Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Aku Akan Menangis Setiap Hari-


__ADS_3

Usai sarapan pagi bersama di meja makan, Jenny dan Richard bersiap siap terbang ke Singapore sedangkan Arkan dan Wulan akan ke kantor pak Cahyono.


Tok tok tok


“Wulan,” panggil Jenny dari luar pintu.


Wulan berjalan menuju pintu kemudian membuka pintu kamar itu.


Jenny mendorong masuk stand hanger berisi beberapa potong pakaian ke dalam kamar Wulan.


“Wulan ini baju tante, masih baru belum tante pakai karena agak kecil di pinggang tante,” ucap Jenny.


Wulan ikut berjalan di belakang Jenny sambil memilih satu buah terusan selutut berwarna gelap.


“Oh ya, tante bantu kamu mandi ya, kata Arkan kaki kamu belum bisa kena air.”


“Wulan bisa aja mandi kok tante,”


“Caranya?” tanya Jenny.


“Masukkan kaki Wulan ke sini,” Wulan mengangkat sebuah kantong plastik dari dekat ranjang.


“Tinggal di selotip biar air ga masuk,” ujar Wulan.


Jenny tertawa kecil sambil mengangguk, “ya sudah sini tante bantu.”


Jenny memakaikan kantong plastik ke kaki Wulan kemudian mulai melilitkan selotip melingkar di pergelangan kaki nya.


“Sudah,” ucap Jenny dengan wajah puas.


“Kaki kamu kenapa bisa luka begini?” tanya Jenny.


“Aku nggak ingat tante, tapi kata bibi aku habis menendang parang,” ujar Wulan.


Sontak mata Jenny terbelalak. “Parang? Buat apa parang di tendang?”


Wulan kembali teringat kejadian waktu itu. Wajahnya langsung berubah murung, dan matanya mulai berkaca kaca. Ia berniat menggeser parang dengan kakinya ke arah Raya karena Brian ingin mengambil parang itu. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Pistol Brian di arahkan ke kepalanya, jika Wulan tidak menendang parang itu, Brian akan menggunakan parang itu untuk membunuh dirinya dan Raya.


Setelah semua pertikaian di hutan itu, pada akhirnya Raya yang mengorbankan dirinya.


“Sudah sudah, nggak usah nangis. Semuanya sudah berlalu. Sekarang kamu mandi, Arkan akan menemani kamu ke kantor pengacara,” ujar Jenny.


Sambil mengusap airmata dari kedua sudut mata, Wulan mulai melangkah perlahan menuju kamar mandi. “Wulan mandi dulu tante, ucap nya lemah.


“Oh ya, kakek mu masih tinggal di hotel?” tanya Jenny.

__ADS_1


“Iya,”


“Kasihan kakek sudah tua, repot kalau terus tinggal di hotel. Kenapa nggak ajak kakek pulang ke rumah?” ucap Jenny.


“Iya tante, Wulan memang sudah berpikir akan membawa kakek pulang,” sahut Wulan.


“Bagus lah, kalau kamu butuh pekerja akan bibi minta bi Rahma carikan asisten rumah tangga kenalannya untuk mu.”


“Rencana nya Wulan akan mengajak pekerja lama Wulan saja. Biar nggak perlu beradaptasi dengan yang baru lagi.”


“Oh, Ok. Ya sudah, kamu mandi gih, tante juga mau mandi. Penerbangan tante jam 1 siang ini.


Jenny pun berlalu dari ruangan itu.


Wulan langsung masuk ke kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat gerah dan lengket. Ia butuh butuh air dingin untuk menyegarkan kembali tubuhnya dari rasa penat.


Wulan keluar dari kamar setengah jam kemudian.


Arkan sudah duduk di sebuah kursi yang mengarah ke pintu kamarnya menunggu Wulan keluar.


“Sudah?” Arkan bergerak cepat menghampiri Wulan kemudian menggandeng tangannya.


Wulan berjalan sambil matanya terus memperhatikan kaki Arkan.


“Pelan pelan aja, nggak usah buru buru,” ucap Arkan.


“Yang seharus nya ngomong seperti itu kan aku,” batin Wulan.


Wulan berjalan pelan sambil di tuntun Arkan menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu.


“Aku bisa sendiri mas,” ucap Wulan saat Arkan membuka kan pintu dan membantunya masuk ke dalam mobil.


