
Di teras kamar, Aisah berulang - ulang mencium pipi Damar yang lagi duduk di sofa,
"Makasih ya Mas...
Semua identitas ku telah kembali."
"Iya Aisah, sama - sama."
"Ternyata kamu bukan saja pemberani, tetapi juga cerdas, tegas dan berwibawa dalam menghadapi masalah.
Kalau tidak mas bantu...
Hemmm bagaimana nasib bidadari cantik ini," ujar Aisah.
"Hemmmm
Iya memang cantik kamu dari SMP dulu.
Sudah kamu lihat isi dompet nya. Sim ATM dan KTA pelajar ada gak..!"
"Ada semua Mas lengkap, tinggal buku tabungannya yang tertinggal di kamar ku.
Besok ngurus baru saja," ujar Aisah.
"Gak usah ngurus, biar aku telpon pak RT suruh ambil. Kan besok pak RT ambil KK asli di rumah mu untuk urus surat identitas mu," kata Damar.
Tingtung Tingtung..! HP Damar berbunyi.
"Ini Mas, Hp Oppo ada telpon tak di kenal," kata Aisah sambil menyodorkan Hp.
Setelah terhubung,
"Iya, siapa..?"
"Saya pak Niko pak Damar. Saya pemilik cafe Ayu.
"Iya pak, ada apa?"
"Kemarin malam, pak Bowo pemilik tanah, telah mengembalikan uang sewa tanah cafe pak. Dan saya di suruh menghubungi pak Damar selaku pemilik tanah yang baru, untuk pembayaran sewa tanah.
Kalau tidak keberatan... Malam ini saya bisa bertemu dengan pak Damar?"
"Bisa Pak, kita ketemuan di cafe Ayu milik bapak saja ya, sambil ngopi."
"Baiklah pak Damar, terimakasih telah rela meluangkan waktunya.
Saya tunggu ya pak?"
"Iya Pak, habis ini saya meluncur," ujar Damar.
"Selamat malam pak."
"Malam juga," jawab Damar kemudian mematikan HP nya,
"Say..?"
"Iya Mas," sahut Aisah.
"Ayo kita ke cafe Ayu. Pemilik nya ingin bayar sewa tanah katanya."
"Saran Aisah, jangan mau di perpanjangan Mas. Mas pakai usaha sendiri saja, hasilnya lebih besar."
"Gitu ya say..?"
"Iya. Nanti sambil tiduran di kamar, aku kasih tau mau bikin usaha apa saja," ujar Aisah.
"Sambil meraba raba ya," goda Damar.
"Hemmmm...
Iya iya... Senang nya kalau urusan gitu."
"Ayoo," ajak Damar.
"Bentar ganti kaos dulu."
******
Mobil BMW keluaran terbaru parkir di halaman rumah Pak Likin Pak dhe nya Damar.
Samsul keluar mobil, lalu disusul oleh Ita. Kemudian seorang lelaki paruh baya dan seorang ibu muda yang anggun nan cantik.
"Ini Pak, rumah nya Damar, masuk lorong."
__ADS_1
"Sempit juga ya jalan masuk rumah nya, satu meteran," ujar Papa nya Ita.
"Iya Pak, kalau pagar ini di bongkar, ya lumayan lebar pak jadi 3 meteran."
"Oh gitu ya, berarti sebelah ini jalan milik tetangga nya ya?"
"Iya Pak, tetapi kabarnya sudah di beli sama Damar, hanya saja belum sempat di bongkar saja," ujar Samsul.
"Oh, begitu."
Motor Damar pelan - pelan keluar gang. Hampir sampai ujung gang, Samsul berteriak,
"Damar..!"
"Hai Sul," sahut Damar kemudian menghentikan motor nya.
"Ini ada tamunya?"
Sambil mendekat, Samsul berkata lirih,
"Tamunya adalah pengusaha batu bara, emas dan minyak."
"Siapa," tanya Damar.
"Papa nya Ita, yang semalam over dosis."
"Oh iya iya," kemudian Damar turun dari motor lalu menepikan motornya di samping gang,
"Silahkan masuk Pak, mari ke rumah.
Maklum rumah nya kecil."
"Terimakasih Mas Damar."
"Mari silahkan masuk," ajak Damar kemudian duduk di ruang tamu.
"Tadi saya ke rumah Mas Samsul, minta antar ke rumah Mas Damar," ujar Papa nya Ita,
"Karena kami ita tidak memiliki nomer kontak nya Mas Damar."
