
Bip
Bip
Bip
Lagi lagi ponsel Brian berdering. Ia langsung meninggalkan kamar dengan terburu buru begitu mendengar bunyi dering tersebut.
“Ini ketiga kalinya dia keluar kamar untuk mengangkat panggilan telponnya. Apa segitu penting panggilan telponnya itu hingga harus berjalan cepat keluar dari sini?” gerutu Wulan setelah Brian keluar dari situ.
Setelah kepergian Brian beberapa menit, seorang dokter masuk ke ruangan tersebut.
“Bu Wulan,” sapa Siska, dokter muda yang bertugas jaga siang di ruangannya.
“Iya dok?”
“Bu Wulan sudah diperboleh kan pulang sekarang. Barang barang ibu akan saya bereskan,” ucap dokter Siska.
Wulan hanya diam dan sedikit kebingungan dengan keputusan pulangnya yang begitu tiba tiba.
“Padahal dokter Rudi mengatakan besok baru bisa pulang, kenapa sekarang malah di suru pulang. Buru buru langsung siap siap. Tapi ya sudahlah, dokter Siska akrab dengan Brian. Mungkin ini keputusan Brian,” batin Wulan.
Sambil mengemas barang barang, dokter Siska tak banyak bicara. Ia membawa sebuah paper bag biru. Setelah memasukkan asal barang Wulan ke dalam paper bag itu ia langsung menarik masuk kursi roda dari depan pintu.
“Mari bu, saya akan mengantar ibu ke luar. Sopir pak Brian sudah menunggu ibu di depan,” lanjut dokter Siska.
“Tapi saya masih mengenakan pakaian pasien, saya harus ganti baju dulu,” ucap Wulan.
“Nggak perlu, aba aba dari pak Brian adalah harus membawa pulang ibu secepatnya. Ia tidak bisa ke sini karena ada urusan penting. Soal pakaian itu, nggak usah dipikirkan bu. Keluarga pak Brian sudah banyak berdonasi di rumah sakit ini, hanya sebuah pakaian seharus tak masalah. Rumah sakit tak akan memperhitungkannya,” jelas dokter Siska.
“Baguslah, aku nggak memiliki baju ganti. Nggak mungkin aku memakai kembali pakaianku kemaren. Kemaren aku mengenakan pakaian Arkan… Arkan, seharusnya dia sudah tiba di Bali sekarang.” batin Wulan.
Dokter Siska membawa Wulan keluar dari kamar kemudian menyerahkan nya pada seorang pria yang sudah menunggu di depan pintu.
“Anda siapa tanya Wulan karena laki laki itu terlihat sangat asing di matanya.”
“Tuan menugaskan saya, mulai hari ini saya adalah sopir anda,” ujar Pria itu kaku dan tegas.
“Tapi aku sudah memiliki sopir sendiri, pak Arman bisa menjemputku ke sini,” tolak Wulan.
Melihat tubuh sopir tersebut terlalu besar dan di beberapa bagian tubuhnya di penuhi tatoo, Wulan jadi enggan mengikuti orang tersebut.
Wulan bangkit dari kursinya mengambil paperbag biru dari tangan dokter Siska.
“Berikan barang barang saya dok,” pinta Wulan.
Wulan kemudian mencari cari sesuatu dari dalam paper bag tersebut.
__ADS_1
“Dimana ponsel ku?” Wulan kembali masuk ke dalam kamar mencari ponsel miliknya kemudian kembali keluar. “Dokter melihat ponsel ku? Aku menyimpannya dalam laci.” tanya Wulan.
“Bu Wulan, aku hanya membereskan pakaian ibu. Aku tidak melihat ponsel di sana,” jawab dokter Siska.
“Cepatlah nyonyah, tuan meminta saya menjaga nyonyah dia tidak ingin nyonyah keluyuran tanpa sepengetahuannya,” ucap pria itu.
“Keluyuran? Apa maksudnya?” tanya Wulan. Ia mulai gusar, sebenarnya apa yang terjadi?
“Saya akan mengantar nyonyah pulang ke rumah, nyonya bisa bertanya kepada tuan Brian begitu tiba di rumah,” jawab Pria itu.
“Jadi sekarang Brian di rumah?” tanya Wulan.
“Saya tidak tau dimana tuan, maksud saya nyonya bisa bertanya kepada tuan dirumah nanti,” jelas pria bertato tersebut.
Wulan merasa curiga dengan pria di depannya.
“Benarkah dia orang utusan Brian? Selama ini Brian tidak peduli denganku. Jangan jangan dia ingin menculik ku? Aku harus berhati hati. Mungkin saja di komplotan yang ingin menculik ku setelah menculik kakek,” batin Wulan.
