
Selama setengah tahun terakhir perusahan Wina Graha melonjak tinggi dalam bursa saham internasional. Nilai jual dan brand Wina Graha bisa bersaing dengan perusahan besar lainnya di dunia.
Namun seminggu terakhir nama Wina Graha terus menjadi berita utama di media karena penipuan yang di tuding perusahan Brazil.
Di bawah pemberitaan yang terus menyudutkan Brian, Brian tidak pernah muncul di perusahan maupun media untuk mengklarifikasi masalah penipuan yang di lakukan perusahan dan dirinya ke hadapan public.
Hal itu, membuat Johan selaku komisaris direksi turun tangan langsung. Beberapa proyek yang sedang berjalan menjadi tersendat dan mengalami kerugian.
Sebelum perusahan di nyatakan bangkrut, Johan menjual beberapa saham miliknya pada beberapa kenalan lamanya. Semua keuangan dan aset keluarga di jual Johan untuk terus mengsuply beberapa pembangunan jalan tol yang dikembang kan Perusahan.
Hari itu, mobil mercy berwarna silver milik Johan mendarat dengan mulus di pelataran parkiran sebuah rumah mewah. Rumah mewah yang baru saja di bangun Brian untuk Soraya.
“Brian,” teriak Johan memanggil anaknya.
“Brian,” teriaknya lagi sambil mengangkat kedua tangannya di atas pinggang.
Selang beberapa saat Brian keluar dari kamar menghampiri sang ayah.
“Anak brengsek!” bentak Johan. “Lihat apa yang kamu lakukan?! Sudah melakukan hal merugikan perusahan tapi kamu malah sembunyi disini?” ucap Johan seraya memukul sebuah map ke bahu Brian.
“Ayah, sudahlah. Apa yang ayah lakukan disini?” tanya Brian sambil mengucek kedua matanya kemudian menguap. Bau alkohol menyerbak hingga ke hidung Johan.
“Jadi kamu sembunyi di sini sambil minum minum bersama wanita mu di siang bolong?! Kamu tidak memikirkan nasib perusahan yang kini di ambang kehancuran?!” ucap Johan penuh amarah.
“Ayah, beri aku waktu. Aku akan mengembalikan kejayaan perusahan seperti sebelumnya,” ucap Brian asal.
“Waktu apa? Dari mana kamu mendapatkan uang triliunan untuk ganti rugi ke perusahan Brazil itu. Apa kamu bodoh? Kamu melakukan perjanjian kerja yang merugikan pihak kita secara diam diam,” lagi lagi map di tangan Johan mendarat di punggung Brian.
Brian tak sempat menghindar. Emosi sang ayah telah memuncak, ia terus menerus memukul punggung Brian.
“Hentikan ayah. Ini semua salah Arkan!” teriak Brian.
Emosi sang ayah semakin menjadi. Bahkan kini kedua tangannya menarik telinga Brian seperti sedang menjewer anak kecil.
“Ayah sakit, ampun ayah,” jerit Brian kesakitan.
Tiba tiba dari arah belakang Soraya muncul dan melerai Johan dan Brian.
“Ada apa ini apa yang terjadi? Hentikan! Kamu siapa?” ucap Soraya yang dengan sigap menjauhkan tangan Johan dari telinga Brian.
“Ini bukan salah ku. Ini semau karena Arkan, dia yang membatalkan kontrak dengan perusahan Belize. Padahal aku sudah melakukan kontrak jangka panjang dengan mereka secara pribadi!” ujar Brian tegas.
__ADS_1
“Sekarang kamu menyalahkan Arkan? Kamu tau perusahan Belize bersikap semaunya dengan kontrak karena kamu pasti setuju dengan persyaratan yang mereka ajukan?! Semua karena kamu sudah di ikat mereka dengan kontrak mu terlebih dahulu. Kamu bodoh!” ujar Johan.
“Ini memang salah Arkan. Tugas dia di bali hanya untuk tanda tangan kontrak dengan Belize. Tapi malah kontrak dengan Amor,” bela Brian terhadap dirinya.
“Apa yang terjadi di rumah ku?” tanya Soraya. Namun kedua pria itu tetap beradu mulut satu sama lain seperti tak menganggap Soraya ada di situ.
“Ini salah kamu. Apa yang kamu lakukan saat itu? Kenapa mengutus Arkan ke sana? Kamu pikir semua perbuatanmu aku tidak tau!” bentak Johan.
Johan kembali maju kemudian memukul pundak anaknya.
“Dimana kakek Hendy?” tanya Johan.
Brian sedikit shok, ayah nya tau soal kakek Hendy dari siapa?
“Dimana kakek Hendy?” tanya Johan lagi dengan sangat marah.
“Aku tidak tau!” jawab Brian sambil berpikir keras.
“Apa yang sudah kamu lakukan dengan kakek!? Anak bodoh!”
“Aku tidak tau ayah. Aku tidak tau kakek itu melarikan diri ke mana.” ucap Brian.
“Ayah?” gumam Soraya.
