Mahligai Perselingkuhan

Mahligai Perselingkuhan
-Kesibukan Yang Sia-sia-


__ADS_3

Mengingat paman Richard dan tante Jenny akan datang hari ini. Sejak pagi Wulan sudah sibuk di halaman samping rumah.


Ia membersihkan taman, mengganti lampu taman dengan yang baru, membeli meja dan kursi taman yang baru kemudian mengecat pagar pendek pembatas taman dan rumput di sekitar.


Semua ia lakukan bersama Buto.


Setelah merasa cukup lelah ia duduk di atas sebuah rumput sambil memilah milah beberapa model taman dari sebuah situs.


“Buto bagus jika di rubah seperti ini kan?” tanya Wulan sambil menunjukkan sebuah gambar.


“Tapi nggak sempat kayaknya,” ujar Buto.


“Panggil tukang taman, mereka bisa kerjakan. Membuat seperti ini nggak butuh waktu lama deh,” ujar Wulan.


“Tapi tukang taman nya cari di mana Nyah?” tanya Buto.


“Iya sih, tukang kebun kita yang waktu itu ga tau pindah ke mana,” ucap Wulan.


“Sementara seperti ini dulu Nyah, besok akan saya carikan pekerja yang lebih ahli,” ujar Buto.


“Wulan, ayo masuk makan?” panggil bi Indun dari dalam ruangan.


“Bentar lagi bi.”


Bi Indun pun menghampiri Buto dan Wulan.


“Membuat taman kan ga sebentar. Kenapa nggak bilang dari kemaren. Kan bisa bibi carikan tukang taman,” ujar bi Indun.


“Mendadak bi, tante Jenny bilang mau ke sini pas sudah di bandara kemaren.”


“Trus kenapa nggak di dalam rumah aja?” tanya Bi Indun.


Kepala Wulan menatap ke arah dalam rumah.


“Wajah kakek Serem bi, mending barbeque di luar, lebih santai nggak kaku. Apalagi kalau kakek sudah mulai ketus.”


“Ya sudah barbeque di luar. Segini sudah cantik kok, meja sudah di ganti. Lampu juga sudah, sudah di cat, apa lagi yang kurang?”


“Kurang perfect dan kurang romantis,” sahut Wulan.


Bi Indun menggelengkan kepalanya.


“Bibi masak apa?” tanya Wulan.


“Masak nasi dan sayur Asem. Kamu request Tempe nya di goreng polos ajakan? Sudah bibi gorengkan.”


“Sudah bibi sisihkan punya kamu yang polosan. Yang lain bisa makan yang berbumbu.”


“Buto ayo masuk kita makan,” ajak Wulan.


“Makin ke sini seleranya makin aneh deh,” gumam bi indu sambil berjalan masuk menyusul Wulan dan Buto.


Setiba di meja makan kakek sudah berada di sana bersama si kecil Zaka. Sedangkan Irma, ia sedang mengambil nasi dan lauk dari arah dapur.


“Ayo di makan! Ini kuah asam kakek dan Zaka, ini kuah asam Wulan, dan ini kuah asam kami agak pedas. Ini tempe tahu Wulan, ini punya kita. Ini ayam stim kakek dan Zaka. Wulan ayamnya goreng air fryer. Dan ini sambal bawang,” ucap bi Indun.


Wulan menatap meja yang saat itu menjadi sangat penuh hanya dengan beberapa menu sederhana.


“Maaf ngerepotin bibi,” ucap Wulan.


“Ya nggak ngerepotin toh Lan, ini kan untuk di makan, repot apanya?”


“Satu jenis kuah Asem tapi di masak nya beda beda, ya pasti repot. Goreng tempe tahu juga pisah,”


“Sudah ayo makan, bukannya kamu masih harus lanjut mengecat?”


“Buto ayo makan.”

__ADS_1


“Aku makan yang mana?” tanya Buto.


“Kamu bisa makan mana saja yang kamu bisa,”


Wulan memakan makanan nya dengan lahap, setelah menghabis kan sepiring nasi. Wulan mengambil kembali nasi dengan porsi yang sama. Sayur Asem tanpa bawang putih, tempe tanpa bumbu dan ayam yang di goreng tanpa minyak.


“Hmmm,” Wulan duduk bersandar setelah menghabiskan dua piring nasi.


“Nyonya sudah selesai?” tanya Buto.


Wulan mengangguk. “Makasih bi, makan siang nya luar biasa enak.”


Ucapan Wulan membuat Buto kepingin mencicip sayur Asem dan tempe yang di makan oleh Wulan.


“Jarang melihat nyonya se lahap ini, pasti enak,” gumam Buto.


