Makam Keramat

Makam Keramat
Ziarah sunan drajad


__ADS_3

"Sudah sampai Tuan, akan saya parkir di bawah saja, dekat warung dan kamar mandi juga tempat wudhu.


Karena, di area makam Sunan Drajat ini, air wudhu nya harus bayar dua ribu."


"Kok bayar kang, gak gratis kayak di makam kyai Pamenang."


"Iya Tuan. Di daerah sini dekat laut dan sulit air tawarnya."


Setelah terparkir dan kang Mamat turun, sementara Sabrina ganti baju,


"Kamu gak turun Mas, aku mau ganti baju?"


"Iya bentar, ini ada telpon masuk," jawab Damar kemudian turun dari mobil,


"Iya Mas Dimas..?"


"Transaksi pembelian saham PT Marvis sukses Bos.


Tadi saya bersama pak Beny juga team nya sudah bertemu dengan direksi perusahaan dan ibu Heny selaku Presiden direktur.


Sekarang ibu Heny tidak lagi menjabat sebagai presiden direktur, dan tidak punya kuasa mengendalikan perusahaan.


Dan selaku pemegang saham mayoritas, bos Damar sekarang yang berkuasa mengendalikan PT Marvis."


"Lalu, bagaimana sikap ibu Heny?"


"Ibu Heny sangat kaget dan syok, juga kecewa sekali, setelah mengetahui kalau bos Damar adalah pemegang saham mayoritas."


"Ya sudah, besok aku akan berkunjung ke PT Marvis.


Terimakasih atas kerja kerasnya."


"Sama - sama bos."


*****


"Aduuuh..! Cantik sekali pakai jubah hitam jilbab pink," puji Damar,


"Bikin aku gak bisa berpaling."


"Buruan wudhu, jangan ngegombal. Itu rayuan model kuno!"


"Iya, tunggu sebentar."


Setelah solat duhur, Damar dan sabrina berjalan menuju makam.


Selesai ziarah, Damar dan Sabrina bergandengan keluar area makam, lalu ngopi di warung depan lorong pintu masuk makam.


"Sabrina, gak makan..?"


"Gak Mas, makan di restoran saja."


"Kamu itu, anak konglomerat dan banyak duitnya, gaya gak mau makan di warung jelek seperti ini," ujar Damar,


"Kalau kamu main sama aku, gak usah jijik an ya. Makan apa adanya.


Orang kok sukanya makan di restoran. Nanti kalau bangkrut jatuh miskin, gimana..?


Apa bisa makan di restoran mahal.


Ayo makan, belajar dari sekarang menjadi orang sederhana."


"Iya iya...


Baru kali ini aku makan di warung gubuk.


Ada makanan apa Buk..?"


"Nasi rawon dan nasi campur bu Nyai.


Murah meriah, rawon 10 ribu, nasi campur juga 10 ribu."


"Rawon dua ya Buk," ujar Damar tersenyum,


"Kang minta makan sini."


"Iya Tuan."


"Kamu itu Mas, senyum senyum saja lihat aku," kata Sabrina kesal.


"Muka mu lucu dengar harga nasi rawon 10 ribu hahahaha.


Langsung pucat!"


"Ya iyalah, masak nasi 10 ribu harganya, gimana rasanya..?"


"Ini Mas nasinya."


*****


"Gimana rasanya," tanya Damar yang makan siang dengan lahap.


"Gak enak Mas..!"


"Coba di makan pelan - pelan sambil di nikmati. Entar juga enak rasanya. Kan belum biasa lidahnya.


Aku saja mau habis nasinya."


"Iya iya, akan aku coba," sahut Sabrina sambil cemberut.


Selesai makan, Damar menyeruput kopi, kemudian menyulut rokok sambil lihat Sabrina makan,


"Laaah, itu habis makan nya?"


"Iya habis, belajar makan masakan orang desa."


"Hemm, bilang gak enak, tetapi habis.


Dari pada makan di restoran seporsi bisa 150 ribu sampai 350 ribu, kan sayang uangnya. Sama - sama kenyang juga!"


"Iya sih.


Ini sejarah dalam hidup ku. Pertama makan di warung gubuk masakan desa dengan harga 10 ribu."


"Sudah kang Mamat."


"Sudah Tuan."


"Mari kita balik, sudah hampir jam dua."


"Baiklah Tuan."


Setelah membayar makan minum, Damar mengandeng tangan Sabrina lalu masuk ke dalam mobil.


Waktu terus berlalu, hujan deras tiba - tiba turun. Dan tak lama kemudian mobil masuk ke jalan tol.


"Emang sudah musin hujan ya kang," tanya Damar.


