
Hari sudah menjelang pagi namun masih terlihat kesibukan di rumah kecil di pegunungan itu.
Irma baru saja tiba bersama sepupunya Mail. Seorang mahasiswa kedokteran tingkat akhir yang akan merawat Buto.
Mail tiba dengan berbagai peralatan medis yang dimilikinya.
“Mail, akhir nya kamu tiba. Tolong kamu periksa luka pria ini. Apakah harus di bawah ke rumah sakit?” tanya bi Indun.
“Bi siapa lagi orang ini, kenapa bisa ada di sini?” tanya mail kemudian mengambil kursi yang sudah di sediakan di samping ranjang.
“Ini temanya nyonya Wulan, nyonya Wulan adalah nyonya di rumah dulu bibi bekerja,” ucap bi Indun.
“Kenapa bibi menampung orang orang berbahaya ini di rumah bi? Bibi tidak tau mereka habis melakukan kejahatan apa di kuar sana hingga keadaan nya menjadi seperti ini,” ucap Mail sambil mengeluarkan peralatan medis dari dalam tasnya.
Setelah memasang stetoskop di telinga, ia mengeluarkan tensi tekanan darah dan memasang oxymeter ke jari Buto.
Sambil memperhatikan luka di perut Buto, Mail membalik tubuh Buto.
“Kalau ada lobang depan belakang, berarti pelurunya sudah keluar ya. Disini usus nya terlihat bagus, tidak ada sekresi atau pendarahan di usus. Peluru hanya menembus perut bagian samping. Hanya saja pendarahan nya sangat banyak, jadi pria ini shock. Untung badanya berotot, jadi dia agak kuat,” jelas Mail pada bi Indun kemudian menyimpan kembali stetoskop ke dalam tas nya.
“Sudah selesai?” tanya Bi Indun.
“Belum bi, lukanya masih harus di perban,” jawab Mail.
“Gimana keadaannya?” tanya bi Indun.
“Lukanya akan sembuh dalam beberapa hari, hanya saja ia belum boleh banyak bergerak. Karena hanya di rawat seadanya dirumah jadi penyembuhan lukanya akan lebih lama,” ucap Mail sambil melingkarkan perban di pinggang Buto.
“Jika belum ada perubahan hingga sore, kalian harus membawa pria ini ke rumah sakit, mungkin dia harus tranfusi darah. Tapi, pria ini korban luka tembak, rumah sakit pasti akan melapor kejadian ini ke kepolisian,” lanjut Mail.
“Apa ada yang bisa di berikan supaya tidak ke rumah sakit?” tanya bi Indun cemas.
“Berikan makanan kaya zat besi, dan minum obat penambah darah dua kali sehari,” ucap Mail.
“Bi, aku pulang dulu karena masih ada tugas di kampus pagi ini, nanti obat bisa di ambil Irma di rumah,” ucap Mail.
“Baiklah,” ucap bi Indun.
“Obat harus segera di berikan bi, Irma harus ikut aku sekarang,” ucap Mail.
“Mail,” panggil bi Indun lagi.
“Ada satu pasien lagi.”
“Hmm mana?” tanya Mail seraya melihat sekeliling ruangan.
__ADS_1
“Tunggu sebentar,” bi Indun bergegas masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Wulan sedang bersandar di pinggir ranjang kakek. Ia terlihat baru saja tertidur.
“Nyah, ayok. Keponakan bibi sudah di depan. Kita periksakan dulu luka di tangan nyonya,” bisik bi Indun.
“Nggak usah bi, luka aku nggak parah,” tolak Wulan.
“Tetap saja harus di periksa. Ayo Nyah,” bi Indun menarik lengan Wulan hingga keluar kamar.
Mail yang sudah berdiri, kembali duduk di kursi panjang. Ia menatap wajah Wulan yang terlihat baru bangun dari tidurnya.
“Mail, luka di lengan kanan nyonya. Ayo Nyah di angkat lengan bajunya,” ucap bi Indun.
“Nyonyah? Dia nyonyah nya?” batin Mail.
“Hanya luka kecil tidak apa apa,” jawab Wulan.
“Walaupun hanya luka kecil, sebaiknya di periksa,” ucap Mail.