“Aku bisa pulang sendiri. Aku akan menghubungi pak Arman sopir saya,” ucap Wulan
Pria bertubuh besar itu langsung mengeluarkan ponsel ditangannya kemudian menghubungi seseorang.
“Tuan, nyonya tidak ingin pulang. Ia akan menunggu sopir nya sendiri.” lapor pria itu.
“Aku tidak punya waktu mengutus hal sepele seperti itu. Jika perlu kamu angkat dia kemudian bawa dia pulang sekarang,” bentak Brian dari ponselnya.
“Nyonyah, jika anda tidak menurut saya akan memaksa anda supaya ikut dengan saya pulang,” ucapnya lagi kemudian bergerak mendekati Wulan.
“Stop, aku akan pulang dengan mu.”
Pria itu langsung berhenti.
Wulan tau suara yang terdengar keluar dari ponselnya barusan adalah suara Brian. Pria seram itu memang adalah anak buah Brian, dia bukan seorang penculik.
Wulan pun memutuskan ikut dengan pria berkulit hitam, tinggi, besar dan tatoan itu keluar dari rumah sakit. Dari tampangnya pria itu terlihat sangat menyeramkan tapi sikapnya mungkin saja baik hati, buktinya ia bersedia membawa barang bawaan Wulan. Dia berjalan tegap dan berani di depan, bak seorang artis terkenal kemana pun Wulan pergi ia akan selalu di kawal.
Wulan menuju sebuah mobil yang terparkir di dekat pintu keluar samping rumah sakit.
Wulan semakin yakin jika pria ini adalah orang yang di utus Brian. Mobil silver yang di gunakan mereka saat itu adalah salah satu mobil Brian yang terparkir di garasi rumah.
“Silahkan nyonya,” ucap Pria itu kemudian membukakan pintu mobil untuk Wulan.
“Ada baiknya juga punya sopir pribadi, aku tidak perlu merepotkan Arkan setiap hari. Arkan benarkah dia?” batin Wulan.
Ia teringat ucapan Brian pagi tadi, bahwa Arkan menyukai dirinya. Ucapan yang sama juga pernah di ucap kan Renata. Bahkan Arkan sendiri sudah pernah memberitahu Wulan bahwa ia akan menikahi Wulan.
“Dia sungguh menyukaiku atau hanya karena ingin mendapatkan apa yang dimiliki Brian saat ini?”
__ADS_1
Tiiiiinn
Tiinnn
Suara klakson mobil berulang ulang membuat fokus Wulan teralih ke arah jalanan.
“Ada kejadian apa di luar?” tanya Wulan.
“Kecelakaan,” jawab pria itu singkat.
Mobil terus melambat melalui kerumunan orang orang di pinggir jalan. Sebuah mobil Daihatsu baru saja menabrak kendaraan bermotor yang di kendarai oleh seorang pria tua.
“Kakek. Kakek dimana sekarang?” gumam Wulan. Ia tiba tiba teringat sang kakek. Tak terasa airmata mengalir dari kedua sudut matanya. “Semoga kakek baik baik saja dimanapun kakek berada. Semoga ada orang baik yang mau menolong kakek jika terjadi sesuatu dengan kakek.”
“Tuan Brian. Aku ingin tanya kepadanya pencarian kakek sudah sampai tahap apa?”
“Pak?” panggil Wulan.
Pria itu tak bergeming, ia hanya terus fokus pada kemudi mobilnya.
“Pak, pencarian kakek apa kah berjalan dengan baik?” tanya Wulan.
“Maaf nyonya, tugas saya hanya menjaga nyonya, saya tidak tau urusan lain selain tetap berada di sisi nyonya,” jawab pria itu.
“Kalau begitu saya harus memanggil kamu apa?” tanya Wulan lemah.
“Buto,” jawabnya.
“Buto? hanya Buto?” tanya Wulan lagi.
“Orang orang memanggilku seperti itu.”
“Nama yang aneh.”
“Pak Buto, bisa di perlambat laju kendaraannya? Saya ingin melihat lihat sekeliling jalanan siapa tau saya bisa menemukan kakek,” pinta Wulan.
Mendengar ucapan Wulan, kendaraan yang tadi nya melaju cepat kini mulai melambat.
“Kakek.. Wulan merindukan kakek..”
Mata Wulan mulai menyisir setiap jalanan yang dilaluinya. Sambil berdoa dalam hatinya agar sang kakek bisa segera di temukan.
.
.
.
__ADS_1
TBC…