Makam Keramat

Makam Keramat
Lembah Gunung Kelud


__ADS_3

"Selamat siang Mbak," sapa Damar.


"Selamat siang juga, masuk saja Mas, Mbah Juwo ada di dalam."


"Terimakasih Mbak," jawab Damar kemudian mendekati pintu rumah,


"Selamat siang Mbah..."


"Masuk...


Dari mana kalian?"


"Surabaya Mbah," jawab Damar kemudian masuk.


"Ada keperluan apa kesini," tanya Mbah Juwo yang mencium bau tidak ramah dan bahaya.


"Jessy... Bertanya lah tentang Papa mu," ujar Damar.


"Mbah... Apa Pak Dedik papa saya, pengusaha asal surabaya mencari pesugihan di sini sama Mbah..?"


"Iya benar.


Dedik telah menumbalkan dua anak laki - laki nya. Dedik juga sering berkunjung kesini.


Ada apa kamu bertanya seperti ini..?!"


Begitu Jessica marah, tiba - tiba dukun Juwo terkejut melihat mulut Jessica bertaring, kuku kuku Jessica bercakar panjang dan wajahnya berubah menjadi macan kumbang hitam.


Belum hilang rasa keterkejutan nya, Jessica dengan cepat mencengkram kedua telapak tangan Mbah Juwo erat - erat.


Tiba - tiba dari atas kepalanya keluar asap merah hitam dan kuning.


Setelah asap itu tidak terlihat... Dengan cepat Jessica memukul dada Mbah Juwo dengan telapak tangan kanannya.


Mbah Juwo jatuh terjengkang di tanah. Sambil memeganggi dadanya, Mbah Juwo berkata,


"Ternyata kamu panglima kumbang hitam! Dengan cara licik mu, mengunakan jasad seorang gadis cantik, Kamu telah berhasil mengelabui dan membuang semua ilmu kesaktian ku. Dan kamu telah melukai bagaian dalam tumbuh ku!"


Tiba - tiba Jessica pingsan bersandar tubuh Damar. Lalu... Dari tubuh Jessica keluar sosok Macan kumbang hitam dan berkata,


"Juwo..!


Nyawa di balas dengan nyawa!


Dalam waktu tujuh hari, racun cakar kumbang hitam akan menyerang jantung mu, dan kamu akan mati perlahan - lahan dengan rasa yang sangat menyakitkan.


Kamu telah banyak membunuh anak buah ku, untuk kamu jadikan tumbal.


Sekarang terimalah akibatnya!


Gus Damar...


Sebelum adzan magrib, tinggal kan tempat ini. Karena, di lembah lumut ini, kalau malam sangat gelap dan banyak bangsa jin jahat berkeliaran.


Dukun itu, sekarang bagai mayat hidup. Tinggal kan saja mereka. Dalam tujuh hari, dia akan mati dengan sendiri nya.


Assalamualaikum."


"Baiklah Ki Rekso, waalaikumsalam," jawab Damar kemudian menidurkan Jessica di atas tikar.


Damar teringat cerita kyai Ndaru, kalau di bawah tempat tidur dukun Juwo, banyak cek pemberian para pengusaha kaya. Kyai Ndaru juga berpesan untuk mengambil nya.


Setelah menyulut rokok, Damar menuju kamar Mbah Juwo. Ketika membuka tikar... Damar mendapati tas plastik hitam lalu membuka nya.


"Benar kata kyai Ndaru, tas plastik ini isinya cek.


Masih jam dua lebih," gumam Damar sambil melihat jam Rolex di pergelangan tangan kirinya.


Setelah mengangkat tubuh Mbah Juwo dan meletakkan di atas tempat tidur, Damar berjalan mengelilingi rumah gubuk bambu.


Begitu melihat bilik kamar di ruang tengah, Damar melihat dua gadis tertidur pulas.


*


Melihat Damar yang berdiri di hadapannya, Mbah Juwo hanya bisa melihat sambil bicara seperti orang bisu.


"Mas Damar," panggil Jessica kemudian berdiri.


"Iya Jessica aku di sini, di kamar dukun Juwo."