Wulan mengangkat lengan bajunya, hingga terlihat luka yang hanya di perban asal.
Dengan perlahan dan penuh hati hati Mail membuka perban tersebut.
“Luka goresan, nggak terlalu dalam hanya saja agak panjang. Nggak perlu di jahit karena darah nya sudah berhenti,” ucap Mail.
“Mungkin peluru,” ucap Wulan.
Mail tercekat. “Kalian berdua beruntung. Meleset sedikit, akan mengenai organ Vital. Sekarang aku ganti perbannya dengan yang lebih rapih aja.” ucap Mail.
Wulan mengangguk setuju.
“Besok aku akan kembali mengganti perban dan periksa luka kalian. Jangan kena air dulu,” ucap Mail.
Wulan kembali mengangguk.
“Nyah, jadi selama ini mail lah yang merawat kakek. Kakek sangat senang setiap kali mail datang,” ucap Bi Indun.
“Benarkah? Terima kasih sudah merawat kakek saya dok,” ucap Wulan ramah.
“Aku belum menjadi dokter, masih sementara kuliah, belum pantas di panggil dokter.”
“Tetap saja aku harus berterimakasih sudah menolong kakek,” ucap Wulan.
Mail tersenyum. “Jadi ini cucunya kakek, kakek banyak bercerita tentang anda. Kata kakek kita hampir seumuran. Kakek juga mengatakan cucunya sangat cantik, ternyata benar.”
__ADS_1
“Katanya pagi pagi mau ke kampus,” celetuk Irma dari dalam kamar.
“Oh iya, aku pamit dulu,” ucap Mail pada Wulan. “Irma ayo ikut,” ajaknya.
Irma keluar dari kamar dan langusng ikut di belakang mail. Ia harus kembali turun gunung untuk mengambil obat di rumah mail sepupunya.
Sepeninggal Irma dan Mail, Raya langsung masuk ke ruangan itu.
“Apa aku sudah bisa tidur?” tanya Raya ketus. Ia langsung mengambil tikar di atas lemari dan menggerai di atas lantai. Raya langsung berbaring di sana.
“Jika nyonya ingin tidur, nyonya bisa tidur di samping non Raya. Kamar di rumah ini hanya ada dua. Yang satunya untuk kakek dan satu nya untuk bayi Zaka,” jelas bi Indun.
“Nggak apa bi, aku bisa tidur di mana saja. Bibi nggak usah khawatir,” ucap Wulan.
Karena hanya ada satu tikar, Raya langsung bergeser ke pinggir. Wulan tau saat itu Raya sedang menyisihkan tempat untuknya.
“Aku tidur sebentar, saat kakek bangun bibi harus membangunkan aku ya bi,” ucap Wulan.
“Baik Nyah, akan bibi bangunkan. Lumayan nyonya bisa tidur sejam hingga kakek bangun,” ucap bi Indun.
Wulan berjalan menuju tikar dan berbaring di samping Raya.
“Bibi matikan lampu ya,” ucap bi Indun kemudian memencet saklar di dekat pintu.
Suasana di ruangan itu langsung menjadi remang. Pantulan lampu dari dalam kamar membuat ruangan tidak begitu gelap. Bi Indun langsung masuk ke dalam kamar untuk melihat bayi Zaka yang saat itu mulai rewel.
“Terima kasih,” ucap Wulan, ia tau saat itu Raya belum tidur.
“Untuk apa?” tanya Raya.
“Karena sudah menolong ku,” jawab Wulan.
“Karana aku membutuhkan dirimu, jadi aku harus menyelamatkan mu,” sahut Raya.
Wulan menoleh ke kiri, dia masih belum mengerti maksud ucapan Raya.
“Tidur lah, aku butuh istirahat. Badanku butuh istirahat.” ucap Raya.
Wulan tidak menjawabnya lagi. Saat itu Wulan juga merasakan hal yang sama. Perjalanan panjang menantang maut dan sangat melelahkan. Tapi ia patut bersyukur. Ia berhasil selamat, ia tidak terkurung di pulau itu lagi. Dan yang lebih menggembirakan adalah ia sekarang bisa berkumpul kembali dengan kakeknya.
.
.
.
__ADS_1
TBC…
#Jangan lupa like koment dan gift nya ya. Happy reading Next chapter 😘