
Tanah di jual, luas 500m, panjang 700m. Lokasi jalan raya jalan raya Ahmad yani Surabaya.
"Lebih baik aku screnshot iklan ini.
Tetapi mahal banget ya..? Pasang harga 90 M, " gumam Damar,
"Niat jual tanah apa merampok orang ini...!
Tetapi tanah ini lokasinya dekat dengan tanah yang di beri oleh Sabrina. Lebaran yang di iklan ini. Enak juga buat kantor Real Estate. Tanah yang dari Sabrina, enaknya buat cabang cafe Ayu tiga."
"Selamat siang Bos," sapa Intan farara.
"Siang juga Intan, duduklah.
Tumben jam 4 lebih kesini, biasanya jam 6 habis magrib."
"Iya Bos, pulang kuliah. Tadi dosennya tidak masuk, jadi saya putuskan berangkat kerja saja."
"Mbak Dwi, sini bentar."
"Iya Bos."
"Nona Intan tawarin minum."
"Capochino saja ya."
"Baiklah Non."
"Bos, rekening nya sudah saya cairkan sebagian. Totalnya semua ada 7 T, dan sudah di transfer pihak bank secara bertahap di rekening bank Central Hongkong milik Bos.
Sisanya masih dalam proses, karena cek itu Kadaluarsa."
"Berapa jumlah cek Kadaluarsa itu..?"
"Jumlah uangnya 6 T, bos."
"Ternyata jumlah uang cek itu banyak sekali ya," gumam Damar,
"Gak nyangka cek milik si dukun pesugihan yang aku curi itu 13 T.
Dosa apa enggak ya, mengambil cek punya si dukun itu?!!
Coba nanti aku tanyakan sama kyai Ndaru. Dia kan yang nyuruh aku mencuri cek nya di bawah tikar tempat tidur."
"Selamat sore Bos," sapa Dimas.
"Sore juga, duduk lah.
Bagaimana..?"
"Beres bos. Tanah itu kita beli dengan harga 9 M. Besok siang jam 11 di lakukan transaksi jual beli di Kantor desa Sedari."
"Baiklah.
Sekalian besok kamu urus surat ijin ke kelurahan setempat ya. Ijin membangun pelebaran perumahan sedari."
"Baiklah Bos.
Kalau begitu, saya pamit pulang."
"Baiklah.
Nanti malam aku transfer uang untuk pembelian tanah.
Oh iya, jam 9 pagi, sebelum ke kota Gresik, kamu pergi ke kantor notaris Beny Abraham. Kamu urus jual beli saham PT Marvis bersama ibu Heny.
Sebentar, aku tuliskan cek dulu."
"Bawa ini, cek bank Asia 3 T , kasihkan ibu Heny.
Bilang sama ibu Heny, jasa notaris ibu Heny yang bayar."
"Baiklah bos."
"Dimas, Intan... Kalian besok ke bank, minta kuasa bikin cek, biar enak kalau kalian transaksi mendadak."
"Baiklah Bos."
*****
"Assalamualaikum Kak."
"Waalaikumsalam Sarah, duduk sini dekat Kakak.
Intan, aku kirim screnshot foto iklan papan jual tanah.
Coba kamu lihat di Hp mu. Habis ini kamu telpon ya.
Tawar 70 M hingga 80 M. Kalau ok, adakan pertemuan besok."
"Baiklah Bos."
"Sarah, ayo ikut kakak lihat proyek ruko di sebelah.
"Baiklah kak," jawab Sarah kemudian mengandeng tangan Damar.
Sambil berjalan, Damar bertanya,
"Sarah... Apa kamu sudah ngerti dan faham ilmu manajemen Bisnis..?"
"Setelah aku pelajari selama sebulan, Alhamdulillah ngerti dan faham. Menurut ku, tidak seberapa sulit ilmu manajemen bisnis. Tinggal Prakteknya saja.
Yang terpenting dari bisnis itu pertama modal, Kedua menjalin kerjasama dengan pihak terkait, dan menjaga hubungan baik dengan partner, baik itu direksi maupun karyawan bawah.
Setelah itu...
Kita usaha di bidang yang kita kuasai, kerja keras dan semangat untuk sukses."
