
Arkan duduk diam menatap sepasang kekasih dihadapan nya, Sarah dan Aldy. Mereka saling bercanda, bergurau, sesekali juga menampakkan kemesraan dihadapan Arkan. Sungguh menyilaukan mata. Meski terlihat seperti pasangan ABG tapi ternyata Sarah sudah berusia 24 tahun, ia ternyata seusia Wulan. Sedangkan Aldy, jika tebakan Arkan tepat, maka Aldy seharus nya berusia 20 tahun.
Aldy usianya empat tahun lebih muda dari Sarah. Namun sikap Aldy yang tenang dan begitu memanjakan Sarah, sifatnya terlihat dewasa, ia mungkin sedang menyeimbangi sang wanita. Bagaimanapun ia harus menjaga dan melindungi wanita nya, karana dari tatapan Aldy, ia begitu mencintai Sarah.
“Mas Arkan?” panggil renata yang akhirnya duduk disamping Arkan.
Renata memperhatikan kemana arah mata Arkan menatap.
“Mas iri ya dengan mereka? Mana Wulan? Mas bisa seperti itu dengan Wulan,” ujar Renata yang otaknya saat itu mulai ngaco.
Arkan memaling kan matanya menatap Renata, “belum tentu Wulan mau,” gumam arkan namun masih terdengar di telinga Renata.
“Mau lah mas, jika mas tulus,” ucap Renata.
“Mas harus membuat perasaan Wulan tergerak,” lanjut Renata.
“Cara nya?” tanya Arkan.
“Ya seperti itu?” Renata menujuk dua orang yang sedang kasmaran dihadapan mereka.
“Gimana?” tanya Arkan serius sambil mengamati Aldy.
“Jika nggak seperti itu, Sarah akan bosan, sebentar saja Aldy bisa di campakkannya,” ujar Renata.
Arkan duduk tegap memperhatikan Aldy, ia mencumbu Sarah mesra. Jemarinya terus meraba paha Sarah dengan liar.
“Jika seperti itu Wulan bisa menampar ku,” ujar Arkan bergidik ngeri, mengingat betapa sensitiv nya sifat Wulan.
“Haha,” Renata terbahak. “Kalau Wulan di gituin auto kena tampol kamu mas,” ujar Renata.
Arkan kembali bersandar pada sandaran kursinya.
“Tau nggak, dari dulu banyak yang suka dengan Wulan. Wulan agak kolot mas, dia menjaga kesuciannya untuk jodohnya. Mungkin saja sekarang Wulan masih seorang gadis walaupun sudah menikah,” ucaaap Renata.
“Bukan nya itu hal yang baik, buat apa harus mengumbar nafsu kepada sembarang pria,” celetuk Arkan.
“Oke oke, kalian memang cocok mas, aku mendukung hubungan kalian.” ujar Renata.
Dari dalam ruangan Wulan terlihat sedang berjalan menuju ke meja di mana Arkan berada. Arkan membayang jika akan mencumbu wanita itu, menggaulinya seperti yang di lakukan pasangan pasangan lainnya. Mungkin jika ia melakukan itu Wulan akan membencinya.
“Tidak tidak, mungkin Wulan akan menjauhi aku. Dia akan menganggap aku seperti pria mesum yang hanya inginkan kenikmatan darinya,” batin Arkan.
Saat matanya terus menatap Wulan tanpa sadar dari belakang Wulan terlihat sepasang kekasih yang sedang bergandengan mesra masuk dari pintu masuk.
Cahaya lampu terang dari dalam ruangan Skye itu jelas terlihat bahwa kedua pasangan itu adalah Brian dan Soraya.
Mata Arkan mengernyit.
“Apa yang mereka lakukan disini?”
__ADS_1
Saat itu Wulan langsung duduk disamping nya.
“Rena, sudah. Minum kebanyakan tar ga bisa pulang,” larang Wulan pada wanita yang asik melihat pada layar ponselnya.
“Cuman Wine aja Lan, ga ngaruh,” sahut Renata sambil terus fokus melihat sesuatu pada layar ponselnya.
Arkan menarik Wulan mendekat ke arahnya “Brian dan Soraya ada di sini,” bisik Arkan.
“Hah? ngapain mereka ke sini?” tanya Wulan sambil mengikuti ke arah mata Arkan.
Dua sosok kekasih itu tengah berjalan ke subuah meja tak jauh dari keberadaan mereka.
“Kok bisa kebetulan,” ucap Wulan kemudian mendengus kesal. “Huffttt bakal merusak suasana hatiku yang sedang baik,” gumamnya.
“Jangan melihat ke sana, anggap saja nggak tau,” Arkan menarik wajah Wulan ke arahnya.
Keduanya saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.
