Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Kronologi-


__ADS_3

Dalam keadaan kritis Brian membawa Arkan menuju rumah sakit terbaik di Jakarta.


Brian teringat akan perjanjian ia dan ayahnya. Jika Brian membunuh orang lagi, maka ia akan disingkirkan dari perusahan.


Jika, bukan karena perjanjian Brian dengan Ayah dan tante Jenny itu, Brian tidak akan membawa Arkan ke rumah sakit. Tante Jenny dan ayahnya sudah mengancam akan menarik semua aset dan kekuasaan Brian di perusahan jika ia melakukan pembunuhan lagi.


Bagaimana kedua kakak beradik itu tau apa yang di lakukan Brian? Dan kali ini korban nya adalah Arkan. Tidak, Brian tidak bisa membayangkan bagaimana marah nya mereka kali ini.


“Sheee eetttt” umpat Brian. “Kamu ke pulau untuk apa? Kamu bodoh menyerahkan diri seperti itu di kandang singa!” gumam Brian.


“Kalian sini,” Brian memanggil dua orang pekerja yang saat itu ikut dengannya.


“Apa yang terjadi, kenapa bisa kejadian seperti ini?” tanya Brian.


“Pria ini melawan semua orang, kami menjadi marah kemudian memukulnya.” jelas pria itu.


“Itu karena dia yang menghantam kami terlebih dahulu boss,” jelas pria satunya.


“Kenapa, alasannya apa? Mana mungkin dia berani melawan kalian puluhan orang?” ucap Brian tak percaya.


Kedua pria itu tertunduk, bagaimana mereka menjelaskan soal kematian Wulan yang katanya adalah istri boss?


Melihat tingkah kedua anak buahnya itu, Brian menjadi curiga.


“Kenapa apa yang terjadi?” tanya Brian.


“Itu boss, pria ini datang mencari wanita bernama Wulan.”


“Aku tau dia ke sana mencari Wulan. Cihhh, hanya demi seorang Wulan kamu rela di pukul seperti ini Ckck,” decak Brian sambil menatap Arkan yang masih tak sadar.


“Jika dia datang mencari Wulan, kenapa kalian memukulnya seperti ini. Kalian tau dia siapa?” Brian mendekati kedua pria itu kemudian menatap garang seolah ingin membunuh keduanya.


“Kami kami tidak tau siapa pria ini. Dia dia menyerang kami membabi buta, kami terpaksa melawannya,” ucap Pria itu.


Brian menampar pria itu. “Dia adalah sepupuku tercinta, dia belum bisa mati sekarang!” tegas Brian.


Brian berbalik membelakangi kedua pria tersebut. Ia menatap ombak yang membelah laut malam di belakang kapal.


“Jika bukan karena ayah dan tante Jenny, aku pun sangat ingin menyingkirkan nya. Sangat mudah, aku tinggal membuangnya di laut, dia akan menjadi santapan binatang binatang laut!” batin Brian yang di penuhi hawa membunuh.


Di belakang Brian, kedua pria itu saling senggol menyenggol lengan. Mereka terlihat berdebat entah hal apa dan saling melempar tatapan.


“Ada apa?” tanya Brian curiga.


“Itu tuan anu,” ucap pria itu ragu.


“Ada apa, cepat katakan!”

__ADS_1


“Tadi sebelum tuan ini datang, terjadi sesuatu di pulau,” jawabnya.


Brian berjalan menuju sebuah kursi kemudian duduk di sana. Ia menunggu penjelasan dari pria yang sedang berbicara.


“Terjadi apa?” tanya Brian dengan mimik datar.


“Wulan melarikan diri.” jawab pria itu spontan.


Brian kembali berdiri dari kursi nya. “Melarikan diri, bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa melarikan diri dari pulau itu!” tanya Brian tak percaya.


“Di tolong seorang pria,” ucap pria yang satunya.


“Siapa siapa yang berani membawa istriku pergi dari pulau itu?” tangan Brian sudah memegang kerah baju salah seorang anak buah itu.


“Ka kami tidak tau boss, seorang pria datang menyelamatkannya dengan perahu,” ucap pria itu gugup.


“Siapa?” gertak Brian.


