
"Kyai... Kata ki Rekso jagad, Papanya Jessica teman ku, itu minta pesugihan sama Mbah Juwo Lumut.
Bagaimana cara melepaskan pesugihan itu," tanya Damar.
"Gus...Jika Dukun Juwo Lumut mati, maka pengaruh pesugihan itu akan hilang dengan sendiri nya.
Semua pengikut pesugihan Juwo Lumut akan bangkrut dan jatuh miskin," jawab Kyai Ndaru,
"Menurut takdir yang aku baca di dinding langit...
Mbah Juwo Lumut akan mati di tangan Ki Rekso Jagad."
"Maksudnya panglima Macan kumbang hitam penjaga makam kyai Pamenang?" tanya Damar.
"Iya Gus, benar," kata Kyai Ndaru,
"Hanya saja... Ki Rekso Jagad, meminjam raga seorang gadis yang sekarang tidur di kamar mu."
"Jessica maksudnya..?"
"Iya Gus, benar.
Temanilah Jessica untuk bertemu Mbah Juwo Lumut.
Bukankah pesan Ki Rekso Jagad, kamu di suruh membantu masalah Jessica..?"
"Iya kyai, benar.
Makanya Ki Rekso Jagad memberi mustika taring, kumis dan kuku macan."
"Nanti agak siang, pergi lah ke lembah lumut di lereng Gunung Kelud. Temuilah dukun itu bersama Jessica.
Selamatkan dua gadis itu juga."
"Baiklah Kyai.
Tetapi... Mengapa Ki Rekso tidak membunuh sendiri dukun itu. Ki Rekso kan jin yang sakti. Panglima kumbang lagi. Kok malah pinjam raganya Jessica..?"
"Seharus nya begitu Gus, menurut logikanya.
Aku juga tidak tau apa maksudnya.
Mungkin saja kamu di suruh menyelamatkan dua gadis itu.
Dan jangan lupa kamu ambil cek di bawah tempat tidur itu. Uangnya bisa kamu manfaat kan untuk hal yang baik."
"Baiklah Ki, kalau begitu aku pulang dulu ya, sudah hampir subuh."
"Baiklah Gus, pakailah cincin Semari ini. Kekuatan cincin ini akan membantu mu di pegunungan yang terjal dan dingin. Berkat kekuatan cincin ini, kamu akan bisa berjalan cepat di gunung yang menanjak. Dan kamu tidak akan kedinginan."
"Baiklah kyai," jawab Damar sambil menerima cicin Semari,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
*****
Sesampai di halaman rumah, Damar memarkir motornya di teras, lalu masuk kamar lewat pintu samping.
Melihat Jessica tidur pulas, Damar pergi ke dapur lalu nyalahin kompor.
"Mau bikin apa Mas," tanya ibu Farida yang lagi wirit di tempat pesolatan.
"Bikin kopi."
Setelah membuat secangkir kopi, Damar masuk kamar, lalu duduk di teras kamar,
"Ini hadiah apa sih dari Erik tadi, Kok besar amat bungkusnya?"
Setelah membuka bungkus kado... Damar membaca secarik kertas yang ada di atas kado;
*Damar sahabat kami semua. Kami mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya. Berkat kebaikan mu, kami bertiga menjadi orang yang kaya raya dan mapan. Kami bertiga sekarang menjadi milyuner dan di hormati keberadaan kami.
Itu semua berkat dirimu.
Ini ada sedikit hadiah kecil untuk mu dari kami bertiga.
Semoga kamu mau menerima dengan senang hati.
From: Erika, Aldy ,Samsul.*
Surat sertifikat rumah di perumahan Elit Elizabet jalan Camar no 10 lengkap dengan perabotan.
"Ini sertifikat villa di kota Batu Malang, lengkap dengan perabotannya.
Ini ada Kontak, STNK, BPKB mobil chevrolet camaro RS. Ini surat pembelian atas nama Damar Ahmad.
harga tertulis 2,2 M.
Ini ada lagi kontak mobil BMW X6 surat pembelian atas nama Damar Ahmad.
Harga tertulis 2,15 M
Ini ada lagi kontak mobil Alpahrd.