"Apa kamu masih belajar ilmu manajemen bisnis..?"
"Iya Kak. Seperti nasehat Kakak, aku sepulang sekolah les bahasa mandarin dan bahasa inggris. Sore kursus mengemudi. Malam aku belajar ilmu manajemen bisnis dari para pakar di Amerika dan Eropa lewat YouTube.
Kadang aku belajar hingga tengah malam."
Sambil melihat beberapa bangunan yang sudah jadi, beberapa pegawai kantor PT Podomoro General kontraktor menyapa Damar selaku CEO.
"Bagaimana pendapat mu, dengan cara aku berbisnis," tanya Damar.
"Menurut ku...
Kakak menjalankan bisnis ini dengan memakai manajemen Tuhan."
"Maksudnya..?"
"Kakak tidak pernah memikirkan untung dan rugi. Kakak selalu membeli aset dan membangun usaha. Pengeluaran lebih besar dari pada pemasukan. Kebijakan dalam membuat keputusan sering di luar nalar seorang pebisnis, atau menyalahi aturan manajemen.
Kakak yakin, semua yang kakak lakukan akan menuai hasil yang besar juga kesuksesan
Dan
Kakak yakin sekali, Tuhan akan memudahkan segala urusan bisnis kakak, dengan cara kakak ziarah ke makam wali, dengan cara kakak solat malam dan wirid, dan dengan cara kakak sedekah pada sesama.
Itulah manajemen Tuhan.'
"Apa cara Kakak seperti ini akan berhasil dalam membangun usaha..?"
"Kalau Sarah pelajari dari segi ilmu manajemen islam... Yaaa Kakak akan sukses dan berhasil dengan cara yang unik pula.
Karena, faktor goib ikut membantu usaha Kakak."
"Maksud faktor goib itu bagaimana?"
__ADS_1
"Kekuatan dan kekuasaan Allah akan selalu menyertai Kakak.
Selama Kakak menjalani usaha bisnis ini, apa Kakak mengalami pertolongan dari hal goib..?
Seperti bertemu bangsa jin dan mendapat bantuan jin..?
Atau kakak mendapatkan doa dari orang khusus ahli ibadah..?
Apakah juga, Kakak mempunyai ajimat dari seorang wali..?
Atau Kakak pernah bertemu wali yang menyamar menjadi orang gila, lalu kakak di tolong olehnya..?"
"Oh gitu," ujar Damar yang terkejut dengan pendapat Sarah tentang manajemen Tuhan,
"Ternyata kamu pinter juga..."
"Alhamdulillah kak, dari sekolah SD hingga SMA kelas dua, Sarah selalu mendapatkan rangking satu terus."
"Hebat kamu.
Sudah Adzan magrib, ayo kita solat dulu di mushollah cafe."
"Baiklah Kak."
Selesai solat Damar dan Sarah kembali ke meja asal,
"Intan... Bagaimana?"
"Pemilik nya mau melepas dengan harga 80,5 M bos, kalau bos ok, saya hubungi kembali."
"Iya, kamu beli saja. Aku butuh tanah buat kantor."
"Baiklah bos."
*****
"Sudah isak," gumam Damar kemudian mendekati Cakno yang duduk di ruang tunggu parkiran,
"Cakno kita ke kota sidoarjo ya."
"Siap bos."
"Bentar, tak panggil Sarah dulu sama ambil tas."
*****
Mobil BMW X6 melaju pelan pelan keluar halaman cafe menuju jalan raya.
"Tuan... Dari informasi berita di facebook dan grup WA driver, di kabupaten Gedangan terjadi kecelakaan. Sebuah truk terguling di tengah jalan, dan mengakibatkan kemacetan yang panjang.
Kalau di izinkan, saya akan lewat jalur alternatif."
"Iya Cakno."
Mobil melaju ke arah bandara Juanda dan melewati beberapa perumahan.
"Sarah, duduk mepet sini dekat kakak."
"Iya Kak."
"Cakno, menepi sebentar."
"Iya Tuan."
"Lihat apa Mas malam malam gini," tanya Sarah.
Damar melihat gadis cantik yang jalan menyebrangi jalan, lalu masuk ke rumah gubuk dekat bantaran sungai,
"Ini desa apa Cakno..?"