“Apa yang bisa di lakukan pria cacat itu? Dia tidak memliki apa pun selain perkebunan nya itu,” gumam Brian dengan wajah jengah.
“Kamu pikir kakek itu tidak punya apa apa? Kakek itu bisa memberikan kamu uang berapa pun yang kamu butuh dengan perkebunan nya itu,” ucap Johan.
“Kakek itu tidak punya apa pun sekarang. Aku sudah menggadaikan perkebunan ke tangan orang.” ujar Brian sembari menunduk.
“Apa? Kenapa? Bagaiaman kamu melakukan itu?” ucap Johan seraya memegang kedua dadanya. “Kamu benar benar buta menilai orang. Jika kakek itu hanya memiliki perkebunan, untuk apa ayah menikahkan dia kepadamu. Kamu sudah menggali lubang kemiskinan untuk keluarga mu Brian,” ujar Johan sebelum akhir nya jatuh ke atas lantai.
“Ayah. Ayah…”
Brian berusaha membangunkan ayahnya yang sedang terkulai lemas di atas lantai. Sedangkan Soraya langsung menghubungi ambulance saat itu juga.
.
.
.
__ADS_1
“Yan, gimana kabar ayah?” tanya Soraya sambil memijit lembut punggung Brian.
“Ayah sakit jantung,” jawab Brian singkat.
“Kamu tidak membawa ku menjenguk ayahmu?” tanya Soraya.
“Ayah belum sadar, sia sia kamu menjenguknya sekarang. Lagian di Singapura ayah di jaga ketat, dokter melarang siapa pun datang menjenguknya. Dia butuh istirahat total,” ujar Brian.
Soraya menjadi khawatir dengan keadaan Brian. Tidak biasanya Brian menjadi murung dan diam seperti itu. Sejak pertengkaran dengan ayah nya beberapa hari lalu, Brian menjadi penyendiri. Ia memikirkan masalahnya sendiri tanpa ingin berbagi dengan Soraya.
Soraya masih membutuhkan banyak dana dari Brian. Kampanye politik ayah nya ke berbagai daerah masih berlangsung. Jika Brian lepas tangan maka kecil kemungkinan sang ayah menjadi gubernur kali ini.
“Yan, saat papa sudah menjadi gubernur, kamu akan mudah mendapat uang dari perbankan. Papa pasti akan menolong mu. Perusahan mu pasti akan baik baik saja,” ujar Soraya.
“Kamu tenang saja, aku tetap akan menyiapkan dana untuk papamu seperti yang aku janjikan,” ucap Brian datar seraya memijit mijit pelipis nya.
“Tapi perusahan? Perusahan butuh dana yang tidak sedikit saat ini. Darimana kamu?” tanya Soraya.
“Ada atau tidak adanya perusahan aku akan menepati janji ku, kamu tidak usah memikirkan perusahan. Aku dan papa mu punya perjanjian tersendiri soal politik. Kamu tenang saja.” timpal Brian.
Hati Soraya sedikit lega. Brian masih akan mendukung kampanye serta dana untuk ayahnya.
“Kalau kamu punya masalah lain, kamu cerita dong Yan, aku akan membantumu mencari solusi,” ucap Soraya.
“Aku sedang pusing memikirkan perusahan dan kakek tua itu, aku sudah salah menculik nya waktu itu. Sekarang kakek itu mungkin sudah meninggal di suatu tempat. Masalahnya aku sudah pernah membuat statemant bahwa kakek Hendy ada di kampung halamannya. Jika publik tau kakek sudah meninggal berarti Wulan akan jadi pewaris tunggal. Wulan adalah istriku, aku akan menjual semua peninggalan kakek itu. Kamu tau perkebunan itu ternyata memiliki kandungan emas yang sangat banyak? Bukan sawit yang membuat tanah itu berharga tapi emas didalamnya!” Nada Brian tiba tiba begitu antusias. Ia membayangkan uang besar yang akan segera di milikinya.
“Sial, seharusnya dari awal aku mengatakan jika kakek itu sudah meninggal,” lanjut Brian.
“Kamu sudah menggadai tanah itu, kamu lupa?”
“Itu perkara mudah, aku akan menebusnya segera dan mengambil alih perkebunan itu. Aku akan menjadi seorang pengusaha tambang emas terbesar di dunia dan satu hal lagi.” Brian meraih tangan Soraya kemudian menggenggamnya erat. “Ayah mu berjanji padaku, dia akan membantuku menjadi orang nomor satu di negara ini. Dia sedang menyiapkan jalan untuk ku! Dan kamu, akan menjadi ibu negara ini,” lanjut Brian dengan mata yang berbinar bahagia.
“Bagus lah, aku dan ayah selalu mendukung dan akan membantu mu. Kami akan membantu mewujudkan keinginan mu,” ujar Soraya.
“Apa jadinya negri ini, jika orang seperti Brian yang menjadi pemimpin? Ambisi mu terlalu besar Yan.” batin Soraya.
.
.
.
__ADS_1
TBC..