Buat apa teman - teman ini kasih hadiah mahal -mahal kayak gini.
Mending uangnya buat usaha.
Sudah terlanjur, ya sudah, terpaksa aku terima.
Alhamdulillah tiga sahabat ku sekarang hidup mapan dan kaya raya. Semoga sukses dan bahagia. Dan semoga tidak berubah sikap nya setelah kaya raya."
Adzan subuh terdengar dari masjid desa.
Suara ibu Farida terdengar dari teras kamar,
"Mas Damar, ayo solat subuh."
"Iya Buk, Damar solat di kamar saja."
"Iya Mas," jawab ibu Farida sedih.
__ADS_1
Karena ibu Farida tau kalau Damar ngambek tidak seperti biasanya solat berjamaah di pasolatan dapur.
Tanpa membangunkan Jessica, Damar solat sendirian di kamar.
Setelah solat, Damar mengemasi beberapa pakaian lalu memasukkan ke dalam tas ransel Eiger.
******
Jam 6 pagi kang Mamat memarkir mobil Fortuner di halaman rumah Damar.
"Jessi, Jessica..?"
"Iya Mas..."
"Ayo bagun, kita pindah tidur nya ya."
"Iya Mas, jam berapa ini?"
"Jam 6.
Kamu bawa jubah mu dan jilbab mu yang kotor itu, masukkan mobil. Gak usah mandi ya. Nanti saja mandinya."
"Iya mas,"jawab Jessica agak bingung.
Setelah memasukkan tas dan beberapa barang di mobil, Damar dan Jessica pamit.
"Buk, Damar mau ngantar Jessica dulu ya."
"Iya Mas. Gak sarapan dulu..?
Ibu masak menu kesukaan mu."
"Damar makan di cafe saja ya Buk," kata Damar salim kemudian cium tangan,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam."
"Tante, balik dulu ya, terimakasih di ijinkan nginap di sini."
"Iya Mbak, sama - sama."
Mobil pun melaju kearah jalan raya,
"Kang, ke perumahan Elizabet ya, jalan camar no 10."
"Baiklah Tuan."
"Mas, mau kerumahnya Sabrina, kok ke perumahan Elizabet?"
"Tidak, ke rumah ku sendiri."
"Mas punya rumah di perumahan Elizabet?"
"Iya."
"Wauuu, perumahan Elit dengan harga 360 M," ujar Jessica,
"Rumah nya Bos Podomoro grup."
*****
Ibu Farida duduk di ruang tamu sambil meneteskan air mata, setelah menyaksikan Damar pergi dengan membawa beberapa tas besar.
Ibu Farida mengerti kalau Damar anaknya tersinggung setelah di marahi waktu tengah malam.
Dalam kesedihan dan penyesalan nya... Ibu Farida kemudian masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di atas spring bet.
😔😞😣
*****
"Sudah sampai Tuan," kata kang Mamat sambil menghentikan mobilnya.
Setelah damar turun dari mobil dan mendekat ke pagar, seorang satpam menyapa dengan ramah.
"Selamat pagi Tuan Damar, silahkan masuk."
"Kamu kok tau, kalau aku ini Damar?"
"Foto anda tertempel di ruang pos satpam."
"Apa ini rumah baru atau bekas punya orang?"
"Baru Tuan. Tuan Damar orang pertama yang menghuni."
"Baiklah.
Kang Mamat, masukkan mobilnya."
"Baiklah Tuan."
"Ayo Jessi, masuk sini," ajak Damar sambil mengandeng tangan Jessica.
"Kang Mamat, tolong di panasi mesin ketiga mobil itu ya, ini kontak nya."
"Baiklah Tuan."
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya," sapa dua pembantu rumah tangga.
"Selamat pagi juga Mbak," sapa Damar dan Jessica.
"Perkenalkan, saya pengurus rumah ini."
"Iya Mbak," Jawab Jessica,
"Sekarang siapkan sarapan ya. Buatkan kopi hitam agak pahit dan susu putih panas."
"Baiklah Nyonya."
"Hemmmm...
Di panggil Nyonya."
__ADS_1
"Jessica... Badanku capek semua, kurang tidur. Kamu pijitin bentar ya?"