"Ini desa Sumorejo Tuan. Lingkar timur Sidoarjo."
"Iya Tuan, di jalan lingkar timur ini sepi kalau malam. Dan rawan kecelakaan.
Karena, jalan ini hanya tembusan saja, dan tidak seberapa panjang."
"Kalau begitu kita lanjut ya."
"Baiklah Tuan."
"Ada apa Kak..?"
"Lihat lahan saja, banyak tanah kosong," jawab Damar berbohong.
Tak lama kemudian, mobil terparkir di halaman parkir area makam kyai Pamenang.
Setelah turun, Damar berkata,
"Intan... Beli nasi ya, seperti biasanya."
"Iya Bos."
"Cakno, makan di warung langganan. Jangan lupa ngopi dan minta rokok."
"Iya Tuan."
******
Setelah solat isak dan solat sunnah berjamaah, Damar ziarah ke makam kyai Pamenang.
Setelah ziarah, Damar pun duduk santai di atas keramik warung langganan.
"Intan mana Cakno..?"
"Lagi ziarah Tuan, tadi bawa mukena menuju masjid."
"Cakno gak ziarah..?"
"Iya Tuan, habis merokok. Sayang sudah disini tidak ziarah."
"Mas, kopi satu sama teh hangat satu," pinta Sarah.
"Iya bu Nyai, sebentar."
Tingtung Tingtung!
Hp Damar berbunyi tanda telpon WA masuk.
"Iya Buk," sapa Damar.
"Kamu gak pulang..?
Ini ada ibu Latifah berkunjung ke rumah kita.
Kata ibu Latifah, kamu ngajak Sarah jalan - jalan ya?"
"Iya, ini lagi di ziarah di makam kyai Pamenang sama Sarah.
Damar gak pulang malam ini, kan sama Sarah.
Kalau pulang, dan Sarah nginep di rumah, nanti ibu ngomel marah - marah lagi.
Jadi, Damar pulang di rumah sendiri saja nanti malam."
"Loh sudah beli rumah sendiri kamu..?"
"Belum beli, ini rumah di kasih hadiah."
"Mas Damar... Ini ibu Latifah mau ngajak ibu, untuk menjodohkan kamu dengan Sarah. Dan ibu menyetujuinya."
"Aduuuuh..!
__ADS_1
Gimana sih ibu ini, Gak bilang dulu sama Damar. Main setuju saja!
Kan Damar mau Kuliah..?
Sarah juga masih kelas dua SMA."
"Kamu itu, anak orang di bawah ke sana kemari. Malam - malam di ajak kelayapan, sudah di cemek - cemek, di ajak tidur bareng, kok gak mau nikahin.
Apa kamu gak kasihan apa sama Sarah..?
Dosa kamu sama Sarah!"
"Damar dan Sarah hanya main saja Buk, walau siang malam bersama, Sarah masih gadis, masih perawan."
"Jadi lelaki itu yang tanggung jawab, Jangan mau enaknya saja. Lagian ibu juga senang punya menantu Sarah."
"Iya, iya, terserah ibu sajalah," jawab Damar kemudian mematikan telpon nya.
"Ada apa Kak, telpon kok pakai nyebut Sarah masih gadis masih perawan."
"Ibu ku yang telpon.
Sekarang ibu mu ada di rumah ku, berkunjung katanya.
Ibu mu dan ibuku, sedang menjodohkan aku dengan kamu. Dan ibu ku langsung setuju saja, gak tanya aku dulu.
Ibu ku marah - marah, karena aku sering mengajak mu main dan tidur bareng.
Takut hamil kamu nya."
"Iya pastilah Kak, namanya juga orang tua. Pasti memikir kan anak - anak nya.
Apalagi aku anak perempuan, lebih cemas lagi. Takut nya anak perempuan itu salah pergaulan dan hamil di luar nikah.
Kan banyak sekarang anak sekolah hamil di luar nikah, akibat pergaulan bebas.
Aku saja... Tidak pernah di izini keluar malam, apalagi sampai nginep atau pulang pagi.
Sarah main di izini nginep itu hanya dengan kamu saja Kak.
