sini saja,” Jenny mempersiapkan kan sebuah kursi untuk Sheila.


“Jadi wanita ini adalah pacarnya Arkan?” tanya Johan dengan mata berbinar. Ia terlihat gembira Arkan sudah memiliki pendamping disisinya.


“Belum mas, Sheila ini teman kuliah Arkan,” sahut Jenny.


“Jika mereka cocok kenapa tidak di atur saja. Sheila gadis yang sangat cantik,” puji Johan.


“Lihat mereka, mereka akan menikah dalam waktu dekat, kalian segeralah menyusul,” ujar Johan seraya menunjuk Brian dan Soraya.


Saat itu juga Arkan langsung menatap Brian.


“Hari ini mereka akan mengumumkan pertunangan mereka ke publik. Pernikahan terbesar antara dua tokoh politik yang sedang naik daun, pasti pemberitaan akan sangat ramai di media,” ucap Johan bangga.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2