
Satu jam sudah Damar belajar membaca Al qur'an di depan kyai Ndaru.
"Sudah dulu Gus, besok - besok lagi."
"Iya kyai. Aku mau pesan kopi dulu di warung.
Apa kyai mau minum kopi?"
"Terimakasih Gus, Gus saja yang ngopi."
"Baiklah," ujar Damar kemudian pergi.
Tak lama kemudian, Damar duduk di pojok pendopo makam sambil menikmati secangkir kopi dan kepulan asap rokok.
"Gus... Akan ada seorang wanita datang menemui mu sebentar lagi," ujar Kyai Ndaru.
"Siapa kyai..?"
"Bidan Elsa dan Boby anaknya."
*****
Jam 12 malam, sebuah motor parkir di samping makam. Tak lama kemudian, Bidan Elsa dan Boby anak nya duduk ziarah di depan makam.
Sambil membaca tahlil... Bidan Elsa tak sengaja melihat Damar duduk sendiri bersandar tiang kayu sambil menikmati rokok dan membaca sesuatu di layar Hp.
Selesai ziarah, bidan elsa berkata,
"Boby, kamu tunggu di warung kopi parkiran ya, ibu ada perlu sebentar."
"Iya Buk."
*****
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam Bu Bidan."
"Boleh ibu duduk sebentar?"
"Boleh Buk, silahkan Silahkan.
Ada apa Bu Bidan, kok tumben..?"
"Ibu tadi ziarah, dan tidak sengaja melihat nak Damar duduk di pojok pendopo, Jadi, ibu putuskan kemari.
Nak Damar... Bagaimana hubungan mu dengan Aisah..?"
"Maaf Buk, saya dan Aisah tidak memiliki hubungan apa - apa sekarang.
Kalau dulu memang iya, tetapi sekarang sudah tidak. Karena Aisah meninggalkan saya."
"Oh begitu ya?"
"Iya Buk. Ya maklumlah Buk, Damar ini sadar tidak pantas untuk Aisah.
Ada masalah apa Buk dengan Aisah..?"
"Sudah sebulan ini Ayah nya sakit Nak Damar. Ayah nya ingin bertemu dengan Aisah. Ayah nya merasa bersalah kepada Aisah.
Ibu telpon, tetapi semua HP keluar nya telah di blokir."
"Baiklah Buk, akan saya bantu. Besok akan saya jemput Aisah di kota Mojokerto.
Saya akan bicarakan baik - baik dengan Aisah, Barangkali Aisah mau pulang."
"Baiklah Nak Damar, ibu sangat berterimakasih sekali.
Dan ibu minta maaf apabila dulu ibu dan suami punya salah dengan Nak Damar."
"Sama - sama Buk, Damar juga minta maaf."
"Kalau begitu, ibu pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
"Kyai, sakit apa bapak nya Aisah itu," tanya Damar.
"Sakit pikiran Gus," jawab Kyai Ndaru.
"Sakit pikiran bagaimana maksudnya, kok aneh nama penyakit nya?"
"Pak Elsa, terlalu banyak mikir, salah satunya memikirkan anak - anakanya. Karena sukmanya gak kuat untuk mikir, akhirnya raganya sakit."
"Kira - kira bisa sembuh gak kyai?"
"Bisa, jika melihat anak - anaknya berkumpul di rumah, pasti sembuh."
__ADS_1
"Kyai, kalau boleh tau, apakah Aisah itu masih mencintai ku..?"
"Iya Gus. Ada sepuluh lebih wanita yang mencintai Gus Damar, salah satunya adalah Aisah."
"Yang benar kyai, masak 10 lebih wanita mencintai ku..!"
"Apakah aku pernah membohongi mu?'
"Tidak pernah sih, semua yang kyai omongkan benar semua.
Apakah Aisah besok kalau aku jemput, apa dia mau pulang kyai?"
"Mau Gus.
Pesan kyai, kalau kamu besok ke kota Mojokerto, singgah lah di makam syeh Jumadil Kubro dan sayyid Sulaiman Mbetek Mojoagung.
Mintalah barokah di makam sana. Jangan minta yang lainnya."
"Baiklah kyai.
Kyai... Uang ku tinggal 350 milyar. Apakah cukup buat biaya membangun ruko, kos kos san, gudang dan kantor..?"
"Cukup Gus, tetapi ada syaratnya."
"Syaratnya apa itu kyai..?"
"Pergilah Ziarah ke makam kyai Pamenang selama 40 malam tidak boleh putus sama sekali."
"40 malam berturut turut..? Lama amat kyai!
Tetapi, baiklah akan aku turuti nasehat kyai."
"Di area makam kyai Pamenang itu, banyak orang susah yang sedang tirakat dan riyadhoh. Kamu harus menolong nya. Banyak musafir yang kelaparan, kamu harus memberi makan pada mereka."
"Iya kyai."
"Sekarang sudah jam 03, pulanglah, istirahat. Besok banyak yang harus Gus kerjakan."
"Baiklah kyai, kalau begitu aku pulang dulu.
Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
******
Sesampai di rumah, Damar langsung masuk kamar dan tidur.
"Damar... Mas, ayo bangun solat subuh dulu."
"Iya Buk," sahut Damar kemudian bangun lalu wudhu.
Selesai solat, Damar pun tertidur di atas sajadah di pasolatan dapur."
"Assalamualaikum," sapa ibu Nur tetangga satu RT.
"Waalaikumsalam," jawab ibu Farida yang lagi sibuk masak,
"Eh Bu Nur, tumben pagi - pagi sekali."
"Iya Bu Farida, ada perlu sebentar."
"Ada apa bu Nur..?"
"Saya mau pinjam uang, buat melunasi ujian Amina."
"Berapa Buk..?"
"Pinjam satu juta Bu."
"Sebentar ya Bu Nur."
Tak lama kemudian,
"Ini Bu Nur, uangnya."
"Terimakasih ya Bu, Insyallah bulan depan saya kembalikan."
"Iya Bu."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Siapa itu Dik," tanya Pak Yasin bapaknya Damar
"Bu Nur, istrinya Pak Wito."
"Ada apa pagi - pagi begini, tumben," kata pak Yasin.
__ADS_1
"Ini kopinya Mas.
Mas Damar... Bangun, sudah jam 6, mandi terus sekolah.
Ini ibu buatkan kopi.
Pinjam uang, katanya buat bayar ujian sekolah anaknya."
"Kamu kasih..?"
"Iya lah, kasihan. Kalau orang pagi - pagi sudah cari pinjaman uang, berarti dia sangat butuh sekali Mas. Lagian Ibu juga punya uang lebih.
Kenapa emang..?"
"Gak apa - apa.
Cuma kok tumben. Istri pemborong kok pinjam uang kesini.
Dulu waktu Lesti sakit, aku pinjam uang 100 ribu buat ke dokter saja gak di kasih.
Padahal banyak uang nya, di bilang gak punya, buat bayar tukang. Eh, sore nya beli motor baru. Kalau kita yang pinjam, gak di kasih, takut gak di bayar, karena kita keluarga miskin."
"Iya, ibu masih ingat masalah itu. Gak usah dendam, biarkan saja. Setiap perbuatan pasti ada balasannya sendiri - sendiri."
"Bukan dendam Dik, tetapi kalau ingat - ingat perbuatan orang - orang kaya di kampung ini, sedikit banyak aku pribadi sakit hati."
"Pagi - pagi gosipin apa bapak sama ibu ini," sahut Damar kemudian bangun,
"Ibu katanya bikinin kopi Damar?"
"Itu di meja."
"Pak, kakinya sudah bisa jalan normal sekarang?"
"Alhamdulillah, sudah Mar."
"Ingat, kalau sudah sembuh, jangan kelayapan jauh - jauh ya?"
"Emang gak boleh bapak kelayapan?"
"Boleh sih, tetapi jangan jauh - jauh, entar lupa jalan pulangnya dan hilang."
"Hehehehe.
Ibu Farida tertawa kecil,
"Kamu gak sekolah..?"
"Gak Buk, dua bulan lagi ujian dan sudah selesai sekolah nya."
"Emang mau kemana kok sering bolos sekolah. Sekolah kurang dua bulan aja kok sering bolos."
"Mau ke Mojokerto, ada perlu.
Pak, apa sudah mulai usaha ayam kampung nya?"
"Sudah Mar, bapak juga ternak burung perkutut, ikan gurami dan kelinci."
"Pinggir pagar itu, bapak tanami pisang saja, sama buah mangga."
"Iya, nanti bapak mau beli bibit buah pisang sama mangga. Bapak juga mau taman sente dan lamtoro buat tanaman pakan ikan gurami."
"Bapak mu sekarang sibuk. Seharian di kebun saja," sahut ibu Farida,
"Lesti adik mu, katanya ingin belajar bisnis online jual baju.
Semalam bilang sama ibu."
"Ya gak apa - apa Buk, emang sudah jamannya bisnis online.
Ya ntar Damar tak ngobrol - ngobrol sama lesty."
"Lesty bilang ke ibuk katanya ingin sewa galeri di mall Tunjungan plaza."
'Ya gak apa - apa, asal gak ganggu sekolah nya saja.
Nanti aku kasih modal. Apa Lesty sudah bisa nyetir mobil?"
"Sudah, kemarin kan kursus mengemudi selama sebulan lebih."
"Tadi bapak dan ibu ngomongin pak Wandi pemborong dan bu Nur ya?
Tak kasih tau ya... kata Suep, Pak Wandi bangkrut Buk. Pak Wandi ketipu sama orang kontrakor.
Proyeknya 5 milyar gak di bayar, jadi, pak Wandi jual mobil dan tanah nya untuk bayar pekerja dan hutang bahan bangunan.
Sekarang sudah gak punya apa - apa, tinggal rumah dan motor satu."
"Gak nyangka," sahut pak Yasin,
__ADS_1
"Dulu, duitnya kayak gak habis di makan tujuh turunan."
*Bersambung.