
“Pak.”
Seorang perawat yang melintas di hadapan Arkan menghampiri Arkan yang sedang duduk di sebuah kursi di depan ruang operasi.
Perawat itu memperhatikan darah yang sedang menetes dari siku Arkan.
“Pak, sepertinya tangan bapak terluka,” ucap perawat itu.
Lengan kemeja putih yang terus basah, di sertai tetesan Sarah di atas ubin berwarna putih.
“Ah ya, sepertinya begitu,” ucap Arkan yang matanya memang sudah berlinang kunang sejak tadi.
“Bapak mau ikut saya ke ruang perawatan? Saya bisa membantu bapak membersihkan luka bapak,” ucap perawat itu.
“Tapi saya masih menunggu istri saya,” sahut Arkan. Ia enggan beranjak sari sepan pintu itu. Ia sedang menunggu kabar dari dalam, bagaimana jika dokter membutuhkan nya dan dirinya tidak berasa si situ?
“Hanya butuh waktu lima menit. Saya rasa operasi di dalam belum akan selesai dalam waktu segitu. Dan jika istri bapak melihat tangan bapak seperti ini bukankah dia akan sedih?”
“Ruangannya di sebelah mana?” tanya Arkan.
“Saya perawat di bagian ruangan bersalin. Dua ruangan dari sini,” ucap perawat itu sambil menunjuk sebuah pintu tak jauh dari situ.
“Mari ikut saya pak,” lanjut perawat itu.
Arkan meninggalkan beranjak daru tempatnya duduk menuju sebuah ruangan.
“Siapa yuk,” tanya perawat lainnya saat Arkan memasuki ruangan itu.
“Suami dari pasien yang sedang di operasi.” jawab Yayuk pada perawat lainnya.
Yayuk mulai mengenakan sarung tangan medis, kemudian menyiapkan sebuah keranjang berisi kasa, gunting dan antiseptik.
Perawat itu menggulung lengan baju Arkan yang dipenuhi darah hingga mendekati siku. Luka robekan kecil yang lumayan dalam berada dua jari di atas siku.
“Luka bapak cukup dalam, pendarahan masih terjadi karena tidak langsung di perban.”
“Kemejanya dibuka saja yuk, ga bisa dipakai lagi,” saran perawat di belakangannya.
“Bapak bisa buka kemeja bapak? Pasti tidak nyaman memakai pakaian yang sudah banyak bercak darah seperti ini.”
“Tapi pakaian saya ada di mobil,” jawab Arkan.
“Bapak bisa pakai baju pasien,” ucap nya.
“Dilihat dari lukanya, seharusnya di jahit. Tapi kamu tidak punya kenangan itu, bapak harus mendaftar duku di bagian-“
“Tidak, saya tidak sempat ke sana. Saya harus menunggu istri saya di ruangan operasi,” tolak Arkan.
“Ya sudah, kami bantu perban biar pendarahannya bisa berhenti,” ucap perawat itu.
Setelah di perban, Arkan di berikan atasan piyama rumah sakit.
Saat itu ponsel nya berdering.
“Arkan kamu dimna? Mama ke sana sekarang,” ucap jenny dengan nada panik.
“Di rumah sakit Pluit ma, Wulan masih dalam ruang operasi,” ucao Arkan.
“Mama hampir sampai.”
“Terimakasih sus,” ucap Arkan.
__ADS_1
Ia segera keluar dari ruangan itu kembali menuju depan pintu ruangan operasi.
Setiba di sana, lampu di atas pintu itu masih menyala pertanda operasi masih sedang berlangsung.
Sudah sejam, dan belum ada seorangpun keluar dari ruangan operasi itu.
Arkan duduk melipat kedua tangannya ke arah dagu.
“Ya tuhan, semoga Wulan bisa melalui ini dengan lancar,” gumamnya.
“Arkan,” suara Jeny di sertai langkah kaki menghampiri Arkan.
“Bagaimana Operasinya?” tanya Jenny. Suara nya memburu akibat baru saja berlari dari parkiran mobil hingga di ruangan itu. “Apa yang terjadi?” lanjutnya bertanya.
“Operasi masih berlangsung.”
Kepanikan, dan kecemasan melingkupi perasaan Arkan. Namun ia berusaha tenang.
“Wulan pasti baik baik saja,” Jenny memeluk ringan tubuh anaknya. Kemudian ia tersadar dengan pakaian yang di kenakan Arkan saat itu. “Baju mu?”
“Bajuku di penuhi darah, para perawat hanya meminjamkan baju ini.”
“Apa operasi melahirkan biasa selama ini ma?” tanya Arkan.
