
“Anak ini, berbuat seperti itu pada Wulan apa kamu nggak malu? Kenapa nggak sabar sedikit? Setidaknya mama harus bertemu kakek Hendy dan melamarnya untuk mu,” ujar Jenny.
“Mama ngomong apa?”
Jenny mengangkat kedua tangannya ke atas pinggang.
“Kita belum melamar Wulan ke kakeknya, nggak sopan sekali kamu. Setidaknya hargailah pasangan kamu,” lanjut Jenny.
“Ma?” Arkan berdiri sambil menggaruk kepalanya. Ia tidak tau maksud ucapan mamanya. Sejak kapan ia tidak menghargai Wulan? Bahkan ia bersedia melakukan apa pun yang Wulan minta.
“Wulan apa dia berlaku kasar padamu?” tanya Jenny.
“Nggak tante,” jawab Wulan.
Jenny menarik kursi untuk Wulan duduk di meja makan.
“Langsung tendang saja jika dia memaksamu,” ucap Jenny.
Wulan menunduk malu. Ia tau apa maksud pembicaraan jenny.
Arkan menuju meja makan sambil menggerutu di samping Wulan.
“Kapan aku kasar sama orang yang aku sayangi.”
“Kalau kalian sudah sah menikah, cepat berikan mama cucu yang banyak. Sekarang kamu belum mengantongi izin dari paman Johan. Kamu lupa Wulan masih menatu paman mu? Jika Wulan hamil dan kakek Hendy tau, mama akan semakin repot. Kakek Hendy masih marah dengan keluarga kita,” ujar Jenny.
Arkan menatap mamanya, ia baru sadar jika mamanya berharap agar ia dan wulan segera menikah.
“Kapan paman siuman?” tanya Arkan.
“Mana mama tau, mama bukan tuhan?
“Jadi apa kata dokter?”
“Operasi nya berjalan lancar, Mudahan sore ini sudah bisa sadar.”
“Jadi sore ini kita ke rumah sakit ketemu paman sayang,” Arkan menarik jemari Wulan kemudian menggenggam tangannya.
Dengan sigap tangan Jenny, memukul punggung tangan Arkan.
“Apa sih, pegang pegang. Ada mama saja kamu genit gitu gimana kalau mama ga ada?”
“Ini sayang di makan, mama beli di jalan tadi sebelum ke sini,” ucap jenny sambil menyodor sebuah mangkok kepada Wulan.
“ini bubur ayam Singapore yang paling terkenal di orchid street. Jam 6 pagi kedai bubur ini sudah buka. Jadi tante langsung ke sana.”
“Aku juga mau ma,” ucap Arkan.
“Kalian ngapain sampai kelaparan seperti itu?” sambil menyerahkan sebuah mangkok lagi ke hadapan Arkan.
“Siang ini mama akan jemput ayah di bandara, nanti dari bandara mama akan langsung ke rumah sakit.”
Arkan mengangguk sambil terus mengunyah makanan di hadapannya.
“Enak sayang?” tanya Jenny pada Wulan.
“Enak tante.”
Wulan begitu lahap menyantap bubur di depannya hingga mangkok ke tiga.
“Masih mau ga sayang? Kita jalan yuk cari makan,” ajak Arkan.
__ADS_1
Wulan pun mengangguk. Perut nya belum puas terisi. Ia masih membayangkan makanan berbahan padat seperti nasi. Bubur mah nggak akan membuatnya kenyang. Selama dua minggu di negara A dan C ia hanya terus mengkonsumsi roti dan kentang setiap hari. Makan siang dan makan malam seperti seperti sebuah sarapan pagi.
“Ma kami mandi dulu,” ucap Arkan. Ia dan Wulan berjalan beriringan menuju kamar.
“Kalian akan mandi bersama?” tanya Jenny.
“Wulan hanya ganti baju, tadi Wulan sudah mandi,” ujar Wulan.
“Oh baiklah,” ucap Jenny pasrah.
“Arkan! Bisa bisa anak orang hamil duluan,” gerutu Jenny.
Sepeninggal Wulan dan Arkan jenny juga masuk ke kamar. Ia harus mandi dan siap siap karna jam 11 ia masih harus menjemput suaminya.
Sudah pukul sepuluh, Jenny sudah keluar dari kamar dengan dandanan rapih.
“Apa mereka sudah jalan? Kok sepi sekali!”
“Arkan, Wulan,” panggil Jenny.
Jenny mencari kunci mobil nya di samping nakas. Dari dalam kamar terdengar suara *******.
“Anak anak ini, mereka!”
Sambil kesal Jenny berjalan keluar meninggalkan ruangan itu menuju besment apartment.