"Iya Mas, tetapi Jessica gak pernah mijit, jadi jangan protes kalau gak enak pijitannya."
"Iya," kata Damar kemudian menelpon Dimas.
Setelah tersambung,
"Dimas, kamu pergi ke rumah ku ya, di perumahan Elizabet jalan Camar no 10."
"Siap bos."
"Ini Nyonya, kopi dan susunya."
"Terimakasih Mbak.
Tolong, baju kotor di dalam mobil Fortuner di keluarin ya, nanti di cuci.
Sekalian keluarin dua tas warna hitam. Kamu taruh sini."
"Baiklah Nyonya."
*****
Jam 08 pagi, selesai mandi, Damar dan Jessica menikmati sarapan.
"Jessica, habis ini ikut aku ya, ke gunung kelud Kediri."
"Baiklah Mas.
Ada urusan apa di kabupaten Kediri..?"
"Kita akan menemui dukun pesugihannya Papa mu. Dukun itu bernama Mbah Juwo Lumut."
"Baiklah Mas, aku juga penasaran dan ingin membuktikan kebenaran cerita mu."
Selesai makan, Damar dan Jessica kedepan rumah,
"Kang, mari kita jalan. Kita ke lereng gunung Kelud, ini kang alamatnya."
"Baiklah Tuan, saya tau tempat ini."
"Dimas, ikut aku. Duduk depan."
"Baiklah bos."
Tak lama kemudian, mobil pun meluncur ke arah kabupaten Kediri.
Waktu terus berlalu dan tak terasa Azan duhur terdengar berkumandang
*****
*Desa Kebon Agung.
Setelah solat duhur... Ibu Farida masuk ke kamar Damar. Sambil membersihkan kamar Damar anaknya, ibu Farida berkata,
"Baju nya masih utuh. Bahkan baju baru - baru yang masih terbungkus juga ada bertumpukan di kursi. Lalu, apa yang di bawahm Damar tadi di dalam tas..?
Barangkali laptop dan buku.
Ini perhiasan juga masih utuh di lemari.
Di meja ini apa ya..? Terbungkus seperti kado. Sertifikat rumah. Di perumahan Elizabet jalan camar no 10.
Ini sertifikat villa di batu malang.
BPKB ada lima.
Banyak sekali sertifikat tanah atas nama Damar.
Kerja apa Damar itu, kok bisa kaya raya kayak gini.
Ini lagi banyak surat berserakan di sofa. Saham PT Marvis.
Ini ada uang tumpukan di bawah meja.
Lebih baik aku tata yang rapi. Nanti aku belikan lemari khusus untuk dokumen."
*****
Setelah solat duhur di mushollah lereng gunung Kelud di perbatasan kabupaten kediri Blitar, Damar bertanya pada beberapa orang.
Setelah mendapatkan penjelasan dari beberapa orang, mobil damar pun melaju naik ke lereng gunung Kelud.
"Kang, ini batu tugu perbatasan. kang Mamat dan Dimas tunggu disini ya, mungkin agak lama. Atau kang Mamat turun aja ngopi di warung bawah. Nanti aku telpon kalau sudah selesai.
Disini sepi sekali dan jauh dari pemukiman penduduk."
"Baiklah Tuan."
"Ayo Jessi, ini jalan setapak menuju lembah lumut seperti penjelasan orang yang kita tanya."
"Baiklah Mas, tetapi aku takut. Serem gini, sepi lagi."
"Ayoo, kan sama aku."
"Iya Mas."
Setelah mengikuti jalan setapak naik turun hampir satu jam, Damar melihat sebua gubuk di bawah pohon dekat gua kecil.
"Mas, kaki ku lemas sekali.
Istirahat dulu ya?"
"Iya Jessi.
Minumlah air cdr ini, biar kuat tulang mu," ujar Damar sambil mengeluarkan sebotol minuman dari dalam tas.
Setelah menyulut rokok sampurna mild, Damar memijit betis Jessica pelan - pelan.
"Mas, itu ada perempuan lagi jemur baju."
__ADS_1
"Mari kita tanya pada Mbak itu. Aku yakin Mbah Juwo Lumut tinggal di situ."
*Bersambung.