Saat itu ia duduk di depan di samping kursi pengemudi. Mata Wulan mencari ke sekeliling. Saat Arkan masuk dan duduk di balik kemudi Wulan pun bertanya. “Daniel mana?”


“Aku nggak menyuruhnya datang hari ini, kemaren seharian dia nggak tidur, jadi aku menyuruhnya tidur sampai siang hari ini,” ujar Arkan.


“Jadi Mas yang nyetir? Emang bisa?” tanya Wulan.


“Bisa, cuman nyetir doang.” ucap Arkan berlagak kuat.


“Cara jalan mas aja masih kaku, kenapa harus memaksa berlari? bergerak banyak? Kenapa ngga gunakan lagi tongkat mas yang ada di dalam kamar? Kenapa mas nggak cerita kalau mas terbaring koma selama setahun? Mas nggak cerita mas baru sebulan bangun dari tidur panjang mas?”


Saat itu juga air mata mengalir keluar dari pelupuk matanya.


Momen ini yang di tunggu Wulan sejak pagi, ia akan mengomeli Arkan habis habisan karena Arkan tidak cerita apa yang sudah terjadi dengannya.

__ADS_1


“Loh, aku sekarang baik baik saja Lan, aku sudah sehat,” ucap Arkan sambil mengusap air mata dari pipi Wulan.


“Aku sempat berprasangka buruk sama mas, aku menghubungi nomor telpon mas setiap hari tapi ngga pernah aktiv.” ucap Wulan sambil terisak.


“Setiap kali aku ke pasar menjual tikar, aku mampir di sebuah warung telpon. Selama setengah tahun aku terus menghubungi mas, hingga akhirnya aku menyerah, aku berpikir mas Arkan sengaja menjauhi ku, aku sempat berpikir mas adalah laki laki yang tega. Harapan ku terhadap mas sudah terlalu besar, tapi kemudian mas Arkan menghilang begitu saja.”


Mendengar semua keluh Wulan, Arkan menarik tubuhnya kemudian memeluknya erat.


“Saat semua orang mengatakan Aku sudah mati, pikiran ku hanya memikirkan mas Arkan saja. Aku ingin memberitahukan mas, aku belum mati. Aku menunggu mas datang mencariku di pegunungan itu,” ujar Wulan.


Arkan memeluk Wulan semakin erat, “maaf aku pergi mencarimu di pulau itu tapi aku terlambat,” ujar Arkan.


Wulan mendorong tubuh Arkan, agar ia dapat menatap wajahnya. “Mas pergi mencariku? Kecelakaan yang menimpa mas karena mas ke pulau itu?”


Arkan mengangguk. “Aku sangat frustasi saat itu, semua anak buah Brian mengatakan kamu sudah mati tenggelam. Mereka mengucapkan kata kata sudah menembak mu berulang ulang. Dan kamu sudah tenggelam di laut. Aku sudah menghajar mulut mereka satu persatu.”


Wulan menatap Arkan. “Mas bisa menang melawan mereka? Aku mohon, jangan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.”


Wulan kembali memeluk Arkan, ia mengusap punggung Arkan. Air mata masih menetes di wajahnya.


“Hei aku baik baik saja sekarang, aku disini bersama mu.”


“Kalau mas mati gimana? Aku harus cari mas kemana?” Wulan menangis semakin menjadi, layak seorang anak kecil yang permennya di ambil dari tangannya.


“Sudah jangan nangis lagi, dua hari mata kamu terus mengeluarkan air mata. Kamu nggak capek? Lagian aku tidak kenapa kenapa!”


“Nggak capek, aku akan menangis setiap hari. Aku akan terus menangis mengingat kebodohan mas Arkan dan juga kebodohan Raya.”


“Ya sudah menangis lah hingga kamu puas, aku nggak akan melarang lagi.”


“Jangan berkorban untuk ku lagi mas, bagaimana aku bisa hidup tenang di atas pengorbanan kalian yang begitu besar?”


“Aku melakukan itu karena aku menyayangi mu, Raya juga menyayangi mu, semua orang menyayangi mu. Siapa yang tidak ingin melindungi orang yang di sayanginya?”


Arkan kembali memeluk Wulan.


“Aku akan melindungi mu, tidak ada seorang pun yang bisa menyakiti mu lagi.”


.


.


.


TBC…

__ADS_1


__ADS_2