Ia harus tiba di bandara pukul sebelas, jika jadwal tidak meleset, pesawat Richard tiba pukul 11.30 siang itu.
.
.
.
“Enak gak?” tanya Arkan yang sedang memijit punggung Wulan.
“Enak mas, tapi Please pelan pelan,” ucap Wulan.
“Kalau pelan sih bukan pijit namanya, tapi di elus.”
“Di punggung juga mas,” pinta Wulan yang sudah keenakan di pijit oleh Arkan.
“Tangan kamu lumaya berotot sayang. Dari belakang terlihat seperti Atlit angkat besi,” canda Arkan.
“Mas ga suka? Apa punggung Sheila lebih bagus?”
“Sheila lagi.”
Setiap kali merasa tersinggung Wulan pasti akan menyebut nama Sheila kepada Arkan. Nama itu seakan menjadi bumerang di telinga Arkan. Padahal ia jalan bareng Sheila hanya dua kali. Pertama di pernikahan mama dan kedua saat ke tempat praktek dokter Yudha.
“Sepuluh Sheila pun nggak akan merubah perasaan aku sama kamu,” ujar Arkan.
Wulan tersenyum tipis, kemudian berbalik menatap Arkan.
Bathrobe di tubuh Wulan tersingkap hingga setengah dadanya. Mata Arkan tertuju ke arah kedua bukit yang sedikit mencuat ke permukaan.
“Lagi yuk,” arkan langsung mendaratkan ciuman di bibir Wulan.
“Masih perih mas,” ujar wulan sembari melenguh menahan tekanan tubuh yang terus mendorong nya hingga rebah di atas ranjang.
“Pelan pelan,” bisik Arkan.
__ADS_1
“Mas Arkan.” Jerit Wulan karena pusaka Arkan sudah mulai masuk ke dalam milik nya.
Padahal mereka baru saja melakukan itu sejam yang lalu.
“Mas, perih,” ucap nya lirih.
Pelan namun pasti benda pusaka Arkan masuk. Sedikit basah hingga tak terlalu di paksa. Terasa Sempit dan hangat di dalam sana.
Arkan diam tak bergerak. Ia mencium bibir Wulan dengan kelembutan. Setelah cukup lama, berada dalam sana, mulai terasa berkedut. Wulan mulai menikmati, ia bahkan mulai bergoyang mengikuti nalurinya.
“Ayo mas,”
Arkan pun mulai ikut bergerak, sesuai gerakan Wulan.
“Aah,” desah nya membuat Arkan makin menderu.
“Oughh mas, mas,” seperti nya wulan hampir sampai karena ritme arkan semakin bertambah, dan Wulan semakin bergelinjang.
Setelah sebuah des ahan panjang, Arkan pun ikut menumpah kan segenap perasaannya ke dalam tubuh Wulan.
.
.
.
Pukul 11.30 pesawat yang di tumpangi Richard tiba di bandara. Beberapa menit setelah bagasinya keluar Richard langsung keluar menemui Jenny yang sudah menuggunya di depan arrival gate 2.
“Mama”.
Ia menghampiri jenny kemudian memeluknya.
“Mama sendiri?” tanya Richard.
“Sendiri mas,” jawab Jenny sambil manyun.
“Loh Arkan mana? Katanya dia terbang kemaren ke sini? tanya Richard.
“Mas bisa kali tegur dia, bentar lagi Wulan bakal bunting jika mereka seperti itu terus. Mereka iih,” ucap jenny kesal.
Richard tersenyum lebar, “biarkan saja mereka, mereka lagi fall in love. Kok mama tega mau misahin mereka ma?”
“Mas sih nggak lihat tatapan paman Hendy seperti apa, dia bahkan singgung keluarga kita nggak bisa didik anak,” imbuh Jenny, ia meluapkan uneg uneg nya kepada suaminya.
“Mungkin maksudny Brian ma.”
“Iya Brian, terus kalau Wulan bunting? Dia masih belum setuju hubungan Wulan dan Arkan,” ucap Jenny.
“Ya sudah, kamu bicarakan hal itu ke Arkan. Kalau kamu nggak ngomong dia mana tau?”
“Mas saja yang ngomong.”
“Nah, mau ngomong sama anaknya mau yang enaknya saja, giliran yang ga enak lempar ke aku toh ma ma,” ucap Richard.
“Berikan kunci mobil mama, ayah yang nyetir. Mama hubungi Arkan, katakan ayah mau ngomong,” ucap Richard.
Bibir manyun yang tadinya melengkung ke bawah kini tersenyum naik. Jenny menyerahkan kunci mobil ke tangan suaminya. Sambil menggandeng lengan suaminya mereka berjalan bersama menuju parkiran.
.
.
__ADS_1
.
TBC…