Melihat dukun Juwo... Jessica berkata,


"Mengapa kamu membunuh kakak - kakak ku yang tidak bersalah..?!


Akan aku bunuh kamu sekarang juga," ujar Jessica kemudian mendekat.


"Sudah Jessi, jangan, gak usah di teruskan. Kita bukan lah seorang pembunuh.


Mari kita pergi mumpung jam setengah tiga. Mumpung masih terang.


Biarkan dukun ini, dia akan mati sendiri dalam waktu tujuh hari. Biar di urus sama dua gadis itu."


"Baiklah Mas," jawab Jessica kemudian memeluk tubuh Damar sambil menangis,


"Ternyata... Apa yang kamu katakan benar semua Mas. Papa Mama ku memilih jalan pintas agar kaya raya hidup mewah."


"Nanti saja ya memeluknya, di dalam mobil saja. Sekarang kita harus pergi sebelum gelap.


Kita harus berjalan menempuh waktu satu jam dari sini."


"Baiklah Mas," jawab Jessica kemudian berjalan keluar rumah gubuk.


Jessica berjalan sangat cepat sekali. Begitupun juga Damar.


"Jessi, kamu gak capek jalan cepat..?"

__ADS_1


"Tidak Mas, biasa saja, rasanya ringan.


Kamu capek..?"


"Gak, ayo kita terus jalan," ujar Damar kemudian menelpon kang Mamat,


"Di mana kang..?"


"Lagi di warung kopi bawah Tuan."


"Kang Mamat naik gunung sekarang ya, setengah jam lagi aku sampai batu perbatasan."


"Baiklah Tuan."


*****


"Mas, berhenti sebentar ya, aku ingin minum cdr," ujar Jessica langsung duduk sambil ngos - ngossan.


"Baiklah Jess. Ini minunnya."


"Terimakasih mas. Ini kamu minum juga, biar kuat tulang nya.


Mas, minta rokok sebatang."


"Ini..."


Setelah menyulut rokok sampurna mild, Jessica kemudian berdiri,


"Ayo mas, jalan sambil merokok."


"Siaaap," jawab Damar kemudian menyulut rokok.


"Mas, ini pengalaman pertama aku mendaki lereng gunung.


Awalnya takut diriku. Setelah berjalan, biasa biasa saja, hilang rasa takutnya.


Apa gara - gara semalam kamu pasang jimat di tubuh ku..?"


"Mungkin."


"Tadi aku pingsan kena apa Mas?"


"Mungkin kelelahan kali, Belum makan siang."


"Lalu, dukun pesugihan itu, kenapa dia kok gak bisa bergerak tubuh nya..?"


Dia gak bisa bicara?"


"Aku bacakan mantra jampi - jampi, dia langsung roboh gak bisa bagun."


"Hebat juga dirimu Mas. Gak nyangka, diam - diam sakti juga dirimu.


Belajar dimana ilmu kesaktian nya?"


"Dapat dari makam kyai Pamenang."


Caranya gimana?"


"Yaah solat kayak aku dan kamu semalam itu. Lalu ziarah kubur, Gitu saja juga lama - lama sakti."


"Kapan - kapan, aku akan ziarah lagi ke makam kyai Pamenang.


Alhamdulillah... Dah sampai Mas. Itu mobil mu di tepi jalan."


"Iya, Alhamdulillah, gak kesasar.


Ayo kang," ajak Damar kemudian masuk mobil.


Jam empat sore, mobil pun meluncur pelan - pelan menuruni jalan lembah lumut lereng gunung kelud.


"Kang, cari masjid atau mushollah ya.


Setelah itu, kita makan."


"Baiklah Tuan.


Di bawah kaki gunung ada masjid di tepi jalan raya Wates Kediri."


*****


Waktu terus berlalu senja pun datang uluk salam.


Gelap mulai hadir menyampaikan salam malam dari Shang Hyang Tunggal.


Dalam rasa yang lelah, Damar sujud bersama Jessica di waktu magrib.


Setelah menunaikan ibadah solat magrib, mobil fortuner kembali melaju meneruskan perjalanan.


