Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Ahli Waris-


__ADS_3

Setelah percakapan panjang di dalam mobil, dan setelah Wulan merasa lebih tenang, ia dan Arkan langsung menuju kantor pengacara pak Cahyono.


Selama perjalanan mata Wulan tak pernah berhenti menatap pria di samping nya.


Sepertinya Tuhan masih memberikan kesempatan untuk dirinya. Kesempatan untuk berbahagia, kesempatan untuk melanjutkan hidup bersama orang orang yang di kasihinya.


Terlebih, setelah semua hal pahit yang ia lalui, harus kah ia menyia nyiakan cinta pria di samping nya?


Tangan Wulan menyentuh wajah Arkan dengan lembut.


“Selama ini aku tidak sepenuh hati memberikan perasaan ku kepada mas arkan, mengingat mas Arkan adalah sepupu Brian. Selama ini aku selalu ragu dengan hibungan kami…” batin Wulan.


“Ada apa?” tanya Arkan sambil sekilas menatap wajah Wulan. Ia kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.


Arkan memegang jemari Wulan dengan tangan kirinya, ia mengusap jemari itu ke wajahnya. Tangan Wulan terasa kasar, ia tak pernah meraba tangan yang seperti ini sebelumnya.


“Apa yang kamu lakukan setahun terakhir di pegunungan itu?” tanya Arkan.


“Aku, melakukan banyak hal,” jawab Wulan.


“Kamu mencangkul?” tanya Arkan asal.


“Terkadang aku mencangkul,” jawab Wulan sambil mengangguk. “Tanah di gunung sangat subur, jika tidak sering di cangkul tanaman akan merambat naik ke atap rumah,” jawab Wulan.


“Benar kamu mencangkul?” tanya Arkan tak percaya.


“Pekerjaan itu lebih sering dilakukan oleh Buto dan bibi, aku hanya sekedar membantu mereka saat lagi nggak ada yang dikerjakan.”


“Tugas utama ku setiap hari menganyam tikar. Sumber penghasilan utama kami, setiap hari aku harus menghasilkan puluhan anyaman untuk di bawa ke pasar esok hari,” lanjutnya.


“Dan mengitari hutan mencari kayu untuk di jadikan bahan bakar,” ucap Wulan, sebuah senyuman terukir di sudut bibirnya. “Aku bahkan hampir setiap hari mendayung perahu beberapa kilometer untuk ke pasar.”


Mengatakan hal itu Wulan jadi teringat kepada Raya. Raya sangat ahli dalam mendayung. Di balik kecantikan dan kelembutan, Raya adalah wanita yang kuat.


Arkan menarik telapak tangan Wulan ke arah bibirnya kemudian mengecup telapak tangannya lembut. Lumayan lama telapak tangan Wulan di wajah Arkan. Ia menggosokkan telapak tangan itu berulang ulang di wajahnya.


“Mas Arkan ngapain?” tanya Wulan tersenyum melihat Arkan yang sedang memainkan telapak tangannya.


“Ini bisa untuk scrub wajah gak?” canda Arkan.


“Ihh mas kok gitu? mas ga suka tangan aku seperti ini ya?” tanya Wulan dengan wajah cemberut.


“Suka, lumayan bisa di pakai menggosok punggung juga,” ucap arkan lagi.


“Ishh,” desis Wulan. Ia menarik paksa tangannya dari wajah Arkan.


Saat itu mobil sudah menepi di pinggir trotoar.

__ADS_1


Melihat wajah manyun itu, Arkan langung menarik wajah itu menghadap padanya. Ia langsung mencium bibir Wulan dengan lembut.


Semakin lama ciuman semakin dalam, lidah nya semakin menerobos masuk hingga ke seluruh rongga mulut Wulan.


Wulan mulai kesulitan mencari oksigen, tekanan hidung mancung arkan seakan menekan hidungnya. Mulut mereka saling terpaut.


Arkan berhenti sejenak, suara Wulan menarik nafas panjang terdengar. Arkan melanjutkan lagi mengecup pelan bibir nya berulang ulang.


Wajah Wulan kini memerah, jantung nya berdebar cepat. Setelah debaran itu sempat melemah beberapa lamanya, kini debaran itu terasa menggelitik seluruh tubuhnya.


Terlebih saat Arkan menatapnya dan berbisik, “mulai sekarang jangan pernah jauh dari ku lagi,” angin berdesir mengenai daun telinga Wulan.


“Jangan tinggalkan aku,” lanjut Arkan.


Ucapannya terdengar seperti sedang memohon.


Wulan memberanikan diri menatap mata pria itu.


“Aku merasa telah jatuh cinta lagi, jatuh cinta kedua kali dengan orang yang sama.”


Sebuah pelukan mendarat di tubuh Wulan.


“Kita sudah sampai,” ujar Arkan.