“Paling satu jam.”
“Wulan sudah lebih dari sejam di dalam.”
“Apa yang terjadi di dalam?”
“Gimana keadaan mereka?”
Ia berusaha berdiri, namun perasaan linglung dan Pusing membuatnya harus bertahan beberapa saat lagi di tempat duduk.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan operasi terbuka, sebuah box bayi di dorong keluar dari ruangan itu.
“Keluarga ibu Wulan?” ucap dokter yang mendorong sang bayi keluar dari dalam ruangan.
Arkan beranjak dari duduknya menghampiri box kaca itu. Seorang bayi mungil sedang terbaring di sana.
“Itu cucuku dok?” tanya Jenny bahagia sekaligus penuh haru.
“Bagaimana keadaan ya?” tanya Arkan.
“Bayi nya sangat sehat dan kuat. Seorang bayi laki laki yang tampan,” ucap dokter itu.
“Istri saya?” tanya Arkan.
“Istri bapak masih belum siuman.”
“Apa operasinya lancar?”
“Walaupun sempat shock akibat kekurangan banyak darah, tapi istri anda baik baik saja sekarang.”
“Syukurlah.”
Mendengar ucapan sang dokter, perasaan Arkan menjadi sedikit lega. Tidak ada hal yang ingin di dengarnya selain keadaan sang istri.
Perlahan ia menjatuh kan lututnya ke atas lantai. Rasa kaku dan tegang di seluruh tubuh Arkan kini berubah menjadi kelegaan. Di saat yang sama tubuhnya terasa lunglai, ia tak bisa menahan rasa pusing di kepalanya. Ruangan di sekitarnya seakan berputar mengitari kepalanya hingga ia benar benar terjatuh ke atas lantai.
.
__ADS_1
.
.
Di dalam sebuah ruangan luas, dua buah ranjang berdekatan dengan dua orang pasien di atas tempat tidur itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Ujung telunjuk jemari Wulan bergerak kecil pertanda ia hampir siuman saat itu.
“Bu, kak Wulan sudah sadar,” ucap Irma sambil terus memperhatikan jemari nya.
Bi Indun dan Jeny ikut memperhatikan jemari Wulan.
“Wulan, sayang,” panggil Jenny sambil mengusap kepalanya.
Panggilan Jenny membuat Wulan berkedip, ia mendengar ucapan mereka. Namun matanya masih terasa berat untuk di buka.
“Kek Wulan sudah siuman,” ucap Irma sedikit terdengar lebih jelas.
“Bisa minta perawat membawa bayinya ke sini? Supaya saat Wulan sadar ia bisa langsung melihat bayinya.” ucap bi Indun.
“Bayi ku? Bayi ku baik baik saja? Mas Arkan?”
Perlahan Wulan membuka kedua matanya.
Masih dalam pengaruh bius Wulan menatap satu persatu wajah di ruangan itu. Kakek, mama, bi Indun, Irma dan Zaka serta Buto di ujung ruangan.
Mereka tersenyum menatap Wulan dengan kalimat kalimat bahagia.
Saat itu juga seorang perawat mendorong sebuah box kaca masuk ke dalam ruangan itu.
“Bayo ku?” sang bayi dibaringkan di samping nya. Seorang bayi mungil dengan rambut lebat dan kulit pink terang.
Suara tangisan kecil terdengar kekuar dari mulut mungil itu. Wulan menatap sambil berlinangan air mata.
“Mas Arkan, bayi kita.” ucap Wulan lemah.
“Mas Arkan? Aku tidak melihatnya di dalam ruangan ini.”
“Mas Arkan?” tanya Wulan sambil menatap Jenny.
“Arkan dia,” Jenny bergeser sedikit memberi cela untuk Wulan melihat Arkan.
“Mas, mas Arkan kenapa ma?” tanya Wulan.
“Dia masih tertidur. Suami mu baik baik saja. Dia hanya sedikit lemas karena kehilangan banyak darah. Kata dokter dia kelelahan juga kurang tidur, jadi diberikan obat tidur.”
“Maafkan Wulan mas, Wulan bertindak sendiri sesuka hati Wulan. Mas seperti ini karena wulan.”
“Sudah, coba lihat bayi kamu, dia pasti tidak ingin melihat ibunya menangis sedih di hari pertama dia hadir di dunia,” bujuk Jenny.
Wulan mengusap airmatanya, kemudian mengecup kepala mungil itu dengan penuh kelembutan. Matanya masih berlinangan airmata, namun bibirnya tersenyum menatap wajah mungil yang terus menggeliat dalam pelukannya.
.
.
.
TBC…
__ADS_1