
"Damar ada masalah apa ya..? Kok terlihat murung," kata ibu Farida dalam hati,
"Apa jangan - jangan lagi ribut sama Shinta?"
Adzan Magrib terdengar menggema. Damar masih saja duduk di atas kursi yang terletak di dapur.
"Mas Damar..?"
"Iya Buk."
"Ayo wudhu, imami ibu solat magrib dan adik mu lesty.
Belajar menjadi imam solat ya."
"Iya Buk, baiklah."
Setelah solat magrib, Damar pergi ke gang belakang menemui pak Muji di rumahnya,
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.
Eh Mas Damar, tumben, ada apa Mas..?"
Ada yang perlu saya bicarakan Pak Muji."
"Ayo silahkan masuk."
"Ah di teras saja lah, sambil merokok."
"Oh begitu, baiklah - baiklah.
Sambil duduk pak muji berkata,
"Ada apa ada Mas Damar..?"
"Dengar dari Pak Sueb, tanah Bapak yang berada persis di belakang dapur rumah ibu saya,katanya mau di jual Pak..?"
"Iya Mas Damar, sudah saya tawarkan kemana mana gak ada yang mau. Sudah saya iklan kan di koran di Facebook di internet juga gak ada yang mau.
Jadi, gimana ya, sampai bingung aku.
Kan rencana kalau laku Bapak mau pindah ke kabupaten Blitar, mau ikut istri hidup di desa. Maklum lah Mas, sudah tua, sudah pensiun.
Anak - anak juga sudah jarang pulang, sudah keluarga punya rumah sendiri -sendiri."
"Oh begitu ya.
Emang kenapa pak gak laku..?"
"Alasannya cuma satu. Jalan aksesnya hanya dua meter pas buat satu mobil.
Kedua gang buntu. Kan mentok itu sungai Mas, gak ada tetangga nya.
Rumah Pak Muji kan paling belakang, setelah rumah nya Mas Damar."
"Iya sih Lak, jalan masuk rumah Damar saja satu meter, ketambahan jalan milik rumah bapak dua meter."
"Iya Mas, dulu jalan keluar masuk ini bapak beli loh sama yang punya tanah. Kalau gak saya beli, wah repot cuma ada jalan setengah meter untuk keluar masuk."
Setelah menyulut rokok, Damar berkata,
"Minta berapa Pak tanahnya..?"
Itu luasnya 600mx500m, setengah hektare lebih 100 meter lah."
"Luas ya Pak..?"
"Iya Mas, luas sekali. Sayangnya posisinya di belakang, gang buntu lagi.
Hemmm, bapak dulu tawarkan 1,5 milyar. Karena gak ada yang beli saya turunin jadi 1,2 milyar.
Emang ada temen mas Damar yang mau beli..?"
"Iya Pak Muji, saya sendiri yang mau beli."
__ADS_1
"Alhamdulillah...
Ternyata tetangga sendiri yang mau beli. Gak nyangka sama sekali."
"Kalau Pak Muji gak keberatan, sekarang ke kelurahan. Mumpung belum jam 8 malam. Karena kantor kelurahan tutup jam 8 malam."
"Sekarang mas Damar transaksi nya..?"
"Iya Lak Muji, sekarang. Saya akan transfer via bank Asia."
"Baiklah baiklah, akan saya ambil berkas surat - suratnya. Semua sudah saya siapkan jauh - jauh hari," kata Pak Muji sangat senang kemudian masuk rumah.
*****
Setelah di saksikan oleh perangkat kelurahan Desa Agung, Damar mentransfer uang 1,2 milyar ke rekening bank Asia milik Pak Muji.
Dan berkas pun di tanda tangani oleh Para saksi, Juga kepala desa.
Damar pun memberi uang free untuk para saksi juga free untuk kepala desa Agung.
Setelah sertifikat di serahkan ke tangan Damar, Pak Muji berkata,
"Mas Damar...
Insyallah dalam waktu tiga hari, saya akan pindah."
"Balik lah Pak Muji, tidak usah tergesah - gesah, santai saja.
Kalau begitu, saya permisi dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
Sesampai di rumah, Damar menyimpan sertifikat tanah di dalam lemari bututnya yang terletak di pojok kamar.