"Iya Tuan, sudah masuk musim hujan."


"Nanti beli payung ya kang, buat di mobil."

__ADS_1


"Baiklah Tuan."


Setelah keluar dari tol, mobil terus melaju ke arah tengah kota Surabaya.


Dan hujan pun mulai redah.


"Mas, aku pulang ya, sudah jam 5 sore. Aku ingin istirahat dan belajar."


"Iya Brina.


Itu baju muslim nya, dan jubah juga jilbab, mukena, sajadah dan sandalnya. Entar lupa."


"Biarin saja di mobil mu. Barang kali ada teman - teman gak bawah baju, biar di pakai ganti kalau ke makam."


Setelah mobil berhenti di depan teras rumah Sabrina, Sabrina pamit sambil memeluk Damar dan cium pipi,


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.


Nanti kalau jadi beli saham, aku WA."


"Ok mas, hati - hati."


*****


"Kang, ke perumahan Garden The Lux ya."


"Baiklah Tuan," jawab kang Mamat kemudian melajukan mobilnya ke arah tengah kota.


Adzan magrib berkumandang, kang Mamat pun menghentikan mobil nya di halaman masjid atas perintah Damar.


Setelah solat magrib, mobil Fortuner bergerak kembali.


Setelah masuk perumahan Garden, mobil pun berhenti di depan rumah keluarga Jhoni.


Setelah Damar turun, beberapa orang berdiri lalu menyapa,


"Selamat malam Tuan Damar."


"Malam juga pak Edi," jawab Damar,


"Ita ada ya?"


"Ada Tuan, siang tadi baru pulang berobat dari singapura."


"Kalau begitu saya masuk dulu ya pak."


"Silahkan Tuan."


****


"Assalamualaikum..."


"Salam," jawab Ita kemudian bergegas mendekati Damar, lalu memeluk dan mencium pipi Damar.


"Hemmm...


Tumben pakai peluk cium segala."


"Karena Kakak terlihat tampan malam ini."


"Bukan pacar bukan istri, main tabrak saja."


"Papa, Mama...!


Anak laki - laki Papa Mama datang nih."


"Eeh, Mas Damar."


"Duduk sini Mas Damar," ujar Pak jhoni.


"Iya Om," jawab Damar kemudian duduk di ruang samping depan taman dan kolam ikan.


"Gimana kabarnya Mas Damar?"


"Alhamdulillah, sehat dan baik Om."


"Bagaimana usaha bisnis cafe nya?"


"Alhamdulillah, yang kemarin Om kasih modal buat beli tanah, sekarang sudah dalam tahap pembangunan.


Sebentar lagi akan selesai."


"Permisi," ujar Ita sambil membawa nampan,


"Ini kopi hitam Palembang untuk Papa. Ini kopi luwak kesukaan Lakak, ini teh madu untuk Mama. Ini aku capochino italia.


Silahkan silahkan.


Kak, tumben kesini gak kasih kabar, gak telpon juga gak WA?"


"Dari jalan jalan Ita, sama Sabrina Kamal anak SMA Mariana."


"Cie cie...


Bersambung ceritanya. Dari dinner makan malam di restoran Italia jadi jalan jalan berbagi kemesraan," kata Ita.


"Ita...


Kamu itu ngelawak saja," sahut ibu Maya,


"Ya biarin Mas Damar jalan sama teman nya."


"Hehehehe.


Jalan - jalan ziarah makan wali Ita, bukan pacaran sama Sabrina. Hanya berteman. Kakak belum punya pacar."


"Ikut Kak, kalau ziarah lagi?"


"Habis ini kakak ziarah ke makam kyai Pamenang."


"Asiik. Iku ya!"


"Boleh kalau di izini sama Papa Mama mu," jawab Damar.


"Boleh mas Damar, ajak saja," kata pak Jhoni.


"Kalau sama mas Damar amama izini. Biar pinter ngaji kamu. Biar gak dugem saja ke diskotik saja."


"Hehehehe.


Kan udah lama Ita gak pernah keluar malam. Di rumah terus."


"Kata pak Edi barusan, kamu baru pulang dari singapura. Katanya berobat?"


"Iya, bener.


Mama yang berobat, aku dan Papa hanya ngantar saja, nemani Mama."


"Sakit apa Tante..?"

__ADS_1


"Tante sakit perut mas Damar, mual - mual terus, dan demam.


Setelah periksa, kata dokter itu tanda + tanda kehamilan."


"Alhamdulillah," kata Damar.


"Berkat minum air ajaib pemberian kamu Kak, Mama bisa hamil," sahut Ita.


