Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Khawatir-


__ADS_3

Brian saat itu masih terkapar di atas lantai. Kedua insan yang kini tengah menyelami perasaan mereka masing masing masih enggan melepaskan pelukan satu sama lain.


Bi Narsih makin gelisah, bagaimana jika tuan Brian siuman? Saling pukul dan saling tendang tak bisa terelakkan lagi antara Arkan dan Brian. Setelah berpikir sedikit berani, bi Narsih akhirnya menginterupsi aksi yayang yayangan Wulan dan Arkan.


“Tuan, nyonya ayo pergi sebelum tuan Brian bangun,” ujar bi Narsih.


Wulan berinisiatif melepas pagutan bibir Arkan.


“Mas kita harus pergi sekarang!” ucap Wulan sembari merangkak turun dari atas ranjang.


Sekujur tubuhnya terasa retak semua, persendiannya nyeri namun ia harus bangun dan pergi dari rumah itu.


“Cepatlah Nyah,” ucap bi Narsih. Ia membantu Wulan dengan memapah lengan Wulan.


“Auugghh,” pekik Wulan seraya menarik lengan kirinya. Wajahnya terlihat sedang menahan sakit.


“Maaf Nyah, bibi nggak sengaja,” ucap Bi Narsih kemudian melepaskan lengan Wulan.


“Aku akan membawa Wulan turun, bibi tolong kunci pintu kamar ini dari luar. Setidaknya kita bisa menahan Brian sejenak hingga kita berada di tempat aman,” ujar Arkan. Ia langsung memapah tubuh Wulan dan membawanya keluar dari rumah itu.


Bi Narsih melakukan apa yang di perintahkan Arkan, pintu kamar tersebut di kunci dari arah luar. Ia kemudian bergegas menyusul Arkan ke mobil yang terparkir melintang di depan pintu masuk.


Bi Narsih dengan sigap masuk ke dalam mobil.


“Bi?” Panggil Buto si pengawal pribadi yang jarang bicara itu. Ternyata sedari tadi ia sudah menunggu di depan pintu.


“Buto, kami pergi dulu. Selamat tinggal,” pamit bi Narsih.


“Saya ikut bi, tugas saya mengawal nyonya. Saya ingin tetap menjadi pengawalnya,” ucap Buto dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Kamu tinggal disini, sekarang nyonya tidak butuh pengawal lagi,” tolak bi Narsih.


“Mas, bisakah kita membawa Buto?” tanya Wulan lemah.


Wajah arkan terlihat ragu, “apa dia bisa dipercaya. Bagama kalau dia malah membahayakan kamu?” tanya Arkan.


“Buto tidak berbahaya, dia hidup sendirian tanpa keluarga. Jika kita meninggalkannya, dia akan kehilangan pekerjaan,” ujar Wulan.


“Baik lah.” Arkan hanya bisa menuruti permintaan Wulan. “Bi ayo suruh dia masuk.”


“Buto ayo masuk,” ajak bi Narsih.


Akhirnya mobil Arkan berlalu keluar dari rumah mewah tersebut.


Kini perasaan Arkan sedikit lega, setidaknya wulan sudah berada di tangannya. Masalah selanjutnya, akan dia pikirkan setelah Wulan berada di tempat aman.


Mobil terus melaju. Di balik kemudi Arkan sedang memikirkan sebuah tempat aman yang cocok untuk di jadikan tempat persembunyian Wulan. Jika ia membawa Wulan pulang ke rumahnya, tentu saja Brian akan menemukan mereka segera. Ke rumah Jenny juga tidak mungkin, Brian berhak menjemput Wulan kapan pun karena dia adalah istrinya.

__ADS_1


Sesekali Arkan menatap Wulan yang masih bersandar lemah di sampingnya.


“Apa dia baik baik saja?”


Arkan mengelus lembut kepala Wulan.


“Setelah mendapatkan tempat aman, aku akan mengirim dokter untuk merawat luka mu,” batin Arkan.


Arkan kemudian meraih ponsel nya dari atas dashboard mobil kemudian menghubungi Jenny.


“Ma. Mama dimana? Sibuk gak?” tanya Arkan.


“Mama di rumah teman. Kamu pulang makan di rumah kan? Mama sudah pesankan ayam kalasan dari warung bu Mini. Mama sudah telpon bibi untuk menyiapkan makan malam mu,” ujar Jenny panjang lebar.


“Ma,” panggil Arkan lagi.


“Hmmm,” sahut Jenny.


“Aku bersama Wulan sekarang, aku membawa nya kabur dari rumahnya,” ucap Arkan.


“What? Bentar bentar mama keluar dulu,” ucap Jenny. Suasana hening sejenak. Ia berjalan menuju tempat yang agak sepi untuk berbincang dengan anak nya.