Sebuah ucapan yang membangunkan kesadaran Wulan. Ternyata mereka sedang berada di pinggir jalan. Tepat di depan sebuah bangunan berlantai tiga bertuliskan Justice Law Firm.


Arkan mengusap bibir Wulan kemudian tersenyum. Ia beralih mengarah ke pintu kemudian keluar dari mobil.


Pintu sudah terbuka, tangan arkan menyambut ia keluar dari dalam mobil.


Lengan wulan di gandeng erat oleh Arkan. Sambil tertatih ia berjalan masuk melalui pintu kaca ke dalam gedung firma hukum itu.


“Pak Cahyono ada?” tanya Arkan pada seorang wanita di meja informasi.


“Sudah buat janji temu?” tanya wanita itu.


“Sudah.”


“Atas nama?”


“Wulandari,” jawab Arkan.


“Pak, ada nona Wulandari ingin ke ruangan bapak,” ucap nona itu pada telpon line.


“Silahkan masuk, pak Cahyono sudah menunggu di ruangannya di lantai tiga,” ucap wanita itu.


Wanita itu mengantar Wulan dan Arkan hingga ke lift yang ada di belakangnya. Ia membantu memencet tombol lift kemudian berlalu dari situ.

__ADS_1


Arkan dan Wulan tiba di lantai tiga, pak Cahyono sudah menunggu mereka di depan pintu lift.


“Pak Arkan, bu Wulan silahkan masuk,” sapa pak Cahyono penuh hormat.


“Maaf saya menyuruh Bu Wulan yang ke sini, karena penjelasan dokumen nya sangat banyak, saya juga lebih detail dan jelas karena ini menyangkut uang yang cukup besar,” ujar pak Cahyono.


Memasuki Ruangan, seorang asistennya menyambut Wulan dan Arkan. Mereka duduk di sofa empuk di ruangan luas dan Megah itu.


Kemudian asistennya itu mengeluarkan laptop ke hadapan pak Cahyono.


Pak Cahyono mulai menjabarkan satu persatu semua harta benda milik Brian di mulai dari rumah tinggal yang di tempatinya bersama Wulan. Brian memiliki beberapa tanah luas di ibukota yang di jadikan kantor untuk anak cabang perusahan. Beberapa vila di Bali, dan di kalimantan.


Wulan menyimak perkataan pak Cahyono dengan seksama.


Setelah membahas sebuah kapal, beberapa mobil mewah dan apartemen kini pak Cahyono mulai membahas deposit Brian di beberapa bank dalam negri.


“Total kekayaan Brian di dalam negri mencapai hampir 14 triliun.”


Wulan sedikit tercengang. Semua total aset dan uang simpanan Brian lumayan banyak juga, dan Wulan akan menjadi pemilik semua harta itu.


“Pak Brian juga menyimpan uang di negara A dengan total USD 4,2 miliar. Serta simpanan emas senilai USD 4,8 miliar di negara C,” jelas pak Cahyono.


Arkan tertegun, mata nya membulat seakan tak percaya. “Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu?!” tanya Arkan.


“Entah lah, setelah sempat mengalami krisis keuangan setahun lalu, tiba tiba pak Brian bangkit. Dia melunasi semua hutang hutangnya. Dan asetnya malah meningkat drastis setelah kejadian itu. Hanya saja semua uang nya di simpan di negara A dan C.” jelas pak Cahyono.


“Kalau begitu, Wulan akan ke sana menclaim uang sebagai ahli warisnya,” ujar Arkan.


“Tapi uang tidak bisa masuk ke negara ini. Uang itu sumbernya tidak jelas,” ujar Cahyono.


“Tentu saja, tak masalah. Wulan hanya perlu menclaim kemudian mengubah nama kepemilikan atas uang tersebut,” ujar Arkan.


Pak Cahyono mengangguk. “Benar. Prosesnya harus selesai dalam waktu setahun…”


Wulan masih tercengang, ia tak lagi mengikuti pembicaraan Arkan dan pak Cahyono. Dalam benaknya, dari mana Brian memiliki uang sebanyak itu? Apa uang hasil penjualan narkoba? Gudang di pulau tempat Wulan di kurung saat itu adalah penampung barang barang haram itu. Apakah bisnis Brian masih berjalan di sana?


Masih banyak sekali pertanyaan pertanyaan dalam otak Wulan. Hingga Arkan dan pak Cahyono selesai berbincang Wulan masih diam tak bergeming.


“Agar bu Wulan tidak terlalu repot, saya akan mengurus kelengkapan surat dan mengantar langung ke bu Wulan. Sekalian tanda tangan balik nama kepemilikan,” ujar pak Cahyono.


“Iya pak, terima kasih,” ucap Arkan.


Tak terasa sudah hampir sejam mereka berada di ruangan itu. Setelah jelas urusan dan mengenai kelengkapan data. Wulan dan Arkan meninggalkan gedung itu.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2