"Belum hamil Ita," sahut ibu Maya,


"Cuma tanda tanda saja. Tunggu sebulan dua bulan, baru bisa di pastikan."


"Om, Damar ada yang ingin tanyakan sama om," ujar Damar.


"Ya tanya saja Mas Damar."


"Apa benar, om menguasai saham PT Inka sebesar 19%?"


"Iya benar Mas Damar. Kok mas Damar tau?"


"Di beri tau sama Sabrina teman main saya Om."


"Sabriana..?"


"Iya Pa, anak pak Wily konglomerat itu loh. Bos PT Aksa Grup," sahut Ita.


"Oh, pak Wily..!


Iya iya, itu temen om bisnis.


Kenapa Mas Damar, dengan saham PT Inka farmasi.


Mas Damar sekarang main saham?"


"Iya Om, yang ngajarin Ita itu Om."


"Kalau Ita sudah sudah banyak memiliki saham di beberapa perusahaan besar."


"Sebelum nya, Damar minta maaf. Apa om tidak tertarik untuk menjual nya?"


"Hahahaha!" Pak jhoni tertawa riang,


"Setahun yang lalu, Om beli saham itu hanya iseng - iseng saja mas Damar.


Karena... Pak Darwin butuh uang untuk investasi di industri baja yang berpusat di india. Waktu itu, pak Darwin menemui ku di salah satu hotel jakarta, dan menawarkan saham 19%.


Sebenarnya Om gak butuh saham itu. Karena pak Darwin memaksa, dan butuh uang, yaah Om beli lah.


Sekarang yang mengurusi saham itu asisten nya Om.


Kalau mas Damar tidak bertanya malam ini, mungkin Om lupa dengan saham itu. Karena Om sibuk ngurusin tambang batu bara dan emas.


Hemm, apa Mas Damar tertarik dengan saham PT Inka itu..?"


"Iya Om. Kalau Om mau menjualnya, Damar yang akan beli."


"Besok, biar asisten Om yang mengurus surat peralihan saham atas nama mas Damar ya.


Mas Damar gak usah beli. Ambil saja sebagai hadiah untuk mas Damar."


"Tidak Om, Damar malu kalau di kasih terus. Sudah tiga kali Om bantu Damar.


Damar ada uang kok Om, untuk beli saham PT Inka."


"Mas Damar, terima saja ya, Om senang mendengar kalau Tante mengalami tanda - tanda kehamilan," ujar ibu Maya,


"Di pesawat tadi, dalam perjalanan pulang, Om berkata pada Tante begini...


Tante hamil itu berkat bantuan Mas Damar, dengan air ajaib. Om bilang mau kasih hadiah apa yang pantas untuk mas Damar..?


Setelah berfikir, juga belum ada ide.


Kebetulan mas Damar kesini, dan mau membeli saham PT Inka.


Jadi, saham itulah hadiah buat mas Damar."


"Tapi..."


"Sudahlah Kak, terima saja jangan tapi tapian, jangan banyak berpikir.


Lagian Papa juga gak ngurusin sahan itu. Papa sudah punya saham besar di 40 perusahaan internasional."


"Baiklah Om, terserah om saja.


Kalau begitu, Damar mau pamit dulu, sudah jam 8 malam."


"Loh, gak makan malam dulu," sahut ibu Maya.


"Terimakasih Tante, makan di area makam saja.


Ita, jadi ikut gak..?"


"Iya ikut, ini sudah nyiapin tas.


Ma, aku nginep di rumah kak Damar, besok langsung berangkat sekolah. Ini Ita bawah baju di tas."


"Iya ita, jagan nakal nakal loh. Ngaji yang bener."


"Iyaaa, salin dulu Pa, Ma.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


*****


Mobil Fortuner meluncur ke cafe Ayu di wilayah Rungkut.


Tak lama kemudian mobil pun terparkir di halaman depan cafe.


"Tuan, saya permisi mau pulang dulu. Cakno sudah sudah ada di cafe."


"Baiklah Kang, terimakasih," jawab Damar,


"Tolong panggil kan Mbak Intan Asistenku juga ya kang."


"Iya Tuan."


Tak lama kemudian, mobil mobil Fortuner meluncur ke arah kota sidoarjo.


Tak seberapa lama mobil terparkir di area makam.


"Cakno."


"Iya Tuan."


"Itu ada sarung juga baju baru. Barangkali Cakno mau solat ke masjid atau ziarah, di pakai saja. Itu beli untuk Cakno.


Kalau mau makan dan ngopi minta saja ya, di warung langganan."


"Iya Tuan.."

__ADS_1


"Intan, kamu beli nasi kayak kemarin malam ya, uangnya di dasbor."


"Iya Bos."


__ADS_2