"Ada perlu apa ya Pak, kok tiba - tiba kemari," tanya Damar.
"Saya ingin bertemu dengan...?
"Aisah Pak," sahut Samsul.
"Iya Aisah."
"Oh bentar ya Pak.
Aisah... Sini..!"
"Iya Mas, jawab Aisah yang ada di teras, kemudian duduk di samping Damar,
"Ini Pak Aisah."
"Mbak Aisah, sebagai orang tuanya Ita...
Saya ucap kan berjuta - juta terimakasih telah menyelamatkan nyawa anak saya satu - satunya.
Dalam video itu... Saya melihat sendiri, bagaimana Mbak Aisah telah menyelamatkan ita anak saya.
Dokter rumah sakit bilang... Kalau mbak Aisah tidak melakukan pertolongan pertama, kemungkinan besar, Ita sudah meninggal dunia dalam perjalanan.
Maka dari itu... Saya kesini kami ingin mengucapkan berjuta - juta terimakasih."
"Sama sama Bapak, ibu," jawab Aisah,
"Sebagai pelajar sekolah perawat, saya punya naluri menyelamatkan korban saja.
Itu salah satu pelajaran yang di ajarkan guru sekolah saya.
Hanya itu saja yang bisa saya bantu. Selebihnya dokter yang lebih tau."
"Iya Mbak Aisah, tetapi bagaimana pun, jasa Mbak Aisah perlu di hargai sebagai siswa teladan.
Ita adalah harapan hidup saya, dan generasi penerus keluarga kami. Karena Ita adalah anak semata wayang."
"Kalau begitu saya permisi dulu," kata Papanya ita,
"Mas Damar, Mbak Aisah...
Kalau sudah lulus sekolah, barangkali ingin kerja di perusahaan bapak, silahkan hubungi saya ya, ini nomer telpon saya dan alamat kantor saya.
__ADS_1
Kalau kalian butuh apa - apa, kalian jangan sungkan - sungkan telpon bapak ya?"
"Iya Pak, terimakasih atas kunjungannya di gubuk kami," jawab Damar.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam," jawab Damar kemudian mengantar ke depan.
"Pak, langsung saja ya, saya pulang jalan kaki saja kan dekat."
"Oh iya Mas Samsul, terimakasih.x
"Damar... Aisah, makasih ya," kata Ita sambil melambaikan tangan.
"Sama - sama Ita."
"Mar, aku balik dulu ya, badan kurang sehat," kata Samsul,
"Barusan aku transfer titipan dari Papa nya Ita, untuk Aisah.
Tadi waktu di rumah, katanya malu minta nomer rekening Aisah, jadi di titipkan ke rekening ku.
Ya udah, aku balik."
"Ok ok, makasih," jawab Damar Kemudian melajukan motor butut nya.
*****
Setelah memarkir motornya, Damar duduk seperti biasa di kursi halaman cafe dekat taman dan air mancur buatan.
"Selamat malam...
Mau pesan apa..?"
"Pesan kopi luwak hitam ya.
Aisah minum apa..?"
"Kopi luwak susu dan air cleo dingin dua.
Sama kentang goreng saus pedas dan dua burger daging sapi."
"Baiklah, di tunggu sebentar," kata pelayan cafe kemudian pergi.
Setelah menyulut rokok, Damar berkata,
"Minta nomer rekening nya."
"Aku kirim lewat WA Mas.
Bank Asia dan Bank BRI atas nama Aisah Rahsa."
"Sudah aku transfer ke rekening BRI sama Bank Asia."
"Makasih ya Mas...
Baik banget..!
Kok banyak banget Mas, semua 10 milyar..?"
"Berterimakasih lah pada Papa nya Ita, dia pengusaha tambang batu bara.
Dia kasih hadiah kamu uang 10 milyar sebagai rasa terimakasih."
"Hemmm, tak kira dari kamu..."
"Hahahaha..!
Jangan lupa, Mas Damar di traktir malam ini."
"Siaaaap!"
"Permisi," kata seorang pelayan kemudian meletakkan pesanan di atas meja.
"Mas, bilang sama Pak Niko, di tunggu Pak Damar di meja depan sebelah taman."
"Baiklah Mas, akan saya sampaikan.
Selamat menikmati."
*Bersambung.
__ADS_1