****


Tak lama kemudian, jam 10 malam, mobil terparkir di depan cafe Ayu.


"Kang Mamat, makan malam dulu di cafe ya, sekalian bungkus untuk istri dan anak - anak.


Dimas, temani kang Mamat makan.


Pesan yang enak ya, biar sehat."


"Baiklah Tuan."


"Jessica, kamu istirahat pulang ya, nanti kalau ada masalah di keluarga mu, kamu telpon aku saja."


"Iya Mas," jawab Jessica kemudian memeluk Damar sambil mencium pipinya,


"Terimakasih ya Mas, kamu telah membantu ku juga keluarga ku."

__ADS_1


"Sama sama Jessi.


Aku juga terimakasih atas kebaikan mu. Berkat kamu, aku jadi mendapatkan pengalaman baru dalam hidup ku.


Sebentar, aku panggil sopir ku.


Cakno..!"


"Iya Tuan."


"Tolong antar kan Nona Jessi pulang ya. Aku tak ambil tas dulu di mobil."


"Baiklah Tuan."


"Dada Mas.


Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Damar kemudian berjalan menuju meja samping taman.


Setelah duduk, Damar menyala kan laptop, dan melihat kiriman vidoe - video pengerjaan proyeknya perumahan, juga proyek cafe.


"Selamat malam mas Bos," sapa Lilik.


"Eh, Mbak Lilik, malam juga. Gimana motornya, sudah di kirim..?*


"Alhamdulillah mas bos, sudah. Saya pesan motor scupy mas bos. Terimakasih banyak mas bos, atas kebaikan nya.


Semua karyawan maupun satpam sangat senang sekali."


"Apa ada yang kurang," tanya Damar.


"Tidak mas bos.


Mas bos mau pesan apa?"


"Kopi luwak hitam ya, sama teh madu jeruk nipis, air aqua dua botol.


Gurami bakar dua porsi dan udang goreng sambel terasi.


Tolong panggil kan Mbak Intan kemari."


"Baiklah mas bos."


*****


"Selamat malam Tuan."


"Malam juga Intan, duduklah. Habis ini kita makan malam."


"Baik lah Tuan," jawab Intan kemudian duduk lalu menaruh tas dan laptop di kursi sebelah.


"Tolong kamu lihat kondisi cek ini," ujar Damar kemudian menyodorkan kantong plastik.


"Baiklah Tuan."


Setelah meneliti dengan cermat, Intan berkata,


"Ini cek tunjang Tuan, bisa di cairkan kapan saja. Tetapi, sebagian sudah kadaluarsa."


"Yang kadaluarsa apa bisa di cairkan?"


"Bisa Tuan, tetapi harus mempunyai badan hukum yang kuat.


Jadi, besok saya akan ke kantor notaris."


"Apa banyak cek yang melebihi batas waktunya?"


"20% yang melebihi batas waktunya Tuan.


Besok akan saya coba ke bank menanyakan hal ini. Jika pihak bank meminta syarat perlindungan hukum, saya akan ke Kantor notaris."


"Berapa nominal cek itu, lihat dua atau satu cek saja."


"Ada yang 500 M ada yang 200 M dan ada yang 1 Triliun Tuan. Yang lainnya nanti akan saya cek satu persatu."


"Permisi, ini Tuan Damar pesanannya," ujar Dwi pramusaji.


*****


"Intan, makam dulu ya, kamu temani makan aku. Jangan malu - malu."


"Baiklah Tuan."


Sambil makan, Damar berkata,


"Apa uang di rekening operasional mu masih ada..?"


"Ada Tuan, masih 600 juta. Tadi saya sebagian untuk membayar dealer 44 unit motor."


"Nanti, cek di dasbor pemberian Nona Shinta, besok kamu cairkan sekalian, biar tidak jatuh tempo."


"Baiklah Tuan."


"Tuan Damar, saya pamit pulang dulu," ujar kang Mamat,


"Terimakasih atas motornya juga makan malamnya."


"Iya kang Mamat, sama sama."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


*****

__ADS_1


Selesai makan malam, Damar dan Intan asistennya meluncur ke makam kyai Pamenang.


__ADS_2