“Kalian puluhan orang tidak ada yang menangkap mereka? Kalian membiarkan mereka lolos begitu saja?” hardik Brian.


Kedua pria itu tak berkutik, mereka tau betul seperti apa Brian. Beberapa rekan mereka mati di bunuh akibat melawannya.


“Mereka tidak lari, mereka sudah mati,” lanjut pria satunya.


“Mati? Bagaimana mereka mati?” tanya Brian.


Brian berjalan mendekati keduanya.


“Kalian yakin mereka sudah mati?” tanya Brian.


Pria itu mengangguk. “Perahu kano yang mereka tumpangi di penuhi darah, kemungkinan mereka sudah terjatuh ke laut.”


“Ada bukti bahwa mereka sudah mati?” tanya Brian datar.


“Saat kami mencari jenasah mereka, saat itulah tuan ini datang. Dia terlihat sangat marah saat mengetahui nona Wulan sudah meninggal.”


Brian mengangguk paham. “Dia mati lebih baik dari pada dia lolos begitu saja dari pulau ini. Seharusnya aku sudah membunuhnya sejak lama, wanita itu sangat merepotkan ku.”


Brian berdiri menatap kedua pria itu. “Siapa pria yang datang menolongnya?” tanya Brian.


“Kami tidak tau tuan, kami tidak kenal.”


“Ya sudah, kalian pergi sana,” perintah Brian. Kedua anak buahnya itu pun pergi dari hadapannya.


Menjelang subuh, kapal cepat Brian sudah tiba di pesisir dermaga. Ia sudah menghubungi anak buah nya untuk menyiapkan ambulance.


Arkan di bawa menuju rumah sakit ternama diJakarta. Ia pun langsung di tangani oleh dokter dokter terbaik.

__ADS_1


Dengan segala fasilitas yang dimiliki rumah sakit itu, Arkan di layani dengan cepat dan tepat. Kondisinya saat itu sangat kritis. Pendarahan dan retak di beberapa bagian tubuh.


Sebagai seorang pasien VVIP, Arkan di berikan sebuah ruangan terbaik, sebuah penhouse ruangan perawatan paling atas di gedung rumah sakit tersebut.


“Pak Brian,” panggil seorang kepala dokter.


Brian mendatangi dokter tersebut.


“Pak Arkan harus kami operasi secepatnya. Hasil Ct Scan dan MRI, terdapat gumpalan darah di bagian otak kirinya,” ucap Dokter itu.


“Ya operasi lah,” ucap Brian asal.


“Bapak bisa menandatangani surat persetujuan operasi? Atau kalau ada orang tua atau istri dari pasien bisa pak Brian minta mereka ke sini segera?” tanya dokter itu.


“Arkan sepupu ku, aku yang akan menandatangani nya,” ucap Brian.


“Lakukan saja operasi secepatnya, penuhi semua yang di butuhkan pasien. Aku yang akan bertanggung jawab sebagai walinya,” lanjut Brian.


“Baiklah pak,” ucap dokter itu.


Pukul sepuluh pagi itu, tim dokter langsung melakukan operasi kepada Arkan.


Operasi yang sangat panjang. Selain harus mengangkat penggumpalan darah di otak belakang, Arkan juga harus melakukan operasi pada tulang rusuk dan tulang kakinya yang patah.


Hingga delapan jam kemudian.


Para dokter keluar dari ruangan operasi.


Mereka mencari Brian atau siapapun keluarga nya di situ, namun tak ada seorang pun pihak keluarga yang menunggu Arkan didepan pintu.


“Suster?” panggil dokter Edo.


“Ya dok,” seorang suster langsung menghampiri dokter Edo.


“Nggak ada pihak keluaraga yang datang?” tanya dokter Edo.


Suster itu menggeleng. “Keluarga nya langusng pergi meninggalkan rumah sakit begitu pasien masuk ke ruangan operasi,” ucap Suster itu.


“Bagaimana aku harus menjelaskan hasil operasi ini, dan kemungkinan lainnya. Pasien masih sedang kritis sekarang. Hufffttttt.”


“Selain pria tadi, tidak orang lain yang bisa di hubungi,” ucap suster itu.


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2