"Mas Damar..?"
"Iya Buk, ada apa..?"
"Iya Buk," jawab Damar kemudian wudhu di dapur.
Setelah solat, Damar duduk di dapur.
Tilut tilut tilut..!
Telpon WA Damar berdering, setelah tersambung,
"Iya Sul..?"
"Damar..! Kita kaya raya..!
Kamu kemana saja di hubungi gak bisa ha!"
"Hp aku matikan suaranya, tadi habis dari kelurahan."
"Nomer mu keluar 0005. Aku, Erik dan Aldy dapat 250 milyar."
"Ya Alhamdulillah kalau begitu."
"Kamu dapat berapa..?"
"Gak pasang," kata Damar bohong lalu mematikan HP nya.
Setelah membuka aplikasi Naga 303, Damar mengucapkan,
"Alhamdulillah...
Bener katanya Pintu Bumi orang rapi itu. Dia bisa memberiku kekayaan lebih.
Semua jumlah uang jadi ada 950 milyar hasil menang undian sedekah.
Tetapi, walau punya banyak uang, hati ku sangat sedih sekali. HP Shinta tidak aktif dari tadi siang."
__ADS_1
"Ibu...?"
"Iya Mas Damar," jawab ibu Farida,
"Ada apa Nak?"
"Bapak sudah tidur..?"
"Belum, lagi ngopi di bawah jendela."
"Boleh Damar masuk..?"
"Boleh, masuk saja, ibu lagi tidur - tiduran nemani bapak mu."
"Baiklah," kata Damar kemudian masuk kamar.
"Ada apa kamu kok terlihat sangat sedih, ha..?"
"Gak apa - apa Buk.
Hemmm, ini Damar belikan ibu Hp Android, biar ibu bisa mengakses informasi juga bisa berhubungan dengan saudara juga teman + teman ibu ya.
Ibu belajar mengoperasikan HP sama Lesty ya.
Yang ini untuk Bapak, ini Pak terimalah.
Shinta sudah pasang Wi-Fi, barangkali bapak mau buka YouTobe buat hiburan sambil menunggu kesembuhan.
Semoga HP ini barokah."
"Aamiin, ya Robbal Alamin," sahut ibu Farida meneteskan air mata.
"Bapak, ibu...
Ini sertifikat tanah Damar beli dari pak Mujiono untuk bapak dan ibu.
Tanah ini luasnya setengah hektar lebih. Dan letaknya persis di belakang rumah kita.
Damar mohon...
Ibu tidak usah lagi bekerja cuci baju di rumah tetangga ya, jangan lagi bekerja sebagai pembantu panggilan.
Ibu usaha di rumah saja sambil mengawasi adik - adik. Nanti Damar kasih uang buat modal.
Damar juga berharap pada Bapak, jangan suka keluyuran yang gak jelas. Jangan suka bermain sama purel dan mabuk bersama bromocora.
Kasihan ibu Pak, tiap malam tidur sendirian, kerja keras sendiri utuk menafkahi anak - anaknya.
Ibu juga masih cantik dan masih muda. Hanya saja ibu tidak terawat.
Bapak yang rajin ibadah kayak ibu ya.
Dengan tanah luas yang Damar beli, bapak usaha di rumah saja sama ibu.
Kalau ada kegiatan di rumah, bapak pasti betah.
Masalah Modal, Damar yang kasih."
"Iya mas Damar," kata ibu Farida meneteskan air mata. Begitu juga dengan Pak Yasin merasa terharu.
"Ya sudah ya Pak, Buk. Damar mau keluar dulu, Damar mau main sama Samsul."
"Iya Mas, jangan malam - malam ya Nak, besok pagi kamu sekolah."
"Iya Buk, paling juga subuh pulangnya.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Begitu Melihat Damar pergi dengan motor bututnya, ibu Farida langsung sujud syukur di ruang tamu,
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih atas segala Nikmat - NikmatMu atas diri ini dan keluarga kami.
Semoga Engkau jadikan Damar anak yang alim dan soleh. Semoga Engkau beri petunjuk jalan yang lurus dan benar."
__ADS_1
"Amin..."
*Bersambung