Kalau kak Damar yang izin walau lewat telpon, ibu ku pasti bilang iya dan di perbolehkan.
Walau aku gak pulang seminggu pun, bapak ibu gak bakal marah, dan gak kuwatir anaknya di luar macem - macem.
Karena kak Damar anaknya ibu Farida sahabat ibu ku.
Kedua kak Damar terlihat rajin solat di rumah.
Ketiga kak Damar orang baik di mata bapak ibu ku.
Padahal... Ya kadang - kadang Kakak juga agak genit dan nakal sama Sarah."
"Hahahaha..!
Berarti aku lelaki normal."
"Kalau ibu mu dan ibuku menjodohkan kita, ya biarin sajalah kak. Mungkin dengan cara itu orang tua kita bahagia.
Perjodohan itu bukan berarti kita harus menikah," ujar Sarah,
"Di jodohkan sekarang... Nikahnya juga masih lama, bisa lima tahun ke depan.
Kadang, ada yang di jodoh kan, ternyata menikah dengan orang lain. Karena jodoh itu di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia.
Jadi... Kamu setuju saja sama rencana ibu mu.
Kalau aku kan, perempuan. Jadi ya nurut saja sama orang tua, asal baik."
"Takutnya aku menikah dengan gadis lain, sedangkan kita di jodoh kan. Apa gak kecewa dan sakit hati dirimu juga orang tua kita?"
"Kalau aku pribadi ya Kak, kalau sudah menjadi istri kelak, siapa saja suami ku. Kalau suami ku mau nikah lagi, cari istri lagi, ya aku izini. Ngapain tidak. Dan aku gak bakal sakit hati.
Karena dalam syariat islam, lelaki boleh memiliki 4 istri. Dan kalau menikah lagi membuat suami ku bahagia, kenapa tidak di izini.
Asalkan suami ku mampu menafkahi lahir batinnya.
Dalam kitab perjalanan hidup aku pelajari.
Seseorang yang telah menikah dan mempunyai anak, pola pikirnya akan berubah perlahan - lahan sesuai umur kita.
Dari senang menjadi nafsu.
Dari nafsu menjadi cinta.
Dari cinta menjadi kasih.
Dari kasih menjadi sayang.
Besok, kalau aku sudah tua, ya seperti barang rongsokan. Di gunakan saat di butuhkan. Yang di utamakan cinta kepada anak - anak.
Begitu pula dengan ibu bapak kita.
Ibu ku rela jualan sayur di pasar siang malam, di bela belain ninggalin suaminya, demi anak - anaknya.
Begitu juga dengan bapak ku. Dia kerja sampai sakit, ya demi anak - anaknya.
Paling dari hasil gajian, umpama 100 rb. Paling ibu ambil 10 ribu. Yang lainnya untuk anak - anaknya.
Kalau masih muda, cantik...!
Hemmm sakit pening sedikit dah bingung.
Coba kalau sudah tua tinggal ampasnya, paling santai sambil berkata:
Sana beli bodrek di warung sebelah. hehehehe!
Gak di beliin, malah di suruh beli sendiri.
Kecuali nih Kak..!
Kalau orang itu kaya raya banyak uang bedah lagi. Apalagi orang nya berpendidikan dan beragama."
"Iya sih, bener. Kayak bapak ibu ku dulu.
Waktu pacaran panggil nya sayang. Setelah punya anak...
Farida bikinin kopi.
Faridaa belikan rokok cepetan.
Kadang di dapur ibu bilang, punya suami kayak hidup membujang. Suami Kelayapan saja kerjanya. Kerja sendiri tidur sendiri."
"Cerita apa sajaaaa kok pakai kelayapan," sahut Samsul tiba - tiba.
"Haaaa! Bikin kaget saja kamu Sul.
Cerita bahas aku dan Sarah, kuliah dulu apa nikah..?"
"Dua duanya mas Damar," ujar Inna,
"Ya kuliah yang menikah.
Kan kamu bos besar, gak usah bingung mikirin makan anak istri."
"Assalamualaikum," sapa Sari dan Tiyas.
"Waalaikumsalam," jawab Damar,
"Ziarah dulu sana, habis ini santai biar enak."
"Ok."
__ADS_1