“Cepat juga kamu beraksi, kenapa bertindak nggak kabari mama sih?” tanya Jenny.


“Maaf Ma. Sekarang aku butuh bantuan mama, Wulan butuh tempat aman. Aku bingung harus membawanya ke mana,” ucap Arkan to the point.


“Kalian bisa ke vila teman mama di Cipanas, disana aman,” ucap Jenny.


“Kenapa dengan Wulan?” Suara Jenny mulai terdengar panik.


“Nanti aku ceritakan, sekarang aku butuh medis. Bukan hanya sekedar dokter. Tapi beserta ruang perawatan,” ucap Arkan.


“Oke oke, Sebentar kamu tutup dulu.” Jenny kemudian mengakhiri panggilan telponnya.


Arkan masih memegang ponselnya menunggu kabar Jenny. Arkan terus mengalihkan pandangannya ke arah Wulan. Ia panik melihat Wulan yang duduk di samping kirinya tanpa suara sama sekali.


“Wulan?” panggil Arkan sambil menggoyang goyangkan bahu Wulan.


“Wulan, kamu baik baik saja kan?” tanya Arkan. Ia begitu khawatir namun tetap berusaha tenang. Ia tidak bisa membawa Wulan ke tempat yang salah saat itu.


“Tuan, nyonya kenapa?” tanya bi Narsih ikut khawatir.


“Sepertinya Wulan pingsan bi, bibi bawa minyak kayu putih? Bisa oleskan ke kepala dan hidungnya?” tanya Arkan. Untuk saat itu hanya hal ini lah yang bisa di lakukannnya.


“Bawa tuan, di tas bibi,” bi Narsih langsung melakukan hal yang di perintahkan.


Selang beberapa saat, ponsel Arkan berdering.

__ADS_1


“Ma?”


“Kalian ke Hotel Grand Mulia sekarang, langsung ke lantai 47. Lewati tangga darurat, heli sudah menunggu kalian di sana,” ucap Jenny.


“Baik ma, makasih.”


Arkan langsung mencari celah di antara jalanan padat kendaraan itu, ia langsung berbalik arah menuju hotel Grand Mulia seperti yang di ucapkan Jenny.


Sebisa mungkin Arkan mendahului setiap kendaraan di hadapannya. Tentu ia tak sabaran untuk membawa Wulan ke sebuah rumah sakit atau pun klinik. Namun dengan kekuasaan Brian saat ini, tak mudah untuknya menemukan keberadaan mereka dengan cepat.


Mobil terus melaju meninggalkan keramaian jalanan poros ibu kota. Arkan terus memicu mobilnya hingga batas maksimal. Hingga tiba di tempat tujuan.


Setiba di bangun tinggi menjulang tersebut, Arkan langsung mengangkat tubuh Wulan menuju lift. Setelah berada di Lantai 47, ia harus naik satu lantai lagi melalui tangga darurat untuk tiba di landasan helikopter.


Benar saja, sebuah helikopter Airbus EC155B1 sudah menunggu disana.


“Daniel, kunci mobil sudah aku titip di loby hotel Grand mulia. Kamu ambil mobil sekarang juga. Jangan sampai Brian menemukan jejak kami,” perintah Brian melalui ponselnya sebelum meninggalkan landasan itu.


…ooOoo…


Beberapa saat setelah kepergian Arkan dan Wulan dari rumah besar itu, Brian pun bangun dari pingsan nya. Beberapa saat kepalanya terasa pening akibat pukulan beruntun dari Arkan.


Brian mencoba bangun dan berjalan keluar dari kamar itu. Namun pintu tampak sedang terkunci dari luar.


Dengan penuh amarah Brian menendang dan memukul pintu itu dengan barang apa pun yang di temuinya.


Braakkk


Braaakkk


Braaaakkk


Suara hantaman benda benda seperti meja dan kursi terus berbunyi saling berbenturan.


“Arkan! Wulan! Lihat saja nanti, aku akan membunuh kalian. Aku akan membuat kalian mati mengenaskan. Aku akan membuat kalian memohon untuk setiap perbuatan kalian ini, hingga kalian mati tanpa ada yang bisa membantu kalian!” Teriak Brian sambil dengan brutal menghancurkan kamar itu. Ia terus berkoar menyebut nama Arkan dan Wulan.


Suara hantaman pintu hingga merembes ke jendela kaca. Ia terus berulang ulang ia berteriak tak karuan akibat emosi. Brian hampir tidak dapat mengontrol dirinya saat itu.


“Tuan.”


“Tuan, anda di dalam?”


Suara dari dua orang penjaga kemudian membukakan pintu untuknya keluar.


.


.

__ADS_1


.


TBC…


__ADS_2