Dug
Dug
Dug
“Mas, kita pulang saja,” ajak Wulan.
Wulan mengangguk. “Aku nggak mau Brian membuat masalah saat ada teman temanku,” ucap Wulan.
Namun Saat itu Soraya sudah berjalan menuju meja dimana mereka berada menyusul Brian di belakang nya.
“Arkan, Wulan, ternyata itu benar kalian. Lagi ada acara kok nggak ajak kami?” tanya Soraya ramah.
Wulan berdiam masih membelakangi Soraya. Ia tak menggubris sapa Soraya.
“Lagi ada acara ya? Siapa yang ultah?” tanya Soraya lagi.
“Ulang tahun saya! Kenapa? Kalian siapa!” tanya Sarah ketus.
Wulan semakin nggak nyaman berada disitu, suasana sudah berubah menjadi sedikit tegang.
“Lan?” panggil Renata pelan.
“Siapa?” tanya Renata dengan isyarat.
Wulan menjawabnya hanya dengan mengedipkan kedua matanya.
“Kami sudah selesai makan, mas Brian sudah dapet meja?” tanya Arkan.
Renata segera bangkit dari kursinya. “Wulan ayo pulang, acara makan makan kita sudah selesai,” ujar Renata seraya menarik pergelangan tangan Wulan.
__ADS_1
“Kalian bisa pulang, Wulan akan pulang dengan saya,” ujar Brian kemudian menarik Wulan ke samping badannya.
Renata terdiam, dari ucapan mas Arkan dia tau bahwa Brian yang ada di belakangnya adalah suami Wulan.
“Mas baru saja datang, kenapa nggak makan dulu,” tanya Arkan.
“Aku juga sudah makan, aku nggak ingin ganggu makan malam kalian,” ujar Wulan.
“Kenapa? Jika aku ingin pulang dengan istriku, apa tidak boleh?” ucap Brian tegas, ia seperti sedang marah menatap Wulan.
“Yan, sedang banyak orang jangan bikin rusuh deh,” bujuk Soraya.
“Wulan akan pulang dengan ku mas, aku yang menjemputnya jadi aku juga yang akan mengantarnya pulang,” tegas Arkan. Ia segera berjalan mendekati Brian menarik Wulan dari sisinya.
“Mas nikmati saja makan malam mas dengan Soraya, Wulan nggak mungkin jadi orang ketiga di antara kalian,” telunjuk arkan memegang pelipisnya sambil berpikir. “Oh ya, orang ketiga disini Wulan atau Soraya?” Lanjut Arkan kemudian menatap Brian dengan tatapan tajam.
Brian menatap wajah Arkan serius. Ia tidak suka ucapannya di tentang. Apalagi Wulan itu adalah istri nya.
“Aku tidak sedang meminta pendapat mu. Wulan harus ikut dengan ku,” ujar Brian. Mata Brian menatap tangan Arkan yang kini sedang memegang lengan Wulan.
Brian berusaha menarik kembali Wulan bersamanya, namun Arkan kini maju selangkah menghalang dengan tubuhnya. “Mas ingin memberitahu semua orang di sini kalau Wulan adalah istri mas, sedangkan mas sekarang jalan bersama Soraya?” ucap Arkan pelan hampir mendekat ke telinga Brian.
“Yan, cukup! Lihat sekeliling, semua orang sedang menatap ke sini,” ucap Soraya kemudian menarik tubuh Brian menjauh dari Arkan.
“Ayok Yan, aku laper,” ajak Soraya lagi. Brian menurut saja saat Soraya menggandeng lengannya menuju sebuah meja.
“Lan, kamu nggak papa kan?” tanya Sarah.
“Nggak apa Rah, maaf acara ultah kamu jadi agak rusuh,” ucap Wulan.
“Yang sono suami Wulan. Mas Arkan pacar Wulan. Dan wanita itu pacar suami Wulan,” gerutu Aldy sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
“Kata siapa itu suami Wulan? Dia nggak layak menjadi suami Wulan,” ucap Sarah manyun menatap Aldy.
“Ayo,” ajak Arkan. Tangan nya masih menggengam tangan Wulan. Sikap tenang dan dingin nya kali ini terlihat berbeda. Dia tidak seperti seorang Arkan yang ramah dan penurut.
“Kalian masih ingin disini?” tanya Renata sambil menarik tas dari atas kursi.
“Kami ikut pulang juga, ngapain di sini? Ayok bang,” sahut Sarah kemudian ikut pergi dari meja itu.
Wulan dan Arkan sudah lebih dahulu pergi dari situ, setelah membayar bill dari meja kasir mereka langsung menunggalkan bangunan tersebut.
.
.
.
TBC…
__ADS_1