Ia menuang kuah sisa di atas mangkok ke atas piringnya serta tempe yang terlihat kuning keemasan tanpa bumbu apa pun.


Setelah satu suapan masuk ke mulut Buto, wajah yang tadinya antusias berubah menjadi datar.


Melihat reaksi Buto. Bi Indun dan Irma terkekeh.


“Bibi, apa memang seperti ini rasanya?” Buto terpaksa menelan makanan yang sudah masuk ke mulutnya.


“Wulan minta yang ga ada bawang, aromanya pasti hambar to,” ucap bi Indun.


Saat itu juga Buto langsung menambah kuah pedas milik bi Indun dan sambal serta ayam goreng lainnya ke piringnya.


“Dua bulan di luar negri selera makan nyonya berubah drastis,” ujar Buto.


“Hooh, aku bosan lihat roti kentang roti kentang. Pokoknya makanan paling enak dalam otak ku adalah menu kuah asam bibi,” imbuh Wulan.


“Nggak ada yang lebih enak dari makanan di rumah.” tambah kakek.


“Iya bener kek,”


Pekerjaan mengecat mereka lanjutkan hingga pukul 3 sore.


“Wulan,” teriak bi Indun dari dalam rumah.


“Iya bi”


“Telpon kamu berbunyi,”


“Angkat bi, mungkin saja mas Arkan,” ucap Wulan.


Bi Indun mengangkat telpon sambil berjalan menuju ke arah Wulan.


“Seorang wanita,” ucap bi Indun.


Wulan mengambil ponsel dari tangan bi Indun.


“Lan,”


“Hai Ren.”


Renata diam sejenak.


“Aku sebal, kamu nggak jadi mati toh?”


“Nggak, aku masih di beri kesempatan hidup haha.”


“Kalau nggak telpon mas Arkan, aku pasti nggak tau kamu dah di Jakarta.”


“Udah tiga bulanan lah di Jakarta, sebelumnya aku tinggal si hutan Ren ga punya ponsel. Lagian kamu di malaysia gimana caranya aku telpon? Btw kata mas Arkan usaha kamu disana lancar.”


“Iya, bokap yang minta aku pegang usahanya di sini. Di Jakarta bosan ga ada kamu dan Sarah.” ucap Renata.

__ADS_1


“Loh Sarah?”


“Gi hamil 8 bulan, ga bisa di bawa jalan.”


“Alhamdulillah deh.”


“Dia di Kalimantan. Terakhir ketemu yang bareng kamu itu,”


Di tengah serunya percakapan Wulan dan Renata, tiba tiba langit mulai mendung. Butiran kecil air hujan pun perlahan menyirami tanah.


Selang setengah jam, langit semakin mendung. Volume air hujan menjadi semakin deras.


Setelah menutup telpon, Wulan duduk melongo di teras menatap taman yang baru saja di cat nya bersama Buto di guyur hujan. Cat yang belum seberapa kering itu langung luntur seketika.


Wajah Wulan langsung murung.


“Sudah capek capek di cat malah hujan,” gumamnya.


“Besok akan Buto cat lagi Nyah,” ucap Buto yang masih setia duduk di samping nya.


“Tapi, acara barbeque kita malam ini batal dong.”


Wulan menatap jam digital pada ponsel nya, waktu sudah menujukkan pukul 4 sore.


“Kayaknya hujan makin deras Lan, masuk lah.” ucap kakek dari arah dalam.


“Besok kan masih bisa di lanjutkan.” Lanjut kakek.


Wulan mengangguk.


“Hatchi.”


“Sana mandi, kepala kamu kena hujan, tar masuk angin,” ucap kakek begitu melihat Wulan mulai bersin bersin.


“Ya sudah, Wulan masuk mandi dulu.”


Wulan berjalan masuk menuju kamar sambil menelpon Arkan.


“Mas,”


“Iya sayang.”


“Jam berapa ke sini?”


“Sekarang, aku lagi di jalan mau jemput ayah dulu. Singgah ambil mama di rumah trus langsung ke tempat kamu,”


“Acara barbeque kita batal mas, hujan.”


“Nggak apa apa sayang nggak ada barbeque, yang penting niat mama dan ayah sudah kesampaian bertemu dengan kakek.”


“Jadi mas ke sini makan nya apa dong?”


“Makan apa saja boleh. Yang penting ga ngerepotin kamu.”


“Hatchi,”


“Kamu pilek ya?”


“Hmm, sepertinya mulai gejala flu. Tar minum obat juga sembuh.”


“Ya sudah, mas hati hati di jalan. Aku mau mandi dulu.”


.


.


.

__ADS_1


TBC…


__ADS_2